Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2
BAB 7


__ADS_3

Keputusan Anggun untuk menemui Andini sudah bulat. Apalagi setelah membaca sebuah pesan terakhir yang benar-benar membuat wanita itu geram dan tak bisa mentolerir kembali perbuatan Andini yang melewati batas, maka siang ini seusai dia pulang mengajar, Anggun akan mendatangi wanita itu di tempatnya. Bagaimana bisa Andini meminta Adrian untuk menceraikan Anggun secara terang-terangan?


Kalau itu terjadi dulu, Anggun akan acuh saja menerimanya. Tapi kini waktu sudah berubah. Masalahnya Anggun sudah mulai mencintai Adrian. Dan jelas saja ia tak mau pria yang sudah menjadi suaminya itu akan di rebut wanita lain begitu saja. Tidak meskipun itu adalah mantan kekasihnya sendiri.


Tentu pertemuan ini tanpa sepengetahuan Adrian. Anggun tak mau rencananya sampai gagal hanya karena Adrian menghalanginya. Dan sekarang, Anggun sudah berada di tempat wanita itu berada. Anggun sudah mengecek rumah sakit sebelumnya apakah wanita itu sedang bertugas saat ini. Dan nyatanya, Andini tidak sedang bekerja. Rupanya dia masuk shift malam.


Andini di buat terkejut dan tak akan menyangka kalau Anggun bakal datang ke rumahnya. Wanita itu sempat di buat terpaku manakala melihat sosok wanita berkulit putih cantik dengan rambut panjangnya yang ia kepang dan ia bentuk menyerupai konde itu.


"Mbak Anggun," gumamnya pelan.


"Selamat siang, Andini. Maaf aku sudah mengganggumu. Bisakah kita bicara sebentar?" Andini masih diam tak bergeming di tempatnya. Dirinya seperti terhipnotis seketika.


"Eh...te...tentu saja. Mari." Andini mengajak Anggun ke sebuah taman dimana disana sudah tersedia bangku dan meja dengan payung besar yang melindunginya dari matahari dan hujan. "Silahkan duduk, Mbak," ucap Andini dengan sikap yang manis. Namun sungguh Anggun begitu muak dengan sikap yang di buat gadis itu. Dasar munafik.


Dengan ekspresi datar dan hanya sedikit senyum, Anggun mulai mendudukkan tubuhnya ke salah satu kursi di taman itu. Sedang Andini mengambil tempat, tepat di seberang tamunya.


"Ada keperluan apa mbak Anggun datang kemari? Sepertinya aku tidak merasa punya urusan dengan sampean."


Anggun menghembuskan napas panjang. Di tatapnya wanita di hadapannya dengan berani dan sorot mata yang tenang namun tajam. "Aku tak mau basa-basi, Andini. Aku hanya ingin bertanya satu hal padamu, apa sebenarnya yang kau mau dariku?"


Andini mengernyitkan dahinya bingung. "Maksud Mbak?" Anggun merasa jengah sendiri dengan kepura-puraan Andini saat ini. Hah...bisakah dia menyebut wanita itu iblis bermuka dua?


"Apakah kau masih akan berpura-pura di hadapanku setelah aku mengetahui kebenaran kalau kau berusaha merusak rumah tanggaku, Andini?" Kali ini Andini tersentak. Dia tak mengira kalau Anggun akan mengetahui rencananya. Untuk sesaat wanita itu terdiam. Namun sesaat kemudian, satu sudut bibirnya terangkat. Menunjukkan senyum liciknya.


"Rupanya kau sudah tau," desisnya lirih.


"Katakan, apa yang kau mau sebenarnya? Aku merasa tak pernah punya urusan denganmu," Anggun menantang.


"Bagaimana kalau aku bilang, aku menginginkan suamimu?" Mata Anggun membulat penuh menatap tajam ke arah Andini berada. "Ya. Aku ingin Adrian meninggalkanmu, dan kembali padaku."


"Itu tidak mungkin, Dini!! Bagaimana bisa kau berbuat seperti itu? Kau mau merusak rumah tangga orang lain?"

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Apa aku salah kalau aku ingin mempertahankan cintaku? Dan sebenarnya siapa yang salah? Aku atau dirimu? Bukankah kau yang lebih dulu merebut Adrian dariku?" Mata Andini berkilat berapi-api. Sungguh kedua perempuan ini sudah menyatakan peperangannya.


