
"Jeng Ratih?!"
"Mbak Mayang?!"
Kedua wanita paruh baya itu saling memandang satu sama lain hingga salah satu diantaranya sadar bahwa ada yang harus dilakukan selain hanya saling tatap menatap.
Mayang lalu merentangkan tangannya bermaksud untuk memeluk wanita yang merupakan ibu dari sahabat putranya. "Apa kabar, Jeng? Lama tidak bertemu."
"Baik Mbak. Iya. Sudah lama kita tidak bertemu," ulas Ratih setelah membalas pelukan wanita di depannya.
"Ngomong-ngomong, jeng Ratih mau kemana kok rapi banget?" Mayang menelusur.
"Ini lo Mbak yu, Adrian....eh," agak ragu Ratih menyampaikan kebenaran, "dia mau lamaran sama Andini."
Mayang tertegun. Namun sedetik kemudian dia tersenyum, "Oh, selamat kalau gitu, Jeng. Semoga mereka bahagia. Jangan lupa kasih undangan kalau mereka menikah nanti."
"Ya. Pasti Mbak." Ratih juga menguraikan senyumnya. "Oh, iya....dan mbak Mayang sendiri ngomong-ngomong mau kemana? Penampilannya juga cantik gini." Kini wanita itu balik bertanya.
Dan kali ini mama Dion terbungkam. Hatinya balik berperang, apakah ia akan jujur pada ibu Adrian? Atau berbohong padanya?
"Ehm....saya...." ucapnya menggantung, "sedang fitting baju resepsi," ucapnya perlahan-lahan.
"Pernikahan? Siapa yang menikah?"
Tidak. Ini yang tidak di inginkan Mayang. Haruskah ia jujur kalau yang akan menikah adalah Dion putranya? Tapi bukan itu yang menjadi penyebabnya, melainkan wanita yang akan menjadi menantunya. Dan dia adalah mantan menantu dari keluarga Sujono. Apa jadinya kalau mereka tau? Tapi bukankah lama-kelamaan merekapun akan tau juga?
"Mbak,"
"Oh....eh, ya?" Mayang terkejut saat mendengar suara teguran dari Ratih.
"Jadi, siapa yang akan menikah?" desak Ratih makin penasaran.
"Eh...itu...itu..." Tidak ada pilihan lain, aku memang harus jujur. Dari pada Jeng Ratih mendengar dari orang lain? Itu akan lebih memalukan dan membuatku semakin tidak enak hati. "Ehmm....sebenarnya, Dion akan menikah beberapa minggu lagi dari sekarang," akunya jujur.
"Oh ya? Jadi, wanita mana yang akan di pinang oleh nak Dion? Wah, saya senang dengernya Mbak yu. Tapi, kok Adrian ndak pernah cerita ya kalau Dion mau menikah?"
"Jeng, ada sesuatu hal yang perlu jeng Ratih ketahui," Mayang memotong kalimatnya sejenak. Berpikir dari mana ia akan memulai pengakuan. "Dion, akan menikah dengan Anggun....."
Seakan waktu berhenti dalam sekejap. Ratih yang semula mengumbar senyum, kini berbalik keadaan. Entah kemana senyum itu hilang dalam satu kedipan mata. Tubuh wanita itu menegang. Matanya menyorot tajam.
Tidakkkk....Tidakkk....Ini tidak mungkin?
"Jeng....jeng Ratih...." Mayang mengguncang tubuh Ratih yang kaku bak mayat hidup. Ratih kembali pada kesadarannya. Matanya yang semula kosong kini hidup kembali dan menatap Mayang dengan nanar. "Jeng, sampean tidak apa-apa kan?"
"Eh....ya...."
"Hmmm, maaf....saya rasa saya harus segera pergi. Semoga kita bisa bertemu di hari pernikahan Adrian...." Mayang memeluk Ratih sebelah pihak lalu mulai berjalan menjauh. Dia tak sanggup berbicara lebih lama lagi dengan wanita itu. Dia tahu, batin Ratih terluka saat ini. Dan kini tinggallah Ratih yang hanya berdiri terpaku sambil menatap kepergian Mayang yang semakin lama semakin jauh.
