
Pada akhirnya Adrian tetap kembali ke rumahnya meski malam sudah larut bahkan menginjak dini hari. Dan meski ia berusaha untuk tidur malam itu, namun sepertinya percuma karena kedua matanya tidak bisa di ajak kompromi. Pikirannya yang bercabang membelah menjadi dua bagian. Sebagian memikirkan masalahnya dengan Andini, dan sebagian lagi terpecah pada mantan istrinya.
Sungguh, di akui atau tidak, Adrian sangat tidak suka melihat kebersamaan Anggun dan sahabatnya, Dion. Ah, apakah itu berarti dia sedang cemburu? Mungkin saja. Belum lagi desakan sang Ibu. Meski tak langsung, tapi Adrian tau kalau Ibunya berusaha mendekatkan kembali dirinya dengan Anggun. Dan kedua permasalahan ini membuatnya sangat pusing.
Dan pria itu baru bisa tidur setelah jam menunjuk angka 03.30, menjelang waktu subuh. Dan belum sampai satu jam dia tertidur, suara berisik dari ponselnya membangunkan tidur lelapnya. Adrian bangun dengan ogah-ogahan. Matanya yang masih melekat erat tampak enggan untuk terbuka, sehingga hanya tangannya saja yang meraba-raba dimana gerangan ia letakkan ponselnya semalam.
"Hmm....halo...." Suaranya yang tampak malas dan masih dengan posisinya yang berbaring di atas ranjang. Namun itu hanya berlangsung sesaat karena sebuah seruan keras terdengar di telinganya dan membuat ia mau tak mau harus membuka mata.
"I...Ibu...." ucapnya tergagap dan bangun seketika. Matanya mengerjap-ngerjap perlahan.
Adrian diam tak bersuara dan hanya mendengar rentetan panjang dari kalimat yang di ucapkan sang Ibu. "Iya Bu, tapi...." Kalimatnya tak berlanjut karena Ratih memotongnya cepat seakan dia tak mau di bantah. "Baiklah Bu, nanti aku ke sana, tapi ini masih terlalu pagi. Aku bahkan baru saja tidur. Jadi tolong biarkan aku istirahat sejenak " ucapnya dengan berat hati lalu menutup telfon setelah mendengar sedikit omelan dari ibunya.
Adrian mengacak rambutnya frustasi. Pikirannya yang semalam kalut dan belum sembuh, kini bertambah lagi. Ada apa memangnya?
π
π
π
Sekitar pukul setengah enam pagi, Adrian sudah sampai di rumah ayahnya. Pak Sujono yang tengah memberi makan ayam di samping rumah terlihat tertegun mendapati putranya pagi-pagi buta sudah datang. Ada apa lagi dengan anak itu?
Ratih tentunya menyambut putranya dengan senyum lebar. Menyuruhnya segera ke meja makan untuk sarapan bersama. Sementara itu Anggun masih berdiam di kamarnya. Rupanya dia sedang bersiap juga. Dan sekitar pukul enam barulah wanita itu keluar dari kamar dimana di ambang pintu sudah menunggu Dinda dengan setia.
__ADS_1
"Eh....kamu, Din?" serunya agak terkejut.
"Aku menunggu mbak Anggun untuk sarapan lo," ujar gadis remaja itu sedikit cengengesan.
"Oh...ya? Sejak tadi berdiri disini? Kenapa gak masuk aja langsung?"
"Ndak ah, takut ganggu mbak Anggun dandan," Dinda menyengir kuda.
"Isshhhh, bisa aja kamu. Ya enggak kali kalau ganggu. Sudahlah, yuk sarapan." Dinda pun mengangguk setuju. Namun belum ada dua langkah mereka berjalan, Dinda tampak menghentikan langkah Anggun. Wanita itu pun berhenti dan memandang Dinda dengan heran.
"Mbak, jangan kaget ya. Hmmmm, di meja makan ada....." Anggun mengerutkan keningnya.
"Siapa?" desaknya.
"Mas.....Rian...." ucap Dinda penuh hati-hati karena takut menyinggung Anggun. Tak ada reaksi apapun yang di tunjukkan Anggun selain kebungkaman.
