
Flash Back On
*Dion sesungguhnya ingin menunjukkan beberapa gaun yang sengaja di pesannya beberapa minggu yang lalu. Seorang penjaga butik tampak bersamanya sambil menenteng dua helai gaun pengantin yang berbeda warna.
Namun saat keduanya hampir masuk ke ruangan tempat Anggun berada, samar-samar Dion menangkap pembicaraan beberapa orang. Sangat jelas kalau mereka yang berbincang adalah Anggun, Adrian, juga Andini.
Dion lalu memberi kode pada si penjaga untuk berhenti. Dia mendengarkan dengan seksama perbincangan itu.
"Adrian, katakan kabar gembira ini pada mbak Anggun. Bukankah kita akan bertunangan sebentar lagi?" Jelas kalau itu adalah suara Andini. Dan berikutnya terdengar suara Adrian menyahuti,
"Heh? Ehm....ya.ย Aku dan Andini akan bertunangan."
Untuk beberapa saat lamanya, Dion masih berdiri di tempatnya. Mencoba menguping lebih jauh pembicaraan yang sempat tertunda itu. Dia lalu meminta sebuah gaun yang menurutnya cantik, kepada si penjaga butik untuk kemudian menyuruhnya pergi membawa gaun yang lainnya. Sementara dirinya masih ditempat dan belum ingin keluar dari ruangan itu.
"Dan apa yang mbak Anggun lakukan di tempat ini? Apakah mbak Anggun juga memesan sebuah gaun?" Terdengar kembali suara Andini memulai pembicaraan.
Baiklah. Ini sudah selesai. Dion tak bisa terus menerus bersembunyi di balik pintu dan membiarkan calon istrinya terpojokkan di ruangan lain.
"Eh.....aku...." belum selesai Anggun melanjutkan kalimatnya yang jelas terlihat bimbang, Dion sudah keluar terlebih dahulu untuk membantu Anggun keluar dari keadaan yang menekannya.*
Flash Back Off
Adrian dan Andini yang sudah berlalu dari butik kini tengah dalam perjalanan menuju ke rumah wanita itu. Sesaat lamanya, hanya suasana hening yang mereka ciptakan dalam mobil. Baik Adrian maupun Andini, keduanya sibuk dengan pikiran terhadap Anggun dan Dion.
Andini ingin sekali bertanya pada Adrian soal kedekatan mantan istri dengan sahabatnya. Bagaimana mungkin? Ini benar-benar tidak bisa ia mengerti. Meski mencoba berpikir seperti apapun, akal sehatnya tak bisa menelaah.
Sedang di sisi lain, Adrian juga sedang memikirkan hal yang hampir sama. Mengenai kebenaran bahwa Anggun dan Dion mau menikah, sungguh hal itu menyentil hati kecilnya. Entah kenapa ia merasa gelisah. Namun sejauh ini, Adrian masih berusaha mengubur perasaan itu dalam-dalam. Kembali lagi kalau sebentar lagi dia dan Andini juga akan melanjutkan hidup untuk ke depannya.
Dan mengenai pertemuan mereka di butik tadi, sungguh Adrian maupun Dion lupa kalau butik tersebut merupakan tempat langganan mereka berdua biasanya memesan pakaian resmi. Karena memang disanaย memiliki koleksi pakaian yang berkualitas bagus. Oleh karenanya tak mengherankan kalau keduanya memesan baju pernikahan di tempat itu. Dan pertemuan tersebut, sungguh memang tanpa di sengaja dan di luar dugaan. Meski Dion sendiripun sempat di buat terkejut karena kehadiran Adrian dan Andini disana.
๐
๐
๐
Anggun memang tidak main-main dengan ucapannya kemarin saat di butik. Keinginannya untuk merubah jati dirinya telah bulat. Perombakan besar-besaranpun ia lakukan. Anggun melakukan perubahan itu mulai dari penampilan.
Anggun merubah gaya tatanan rambutnya yang awalnya sederhana kini ia rubah sedemikian rupa. Menambahkan sedikit warna cat rambut berwarna coklat keemasan tidak buruk juga. Tidak terkesan norak ataupun urakan. Bahkan di padu dengan gaya pakaian yang juga ia rubahpun justru terkesan dirinya seperti seorang noni Belanda.
Dion bahkan di buat terkejut karena perubahan penampilan Anggun tersebut. Matanya mengerjap tak percaya terhadap sosok wanita cantik di depannya yang kini jauh terkesan lebih elegan bak seorang bangsawan.
"Kau suka penampilanku?" tanya Anggun meminta pertimbangan. Dionpun bersiul menggoda. Mengangkat kedua alisnya bersamaan.