π
π
__ADS_1
π
Acara pertunangan Adrian memang terbilang lancar. Tak ada hambatan apapun di dalamnya. Andini bahkan tak lepas dari senyum mengembang di bibirnya. Sedang Adrian, dia nampak biasa-biasa saja. Namun ada sesuatu hal yang membuat keluarga Sujono sedikit kecewa, yakni sikap Ny Sujono yang hampir tak menunjukkan senyumnya pada semua orang bahkan calon besan. Kalaupun iya, itu pasti hanya senyum hambar yang ia paksakan. Wanita itu juga cenderung diam tanpa banyak bicara.
Bahkan Tn Sujono terpaksa harus berbohong untuk menutupi sikap sang istri.
"Sebenarnya ada apa Bu, kenapa sejak tadi wajah Ibu cemberut terus? Bagas lihat sejak kita keluar dari pom bensin tadi, Ibu mulai murung. Ada apa sebenarnya?" Bagas mulai mendikte sang Ibu saat mereka sampai dirumah.
"Rian, Ibu ingin bicara denganmu sekarang!!" Bukannya menjawab pertanyaan Bagas, wanita itu justru memanggil Adrian yang hendak beranjak ke kamarnya.
Adrianpun berhenti seketika. Wajahnya menoleh empat puluh lima derajat ke arah ibunya. Dan sang Ibu sudah pergi menjauh. Itu berarti Adrian terpaksa harus mengikutinya. Tn Sujono dan Bagas hanya saling berpandangan, bingung.
"Bapak tau apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bagas kemudian setelah adiknya berlalu.
"Kalau Bapak tau, Bapak tidak akan mungkin menegur ibumu dan mengajukan pertanyaan yang sama sepertimu." Tn Sujono menghela napas panjang. "Tapi mungkin ini ada hubungannya dengan seseorang yang Bapak lihat di pom tadi."
"Hah? Sinten Pak?" telusur Bagas dengan logat Jawa kental.
"Mayang."
"Mayang?" Bagas berlatah. Keningnya mengerut tanda ia berpikir keras dan mengingat nama yang sangat tidak asing itu. Dan sebuah wajah muncul di pikirannya. "Mayang mama Dion, Pak?"
Tn Sujono mengangguk. Pria itu berjalan perlahan menuju beranda rumah dengan kedua tangan tersembunyi di belakang punggungnya. Bagas seperti besi yang terkena magnet. Dia mengekor sang ayah dari belakang.
"Sepertinya sudah terjadi sesuatu diantara mereka," gumam Tn Sujono lirih namun masih terdengar oleh putra sulungnya. Dan kini mereka hanya bisa menebak-nebak kira-kira ada masalah apa sebenarnya? Tapi Tn Sujono sudah bisa menebak kalau itu pasti ada kaitannya dengan Dion dan Anggun.
Di kamar pribadi Tn Sujono....
Ny Sujono memutar tubuhnya dan kini menghadap penuh pada Adrian. Tatapannya setajam pisau yang terasah. Adrian merasakan hawa buruk saat ini. Dia tak pernah melihat amarah dan kekecewaan pada sosok wanita berhati lembut itu, kecuali saat ini. Mata itu benar-benar hidup seperti hendak menelannya mentah-mentah.Β
"Bu, kenapa Ibu menatapku seperti itu?"
"Kau pasti tau kalau saat ini Ibu sedang marah, Adrian." Suara wanita itu berat dan tajam.
"Tapi, kesalahan apa yang sudah Adrian perbuat?" Adrian terbodoh.
"Satu-satunya kesalahanmu adalah karena kau menceraikan Anggun dan itu tanpa sepengetahuan Bapak dan Ibu," geram wanita itu.
"Bu, bukankah itu sudah berlalu?"
"Ya, dan apa kau tau sekarang kalau mantan istrimu itu akan menikah dengan sahabatmu sendiri, Dion?" Lengkingan suara itu terdengar berdengung di telinga Adrian. Mata pria itu membola penuh.
Bagaimana Ibu bisa tahu?
"Kenapa kau diam? Kau tidak tahu? Atau kau sebenarnya sudah tahu dan pura-pura tidak tahu?" tandas Ny Sujono penuh kebencian.
