Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2
BAB 25


__ADS_3

Ny. Sujono sudah bertekad untuk mengambil tindakan. Dan hari itu....


Pagi itu keluarga Mahendra sudah di kejutkan oleh kedatangan seseorang. Ny Sujono. Entah angin apa yang membawanya ke sana sehingga di saat kabut masih menyelimuti udara pagi yang dingin, wanita itu sudah bertandang ke rumah tersebut.


Mayang mempersilahkan tamunya dengan segera untuk masuk.


"Ada keperluan apa sampai jeng Ratih pagi-pagi sekali datang kemari?" Mayang langsung ke pokok pembicaraan. Tatapannya sebentar-sebentar menoleh pada Anton, suaminya.


"Langsung saja mbak Mayang, saya datang kemari ingin menjemput Anggun."


Semua mata terbelalak. Tak terkecuali Anggun yang juga hadir disana.


"M-maksudnya?" Mayang mencoba mencari kejelasan dari perkataan Ratih.


"Sepertinya kalimat saya sudah sangat jelas, Mbak. Apakah perlu saya mengulanginya lagi?" Tekanan yang terlontar dari setiap kata-kata Ratih menunjukkan nada sinis dan tak bersahabat.


Mayang dan Anton terdiam. Hingga saat ini, rasa terkejutnya saja masih belum hilang karena kedatangan wanita itu yang tak biasanya. Dan kini dia secara terang-terangan meminta Anggun bersamanya. Itu berarti sejak awal dia sudah tau kalau Anggun tinggal di rumah tersebut.


Ya, sebenarnya yang tidak diketahui oleh siapapun bahwa Ratih beberapa hari terakhir ini menyuruh seseorang untuk mengawasi Anggun. Karena beberapa hari lalu saat ia dan pak Doni datang ke rumah lama Anggun, Ratih tak menemukan keberadaan mantan menantunya itu. Dan tetangganya pun mengatakan kalau selama ini Anggun tidak pernah pulang ke rumah.


Dari situlah Ratih curiga. Apakah jangan-jangan Anggun tinggal satu rumah lagi dengan Dion seperti saat dulu ia melahirkan?


Awalnya Ratih menyuruh orang untuk mengawasi rumah Dion. Dan ternyata hasilnya nihil. Akhirnya, orang yang ia tugaskan berbalik mengawasi Anggun. Wanita itu tidak tau kalau dirinya di intai sejak datang ke sekolah hingga saat pulang. Dan barulah Ratih mendapat informasinya secara jelas dimana Anggun tinggal.


"Jeng, saya tidak tahu jeng Ratih tahu darimana Anggun ada disini. Tapi sekarang, Anggun memang tinggal dengan saya. Dan kalau jeng Ratih mau membawanya--," sekali lagi Mayang menoleh ke arah suaminya, "maaf, tapi saya keberatan."


"Saya tahu mbak Mayang akan berkata demikian. Tapi asal mbak Mayang dan mas Anton ingat, kalau Anggun sudah saya anggap sebagai putri saya sendiri. Saya yang menggantikan orang tuanya setelah ibunya meninggal. Jadi....saya rasa Anggun lebih berhak tinggal dengan saya saat ini sampai dia menikah."


"Tapi Jeng, sampean tau sendiri, kalau Anggun dan Adrian baru bercerai. Apa kata orang kalau mereka tinggal dalam satu rumah?"


"Kalau soal Adrian yang mbak Mayang risaukan, jangan khawatir, Adrian punya rumah sendiri."


Kedua pasangan keluarga Mahendra tampak berpikir. Mayang mengalihkan pandangannya pada Anggun yang duduk di seberang, di kursi tunggal. Mencoba meminta pendapat gadis itu melalui sorot tatapan matanya. Dan disaat semua orang kalut dengan pikirannya masing-masing, saat itu pula muncullah Dion dari balik pintu.


"Ma, mamaaaa.....kenapa rumah sepi seka--," Kalimat itu terhenti begitu saja saat Dion melihat sekumpulan orang ada di ruang tamu. Dia lebih terkejut lagi ketika anak matanya menangkap sosok wanita paruh baya dengan sanggul di rambutnya dan pakaian kebaya yang menjadi ciri khas orang Jawa.


Dion menelan ludah pahit. Dia merasa ada hal buruk yang sedang di hadapi keluarganya saat ini. Terlebih saat melihat raut wajah Anggun yang terlihat tegang.


