
Tidak!! Apa yang akan Adrian lakukan padaku?
Anggun semakin menegang. Matanya terpejam rapat karena tak mau membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya. Namun sedetik kemudian akal sehatnya kembali.
Tidak!! Aku harus melawan. Aku tidak boleh mengijinkan Adrian berbuat macam-macam padaku.
Seketika itu juga dengan segala kekuatannya, Anggun mendorong tubuh Adrian ke belakang sampai membuat pria itu nyaris jatuh terhuyung. Hampir saja, bahkan tinggal sedikit lagi kedua bibir mereka menyatu. Anggun mengatur napasnya yang berkejar-kejaran tak karuan. Dia bahkan merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Jangan pernah sekalipun berpikir untuk menyentuhku, Adrian!" Anggun berseru diantara rasa gemetar di tubuhnya. "Dan satu hal lagi, aku tidak perlu membuktikan apapun padamu kalau aku sudah tidak lagi mencintaimu."
Setelah berkata demikian, secepat kilat Anggun meninggalkan tempat itu. Membiarkan Adrian sendiri dengan ketidak percayaan karena penolakan Anggun padanya. Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah.
Brengsek!!
π
π
Anggun sudah kembali ke hadapan Dion.
"Kemana saja kau? Aku mencarimu ke toilet tapi kau tidak ada disana," serbu Dion saat melihat Anggun sudah kembali.
"Maaf, ada sesuatu yang harus ku selesaikan tadi," Anggun berbohong. Mata Dion menyipit. Jelas ia tahu kalau saat ini Anggun berbohong padanya. Pria itu tidak bisa di tipu dengan mudah.
Apa sudah terjadi sesuatu padanya? Kenapa wajahnya sangat pucat?
Dan meski ia tahu Anggun berbohong padanya, namun Dion tak ingin memaksa wanita itu berkata yang sebenarnya. Ketegangan Anggun saat ini dapat di rasakan Dion dan itu jelas membuat pria itu lebih khawatir.
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Dion cemas.
"Hah? Eh....aku...."
"Wajahmu sedikit pucat."
"Hmmm, sepertinya aku tidak enak badan." Untuk kedua kalinya Anggun berbohong. "Apakah Kau tidak keberatan kalau kita pulang sekarang?" tanya Anggun ragu.
Dion memperhatikan Anggun sejenak sebelum akhirnya ia menjawab, "Ya, tentu saja. Tapi kita harus pamit dengan atasanku dulu."
Anggun mengangguk setuju. Setelah berpamitan pada Pak Handoko dan istrinya, merekapun pergi meninggalkan pesta itu. Namun sebelum itu keduanya sempat berpapasan dengan Adrian yang balik berjalan kembali ke pesta tersebut. Langkah mereka pun terhenti disana. Wajah dan tubuh Anggun menegang saat melihat sosok Adrian kembali. Dan jelas Dion melihat perubahan sikap wanita tersebut. Matanya lalu tertuju pada Adrian yang menatap tajam penuh amarah, pada Anggun yang sedang tertunduk.
Pasti sudah terjadi sesuatu pada mereka.
Tak ingin berpikir lebih jauh, Dion lalu meraih tangan kekasihnya. "Ayo!!!" ajaknya. Anggunpun melangkah kembali. Melintasi Adrian sambil membuang pandangan. Tampak ekor mata Adrian masih mengikuti kemana Anggun pergi sampai wanita itu benar-benar menghilang di balik pintu gedung.
π
π
Dion dan Anggun sudah kembali ke rumah. Tak ada yang mereka bicarakan selama di mobil tadi. Anggun masih sibuk dengan pikirannya yang sempat terkuras oleh Adrian. Sedang Dion sendiri sibuk menebak tentang apa yang telah terjadi pada sahabat dan calon istrinya itu.
__ADS_1
"Kau tidak ikut masuk?" tanya Anggun sebelum ia turun dari mobil.
"Tidak. Aku tak ingin mengganggumu. Sebaiknya kau cepat masuk dan istirahat. Oh...ya, sampaikan salamku pada mama." Anggun mengangguk dan ia pun segera turun dari kendaraan beroda empat itu.
Dionpun tak menunggu lama karena dengan segera iapun melajukan mobilnya menuju rumah pribadinya. Meski sepanjang jalan pikirannya tak pernah tenang, sejujurnya rahasia yang di sembunyikan Anggun di pesta tadi sangat mengusik benaknya. Ingin rasanya Dion kembali dan menginterogasi kekasihnya tersebut. Namun akal sehatnya masih bertahan, berteriak supaya ia tidak termakan emosi dan rasa curiga yang menghinggapinya meski sesaat.
