Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2
BAB 33


__ADS_3

Saat ini Anggun dan Dion tengah dalam perjalanan menuju rumah mamanya. Tak seperti biasanya mereka hanya berdiam diri sepanjang perjalanan.


"Akhir-akhir ini kau sangat sibuk sekali," suara Anggun kelihatan dingin. Dion hanya menoleh sekilas pada kekasihnya dan selebihnya dia fokus kembali pada setang kemudinya, "kau sampai tak punya waktu lagi untukku," imbuh wanita itu kemudian.


Dion hanya tersenyum sesaat, "Aku memang hampir tak punya waktu, Sayang,"


Iya, tidak punya waktu untukku, tapi untuk mantan pacarmu terluang banyak, batin Anggun bercokol.


"Bagaimana dengan rencana pernikahan kita? Apa benar kau serius mau menikahiku?" Anggun masih berusaha menahan rasa dongkol yang menggembung di dadanya.


"Kau bercanda, Anggun. Pernikahan kita tinggal beberapa hari, dan kau masih meragukanku?"


"Aku tidak meragukanmu. Hanya saja--," Anggun meremas ujung gaunnya. Pikirannya bimbang mau jujur dengan perasaannya atau tidak, "aku merasa kau semakin menjauh dariku."


Mendengar kejujuran Angun, Dion dengan segera meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya erat. Pria itu tau apa yang di cemaskan wanitanya.


"Aku tidak tau apa yang kau pikirkan, Anggun. Tapi yang pasti aku tidak ingin kau meragukanku sedikitpun," Dion mencoba menegaskan.


Sedikitpun tak ada jawaban dari Anggun. Dia diam seribu bahasa. Hanya matanya saja yang menerawang menatap ke depan menembus padatnya jalanan kota Surakarta.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Anggun sudah kembali ke rumah keluarga Sujono. Rupanya sang calon mertua menyuruhnya datang untuk membahas soal undangan. Anggun menolak saat mama Dion menawarkan undangan sekitar dua ribu tamu. Dia merasa malu karena ini bukan pertama kalinya ia menikah. Lagi pula Anggun tak ingin membuat keluarga Mahendra malu dengan menunjukkan sang putra sulung yang menikahi seorang janda. Namun Mayang mendesak keras. Dia meyakinkan bahwa itu tak menjadi masalah. Mereka tak akan pernah menghiraukan apa yang di katakan orang lain.


Anggun sempat makan malam dengan keluarga Mahendra. Namun sayang Dion tak ada di tengah-tengah mereka. Dia kembali pergi dengan alasan yang sama. Masih ada keperluan yang lain di luar. Anggun hanya bisa tertegun saja melihat kepergian calon suaminya. Dan pertanyaan yang sama muncul kembali seperti sebelum-sebelumnya. Apa yang sebenarnya ia lakukan?


Anggun merasa Dion yang sekarang sudah berubah. Dan entah kenapa dia merasa rindu Dion yang sebelumnya. Hangat, penyayang, perhatian dan yang paling Anggun suka adalah rasa humoris pria itu. Dion adalah sosok orang yang mudah mengubah perasaan orang lain. Mengubah bad mood seseorang menjadi good mood. Sungguh, Anggun rindu Dion yang demikian. Apakah itu berarti dia sudah benar-benar jatuh cinta pada pria itu?


Ah....kenapa saat ini dia menjadi gelisah. Bahkan setelah Dion mengantar Anggun kembali ke rumah. Wanita itu merasa ada yang mengetuk-ngetuk pintu hatinya. Berkali-kali Anggun mencoba untuk tidur, namun ia tetap tak bisa memejamkan mata.


Pikirannya tetap terbebani oleh sikap Dion akhir-akhir ini. Dan saat kegundahan hatinya mencapai puncak, diapun segera mengambil tindakan. Anggun tak bisa menahan lama-lama kemelut jiwanya. Dia segera menelfon Dion. Namun betapa terkejutnya Anggun saat suara lain yang menerima telfon tersebut.


"Halo," jelas suara di seberang telfon itu adalah suara wanita, "hallo," sekali lagi suara itu terdengar dan dengan cepat Anggun menutup kembali telfonnya.


Dadanya bergemuruh seketika. Nafasnya berkejar-kejaran naik turun. Anggun menggigit bibirnya keras. Seakan hanya itu pelampiasan kekesalan hatinya saat ini.


