
Suasana yang awalnya hangat kini menjadi dingin karena kemunculan Adrian. Seketika Anggun berdiri dari duduknya, namun ditahan dengan cepat oleh sang ibu.
"Tetap duduklah disini, Nduk. Ibu masih ingin bersamamu." Anggun tersenyum masam dan mau tak mau harus menuruti keinginan wanita paruh baya itu.
Adrian melangkah perlahan mendekati ibunya. Hatinya sedikit canggung karena keberadaan Anggun disana. Seharusnya dia menunggu Anggun pergi lebih dulu baru dia masuk ke dalam. Tapi sudahlah, dia sudah terlanjur masuk dan apapun harus dihadapi.
"Bu, bagaimana keadaan Ibu?" Adrian membungkuk perlahan sejajar dengan tempat duduk Anggun.
"Ibu tidak apa-apa, Adrian." Suara Ny Sujono tak sedingin terakhir kali saat mereka bertemu. Meski memang agak lemah, tapi Adrian bisa merasakan kasih sayang ibunya yang dulu selalu menaunginya.
"Ibu sakit dan Ibu bilang tidak apa-apa?"
"Memangnya Ibumu sakit karena siapa?" Suara sindiran tajam pak Sujono yang masih di ruangan itu menengahi. Baik Adrian maupun Anggun hanya diam membisu.
"Jangan dengarkan ucapan bapakmu, Ngger. Kau tau dia memang begitu." Ny Sujono mengelus lengan putranya lembut. Adrian hanya tersenyum pahit.
"Ibu sudah makan? Sudah minum obat?" tanya Adrian kemudian.
"Sudah Le, baru saja Anggun menyuapi Ibu." Sang ibu lalu menoleh pada keberadaan Anggun yang sejak tadi hanya menunduk di tempatnya.
Mau tak mau Adrian kini menoleh pada Anggun. "Apa kabar?" sapanya pelan.
"Alkhamdulillah baik. Kau?" Anggun mendongak seketika pada pria di hadapannya.
"Hmmm, seperti yang kau lihat." Suasana terasa hening kembali. Kedinginan suasana yang terasa membeku seperti ini sungguh tak bisa di terima oleh Anggun. Mungkin sebaiknya aku cepat pergi...
Seperti gayung yang bersambut, tiba-tiba terdengar deringan telfon dari ponsel Anggun. Wanita itu memeriksa ponselnya dengan cepat. Tertera disana panggilan atas nama Dion. Bagaimana bisa pria ini mengetahui suasana hatiku?
Namun Anggun tak mengangkat telfon tersebut. Dia justru mengganti mode suara dengan mode hening kemudian memasukkan ponsel ke dalam tasnya kembali.
"Siapa Nduk?" tanya Ny Sujono heran.
"Hmmm, teman Bu." Memang Anggun tak bohong. Sejauh ini Anggun dan Dion masih terpaut sebagai teman dan belum ada hubungan khusus meski pria itu selalu menunjukkan perhatiannya.
Sementara itu Adrian yang hanya diam di tempatnya, jelas berpikir kalau telfon barusan berasal dari Dion. Ya. Setidaknya insting sebagai pria mengatakan demikian.
"Hmmm, saya rasa, saya memang harus pergi, Bu. Maaf tidak bisa menemani Ibu lebih lama lagi. Tapi Anggun berjanji akan sering-sering menjenguk Ibu." Anggun mulai berdiri. "Baiklah, saya pamit Bu, assalamualaikum...."
__ADS_1
"Waalaikum salam. Hati-hati, Nduk." Sorot mata Ny Sujono menunjukkan kesedihan dan ketidak relaan.
Anggun bingung mau berpamitan seperti apa pada Adrian. Pada akhirnya dia hanya berdehem. "Hmmm, aku harus pergi."
"Ya." Hanya itu kalimat yang di berikan Adrian tanpa sedikitpun keinginan untuk menoleh padanya. Sungguh Adrian ingin membatasi dirinya, tak ingin menoleh kembali pada wanita yang sudah ia ceraikan. Jelas ini membuat hati Anggun terasa beku. Dia tahu kalau mantan suaminya itu sedang membuat benteng darinya.
Anggun lalu melangkah pergi dan menemui pak Sujono yang ternyata sudah menunggu di ruang tamu. Berpamitan pada beliau untuk kemudian bergegas pergi dari rumah itu dengan suasana hati yang kembali kacau. Rupanya hingga saat ini Anggun belum bisa menghapus bayangan Adrian dari benaknya. Tentu saja sangat sakit ketika ditinggalkan seseorang pada saat sayang-sayangnya. Setidaknya itu bahasa anak jaman sekarang.
π
π
π
π
Anggun sudah kembali ke mobil dimana Dion sudah menunggu disana. "Maaf, sudah membuatmu menunggu lama," ujar Anggun basa-basi. Dan ternyata tak ada jawaban dari Dion selain tatapan datar tanpa ekspresi yang masih lurus ke depan ke jalan raya.
"Kita pulang?" Anggun bertanya. Dan masih tak ada jawaban apapun dari Dion. Namun tindakan pria itu tak seperti kebisuannya. Dia cepat menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas, dan dalam sekejap mobil yang ia tumpangi melesat membelah jalanan.
"Kau tidak apa-apa?" Anggun mencoba menyelidik. Sekali lagi hanya hembusan napas berat yang di dengar Anggun. Wanita itu mulai jengah. Tentu dia tak mau seperti ini. Sesungguhnya, apa yang terjadi padanya? Apakah dia marah padaku karena aku tak mengangkat telfonnya?