Di tempat lain, Adrian masih termenung sendiri di tengah pesta. Di lihat nya Andini masih sibuk dengan teman lamanya. Di liriknya jam tangan sudah menunjuk angka 10 malam. Mungkin aku harus mengajak Andini untuk segera pulang, pikirnya.
Tiga hari berlalu sejak kejadian itu. Hari ini Adrian dan Andini sengaja makan siang bersama di sebuah rumah makan. Keduanya sudah bertemu sejak sepuluh menit yang lalu. Beberapa menu makan siang pun juga sudah mereka pesan. Dan kini keduanya tengah terlibat sebuah pembicaraan seru.
"Jadi siapa saja keluargamu yang akan datang ke pertunangan kita?" Andini memulai topik obrolan.
"Hmmm, kurasa hanya orang tuaku saja. Dan juga mas Bagas pastinya." Keduanya berbincang sambil menikmati makanan mereka.
"Kau tak mengabari keluargamu yang lain?"
"Untuk sementara ini biarlah ini menjadi rahasia dulu. Aku tidak akan bisa menjelaskan kalau sampai mereka tahu sekarang."
"Tapi kau tetap tak bisa menyimpan semua ini terus menerus. Lama kelamaan merekapun akan tahu soal hubungan kita."
"Hmmm, tentu saja."
Untuk sesaat pembicaraan itupun terhenti. Adrian hampir menyelesaikan makan siangnya saat tiba-tiba matanya tidak sengaja menangkap dua sosok manusia yang tengah memasuki restoran yang sama. Matanya membulat penuh. Keinginannya untuk menghabiskan makan siangnya jadi terurung.
Siapa yang Adrian lihat sampai membuat darah pria itu bereaksi cepat? Menggelegak karena mendidih. Tidak lain mereka adalah Dion dan Anggun. Rupanya Dion menjemput Anggun setelah ia selesai mengajar dan membawanya sekalian untuk makan siang. Sialnya, merekapun tak akan menyangka kalau tempat yang di pilih ternyata satu area dengan Adrian.
"Adrian, kau tidak mendengarku?" tegurnya. Adrian seketika tergagap.
"Eh...aku...hmmmm...maaf, aku memang tidak fokus mendengarmu," Adrian tak mampu mengelak lagi. Dia sudah tertangkap basah. Apalagi saat mata Andini menangkap bayangan sepasang manusia di cermin transparan di dekat meja kasir. Ya, bayangan dua orang yang sangat dikenalnya. Lagi-lagi mereka.
Andini menghembuskan napas dengan kasar. Jadi sejak tadi dia bicara dan tak satupun yang masuk ke telinga Adrian? Andini melipat tangan dan membuang muka, kesal.
"Sebaiknya kita pulang sekarang," ajak Adrian kemudian yang tau Andini mulai tidak enak hati. Tanpa mendapat persetujuan dari kekasihnya itu, iapun melambaikan tangannya memanggil pelayan. "Yuk," ajaknya setelah selesai membayar.
"Sepertinya aku berubah pikiran," kata Andini tiba-tiba.
"Hah? Soal apa?"
"Soal pertunangan kita." Kedua mata mereka saling beradu. "Aku ingin pertunangan kita dilakukan besok," putus Andini kemudian lalu meraih tasnya dan berniat beranjak pergi.
"Tapi, bukankah acaranya masih satu minggu lagi?"
"Sepertinya untuk satu minggu ke depan aku sangat sibuk. Jadi sebaiknya, acaranya kita majukan besok." Dan gadis itupun beranjak pergi lebih dulu meninggalkan Adrian yang terbengong-bengong sendiri di tempatnya.
π
π
π
__ADS_1
Andini memang sengaja mengambil keputusan mendadak itu saat dirinya melihat perubahan dalam diri Adrian. Semua tentunya berkaitan dengan mantan istrinya. Andini takut kalau-kalau Adrian akan berubah pikiran dan akan kembali lagi pada Anggun. Jelas dia tadi melihat bagaimana wajah kekasihnya menampakkan kecemburuan luar biasa. Meski mulut pria itu tak mengucap, tapi mata batin seorang wanita tak bisa di bohongi. Dan itulah yang dirasakan Andini.
"Kenapa semua jadi mendadak seperti ini, Nduk?" Suara ibu Andini disela-sela kesibukannya yang mengatur acara pertunangan.
Sejak pagi rumah itu sudah tampak dengan lalu lalang orang-orang. Semua mengurusi acara pertunangan Andini yang ternyata di adakan secara mendadak dan tak sesuai dengan rencana.
