
Sore itu.....
Suara dering telfon di kediaman keluarga Sujono tampak memecah kesunyian. Anggun yang hendak melangkah ke kamar mandi jadi mengurungkan niat karena bunyi berisik di ruang tengah tersebut. Sedikit heran karena tak ada satupun dari penghuni rumah itu yang mau mengangkatnya.
"Kemana mereka semua?" gumamnya lirih. Akhirnya wanita itupun mengalah dan menghampiri tempat dimana telfon itu berada. "Assalamualaikum....."
*"*Waalaikum salam," suara balasan dari seberang telfon. Anggun merasa tak asing dengan suara itu. "Ini dengan siapa?" orang itu bertanya.
Agak ragu Anggun menjawab, "Anggun."
*"*Loh, mbak Anggun toh? Sampean ada di sana, Mbak?"
Anggun masih mencoba mengingat suara siapa di seberang sana. Dan karena Anggun tak segera menjawab, orang itupun berucap kembali.
*"*Mbak, mas Bagas ada disana?" Pertanyaan itu sukses menyeretnya untuk tersadar kembali. Dan kini tahulah dia siapa pemilik suara itu.
"Niken ya?"
*"*Iya Mbak. Apakah mas Bagas ada disana?"
Ragu-ragu Anggun menjawab. Masalahnya, ada sesuatu tidak beres yang di ciumnya. Anggun berfikir, apakah dengan memberitahukan Bagas ada di rumah itu, akan menyelesaikan masalah? Atau justru sebaliknya. Akan mengacaukannya?
*"*Mbak?!"
"Oh....eh, maaf. Aku tidak mendengar pertanyaanmu," ujarnya berbohong. "Jadi, kau bilang apa?"
*"*Mas Bagas, Mbak. Dia pergi dari rumah. Apakah dia sekarang ada disana?"
"Hmmm, yach...dia memang ada disini." Akhirnya Anggun memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. "Kau mau bicara dengannya?"
*"*Ah...tidak, Mbak. Aku hanya mau tanya itu saja. Dan satu hal lagi, tolong jangan bilang siapapun kalau aku telfon. Terima kasih. Assalamualaikum...."
"Waalaikumsalam..."
Anggun menarik napas panjang. Dia tertegun sejenak di tempatnya. Benarlah dugaannya sekarang kalau rumah tangga Bagas sedang mengalami problema. Entah soal apa.
π
π
π
Dan sore itu sebuah kejutan datang. Anggun yang baru pulang dari kencannya dengan Dion, harus di suguhi pemandangan tak menyedapkan mata.
"Harusnya kau mengatakan padaku kalau kau pulang kerumah Ibu, Mas. Kau tau aku cemas memikirkanmu," suara seorang wanita di sela-sela isak tangisnya.
Rupanya dia adalah Niken. Setelah mengetahui bahwa Bagas ada rumah mertuanya, Niken pun segera menyusul ke sana. Dan saat ini, di sinilah mereka berada. Bagas dan Niken tengah berdebat sengit di ruang tamu.
"Hah!! Apa perdulimu? Meskipun aku hilang ke dasar bumipun, pastinya tak akan ada pengaruhnya untukmu. Kau mana pernah mendengarkan kata-kataku. Kau lebih percaya pada orang lain dari pada suamimu sendiri," Bagas membantah kasar.
__ADS_1
"Mas, apapun permasalahan dalam rumah tangga kita, semua bisa kita bicarakan baik-baik di rumah."
"Bukankah aku juga pernah berkata demikian? Dan apa jawabanmu saat itu?"
"Kau tau saat itu aku sedang emosi, Mas. Aku sedang marah. Bagaimana aku bisa mengendalikan diriku disaat aku sendiri melihatmu berjalan bersama dengan wanita lain?"
Seketika seperti ada kilatan petir yang menyambar. Anggun yang tak sengaja mendengar keributan itu pun terperanjat seketika. Tak menyangka jika Bagas akan berbuat nista bahkan setelah dua tahun lalu menyakitinya.