"Apakah yang kulihat ini seorang lady?" Anggun mengulum senyum, malu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau suka?" Dion memberikan dua jempol tangannya sebagai bentuk apresiasi.
"Perfect!! I like it." Dion lalu mendekat ke arah Anggun. "Aku tak percaya kau akan merubah penampilanmu ini? Apakah....apakah....semua ini kau lakukan karena...."
"Aku sudah pernah bilang padamu kalau aku ingin membuka lembaran baru denganmu. Dan perubahan ini, adalah tahap awal saja. Nantinya, kau akan melihat sosok Anggun lain dari sebelumnya." Anggun lalu menggamit lengan Dion dan mengajaknya pergi dengan santainya. Mengulas senyum sekilas dengan sebuah lirikan mata menggoda yang tentu saja itu bukan sifat Anggun yang seperti biasanya. Dion tak dapat membantah. Dia hanya bisa menurut sembari membulatkan bola matanya bersamaan dengan kedua bahu yang terangkat sempurna.
Dan memang benar. Dion melihat perubahan yang lain dari diri Anggun. Kalau sebelumnya ia sudah melihat penampilan wanita itu yang nampak berbeda dari biasanya, kini yang di lihat pria itu adalah perubahan sikap Anggun. Wanita itu lebih perhatian padanya. Lebih responsif dan tak segan mengambil inisiatif sendiri. Bahkan terkesan agresif.
Dion bahkan sempat berfikir, benarkah yang ku hadapi ini seorang Anggun Kirana? Atau orang lain?
"Sejak tadi kau bengong sendiri. Apa kau tidak takut kerasukan setan?" Suara lembut itu memecah lamunannya.
Dion mendesah halus. "Anggun, kau tau apa yang ku pikirkan?" Anggun mengangkat kedua alisnya pertanda ia bertanya. "Aku, seperti melihat orang lain dari dirimu."
Anggun menatap Dion penuh. "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"
__ADS_1
Dion menghela napas panjang. Berjalan perlahan menuju jendela kaca rumahnya. Menatap jauh ke depan dari sela-sela jendela kaca tersebut. Saat ini keduanya memang tengah berada di rumah mama Dion. Dan tak ada siapapun disana selain mereka. Mama dan papa Dion sedang keluar memenuhi undangan pernikahan salah seorang relasi kerjanya. Sedang kedua saudara Dion juga ada urusan di luar.
"Aku senang kau ingin berubah, Anggun. Tapi, tidak seperti ini yang aku inginkan. Karena aku seperti kehilangan sosok dirimu sebenarnya." Dion berbalik lalu menatap Anggun yang sudah berjalan ke arahnya dengan membawa sepiring kecil potongan buah apel yang sudah ia kupas terlebih dulu.
Anggun lalu menusukkan garpu pada buah tersebut lalu menyuapkannya langsung ke mulut Dion. Namun tak disangka kalau pria itu akan menahan suapan tersebut. Anggun jadi mengerutkan keningnya, bingung.
"Bukan kau yang harus menyuapiku, tapi akulah yang harusnya menyuapimu," kata Dion lalu meraih garpu tersebut dari tangan Anggun dan berganti menyuapkannya pada wanita itu.
Anggun mengunyah buah apel di mulutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Dion. Matanya bahkan tak berkedip menatap pria di depannya. Dion lalu memegang kedua bahu Anggun dengan teguh.
"Dan kau, tak perlu melakukan perubahan untukku. Berusaha merubah sifat aslimu hanya untuk menyenangkanku atau untuk membuktikan kalau kau sudah menerimaku. Bukankah sudah kukatakan, kalau aku yang akan membuatmu jatuh cinta padaku? Karena jika seperti ini, aku justru kehilangan sosok Anggun yang sebenarnya. Anggun yang lembut dan berhati tulus."
"Jadi menurutmu dengan perubahan ini, kau pikir aku tidak tulus? Kau pikir aku tidak serius denganmu? Begitu? Ataukah kau berpikir aku berusaha menjadi diriku yang lain hanya demi melupakan Adrian? Atau jangan-jangan kau berpikir aku menjadikanmu pelampiasan bagiku?" Anggun memberontak. Dia menghentakkan tangan Dion seketika.
"Tidak. Sungguh aku tak berpikir seperti itu. Baiklah. Aku minta maaf kalau aku menyinggungmu. Aku hanya lebih suka dirimu yang apa adanya. Yang sebelumnya. Tak perlu membuktikan padaku kalau kau ingin memberikan hatimu untukku. Karena itu sudah menjadi tugasku. Mencintaimu. Menyayangimu. Mengasihimu."