Siapa wanita itu? Siapa? Benarkah yang dikatakan Adrian kemarin? Bahwa Dion sudah mulai main hati di belakangku? Tapi dia meyakinkanku agar aku percaya padanya. Lalu siapa yang harus ku percaya sekarang?


Anggun membaringkan diri di kasur. Rasanya dia ingin segera melupakan semua kegelisahan hatinya ke dalam alam bawah sadar.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Adrian mencari keberadaan Andini kemana-mana. Namun hingga larut hampir menjelang, pria itu tak menemukan sosoknya. Pria itu sempat datang ke rumahnya, namun wanita yang di cari tak ada di tempat. Adrian mencoba mencari di klinik tempat ia bekerja, namun disana juga tidak ada. Kemana perginya Andini sebenarnya?


Adrian bahkan sudah belasan kali menelfonnya, namun sang kekasih tak menjawab telfon darinya. Ada apa sebenarnya? Seorang teman Andini di klinik mengatakan kalau wanita itu sudah pulang sejak sore hari. Namun sampai Adrian kembali lagi kerumah gadis itu, hasil nihil masih ia dapat. Adrian terpaksa pamit pulang pada ibu Andini. Namun yang sebenarnya ia tak langsung pulang. Melainkan menunggu di tepi jalan di dekat rumah Andini.


Sudah satu minggu lebih keduanya memang belum berbaikan. Entah kenapa kali ini kemarahan Andini di luar ekspektasi Adrian. Biasanya gadis itu hanya bisa menahan amarahnya paling lama tiga hari. Namun kali ini sudah satu minggu lebih dan tak ada satu kabar pun darinya. Adrian sudah mencoba mengirim pesan, namun gadis itu tak memberi balasan sama sekali.


Disaat Adrian terkurung oleh lamunannya, saat itulah sebuah mobil sedan warna hitam muncul dan berbelok menuju halaman rumah Andini. Adrian terbangun dari angan-angannya yang sesaat lalu terbang.

__ADS_1


Mobil siapa itu? Aku tak pernah melihatnya, batin Adrian bergumam.


Di tajamkan penglihatannya. Menatap ke arah halaman rumah itu dengan seksama. Dari tempatnya berada, Adrian bisa melihat kalau Andini keluar dari mobil tersebut. Berikut di susul seseorang mengikutinya dari arah berlawanan.


Seorang pria. Ya. Andini rupanya baru saja keluar dengan seorang pria. Terlihat mereka sedang mengobrol untuk sesaat dan setelah itu keduanya saling berpelukan. Adrian bahkan sempat melihat pria itu membubuhkan sebuah kecupan di pipi kiri kekasihnya.


Adrian menggeram pelan. Tangannya mengepal keras. Matanya menyorot tajam menandakan ia tengah di landa emosi. Saat Andini melambaikan tangannya pada pria asing itu di iringi senyum manisnya, Adrian mencapai puncak emosi. Ia meradang. Ingin rasanya ia keluar dan menghantam pria itu di tempatnya. Namun hati kecilnya berbisik dan mencoba menekan sebisa mungkin. Meluruhkan amarah di dada meski tak sepenuhnya.


Sabar Adrian. Tunggulah sampai besok. Kau tidak bisa berbuat gegabah. Jangan sampai kau salah sasaran, Adrian mencoba menghibur dirinya. Dia lalu bergegas pergi bahkan sebelum pria itu keluar dari halaman rumah Andini. Adrian tak mau kehadirannya disana di ketahui oleh Andini.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Adrian sudah siap untuk pulang. Hari ini dia sengaja berniat pulang kerja lebih awal karena ingin menuntaskan permasalahannya semalam. Bagaimana tidak? Sejak semalam hatinya dirundung rasa gelisah. Pertanyaan tentang siapa pria yang bersama Andini dan terlihat mesra bersamanya itu sungguh membuat pikiran Adrian terkuras. Sepertinya tadi malam Anggun dan Adrian mengalami hal yang sama. Terjebak oleh teka-teki. Sama-sama tidak bisa tidur karena alasan serupa.


Langkah kaki Adrian terhenti saat melewati ruang kerja Dion. Samar-samar di dengarnya sahabatnya itu sedang berbicara serius dengan seseorang. Adrian mencoba menajamkan pendengarannya. Oh, rupanya Dion sedang berbicara dengan seseorang melalui telfon.


"Baiklah, tiga hari lagi kita bertemu di Shinobi Resto. Jadi, kau ingin minta hadiah apa dariku, hmmm?" suara Dion yang tengah asik bercakap-cakap dengan lawan bicaranya di seberang telfon.


