Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2
BAB 32


__ADS_3

Bagas akhirnya berangkat menuju Semarang hari itu juga. Sedangkan Cinta, sesuai dengan permintaan pak Sujono kalau anak itu harus ia tinggal. Hal ini tentunya sangat menguntungkan Anggun. Dia jadi merasa sedikit terhibur dengan adanya sang putri.


Anggun bahkan tak segan menghabiskan waktu senggangnya dengan sang anak. Dan dalam waktu beberapa hari terakhir ini, entah mengapa Dion juga jadi jarang mengunjungi atau menghubunginya. Pria itu bahkan jarang mengirim pesan ataupun sekedar telfon. Meski Anggun tidak habis pikir dengan perubahan sikap Dion, namun ia hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.


Pernah sekali wanita itu mencoba menghubungi. Mengajak untuk keluar. Namun jawaban Dion sangat mencengangkan. Sibuk. Itu sebuah alasan yang sangat klasik. Namun meski demikian, Anggun hampir tak pernah menjumpai seorang Dion yang menolaknya hanya karena alasan sibuk. Setidaknya, pria itu akan berusaha menjelaskan alasannya.


Jauh di lubuk hati Anggun, ada sedikit rasa cemas. Kenapa Dion berubah disaat seperti ini? Disaat menjelang pernikahannya. Bahkan tinggal beberapa hari menuju ke hari bahagia itu. Namun kenyataan sikap pria itu tiba-tiba berubah. Apakah Dion jadi ragu?


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Adrian sedang dalam perjalanan saat tiba-tiba matanya menangkap sekelebat bayangan. Diapun mengerem mobilnya dengan mendadak. Dua orang tengah berjalan beriringan dan masuk ke dalam sebuah mobil. Adrian mengerutkan keningnya.


Saat mobil yang di naiki dua orang itu sudah melaju, Adrian ikut menjalankan kembali mobilnya. Arahnya kini berubah. Semula dia ingin mendatangi Andini. Sudah beberapa hari ini bahkan ini lebih dari seminggu lamanya, mereka tak saling komunikasi. Rupanya wanita itu masih dalam keadaan emosi. Dan saat ini Adrian ingin memperbaiki hubungannya kembali.


Adrian mengikuti mobil tersebut sekitar sepuluh menit lamanya hingga sampailah mereka di depan sebuah rumah bercatkan warna biru. Saat dua orang yang ia ikuti keluar dari mobil, saat itulah Adrian tampak mengambil ponsel dan membidikkan kamera pada mereka. Beberapa jepretan dari kamera ia ambil.


Lihat saja apa yang akan kau dapatkan dengan memperlihatkan foto ini pada Anggun, Adrian berbisik dalam hati. Salah satu sudut bibirnya terangkat.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Anggun terkejut saat Adrian tanpa permisi masuk ke dalam kamarnya. Saat itu dia baru saja menidurkan Cinta di atas ranjangnya. Sejak Bagas kembali ke Semarang, anak itu memang selalu tidur bersama Anggun.


"Apa yang kau lakukan disini, Adrian?" tanyanya dengan nada sinis. Tidak suka karena pria itu dengan lancang masuk kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dahulu.


"Maaf," hanya itu yang terucap dari bibir Adrian dengan sikap yang sedikit salah tingkah.


Anggun cepat memperbaiki posisi pakaiannya yang sedikit terbuka di bagian dada yang tak ubah membuat wajahnya sedikit memerah karena Adrian sempat melirik kesana.


"Katakan apa yang kau inginkan," wanita mulai menginterogasi.


Adrian lalu mengambil ponsel di dalam sakunya. Entah apa yang ia lakukan dengan benda elektronik tersebut, dan beberapa saat kemudian muncul sebuah pemberitahuan notifikasi pesan dari ponsel Anggun. Wanita itupun menoleh langsung pada ponselnya sesaat dan berpindah lagi menatap Adrian dengan maksud bertanya.