"Ada apa ini? Kenapa semua berkumpul disini?" tanyanya bingung. Wajah yang semula ceria kini berganti mendung.


"Dion, begitukah caramu saat ada tamu yang datang?" tegur Anton saat melihat sikap putranya yang menurutnya kurang sopan.


Dion yang mengerti akan kesalahannya dengan cepat memperbaiki diri. Dia lalu mendekat ke arah Ratih yang duduk dengan sikap acuh tak acuh.

__ADS_1


"Bu," pemuda itu menyalami Ratih.


Ratih merespon hal tersebut dengan sikap yang sedikit dingin. Yah, Dion merasakan hal tersebut. Dia lalu mendudukkan dirinya di kursi di samping Anggun dan menoleh sebentar pada gadis tersebut.


"Jadi, ada apa ini sebenarnya?" Kini Dion mulai meminta penjelasan.


"Hmmm, begini Dion. Sebenarnya, Ibu Adrian ke sini untuk mengajak Anggun pergi." Kini sang kepala keluarga Mahendra mengambil alih pembicaraan. Dan tentu saja apa yang baru saja di katakan papanya membuat Dion terkejut.


Pandangannya tertuju langsung pada Ibu Adrian. "Ibu mau mengajak Anggun pergi?" Dion bertanya menegaskan.


"Ya. Itu benar. Aku memang ingin Anggun ikut bersamaku pulang. Karena memang tidak seharusnya ia disini," jawab Ratih dengan kalimat sinisnya. Dion terlihat meradang. Tapi pria itu bukan orang yang mudah terbawa emosi. Sebisa mungkin Dion menguasai diri.


Masih belum ada tanggapun apapun dari mereka bahkan termasuk Dion yang baru saja datang. Dan otak pria itu mulai berpikir keras. Kemungkinan positif dan negatif yang akan terjadi. Dion memandang Ratih dengan seksama dengan tatapan mata menyelidik. Apa yang diinginkan wanita itu sebenarnya?


"Baiklah. Anggun akan ikut dengan anda. Dia akan disana sampai kami menikah," putus Dion mengakhiri ketegangan.


Sebuah senyum licik terakhir di bibir Ratih. "Tapi saya punya syarat," Dion memotong kalimatnya sejenak. "Saya harap anda mengijinkan saya menjemput dan mengantar Anggun seperti biasa. Dan saya juga tidak ingin anda melarang, saat saya dan dia akan pergi bersama atau saya datang ke sana mengunjunginya."


Senyum yang awalnya terukir, berubah masam. Ratih menelan ludah seketika. Tentu Dion bisa melihat ada rasa tidak rela dalam diri wanita itu mengenai syarat yang ia ajukan.


"Baiklah, ayo Anggun. Aku temani kau bersiap." Tanpa menunggu waktu lagi, Dion menarik tangan Anggun dan membawanya ke dalam kamar.


Disana, Mayang dan Anton hanya bisa duduk diam terpekur dalam ketegangan masing-masing. Keduanya bahkan tak berani memberi pendapat apapun demi menghargai keputusan Anggun dan Dion. Dan beberapa saat kemudian muncullah Narti, pembantu rumah itu datang membawa nampan berisi beberpa gelas minuman dan kue. Menyuguhkan pada Ratih serta kedua majikannya.


"Dion....kenapa kau mengijinkan aku kembali ke rumah itu?" Anggun menyentuh pundak pria itu pelan. Mereka yang awalnya mau merapikan pakaian Anggun, jadi terhenti dan mendudukkan diri di tepi ranjang.


Dion mendesah sebelum akhirnya ia berkata, "Tidak apa-apa, Anggun," jawabnya seperti tanpa beban meski itu sesungguhnya hanya sebuah kepura-puraan.


"Kau tidak khawatir kalau aku disana?" Dion memandang Anggun seksama. "Kau tau, mereka orang tua Adrian. Dan kau tau dia siapa. Dia--,"


"Mantan suamimu," potong Dion cepat. "Kau tanya aku tidak khawatir? Tentu saja aku khawatir. Kau pikir aku rela kau disana? Hah, aku bahkan lebih suka kau tinggal sendiri dari pada harus tinggal bersama mereka." Dion melengos. Mengusap wajahnya dengan frustasi.