"Siapa yang memberi tahu Ibu kabar itu?"
"Tidak penting darimana Ibu tahu kabar itu, Adrian. Sekarang Ibu hanya ingin tanya sama kamu, apa maksud semua ini? Kau bertunangan dengan Andini, dan sekarang Ibu dengar Anggun akan menikah, apa arti semua ini?"
"Bukankah sudah jelas? Itu berarti kami ingin menempuh jalan masing-masing. Dan Adrian harap Bapak juga Ibu akan mengerti keputusan kami." Selepas itu Adrian pergi tanpa berpamitan lebih dulu pada Ibunya.
__ADS_1
Ny Sujono menggeram. Hatinya masih belum puas. Tidak. Aku harus menghubungi Anggun. Dia harus menjelaskannya padaku,
Tanpa pikir panjang, Ny Sujono meraih telfon dan menghubungi orang yang di maksud.
"....."
"Waalaikum salam,"
"....."
"Datanglah kemari besok, Anggun. Ibu ingin bicara sesuatu denganmu." Dan wanita itu menutup telfon sebelah pihak. Di seberang sana Anggun bisa merasakan aura kemarahan di nada suara mantan mertuanya.
Sementara Adrian, dia yang keluar begitu saja bahkan tanpa pamit pada Ayah maupun kakaknya yang kebetulan ada di ruang tengah, diapun tak dapat menolak rasa gelisah yang sekarang mengungkung jiwanya. Kenapa kabar itu semakin membuatnya resah? Bukankah baru saja ia bertunangan dan itu belum lewat satu hari? Tapi bukannya bahagia, ia malah merasa gundah. Adrian melajukan mobilnya kencang.
Ada apa denganku? Bukankah aku juga sudah tau kalau Anggun akan menikah?
Semakin dia berusaha melupakan bayangan itu, semakin pula ia terjerat. Gambaran wajah Anggun dan Dion yang bermesraan di hadapannya sungguh membuat darahnya panas. Seakan mereka sengaja memanas-manasi dan menyulut api cemburu di hati Adrian. Sungguh ia tidak terima.
"Aarrrrgggghhhhhh......"
π
π
π
π
"Siapa yang menelfonmu, Anggun?" tanya mama Dion saat melintasi Anggun di ruang baca dan mendengar ia berbicara dengan seseorang di telfon.
"Hmmm, itu. Ibunya Adrian, Tante," jawab Anggun ragu.
"Apa yang dia katakan?" Ny Mayang menyelidik. Meski dia sebenarnya tidak ingin ikut campur, tapi kali ini dia merasa harus tahu apa yang sudah di katakan Ratih pada calon menantunya. Jiwanya sebagai perempuan seolah menjawab, bahwa ini pasti ada hubungannya dengan pembicaraannya tadi siang saat di pom bensin.
"Ibu, ingin saya datang besok,"
Mayang termangu. Benar sudah dugaannya. Pasti Ratih akan meminta pertanggung jawaban atas berita rencana pernikahan Anggun dan Dion.
"Sebaiknya kau kesana dengan Dion."
"Hah? Kenapa Tante?"
"Kau akan tau nanti. Tapi tante ingin Dion ada di sampingmu." Melihat ekspresi Anggun yang bingung, Mayangpun menambahi, "Kalian sebentar lagi menikah, sudah seharusnya jika apapun kalian selesaikan berdua. Termasuk bertemu dengan orang tua Adrian."
"Tapi mereka akan tahu kalau--,"
"Kalau kalian punya hubungan? Bukankah lama-kelamaan mereka akan tau juga? Sampai kapan kau akan bersembunyi? Dan memangnya apa yang kau khawatirkan?"
Anggun terdiam. Dia kini ia berpikirΒ jauh. Apa yang di sampaikan calon mertuanya memang benar. Entah sekarang atau besok, soal hubungannya dengan Dion pasti akan terkuak. Berita pernikahannya akan menyebar dan itu pasti akan terdengar oleh keluarga Sujono.
Ya, aku akan kesana bersama Dion
__ADS_1
ππΊππΊππΊππΊππΊ