Kedua insan itu saling menatap satu sama lain. Anggun mencoba mengeruk apa maksud ucapan Dion. Dan sebaliknya, pria itu berusaha meyakinkan perkataannya dengan tatapan intens padanya.
"A....aku....hanya ingin membangun hubungan baru denganmu dengan sesuatu yang berbeda, Dion." Anggun tergugup karenanya. Pandangan pria itu memang sangat menusuk sampai-sampai Anggun merasa tertekan.
Kembali lagi pria itu hanya mengulas senyum teduhnya lalu membelai sebelah pipi Anggun dengan lembut.
"Tetaplah seperti Anggun sebelumnya. Karena aku lebih menyukainya." Dion mengangkat kedua alisnya tanda meminta jawaban persetujuan atas permintaannya.
Agak lama Anggun terdiam sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala. Dion tak mengambil waktu banyak. Dia lalu meraih tubuh wanita itu dan memasukkan ke dalam perlukannya.
"Terima kasih karena kau sudah mengerti keinginanku," ujarnya lirih.
Anggun mendekap balik pria di depannya, "Aku yang harus berterima kasih karena kau mau menerimaku apa adanya tanpa mengharap sesuatu yang lebih. Tidak. Bahkan rasa terima kasihpun tak cukup untuk semua yang telah kau berikan padaku." Anggun terisak di dalam pelukannya.
Dion merenggangkan pelukan tersebut dan mengusap air mata yang sempat meleleh di wajah ayu, kekasihnya. "Katakan padaku, Dion. Apa yang harus aku lakukan untuk membalas semua kebaikanmu ini?"
"Aku tak ingin apapun darimu selain hati dan cintamu, Anggun." Dion merangkai senyumnya kembali.
"Ya. Aku pasti akan menunggu."
"Kalau begitu, temani aku ke salon sekarang."
"Hah? Untuk apa?"
"Aku akan merubah kembali penampilanku seperti semula."
"Tidak perlu."
"Tapi kau bilang....."
"Untuk penampilan, aku suka yang sekarang. Jadi kau tak perlu repot-repot merubah lagi. Kau....lebih cantik dari sebelumnya." Anggun tersipu karenanya. Sedetik kemudian mata mereka saling beradu pandang kembali. Menyelami isi hati masing-masing lewat pancaran mata yang mengundang gelora. Dion tiba-tiba mendekatkan tubuhnya. Meraih pinggang Anggun bersamanya. Perlahan-lahan kedua wajah itu saling mendekat. Anggun bisa merasakan hembusan napas hangat Dion di wajahnya. Wanita itu lalu memejamkan matanya seakan ia siap menerima apa yang akan Dion berikan padanya.
Dan kedua bibir itu hampir menyatu saat tiba-tiba sebuah suara berdehem terdengar dari belakang mereka.
"Ehemmm...." Anggun dan Dion terkesiap bersamaan. Merekapun menoleh ke arah datangnya suara. "Jadi seperti ini yang kalian lakukan saat Mama dan Papa tidak di rumah?" Suara Ny Mayang membelah suasana yang tiba-tiba menegangkan itu.
"Ehm, baiklah. Sepertinya aku harus pulang karena ibu suri sudah kembali," gumam Dion salah tingkah sambil mengusap tengkuk lehernya. "Baiklah. Selamat malam, Sayang." Dan cup! Sebuah ciuman singkat mendarat di pipi kanan Anggun.
Dan secepat itu pula Dion berlari ke arah pintu menerobos keberadaan papa dan mamanya yang membelalak melihat perbuatan jahil putranya.
"Diooooonnnn.....mau kemana kau?" teriak sang mama histeris.
"Pulaaaaaangggg! Selamat malam, Ma. Aku sayang Mama. Muaaacchhh." Dion melempar kiss bye pada mamanya dari balik pintu dan selanjutnya diapun kabur begitu saja sebelum sempat mendapat omelan panjang dari ibu tercinta. Sang papa hanya terkekeh geli melihat aksi putra sulungnya yang memang pada dasarnya selalu berbuat usil.
๐
__ADS_1
๐
๐
๐
Hari itu suasana kantor mendadak heboh. Adrian yang baru datang pun di buat heran dengan suasana yang tiba-tiba ramai menyaingi bisingnya pasar besar.
"Ada apa ini?" tanyanya pada seorang staf karyawan lain yang posisi jabatannya di bawah dirinya.
"Eh...itu,ย pak Handoko mengundang kita semua ke acara ulang tahun pernikahannya malam ini."
"Benarkah?"
"Ya, dan kita bisa membawa pasangan kita ke pesta itu." Adrian tak ingin meneruskan keingin tahuannya lagi. Dia segera menuju ruangannya dan sekilas nampak olehnya sebuah kartu undangan atas namanya. Tentu itu berasal dari sang atasan.