"Anggun, sebaiknya kita keluar dulu. Kita tidak berhak ikut campur urusan mereka." Suara halus Dion mengisi otaknya yang sempat kosong. Anggun tergagap dan tersadar kembali. Diapun mengangguk setuju. Namun jujur, jauh di dalam hatinya, ada sebuah kekecewaan yang terselubung. Entah itu karena apa.
Anggun dan Dion melangkah kembali keluar. Meninggalkan dua orang yang sedang berseteru tegang. Dan sayup-sayup di dengarnya suara tangisan anak kecil.
"Cinta?!" gumamnya lirih. Anggun lalu berusaha mencari arah suara itu berasal. Rupanya benar dugaannya. Cinta sedang menangis dalam gendongan bu Ratih. Wanita paruh baya itu tampak kesulitan menenangkannya. Anggun buru-buru menghampiri keduanya.
"Biar saya saja yang gendong Bu," tanpa meminta persetujuan Ratih, Anggun meraih langsung anak itu dan menimangnya dalam buaian. Seperti di hipnotis, gadis mungil tersebut menghentikan tangisnya. "Dia sudah makan Bu?" tanya Anggun kemudian.
"Ibu ndak tau. Tadi Ibu coba beri dia makan, tapi dia ndak mau."
"Coba saya yang menyuapinya." Ratih lalu melangkah ke dalam rumah meninggalkan Anggun yang asik menimang-nimang putrinya.
"Hai Cantiiikkk, masih ingat sama aku nggak?" Suara Dion dari belakang Anggun.
"Eh....om Dion. Lihat Sayang, masih ingat sama om Dion tidak?" Anggun melatahi. Tampak bola mata Cinta berputar-putar memperhatikan sosok Dion yang menirukan gaya seorang badut. Berbuat sekonyol mungkin agar si anak mau tertawa kembali. Dan bukannya Cinta yang tergelak, justru Anggun yang harus mati-matian menahan tawa.
"Cukup Dion! Cukup!! Kamu ingin perutku sakit?"
"Eh, aku kan mau menghibur putriku."
"Iya. Dia anak kamu kan? Dan sebentar lagi aku menikah denganmu. Berarti dia anak aku juga kan? Lagi pula saat ia lahir, aku yang merawatnya." Dion mengenang masa lalu.
Beberapa saat kemudian, bu Ratih datang membawa semangkuk kecil makanan dan menyerahkannya pada Anggun. "Anggun, kau ajak Cinta. Ibu mau menemui Bagas dan Niken dulu." Anggun hanya menganggukkan kepala dan melihat sekilas kepergian mantan ibu mertuanya itu.
"Pergi jalan-jalan yuk!!" Dion berseru kembali.
"Lagi? Kita kan baru pulang." Nada Anggun setengah memprotes. "Lagi pula aku harus kasih makan Cinta dulu."
"Kamu kan bisa suapin dia di dalam mobil. Ehmm, kita keliling-keliling dulu aja. Nanti mampir sebentar ke taman. Gimana?" Anggun berpikir sejenak untuk kemudian tersenyum sambil mengangguk setuju.
π
π
π
π
Masih sekitar tiga puluh menit Dion dan Anggun berkeliling kota, tiba-tiba keasikan mereka terganggu saat sebuah telfon berdering. Dion mendapat panggilan dari seseorang.
"Halo,"
__ADS_1
"...."
"Oh, sekarang?"
"...."
"Yach, baiklah. Aku akan segera kesana."
Dion menutup telfon secara sepihak. Anggun menoleh sekilas pada Dion.
"Siapa?" tanyanya penasaran.
"Ehmm, seorang teman," jawab Dion sedikit gugup. "Sepertinya kita tidak jadi ke taman. Apakah kau tidak keberatan?"