"Dion, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau tak mengatakan apapun padaku? Ayo bicaralah!" Bukannya menjawab, pria itu malah mengambil tindakan dengan menambah kecepatan mobil. Anggun memang sudah terbiasa dengan cara berkendara Dion yang memang super kilat. Tapi sekarang? Tidak! Ini berbeda dari biasanya. Dion seperti menyimpan kemarahan dalam hatinya. Dia mengemudi dalam keadaan kesal dan itu membuat Anggun menjadi sedikit takut.
"Di....Dion....ada apa denganmu?" Sekali lagi pertanyaan Anggun terlontar padanya. Dan pria itu semakin menaikkan tingkat kecepatannya. Baiklah. Cukup. Ini sudah melebihi batas ukuran. Dan Anggun benar-benar takut kali ini. Dia bahkan menarik erat sabuk pengamannya. Dan pada tingkat kecepatan yang cukup tinggi, Anggun seketika menjerit.
"Cukup, Dion!! Cukup!! Berhenti!!!" teriaknya histeris dan pria itu menginjak rem seketika sampai mengakibatkan bunyi berdecit pada ban mobil. Anggun terhuyung ke depan dalam waktu bersamaan. Sungguh jantungnya di buat marathon oleh perbuatan Dion. Matanya membelalak lebar sementara nafasnya saling berkejaran tak beraturan.
Wanita itu langsung menoleh ke arah Dion yang masih duduk diam tanpa rasa bersalah. Mata perempuan itu menunjukkan kemarahan.
"Dion aku benar-benar tidak mengerti ada apa denganmu. Kau--"
Kalimat Anggun tak berlanjut karena di potong cepat oleh Dion. "Aku ingin menikahimu, Anggun." Suara pria itu dingin tak seramah biasanya. Dan meski kalimat itu tidak panjang, namun cukup membuat Anggun terpaku dalam duduknya. Seketika pun marahnya langsung hilang berubah menjadi ketegangan.
"A...apa...maksudmu? A-aku tidak mengerti?" Anggun tergagap karenanya. Dion menoleh dan menatap Anggun intens.
"Perkataanku sudah cukup jelas dan rasanya tidak perlu aku ulangi lagi."
__ADS_1
"Tapi...aku..."
"Aku ingin menikahimu, Anggun." Sekali lagi Dion mengulangi pernyataannya. Kali ini dengan tekanan yang dalam.
"Dion, tapi kau tau sendiri aku baru saja bercerai. Aku tidak mungkin menerima pria lain secepat ini. Kau tau sendiri ada masa tunggu untuk seorang wanita setelah bercerai dari suaminya dan dia tidak bisa menerima pria lain sebelum masa itu selesai," Anggun mencoba menjelaskan.
"Baiklah. Kalau begitu kita akan menikah satu hari setelah masa tunggumu berakhir," putus Dion membuat Anggun menelan ludah. Sungguh Anggun merasa kalau Dion adalah pria keras kepala.
"Dion, tapi aku tidak mengatakan kalau aku mau menikah denganmu." Wanita itu masih berusaha mengelak.
"Jadi kau tidak mau menikah denganku?"
"Bu-bukan begitu maksudku. Aku, aku tidak yakin aku...." Anggun tak menyelesaikan kalimatnya. Dia tertunduk bingung. Tangannya mencengkeram sabuk pengamannya, gelisah. Sementara Dion tampak menunggu kalimat selanjutnya. Dan beberapa saat kemudian, Anggun bersuara kembali. "Maaf, tapi aku tidak yakin aku mencintaimu, Dion," ucapnya lirih dan setengah takut wanita itu mendongakkan kepalanya.
Apakah Dion akan marah? Apakah dia kecewa? Itu yang menjadi pertanyaan di hatinya.
"Tidak perlu cintamu untuk menikahimu, Anggun. Karena itu adalah tugasku. Akulah yang harus mencintaimu. Memberikanmu kebahagiaan dan senyuman di bibirmu. Jadi jangan merasa terbebani karena kau tidak mencintaiku." Sangat surprise sekali kalimat indah dan romantis itu keluar dari bibir Dion. Padahal sebelumnya Anggun takut kalau pria itu akan kecewa dan kesal padanya.
Mata wanita itu menatap penuh pada pria di hadapannya. "Jadi, kau bersedia menikah denganku?" Anggun tak menjawab selain daripada kedua manik matanya yang sibuk menjelajahi wajah tampan Dion.
"Baik. Kediamanmu ku anggap sebagai tanda kesediaan," putus Dion karena menanti terlalu lama dan nampak masih belum ada tanda wanita itu untuk membuka mulutnya. Dan barulah setelah kalimat keputusan barusan yang diambil Dion tanpa pertimbangan Anggun, wanita itu seketika memprotes,
"Hei, aku belum memutuskan."
"Dan aku sudah memutuskan." Dion lalu meyalakan mesin mobil kembali dan menginjak pedal gas. Memutar mobil ke arah lain.
"Kau mau mengajakku kemana?" Anggun semakin bingung di buatnya karena jalan yang di ambil sekarang bukan arah pulang ke rumah.
"Ke toko perhiasan."
"Ha? Kenapa?"
"Membeli cincin pertunangan."
Anggun benar-benar terngaga tak percaya dengan tindakan Dion yang spontanitas. Ini sungguh gila.
πΊππΊππΊππΊππΊπ
__ADS_1