Di tempat lain, Dion juga mengalami nasib yang sama. Sebuah undangan dengan warna kuning keemasan juga tergeletak di meja kerjanya.
Hmmm, aku harus menyampaikan ini pada Anggun.
Pria itu lalu mengetikkan sebuah pesan pada sang kekasih.
'Bersiaplah, malam nanti kita akan menghadiri sebuah pesta.'
Dion lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana untuk kemudian terpekur pada pekerjaannya karena jam kerja sudah di mulai sejak beberapa menit yang lalu.
Malam harinya.....
"Bagaimana penampilanku, Adrian? Apakah aku tidak terlalu norak dengan dandananku ini?" Andini tampak berkaca di sebuah cermin yang kebetulan terpampang di ruang tamunya.
Setengah jam yang lalu Adrian bertolak ke rumahnya, menjemput dirinya. Dan hingga saat ini pria itu masih setia menanti dengan secangkir kopi panas yang beberapa saat lalu di hidangkan oleh Surti.
"Hmmm, cantik."
"Sungguh?" Andini memutar-mutar tubuhnya menyelaraskan gayanya. "Baiklah. Kita berangkat sekarang?" Gadis itu lalu meraih tas hitam berantaikan emas dan ia pakai di pundaknya.
Adrian mengangguk perlahan, namun sebelum ia berdiri masih sempat di sesapnya kopi yang ada di meja hadapannya. "Yuk!"
Adrian melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Dalam tempo setengah jam lebih lima menit, mobil tersebut sudah sampai di lokasi tujuan. Sebuah gedung mewah di sewa oleh pak Handoko untuk merayakan pestanya. Adrian dan Andini melangkah bersama memasuki gedung mewah tersebut. Rupanya sudah hampir sebagian lebih para tamu dari undangan yang hadir.
"Kau yakin tidak masalah tidak membawa hadiah?" Andini sedikit ragu melangkah masuk saat mereka sudah mencapai ambang pintu gedung. Disana tampak beberapa security sedang berjaga ketat mengawasi jalannya pesta.
"Hmm, ya. Pak Handoko sendiri yang mengatakan langsung karena ini bukan hanya hari perayaan ulang tahun pernikahannya. Tapi juga untuk merayakan ulang tahun perusahaan," jelas Adrian.
Dua orang wanita cantik yang merupakan penerima tamu menyalami keduanya dan mempersilahkan mereka masuk. Adrian mengajak Andini menemui sang atasan yang sibuk menerima tamu lain bersama sang istri.
"Selamat atas pernikahannya yang ke-20 tahun, Pak," Adrian menyalami bosnya dan di balas dengan sebuah pelukan dari beliau.
"Terima kasih, Adrian. Kau juga kapan akan meresmikan hubunganmu?" Pak Handoko melirik sekilas pada Andini yang tertunduk malu atas sindiran barusan.
"Secepatnya Pak," Adrian tersenyum tipis.
Berita perceraiannya dengan Anggun rupanya sudah merebak ke seluruh penghuni kantor. Bahkan berita inipun sempat terdengar oleh pak Handoko. Jadi tak heran saat orang itu melirik Adrian menggandeng wanita lain selain mantan istrinya, sudah dapat di pastikan kalau perempuan itu adalah kekasih Adrian yang sekarang. Dan siapa yang tak kenal Andini? Sebelumnya pun seluruh teman kantor bahkan atasan Adrian memang sudah kenal sosok wanita itu. Itu di karenakan Adrian sering membawa Andini menghadiri pesta di waktu-waktu sebelumnya.ย
"Baiklah. Ku harap kalian menikmati pestanya," Pak Handoko berseru kembali.
Disaat itulah muncul sepasang manusia melangkah mendekati mereka. Kedua orang itu saling menggamit tangan satu sama lain.
"Selamat malam pak Handoko," suara bariton yang terkesan renyah itu menginterupsi kesunyian yang sempat tercipta meski hanya beberapa detik.
Tentu semua menoleh segera pada orang yang baru saja datang tersebut. Darah Adrian terkesiap manakala melihat sosok wanita dengan tampilan elegan yang benar-benar tampak mempesona dengan balutan pakaian berwarna hijau toska. Rambut yang sedikit kecoklatan benar-benar mengubah penampilan wanita yang jelas tak asing baginya itu. Dan senyum yang terus mengembang di bibirnya, serasa menjadi penghias keindahan makhluk Tuhan yang cenderung menyandang kata sexy dan cantik tersebut.
__ADS_1
"Selamat malam, Dion. Senang bisa melihatmu hadir di pesta ini juga."
๐บ๐๐บ๐๐บ๐๐บ๐๐บ๐