"Baiklah. Mungkin aku memang harus minta maaf untuk itu, Dini. Tapi saat ini, permasalahan sudah berbeda. Aku dan Adrian sudah menikah. Dan kami saling mencintai. Kau tak bisa masuk lagi dalam kehidupan Adrian."


"Apa? Mencintai? Hah, yang benar saja! Aku bahkan tidak pernah mendengar Adrian mengatakan kalau dia mencintaimu, Anggun," gadis itu berdecih. Kali ini Anggun kalah telak. Sayangnya apa yang di bantahkan Andini memang benar. Adrian memang tak pernah mengucap kata cinta padanya.


Anggun meremas jari-jarinya, kesal. "Meskipun demikian, kau tak bisa merebut Adrian dariku, Andini." Suara Anggun melemah.


"Kenapa tidak bisa? Kalau kau sendiri bisa mengambil Adrian dariku, maka akupun juga bisa melakukan hal yang sama padamu. Dengar, Adrian tidak pernah mencintaimu, Anggun. Kalau selama ini dia baik padamu, aku yakin itu karena dia ingin menghormatimu dan jangan pernah bermimpi akan mendapatkan cintanya karena perasaannya yang sesungguhnya hanya ia berikan padaku." Anggun meremas tangannya sendiri. Mengepal hingga buku-buku jarinya tampak memutih. Ya. Dia sedang menahan kemarahannya.


"Kenapa kau tidak bisa mengerti, Andini? Aku dan Adrian sudah menikah. Apakah kau tak mengerti maksud dari kata pernikahan itu?"


"Tidak!! Satu-satunya yang aku tau adalah bagaimana agar aku bisa mendapatkan Adrian dan kembali padaku." Cukup!!! Anggun sudah tidak tahan lagi. Dia harus pergi dari tempat itu sekarang. Dengan cepat dia beranjak dari duduknya.


"Berusahalah jika kau bisa. Dan aku? Aku juga akan melakukan hal yang sama. Jangan harap Adrian akan bisa menceraikanku dengan mudah." Untuk terakhir kali di tatapnya Andini yang masih duduk dengan tenang di tempatnya. Sorot mata Anggun menunjukkan kebencian pada wanita itu. "Selamat siang," ujarnya lalu beranjak pergi.


Andini tersenyum hambar karenanya. Dia merasa khawatir kalau rencananya kali ini gagal.


Tidak. Aku tidak bisa menyerah begitu saja. Aku harus mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikku.


Anggun menghenyakkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang. Perang dingin yang beberapa saat lalu dialaminya dengan Andini membuatnya hampir kehilangan batas kesabaran. Dia baru tau kalau Andini ternyata selicik itu. Bahkan Anggun yang dulunya mencintai Bagas, tak pernah sedikitpun berpikir akan merebutnya dari Niken. Lalu bagaimana bisa Andini bersikap demikian padanya?


Anggun mulai mencoba mengatur siasat. Sebisa mungkin Anggun berusaha menjauhkan Adrian dari Andini. Berbagai alasan di buatnya agar Adrian tak menemui Andini. Meskipun itu Anggun lakukan dengan merengek atau bahkan sampai mengemis pada suaminya itu, dia tak perduli.


Namun sayangnya, peperangan yang terjadi secara diam-diam ini tak berpihak padanya. Semakin Anggun ingin menjauhkan Adrian dari Andini, semakin pria itu jauh darinya. Adrian bahkan hampir kehilangan sifat baiknya selama ini dan kembali pada sifat arogannya. Dia jadi lebih sering marah-marah bahkan tak segan membentak Anggun atau bahkan berkata kasar padanya. Semua yang dilakukan Anggun tak pernah ia anggap benar. Rasanya Anggun hampir tak kuasa menerima semua perlakuan kasar Adrian padanya. Ini lebih menyakitkan dari pada kejadian dua tahun silam.


Anggun merasa hatinya sakit. Kenapa disaat ia mulai merasakan kebahagiaan itu, tiba-tiba badai menggulungnya kembali. Dan dia sudah tidak tahan lagi saat tiba-tiba suatu hari Adrian membuat kejutan besar yang tak dia sangka sebelumnya.


"Anggun. Aku akan menceraikanmu." Suara Adrian barusan membuat dunia Anggun serasa runtuh dalam hitungan detik. Tak percaya wanita itu akan mendengar gugatan cerai dari Adrian.