"Ndak pa-pa kok, Bu. Kami hanya tak ingin menunda-nunda waktu saja," jawab Andini sambil membenahi riasannya. Dua jam lagi keluarga Adrian akan datang.
"Tapi waktu satu minggu itu kan tidak terlalu lama, lha ini kamu ngomong mendadak dan memajukannya hari ini. Jelas ibu sangat kerepotan. Kamu pikir mengurusi acara pertunangan segampang membalik telapak tangan?" Sang ibu masih mengomel. Andini tak menyahut. Hatinya membeku. Tak ada gunanya ia menjelaskan pada sang ibu karena ini hanya sekedar nalurinya. Mengira Adrian mulai ragu akan hubungan mereka.
Sementara itu di pihak lain....
"Ayo cepet, Pak. Jeng Retno dan mas Pur pasti sudah menunggu kita," seru Ny Sujono sambil berlari menuju mobil. Disana sudah menunggu Bagas dan Niken juga pak Doni, sopirnya. Sedang Adrian menaiki mobilnya sendiri. Bagas sengaja satu mobil dengan orang tuanya supaya tidak memperbanyak kendaraan yang mereka bawa. Sedang Adrian, meskipun ia sendiri, namun dalam mobilnya banyak sekali barang seserahan yang akan di berikan kepada calon mempelai wanita.
"Iya Bu, tunggu sebentar." Pak Sujono kemudian bergegas menuju mobil dan terlihat bi Inem menutup pintu gerbang setelah mereka keluar. "Jangan salahkan Bapak kalau kita terlambat pergi ke sana. Adrian saja yang mendadak memberitahukan acara lamaran ini." Pria itu menghembuskan napas berat.
"Saya juga ndak ngerti sama anak itu, Pak. Bisa-bisanya dia memajukan acara lamaran. Emang dia pikir kita ini tukang sulap sampai bisa membuat jadi semua hal dalam sekejap?" Niken menelan senyum geli saat mendengar keluhan sang mertua. Bagas yang duduk di sampingnya hanya duduk diam tak bergeming.
Yang sebenarnya, apa yang ia pikirkan juga sama dengan komentar sang ayah. Memang sejak beberapa minggu yang lalu dia mendengar kabar pertunangan adiknya dengan Andini. Namun kabar yang di dapat semalam saat sang ibu menelfon agar ia datang keesokan harinya karena acara tersebut jadi harus di langsungkan lebih awal dari rencana. Dia bahkan sempat berfikir kalau Adrian menghamili Andini. Namun dugaan itu segera ia tepis karena itu sama saja memasukkan dirinya ke dalam jebakan. Mengingat dulu ia yang telah berbuat bejat dengan menghamili Anggun dan bahkan meninggalkannya tanpa ada tanggung jawab.
Ada apa sebenarnya?
"Pak, sepertinya kita harus mengisi bensin lebih dulu." Tiba-tiba suara pak Doni menginterupsi kebungkaman yang terjadi.
"Hah? Memangnya tadi kamu belum isi bensin, Don?" Ny Sujono mendahului.Β
"Belum Bu," pak Doni menjawab dengan tidak enak hati.
"Wes...wes....kowe ki piye to Don....Don....Sembarange kok ora di siapne dhisik to?" Wanita paruh baya itu tampak mengomel. Dan sekali lagi Niken yang duduk di jok belakang tersenyum geli mendengarnya.
"Ngapunten Bu."
"Wes to....wes to....Ora usah ribut. Ngono wae kok di gawe rame. Ya sudah, kita isi bensin dulu," pak Sujono menengahi. Sang istri hanya mendengus kesal dan masih menggerutu meski tak terdengar.
Mobilpun berbelok ke pom bensin. Pak Sujono terkejut saat melihat istrinya hendak turun. "Mau kemana, Bu'e?"
"Sek, tak menyang ponten sebentar," Ny Sujono tanpa perduli suaminya yang balik mengomel dengan cepat turun dari mobil dan berlari kecil menuju toilet.
"Kamu lihat kan ibumu, sejak tadi ngomelin si Doni, eh malah wonge dhewe sing mudhun. Wes...wes..." pak Sujono hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat tingkah sang istri.
Sementara itu.....
Ny Sujono hendak kembali ke mobil saat tidak sengaja tubuhnya bertabrakan dengan seseorang. Kedua pasang mata itu saling bertemu pandang.
"Lho, jeng Ratih?!"
"Mbak Mayang?!"
πΊππΊππΊππΊππΊππΊ
__ADS_1