"Ok. Ok. Sesuai permintaanmu. Tapi apa kau yakin hanya minta itu saja? Ayolah, sebutkan saja apa yang kau inginkan dan aku akan menyanggupinya," suara Dion terdengar kembali.


"Baiklah kalau memang itu maumu. Sampai ketemu besok ya. Hari Kamis malam pukul delapan di Shinobi Resto, ok?"


Adrian cepat angkat kaki dari tempat itu karena Dion mulai mengakhiri panggilannya. Kini pikiran Adrian jadi berkecamuk. Pembicaraan Dion barusan serasa menguatkan opininya bahwa sahabatnya itu sedang main hati dengan seseorang. Yach, setahu Adrian yang dekat dengan Dion saat ini adalah Fitri. Pasti dia.


Namun Adrian belum ingin memikirkan hal itu dulu. Untuk saat ini dia lebih fokus pada masalahnya sendiri. Dia harus menginterogasi Andini tentang siapa pria itu. Atau, sebaiknya jangan bertanya langsung dulu. Mungkin lebih baik kalau Adrian menjebak gadisnya dengan sebuah pertanyaan. Mengetes kejujuran gadis itu dulu. Ya. Itu lebih baik dari pada langsung ke pokok permasalahan. Mengingat hubungannya akhir-akhir ini yang kurang baik, jangan sampai malah memicu pertengkaran semakin hebat dengan menuduh gadis itu terang-terangan. Karena Adrian sendiri juga belum bisa memastikan dugaannya. Semua masih mengambang.


Tiga puluh menit kemudian....


"Rian," ujarnya lirih. Antara percaya dan tidak sebenarnya. Dan tak menyangka kalau tunangannya itu akan menunggunya disana.


"Sudah pulang bukan? Kita langsung keluar makan malam saja kalau begitu. Kau pasti belum makan," kalimat Adrian terdengar seperti sebuah keputusan yang tak mau di bantah.


"Kalau begitu, aku minta waktu sebentar. Aku harus menghubungi seseorang dulu," Andini menyisihkan diri dengan segera.


Dari jauh Adrian melihat Andini menelfon seseorang. Pikirannya kembali berkecamuk. Dan tak beberapa lama kemudian Andini kembali ke tempat Adrian berada.


"Siapa?" tanya Adrian ingin tahu.


"Teman," jawab Andini sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas, "tadinya aku ada janji dengan dia. Tapi karena kau sudah datang, terpaksa aku membatalkan janjiku." Andini tersenyum getir.


"Apa kau yakin akan ikut bersamaku? Aku tidak mengganggumu kan?" Adrian kini mulai memancing.


"Eh, tentu saja tidak. Sudahlah, ayo kita pergi. Aku bisa membuat janji lain kali dengannya," Andini lalu menggandeng tangan Adrian. Mengajaknya untuk segera angkat kaki dari tempat itu.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Rumah keluarga Sujono kelihatan sepi dari luar. Namun sayangnya itu hanya penampakan sesaat. Tidak sebenarnya dalam kenyataan. Kehadiran Cinta di rumah itu membuat suasana yang biasanya selalu sepi kini menjadi ramai. Mungkin seperti itulah jika sebuah rumah di huni oleh anak kecil.


Anggun tengah bermain dengan putrinya saat Adrian datang dengan wajah di tekuk seribu. Tanpa permisi dia lalu ikut bergabung dengan Anggun. Memposisikan dirinya seperti kuda dengan menekuk kedua lututnya pada lantai dan kedua telapak tangan yang bertumpu pada ubin pula.

__ADS_1


"Cinta, naik kuda yuk," serunya kemudian.


Jelas Cinta menyambut tawaran Adrian dengan suka cita. Dengan segera ia berlari dan naik ke punggung Adrian. Pria itu lalu merayap-rayap sambil sesekali meringkik keras menirukan suara kuda. Cinta begitu senang dibuatnya. Anak itu tertawa terbahak-bahak. Mungkin karena lama dia tak bermain demikian. Biasanya Bagas dengan senang hati memanjakannya dengan bermain demikian setelah pulang dari kantor.


Anggun hanya menatap keduanya tanpa berkedip. Ah, seandainya saja saat itu Adrian tak menceraikannya. Mungkin saat ini keduanya akan tertawa bersama. Anggun buru-buru menepis bayangan liar yang menggerogoti pikirannya.


Tidak. Tidak. Aku dan Adrian adalah masa lalu. Seperti pula aku dan Bagas, bantahnya dalam hati.