"Bukalah!!" perintah pria itu seperti mengerti maksud tatapan Anggun padanya.


Wanita itupun menghampiri ponselnya dan mulai membuka isi pesan tersebut. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat apa yang nampak disana. Wajahnya seketika pula menoleh ke arah Adrian lagi dengan tatapan menghunjam tajam.


"Kau tahu dia siapa?" Adrian kini bertanya.

__ADS_1


"Kau jelaskan apa maksud dari foto-foto ini!" Anggun mendikte. Terlihat wajahnya sangat tegang.


Adrian tersenyum miring. Pria itu berjalan perlahan mendekati Anggun dengan kedua tangan di dalam sakunya.


"Perlu kau tau, kalau wanita itu adalah mantan pacar dari calon suamimu. Namanya adalah Fitri," Adrian mencoba menjelaskan.


"Lalu? Kau berharap aku cemburu dengan kebersamaan mereka?"


"Mereka sedekat itu, apa kau yakin kalau tidak merasa cemburu?" Adrian memancing, "jangan lupa kalau calon suamimu itu adalah mantan playboy. Jadi...."


"Dion sudah berubah!" Anggun menyanggah.


"Apa kau yakin?" Adrian semakin menekan, "kurasa tak ada kucing yang tak menyentuh seekor ikan saat makanan itu di hadapkan padanya."


"Jaga bicaramu, Adrian! Kau tidak berhak menuduh Dion seperti itu. Apalagi dia calon suamiku."


"Baiklah. Tapi mungkin kau juga tak bisa mempercayai dia sepenuhnya. Karena manusia pasti punya kekhilafan. Termasuk khilaf saat bersama dengan wanita lain."


"Cukup Adrian!! Aku tidak mau mendengar apapun lagi. Keluar sekarang kau dari kamarku!" Anggun menudingkan telunjuknya ke arah pintu dengan maksud mengusir.


"Well, aku harap kau tidak menyesal nantinya. Yang jelas aku sudah mencoba memberitahumu," Adrian berjalan pelan ke arah pintu, "oh, ya....sebaiknya kau coba telfon dia sekarang. Tanyakan keberadaannya. Karena aku yakin saat ini mereka masih bersama," katanya terakhir kali sebelum akhirnya pria itu menghilang di balik pintu. Dengan cepat Anggun menutup pintu dengan kasar.


Nafasnya terengah-engah menahan emosi. Anggun merasa dadanya sesak. Di lihatnya foto-foto itu kembali. Ada beberapa foto dimana disana tergambar jelas Dion sedang keluar dari mobil lalu berjalan beriringan dengan wanita itu. Bahkan salah satu foto memperlihatkan keduanya saling menatap penuh arti.


"Iya Sayang?" Suara Dion terdengar jelas di seberang sana.


"Kamu dimana sekarang? Apa kau ada di rumah?" tanya Anggun langsung tanpa basa-basi. Dion tak langsung menjawab, membuat Anggun menunggu dengan penasaran.


"Aku sedang keluar. Ada urusan yang harus aku selesaikan," akhirnya pria itu bersuara kembali.


"Oh, ya? Boleh aku tahu apa itu?"


"Hmmm, maaf Sayang. Aku tidak bisa memberitahumu sekarang," Dion menolak.


"Tapi Dion."


"Maaf Sayang, sekarang aku sedang sibuk. Aku harus menyelesaikan urusanku ini dulu. Nanti akan ku hubungi kau lagi, okay? Daaa Cantik....muach." Telfon itupun terputus sebelah pihak.


Anggun menggeram pelan. Wanita itu mendudukkan dirinya di tepi pembaringan dengan kesal. Mata wanita itu tiba-tiba saja memerah. Tampak berkaca-kaca dan jatuhlah setetes air bening itu dari sudut matanya.