"Eh, sebenarnya semalam mas Rian balik ke rumahnya. Tapi nggak tau kenapa pagi hari ini sudah ada disini lagi," Dinda menjelaskan. Bahkan Anggun sendiri pun tak tahu kalau semalam Adrian memang pulang. Dia berpikir kalau pria itu akan menginap di rumah orang tuanya.
"Ya sudah. Tidak perlu cemas soal apapun. Aku dan Adrian tidak ada permasalahan apa-apa kok. Jadi meski ada kita berdua, jangan khawatir akan terjadi sesuatu yang meributkan." Anggun tersenyum tipis. Dia lalu mengajak Dinda kembali untuk pergi ke ruang makan.
10 menit kemudian.....
Suasana ruang makan tampak mencekam. Yang terdengar hanya dentingan garpu dan sendok pagi itu. Dan saat ini bi Inem membuat nasi goreng telur asin dengan mix vegetable sebagai sarapan untuk mereka.
__ADS_1
"Ada perlu apalagi kamu kesini, Le?" Suara Pak Sujono menengahi kesunyian.
Adrian hampir tersedak mendengar pertanyaan tiba-tiba dari ayahnya. "Hmmm, itu...." dia mencoba mencari sebuah alasan yang logis. Karena tak mungkin kalau dia akan mengaku jika dia kesana atas perintah sang Ibu. "Ada barang saya yang ketinggalan, Pak," lanjutnya dengan nada suara senormal mungkin agar tak terkesan mencurigakan.Β
"Kenapa sih memangnya, Pak? Ini kan rumah Adrian juga. Terserah dia dong mau kesini kapan saja," Ratih mulai membela sang anak. Di seberang meja, Anggun dan Dinda yang duduk saling berdampingan hanya tertunduk sambil tetap menikmati sarapan mereka.
Pak Sujono menghela napas berat. Meletakkan sendok dan garpunya di atas piring dan mulai meneguk air minumnya. Sepertinya pria itu sudah usai dengan aktifitasnya. Dan pada saat itulah muncul seseorang dari balik pintu.
"Mas Bagas?" Suara Dinda yang lebih dulu mengetahui kedatangan kakaknya. Dan semua mata sontak tertuju pada orang yang di maksud.
"Loh, Le? Kamu?" Ratih melatahi dari belakang. Bagas hanya tersenyum tipis lalu berjalan menuju kedua orang tuanya dan mengucap salam pada mereka. Selanjutnya ia duduk di sebelah Adrian.
"Kamu datang sendiri? Mana anak dan istrimu?" Kini Pak Sujono mulai mendikte.
"Eh, saya ke sini sendiri, Pak." Bagas tak memandang wajah ayahnya. Dan entah kenapa Pak Sujono merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh putra sulungnya itu. "Eh....saya boleh bergabung sarapan kan?" Dia mencoba mengalihkan perhatian.
"Yo mesthi lah, Le. Tunggulah, Ibu akan menyuruh mbok Inem menyiapkan piring lagi." Ratih buru-buru pergi ke dapur.
Dan di sinilah, pandangan Bagas tertumbuk pada Anggun. Wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan. "Anggun? Kau disini?"
Anggun hanya tersenyum pahit tanpa berniat menjelaskan yang sebenarnya. Ah, kenapa harus seperti ini? Dua orang yang pernah masuk dalam hidupnya, kini duduk satu meja dengan dirinya. Bagas lalu mengalihkan pandangannya pada adik laki-lakinya. "Kau juga kenapa bisa kebetulan disini? Apakah kalian sedang mengadakan reuni keluarga?" selidiknya dengan pandangan memicing pada Anggun dan Adrian bergantian. "Tidak adakah yang ingin menjelaskan padaku kenapa kalian berdua bisa kebetulan ada disini?"
Semua membeku. Tak ada yang ingin menjawab pertanyaan Bagas tersebut termasuk sang kepala keluarga. Bertepatan dengan itu, Ratih kembali dengan membawa peralatan makan. Menyodorkannya pada Bagas dan menyuruhnya sarapan. Sementara itu Pak Sujono yang sudah selesai lebih dulu, lebih memilih menyingkir dan berjalan perlahan menuju taman belakang. Berdiri mematung sambil memusatkan pandangannya ke depan ke arah perkebunan.
__ADS_1
Apa lagi yang akan terjadi? Jangan sampai kedatangan Bagas akan menambah rumitnya permasalahan.
πΊππΊππΊππΊππΊππΊ