"Lalu? Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau tidak menolak keinginan Ibu?"


"Siapa aku ini, Anggun? Apakah aku berhak atasmu?" Dion kembali menatap Anggun. Matanya menelusuri wajah ayu di hadapannya. "Aku memang akan menikahimu. Tapi nyatanya itu belum terwujud. Aku masih bukan siapa-siapa untukmu, Anggun. Dan itu berarti aku tidak berhak melarangmu."


"Kalau begitu, biarkan aku yang menolak." Anggun mencoba mengambil inisiatif dan mencoba berdiri hendak melangkah pergi. Namun dengan cepat Dion mencegahnya.


"Tidak Anggun. Jangan!"


"Tapi Dion, kau tau aku sudah tidak ada hubungan dengan keluarga itu lagi."


"Ya. Aku tau. Tapi bagaimanapun juga mereka menyayangimu."

__ADS_1


"Dan itu bukan berarti aku harus tinggal bersama mereka kembali." Kini perdebatan kecil mulai terjadi. "Kau tau, aku tidak akan merasa nyaman lagi tinggal disana."


Dion berusaha menenangkan Anggun. Meraih kedua bahu wanita itu. Dan kini keduanya saling berpandangan. Dion ingin mencoba memberi pengertian lewat sorot matanya.


"Aku tau apa yang saat ini kau rasakan,"


"Lalu?"


"Anggun, percayalah! Apa yang kau khawatirkan itu tak akan terjadi?"


"Memang apa yang ku khawatirkan?"


"Soal Adrian bukan?" Anggun terdiam. "Sebentar lagi, kita akan menikah. Percayalah, kalau itu pasti akan terlaksana."


"Dan bagaimana kalau itu tidak akan terjadi?" Dion membungkam mulut Anggun dengan cepat.


"Aku tidak mau kau berkata demikian," ujarnya lalu meraih tubuh wanita di hadapannya untuk di masukkan dalam pelukan.


"Dion, kalau kau tak rela, kenapa kau ijinkan aku pergi?" Anggun meratap. Matanya mulai tergenang air mata. Merasakan pelukan pria itu yang sangat terlihat kalau ia tak ingin melepaskannya.


"Aku hanya ingin kau menunjukkan rasa hormatmu pada mereka. Bukankah kau sudah menganggap mereka seperti orang tuamu sendiri? Seperti itu pula dengan diriku. Sudah menganggap mereka seperti orang tuaku. Dan meski kau akan berada disana, aku tak akan membiarkan siapapun merusak rencana kita. Entah itu Adrian, atau bahkan orang tuanya."


Untuk sesaat mereka terdiam. Saling menautkan diri dalam pelukan.


"Kau jangan lupa mengunjungiku," ucap Anggun dengan suara serak. Dion merenggangkan pelukannya dan mengusap air mata yang bertebaran di pipi wanita itu.


"Tentu. Kebiasanku tak akan berubah. Aku akan tetap menjemputmu dan akan tetap mengajakmu keluar untuk makan malam, nonton, atau jalan-jalan."


"Kau janji?" Dion mengangguk. Mereka lalu tersenyum bersama. Dion meraih wajah Anggun dan menyatukan kening keduanya.


"Aku mencintaimu, Anggun," bisiknya lirih.


Dan hari itu juga Ny Sujono memboyong Anggun ke rumahnya. Meski dengan setengah hati, tapi Anggun tetap mengikuti permintaan wanita itu hanya demi menghormatinya.


Dion melepas kepergian kekasihnya dengan tatapan tak rela. Tapi biarlah. Jalan ini sudah diambilnya. Dion tak mungkin menarik ucapannya kembali. Anggun melambaikan tangannya untuk terakhir kali sebelum ia memasuki mobil keluarga Sujono.


"Kenapa kau lakukan ini, Dion? Mama tau kau tidak rela. Apa kau tidak takut kalau dia akan kembali pada Adrian?" Suara sang mama menginterupsi keheningan dalam batin Dion.


"Aku percaya pada Anggun , Ma. Dan kepercayaanku padanyaΒ  jauh lebih besar dari apapun."


Mayang mengusap bahu putranya dengan pelan dan tersenyum hambar. "Bersabarlah, Sayang. Percayalah, hari indah itu akan tiba."


Dion tersenyum, "Pasti Ma. Pasti."

__ADS_1


πŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊ


__ADS_2