"Apa Adrian?" Wanita itu terbelalak. "Tidak. Kau sedang bercanda bukan?" Anggun berusaha menepisnya.

__ADS_1


"Tidak. Aku serius. Kita akan bercerai dalam waktu dekat ini," Adrian menegaskan. "Aku sudah mengurus semuanya pada pengacara. Dan nanti kau tak perlu repot memikirkannya. Kau tinggal tanda tangan saja di atas surat itu nantinya."


Seketika Anggun menjerit bersamaan isak tangis yang meledak dari kedua matanya. "Tidaaakkk!! Jangan lakukan itu padaku, Adrian. Kau tak bisa menceraikanku. Aku mohon. Jangan teruskan keputusan bodohmu itu," ucap Anggun meraung sambil bersujud di kedua kakinya, memohon.


"Bangunlah, Anggun! Jangan seperti ini! Kau tak bisa merubah keputusanku ini lagi." Adrian berusaha menjauhkan dirinya dari tubuh Anggun yang ambruk tepat di bawah kakinya.


"Katakan!! Kenapa alasannya? Bukankah sebelumnya kita baik-baik saja?" Anggun masih terbenam dalam badai tangisnya.


"Itu karena aku baru sadar kalau aku tidak mencintaimu, Anggun. Ya. Aku tidak yakin akan perasaanku padamu. Dan untuk apa pernikahan ini kita pertahankan kalau kita tidak saling mencintai?"


"Tapi aku mencintaimu, Adrian. Aku sudah menaruh harapanku padamu." Wanita itu tersengguk.


"Ckkk, aku yakin itu juga bukan perasaanmu yang sebenarnya. Aku yakin kalau di hatimu juga masih ada mas Bagas hingga saat ini."


"Tidak. Itu tidak benar. Bagaimana bisa kau berpikir demikian, Adrian? Sungguh aku sudah tidak pernah memikirkan Bagas lagi."


"Sudahlah. Aku tak bisa menerima pembelaanmu ini. Yang pasti, keputusanku sudah bulat kalau kita akan bercerai. Entah itu kau mau atau tidak!!" Adrian hendak melangkah pergi. Namun langkahnya terhenti saat mendengar seruan dari Anggun yang membuatnya terkejut bukan main.


"Ini pasti karena Andini bukan?" Adrian menoleh seketika ke arah Anggun yang sudah berdiri kembali. Wanita itu menatapnya dengan nanar dan masih dengan kucuran air mata di kedua pipinya.


"Ba-bagaimana kau bisa tau?" Adrian tergagap. Anggun menarik salah satu sudut bibirnya.


"Kenapa? Kenapa kau lebih memilih dia dari pada istrimu sendiri? Apakah karena kau masih mencintainya?" Adrian terbungkam. Hanya matanya saja yang menatap Anggun dengan pandangan tak berkedip. Anggun memberanikan diri untuk melangkah mendekat ke arah Adrian. "Apa istimewanya dia dariku? Apakah karena dia adalah cinta pertamamu? Ataukah, karena dia sudah menjual tubuhnya padamu."


Dan seketika terdengar bunyi, PLAAAAAAKKKKK!!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Anggun. Cukup. Ini adalah pertama dan terakhir kalinya Adrian melayangkan tangannya pada wanita berhati lembut itu. Adrian memang seperti orang yang terasuki iblis sampai tak sadar akan apa yang sudah ia lakukan saat ini.


Sekali lagi air mata Anggun menetes. Dan kali ini hatinya semakin teriris pedih. Bukan karena tamparan itu. Tapi kenyataan kalau Adrian lebih membela wanita itu daripada istrinya sendiri. Anggun memegangi pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan Adrian barusan. Wanita itu menggigit bibirnya, pedih. Napasnya kembang kempis tak beraturan. Sesak serasa melanda jiwanya. Ingin rasanya saat ini dia enyah dari hadapan pria itu.


"Baik. Kalau itu yang kau inginkan. Dan kuharap, kau takkan pernah menyesali keputusanmu ini, Adrian." Anggun berlari seketika ke kamarnya dan meninggalkan Adrian yang berdiri membeku di tempatnya. Di tatapnya tangan kanannya yang barusan melayangkan sebuah tamparan keras di pipi istrinya. Adrian berteriak melampiaskan rasa frustasinya dengan menjambak rambutnya sendiri.


"Aaarrrrgggghhhhhh....."

__ADS_1


πŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊ


__ADS_2