Selang tak lama kemudian Ny Sujono datang sambil membawa semangkuk kecil makanan.


"Loh, Le. Kamu ada di sini to?" Wanita itu lalu mendekati cucu semata wayangnya. "Ayo Nduk, Eyang akan menyuapimu."


"Biar saya saja Bu," Anggun berusaha mengambil alih.


"Ndak usah. Sebaiknya kamu bantu mbok Inem saja menyiapkan makan malam," Ratih menolak. Dia lalu menggendong Cinta dan mengajaknya duduk di teras. Menyuapinya disana.


Anggun bergegas ke dapur seperti yang dikatakan mantan ibu mertuanya. Namun baru beberapa langkah kakinya berjalan, Adrian tiba-tiba mencegah dengan menarik tangannya. Anggun sedikit terkejut mendapat perlakuan demikian.


"Tunggu, Anggun!" seru pria itu. Anggun menatap Adrian seksama.


"Ada apa?" tanyanya dingin. Sungguh dia tak ingin bermanis-manis dengan Adrian atau pria itu akan salah paham akan kebaikannya.


"Apa kau benar-benar akan menikah dengan Dion?" pertanyaan itu membuat Anggun melengos dan mendesah panjang.


"Harus berapa kali aku mengatakan padamu agar kamu percaya? Ya. Aku akan menikah dengannya," Anggun menatap kembali wajah Adrian.


"Meski kau tau dia selingkuh?"


"Dion tidak selingkuh, Adrian!! Kenapa kau tidak mengerti juga?" sengit Anggun.


"Bagaimana kalau aku bisa membuktikannya?"


"Kau sudah pernah menunjukkan foto-foto Dion dengan mantan kekasihnya sebelumnya. Apalagi sekarang yang ingin kau tunjukkan?" Anggun menantang, "atau sebenarnya ini adalah caramu untuk menggagalkan pernikahanku? Katakan!! Apa niatmu sebenarnya?"


Adrian menatap Anggun lekat membuat wanita yang di tatap demikian menjadi risih sehingga harus memalingkan wajahnya kembali.


"Sekarang aku ragu dengan perasaanku. Jangan-jangan aku masih mencintaimu, Anggun?"


"Ciihhh, berhentilah bercanda. Kau sudah membuang-buang waktu saja," Anggun hendak berbalik dan melangkah pergi kembali. Namun masih saja Adrian menahannya, "apa lagi sih, Adrian?"


"Bagaimana kalau kita menikah kembali?"


Anggun tersentak karenanya, "Apa?"


"Ya, bagaimana kalau kita menikah lagi dan memperbaiki rumah tangga kita?"


"Cukup Adrian!! Aku tak mau mendengar pernyataan konyolmu ini!" Anggun membentak kasar, "kita sudah bercerai. Dan tak akan mungkin kembali bersama lagi. Kalaupun iya, kau tau sendiri apa syaratnya. Harus ada seseorang yang menikahiku terlebih dahulu. Dan apa kau pikir setelah aku menikah kembali lalu aku akan menceraikan suamiku? Begitu?"


Adrian diam tak bergeming. Wajahnya tertunduk lesu. Entah kenapa baru sekarang ia sadar kalau hatinya teguh mencintai Anggun. Ya. Dia mencintainya.


"Ada apa sebenarnya denganmu, Adrian? Apa kau lupa kalau kau juga sebentar lagi akan menikah dengan Andini?" Anggun melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap Adrian dengan pandangan meneliti.


Pria itu semakin tertunduk lesu. Dia lalu mendesah dengan halus, "Sepertinya Andini juga sedang main hati dengan pria lain."


Meski setengah berbisik Adrian mengatakannya, namun telinga Anggun masih bisa menangkap kalimat tersebut. Wanita itu tak menyembunyikan keterkejutannya. Kenapa begitu kebetulan? Bukankah saat ini pun dia juga sedang meragukan Dion yang bermain hati dengan wanita lain?

__ADS_1


"Itu masalahmu, Adrian. Dan jangan bawa-bawa aku ke dalamnya." Anggun dengan cepat berlalu sebelum Adrian mencegahnya lagi. Sungguh dia tak ingin terlarut dengan pikiran sesat yang berisikan kecurigaan. Meski hatinya dalam keadaan bimbang seperti yang Adrian rasakan, namun Anggun masih mencoba bertahan dengan mengingat kata-kata Dion bahwa apapun yang terjadi, Anggun harus percaya padanya.


πŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊ


__ADS_2