Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2
BAB 34


__ADS_3

Saat ini Anggun tengah bermain dengan Cinta di dalam kamar. Keduanya asik dengan rumah-rumahan beserta boneka barbienya. Beberapa waktu lalu Dion memberikan kejutan pada sang buah hati dengan mengirimkan satu paket komplit mainan rumah-rumahan padanya.Β 


Ya, memang harus Anggun akui kalau perhatian Dion selama ini pada Cinta tak surut sedikitpun. Meski kepada dirinya telah menunjukkan perbedaan sikap. Namun nyatanya tidak demikian dengan sang buah hati. Dan kenapa sebenarnya dengan pria itu? Anggun benar-benar tak habis pikir. Semakin mendekati hari pernikahannya, Dion justru semakin menjauh. Anggun bahkan di buat sangat dilema terhadap pria itu.


Dan mengenai pernikahan? Oh, rupanya tinggal limaΒ hari lagi pernikahan Anggun dan Dion terlaksana. Wanita itu jadi teringat pesan mama Dion beberapa hari lalu. Wanita yang sudah menganggap Anggun sebagai menantu tersebut, mengingatkan bahwa Anggun harus keluar dari rumah keluarga Adrian. Yah setidaknya untuk menjauhkan diri dari pandangan buruk orang-orang di sekitar sana tentang Anggun.


Dan kini Anggun jadi berpikir tentang hal itu. Ya. Dia sudah meyakinkan diri akan berpamitan pada keluarga Sujono sesegera mungkin. Malam ini dia harus menyampaikan niatnya tersebut agar esok hari Anggun bisa angkat kaki dari rumah itu.


Anggun lalu meninggalkan Cinta bermain sendirian. Sambil sesekali mengawasi gadis kecil tersebut, Anggun mulai merapikan pakaiannya. Memasukkan semua ke dalam koper.


Saat Cinta menghampirinya, Anggun jadi teringat sesuatu. Bagas. Bagaimana kabar pria itu dengan istrinya? Kenapa hingga sekarang masih belum ada kabar apapun? Dan kalau seandainya dia pergi, bagaimana dengan Cinta sendiri? Haruskah ia meninggalkan gadis mungil itu di rumah keluarga Sujono? Ataukah dia akan membawanya serta?


Anggun lalu berdiri dan merengkuh Cinta dalam gendongan. Berjalan ke tepi ranjang dan meraih ponselnya dengan segera. Anggun mencari nama kontak seseorang yang tertera disana.


Beberapa saat lamanya Anggun menunggu jawaban dari seberang telfon. Sesekali Cinta berusaha meraih ponsel yang di pegang oleh Anggun namun wanita itu berusaha mengelak sambil menggoda putri kecilnya tersebut dengan gurauan kecil.


*"*Halo, ada apa Anggun?" suara di seberang mulai terdengar.


"Apa aku mengganggu?" Anggun membalas. Dia lalu bangkit lagi dan berjalan mendekati mainan rumah-rumahan yang berserakan di ubin kamar. Anggun mendudukkan Cinta disana berharap gadis kecil itu akan fokus pada mainannya lagi.


*"*Sama sekali tidak, Anggun," suara itu terdengar kembali.


Kini Anggun berjalan menjauhi Cinta. Dia mulai fokus pada percakapannya, "Kapan kau jemput Cinta?" Anggun menjeda kalimatnya sejenak, "aku tidak bermaksud apa-apa, Bagas. Tapi saat ini, Cinta adalah tanggung jawabmu. Kamu dan istrimu sendiri yang memintanya secara langsung padaku. Dan apa sekarang?"


Orang yang di telfon rupanya Bagas. Disana Anggun tak segera mendapat jawaban. Entah apa yang di pikirkan Bagas saat ini. Sedikitpun Anggun tak bisa menebak.


*"*Ya, aku tau."


"Jadi, kapan kau akan menjemputnya?"


Terdengar desahan panjang dari telfon, *"*Hmm, aku akan menjemputnya. Yang jelas tidak sekarang, Anggun. Aku masih berusaha menyelesaikan masalahku. Dan sebenarnya aku dan Niken--,"


"Aku tidak perlu tahu permasalahanmu, Bagas!" potong Anggun cepat sebelum Bagas menyelesaikan kalimatnya. Dengan sedikit api amarah yang menyulut, Anggun akhirnya berujar kembali, "sekali lagi ku ingatkan, Cinta adalah tanggung jawabmu dan juga Niken. Jadi tolong putuskan, kapan kau akan menjemputnya?"


"Anggun, apakah kau tidak menyayanginya? Kenapa kau sepertinya keberatan dengan keberadaan Cinta?" ujar Bagas setengah menuduh. Membuat percikan api amarah dalam diri Anggun berkobar.


"Aku? Aku adalah Ibu kandungnya. Dan kau bilang aku tidak menyayanginya? Pertanyaan konyol macam apa yang kamu lontarkan padaku, Bagas? Perlukah aku membuktikan kasih sayangku itu padamu, hmmm?" Anggun menggeram. Tangannya mengepal kuat. Meski dadanya mulai sesak karena kobaran amarah, namun sebisa mungkin Anggun menjaga kalimatnya agar jangan sampai terdengar Cinta.