Anggun mencoba merebahkan tubuhnya di samping sang putri sembari memeluknya erat. Di pandangnya wajah bocah kecil itu dengan tatapan sayu. Sebuah bayangan muncul di pikirannya. Saat-saat Dion bersamanya dulu waktu Cinta masih bayi. Menggendongnya. Menina bobokkannya. Bahkan pria itu sampai berusaha belajar memandikannya. Anggun tersenyum-senyum sendiri mengingat hal itu. Di elusnya pipi sang anak perlahan dengan penuh sayang.


Tidurlah sayang....tidurlah....bermimpilah yang indah.....

__ADS_1


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Adrian memasuki sebuah cafe saat jam makan siang tiba. Baru beberapa detik ia mendudukkan dirinya di sebuah kursi, matanya tak sengaja menangkap sosok yang tak asing lagi baginya. Lagi-lagi Dion. Dan pria itu saat ini juga bersama wanita yang sebelumnya pernah ia lihat. Fitri.


Seorang pelayan yang datang menghampiri hendak mengorder tersentak saat tamunya tiba-tiba saja berdiri dari duduknya.


"Anda tidak jadi pesan, Tuan?"


"Tidak. Ku rasa tempat ini tidak akan membuatku nyaman untuk menikmati makan siangku hari ini," ujar Adrian sambil menoleh sekilas pada keberadaan Dion dan Fitri yang tengah asik bercakap-cakap.


Pria itu membenarkan jasnya untuk kemudian keluar kembali dari cafe. Akhirnya Adrian tidak jadi makan siang di luar. Dia lebih memilih makan di kantin kantor siang ini.


Setengah jam kemudian....


Semua karyawan sudah mulai kembali ke ruangannya masing-masing. Namun Adrian tampak dengan santainya berdiri di koridor kantor. Menyandarkan tubuhnya pada tembok dengan kedua tangan dalam saku celananya. Entah apa yang sedang ia lakukan disana.


Tak lama kemudian muncul Dion dari arah luar. Berjalan dengan sedikit cepat karena mengejar waktu. Saat tubuhnya melintas di hadapan Adrian, pria itu hanya melirik sekilas saja.


"Rupanya kau sedang asik pacaran sampai kau lupa waktu kerjamu," suara Adrian menginterupsi. Membuat Dion menghentikan langkahnya seketika, "bagaimana? Apa sudah puas main-mainnya dengan mantan kekasihmu itu? Apa sekarang kau dan Fitri sudah mulai pacaran kembali? Lalu bagaimana dengan nasib Anggun selanjutnya?"


Dion merasa tersinggung dengan kalimat Adrian. Merasa tidak terima, pria itupun segera menghampiri Adrian dan mencengkeram kerah bajunya.


"Apa sebenarnya yang kau katakan, Adrian? Kau pikir aku sedang selingkuh, begitu?" mata Dion menyorot tajam pada sahabatnya.


Adrian hanya tersenyum miring mendapat perlakuan demikian. Berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Dion. Mendorong pria di hadapannya dengan kuat sehingga Dion sedikit terhuyung ke belakang.Β 


"Bagaimana aku tidak menuduhmu selingkuh kalau jelas-jelas saja aku melihat kau dan mantan kekasihmu itu berjalan berdua. Dan aku menjumpainya tidak hanya sekali saja," Adrian menatap balik Dion dengan tatapan menantang.


"Maaf kawan. Tapi aku tak seperti yang kau fikirkan. Dan mengenai kedekatanku dengan Fitri, itu karena ada sesuatu hal yang harus kami selesaikan."


"Oh ya? Jadi boleh aku tau, apa sesuatu hal itu?"


"Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu ini, Adrian. Dan jangan berusaha ikut campur dengan urusanku," Dion melangkah kasar melewati Adrian yang hanya menyeringai kecil.


Baiklah, kita buktikan siapa yang salah. Kau atau aku?


πŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊ

__ADS_1


__ADS_2