Meski sekilas, Anggun bisa melihat kegugupan pria itu. "Yahhh....tidak apa-apa, lagi pula sepertinya Cinta juga sudah mulai mengantuk setelah menghabiskan makanannya." Dion menoleh kepada anak perempuan yang dipangku Anggun. Kelihatan bocah itu memang terkantuk-kantuk dalam duduknya.
Dion tergelak sendiri. Di usapnya kepala anak itu dengan lembut dan penuh sayang. "Baiklah. Kita pulang saja. Dia memang sudah sangat mengantuk," ujarnya disela-sela tawa.
"Apa yang kau tertawakan?" Anggun terbodoh sendiri.
"Lihatlah, dia sangat lucu. Sejak dulu aku selalu gemas padanya." Dion mencubit kecil hidung sang bocah sehingga mengakibatkan anak itu mengerjap-ngerjapkan mata. "Aku berharap setelah kita menikah nanti, Tuhan akan segera memberi kita anak."
Dan kalimat tersebut sukses membuat Anggun melotot. Matanya mendelik tajam pada Dion. Pria yang di tatap demikian hanya tersenyum penuh arti. "Aku tak mau kau menunda-nunda kehamilan. Aku ingin segera punya anak darimu!" Blusshhh!!!!! Wajah Anggun memerah. Dan Dion yang mengerti itu tak dapat menyembunyikan tawanya lagi.
Apa-apaan? Tentu saja Anggun merasa malu jika membicarakan hal yang sangat intim ini. Dan Dion dengan lugasnya menyampaikan semua secara terang-terangan. Bagaimana wajah Anggun tidak memerah?
π
π
Dion sudah mengantar Anggun kembali ke rumah keluarga Sujono. Dan saat ini, dengan menggendong Cinta yang sudah terlelap dalam buaian, dia melangkah memasuki rumah tersebut.
Tampak olehnya pasangan suami istri keluarga Sujono juga putra sulungnya sedang berkumpul di ruang tengah. Anggun tertegun sesaat. Dia merasakan ada aura dingin mencekam di ruangan itu saat ini. Matanya beredar cepat mengitari ruangan. Mencoba mencari sosok seseorang, namun tak nampak olehnya.
"Dia sudah tidur, Nduk?" Ratih berseru dari tempat duduknya. Dan bersamaan itu, Bagaspun menoleh ke arah Anggun berada. Dia lalu bangkit menghampiri.
"Berikan padaku, Anggun. Biar aku yang menidurkannya." Anggun tak menolak saat Bagas mengulurkan tangannya. Dia pun memberikan Cinta untuk di gendong ayahnya.
"Niken?" Meski agak ragu, Anggun akhirnya membuka suara.
Bagas yang tau maksud pertanyaan Anggun seketika menarik napas panjang, "Dia sudah pulang," jawabnya dingin. Mata Anggun membola. Keningnya berkerut.
Pulang? Sendiri? Tanpa Bagas dan Cinta? Bagaimana mungkin?
Anggun ingin bertanya lebih, namun ia tak berani. Pada saat itulah pak Sujono yang sejak tadi duduk diam terpekur, tiba-tiba membuka suara bersamaan saat Bagas hendak melangkah pergi, "Bapak ndak mau tau, Bagas. Kamu harus tetap menyelesaikan masalah rumah tanggamu terlebih dahulu. Bapak ndak suka kau membawa urusan keluargamu ke rumah ini."
Suara itu bagai dentuman lonceng yang terjatuh di atas lantai. Memecah keadaan. Membuat bunyi yang nyaring dan berdengung di telinga Bagas. "Pulang ke Semarang dan selesaikan masalahmu disana!! Biarkan anakmu disini untuk sementara." Kalimat pak Sujono masih berlanjut.
Bagas tak menjawab apapun. Dia lalu melangkah perlahan berjalan menuju kamar untuk membaringkan Cinta disana. Anggun sendiri segera angkat kaki menuju kamarnya. Sungguh, dia tidak tahan dengan suasana mencekam seperti itu.
__ADS_1
πΊππΊππΊππΊππΊπ