"Kalau itu yang kau mau, baiklah. Lihat bagaimana aku mengambil alih hak kepengasuhan Cinta. Aku yakin Dion bisa membantuku menyelesaikan masalah ini. Dan mungkin juga, dia lebih baik menjadi ayah bagi Cinta dari pada engkau ayah kandungnya sendiri."

__ADS_1


*"*Tu-tunggu Anggun! Maksudku bukan begitu."


"Kalau begitu aku beri waktu sampai besok tengah hari. Kalau kau dan Niken tidak kesini menjemput Cinta, maka ku pastikan dia akan bersamaku selamanya."


Terakhir kali Anggun menutup telfonnya sebelah pihak. Wanita itu membuang napas sebanyak-banyaknya hanya untuk meredakan emosi yang menggerogoti hatinya. Berkali-kali telfon Anggun berdering, namun wanita itu tak menghiraukan. Dia tau kalau Bagas tidak terima dengan keputusannya itu.


Kau masih saja seperti dulu Bagas. Sama sekali tidak tegas akan tanggung jawabmu. Aku benar-benar kecewa.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Lima belas menit yang lalu Anggun menidurkan putrinya. Dan kini wanita itu berjalan ke ruang tengah dimana disana duduk pasangan Tuan dan Nyonya Sujono.


"Eh, Nduk. Kamu belum tidur to?" Pak Sujono menyapa.


"Dereng Pak. Saya baru saja nidurin Cinta," jawab Anggun lalu ikut bergabung dengan keduanya. "Lagi baca apa, Bu?" tanyanya kemudian beralih pada Bu Ratih.


"Iki lo, masalah harga-harga sembako yang meningkat," jawab Bu Ratih masih dengan memperhatikan harian kabar di tangannya.


Anggun terdiam sejenak. Dia berusaha menenangkan hati sebelum mengutarakan apa niatnya menemui kedua orang itu. Dan ketika keberaniannya sudah terkumpul, dengan menarik napas panjang sebelumnya ia pun mulai berkata, "Pak, Bu, maaf sebelumnya. Saya kesini sebenarnya mau pamit sama kalian berdua."


"Pamit? Memang kamu mau kemana, Anggun?" tanya Bu Ratih menelaah. Wanita itu lalu melipat surat kabar yang ia pegang dan meletakkannya di atas meja.


"Jadi, kerena pernikahan saya tinggal beberapa hari lagi, karenanya saya ingin pamit sama Bapak dan Ibu. Saya ingin kembali ke rumah."


Pasangan keluarga Sujono saling berpandangan. Beberapa waktu kemudian, terlihat Bu Ratih membuang napas kasar. Nampaknya dia tidak suka dengan apa yang di utarakan Anggun.


Pak Sujono yang tau hal itu dengan segera menggenggam tangan istrinya. Berusaha menenangkan emosi wanita paruh baya itu. Hanya sesaat Bu Ratih menatap suaminya sebelum akhirnya ia kembali pada sosok Anggun yang tengah tertunduk gelisah.


"Jadi kamu ingin kembali ke rumah ibumu?" tanya Bu Ratih memastikan. Anggunpun mengangguk meng-iyakan. "Baiklah kalau itu maumu. Ibu dan Bapak tidak akan memaksa kamu tinggal di sini lagi."


Setelah berkata demikian, Bu Ratih lalu beranjak pergi dari tempatnya. Anggun yang sedikit tercengang dengan apa yang baru di dengarnya hanya bisa terbengong di tempatnya berada.


"Pak, Ibu ndak marah sama saya?" tanyanya kemudian pada pak Sujono yang tengah memperhatikan kepergian istrinya.


Pak Sujono hanya tersenyum sambil mengangguk pasti.

__ADS_1


"T...tapi, bagaimana mungkin? Bukankah Ibu...."


"Bapak sudah memberi pengertian pada ibumu, Nduk. Tenanglah. Dia sudah tidak marah lagi sama kamu. Dia juga sudah menerima hubunganmu dengan Dion," Pak Sujono memberi penjelasan.


Rasanya Anggun masih belum percaya dengan kebenaran ini. Bu Ratih menerima hubungannya dengan Dion? Sungguh ini adalah berita bagus untuknya. Tapi kalau beliau sudah menerima, kenapa tadi Bu Ratih harus pergi meninggalkan tempat itu?


"Benarkah Ibu ndak apa-apa, Pak?" Anggun masih ingin menegaskan. Kepergian Bu Ratih sesaat lalu masih membuatnya ragu. Mungkin saja, wanita paruh baya itu sedang meredam emosinya saat ini.


"Kamu khawatir sama ibumu?" tanya Pak Sujono kemudian. Anggunpun mengangguk membenarkan. Pak Sujono lalu berujar lagi, "Kalau kamu khawatir, susul lah dia. Jangan takut dia akan marah padamu. Tidak. Ibumu tidak akan lagi begitu. Saat ini Bapak tau dia sedang sedih. Mungkin juga sedang menangis di dalam kamar."


Anggun tertegun. Apakah benar kalau Bu Ratih sedih? Bahkan sampai menangis? Kalau benar demikian, berarti Anggun harus segera menyusulnya.


"Saya mau lihat Ibu dulu, Pak," pamit Anggun pada Pak Sujono. Pria itu hanya mengangguk lalu menyesap batangan rokok yang ada di tangannya.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Semua orang tampak lalu lalang memasuki rumah sederhana itu. Kesibukan mereka nampaknya sepadan dengan suara bising yang keluar dari mulut masing-masing orang. Tak sekali juga suara orang tertawa memenuhi sudut-sudut ruangan.


Sudah tiga hari ini Anggun tinggal di rumah peninggalan ibunya. Setelah tiga hari lalu dia meminta ijin pulang ke rumahnya sendiri, dan rupanya tanpa ia sangka keinginannya itu mendapat respon baik dari pasangan keluarga Sujono.


Anggun ingat, malam itu saat ia menyusul Bu Ratih ke kamarnya dia mendapati wanita itu tengah menangis tersedu di tepi pembaringan. Hal tersebut membuat hatinya tertohok. Dan tahulah Anggun kalau Bu Ratih memang sudah mengikhlaskan hubungannya dengan Dion. Bu Ratih bahkan minta maaf karena selama ini telah egois pada Anggun. Lalu apa yang membuat wanita dari tiga orang anak itu menangis?


Ternyata kesedihan Bu Ratih karena akan melepas Anggun pada keluarga lain. Ya, beliau memang sudah menganggap Anggun layaknya putri sendiri. Jadi tak heran kalau sebenarnya berita pernikahan itu membuat ia sedih sekaligus bahagia. Setelah mendapat ceramah panjang dari Pak Sujono sebelumnya, wanita itu akhirnya sadar akan sikapnya yang keliru selama ini. Yakni sikap egoisnya pada Anggun.


Dan disini, rumah Anggun yang semula sepi, kini berubah menjadi ramai karena kehadiran orang-orang tetangga sekitar. Bu Ratih memang memperbolehkan Anggun kembali ke rumahnya. Namun dia tetap berkeras hati ingin mendampingi Anggun sebagai wali yakni pengganti orang tuanya. Mempersiapkan semua keperluan pernikahan. Dan pada akhirnya semua tetangga Anggun mengetahui kalau dirinya telah bercerai dari Adrian dan kini akan menikah kembali dengan seseorang.


Meski memang keluarga Dion sudah mempersiapkan semuanya juga, namun keluarga Sujono ingin kalau acara akad pernikahan bisa diselenggarakan di rumah Anggun sendiri. Sedangkan resepsi pernikahan, barulah keluarga Dion yang menangani. Begitulah kesepakatan terakhir kali di buat.


Dan bagaimana dengan Cinta?


Hari itu sebelum Anggun kembali ke rumahnya, wanita itu masih sempat menunggu kedatangan Bagas dan Niken hingga tengah hari. Dia sudah bertekad, kalau seandainya mereka berdua tidak datang, maka mulai detik itu juga Cinta akan tinggal bersamanya. Sampai pada batas waktu yang ditentukan habis, baik Bagas maupun Niken masih belum menunjukkan batang hidungnya. Dan saat Anggun bersiap pergi, kedua orang yang di tunggupun akhirnya muncul juga.


Tak terlihat oleh Anggun maupun keluarga Sujono kalau Bagas dan istrinya tengah berselisih paham. Mungkinkah keduanya sudah baikan? Entahlah. Yang pasti Anggun tahu setelah ia pamit hendak pergi, Niken memberikan pelukan terakhirnya sembari ia selipkan kata terima kasih di tengah-tengah. Dari situ Anggun menyimpulkan kalau mereka berdua telah menemukan titik akur permasalahan. Yah, Anggun harus ikut bahagia karena triknya berhasil. Siapa yang tahu kalau ancaman dengan membawa Cinta bersamanya adalah gertakan semata. Meski memang ia tak keberatan membawa Cinta pergi bersamanya kalau seandainya Bagas dan Niken tidak datang menjemput.


Sementara itu.....


Sepasang mata tengah melotot dengan wajah memerah menahan amarah. Kedua tangannya mengepal kuat. Orang itu bahkan tak menghiraukan suara seseorang yang tengah berbicara di hadapannya. Perhatiannya hanya fokus pada satu titik di depan sana. Dan ketika pada saat keadaan dimana dia tak bisa menahan lagi emosinya, dengan langkah lebar orang itupun berjalan melewati si rekan. Menarik paksa orang di depan sana yang tengah bercengkrama mesra dengan lawan mainnya.

__ADS_1


"Seperti inikah tingkahmu saat di belakangku, Andini?"


πŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊ


__ADS_2