Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2
BAB 37


__ADS_3

Dalam kondisi pikiran yang tiba-tiba kosong, Adrian tanpa diminta lalu menyeret paksa Anggun untuk mengikutinya. Dan keduanya akhirnya memasuki tempat perbelanjaan tersebut.


Anggun tak bisa berpikir lagi. Dia hanya bisa mengekor Adrian dari belakang. Sebuah pertanyaan berkali-kali muncul dan berdemo di otaknya meminta kejelasan. Apa benar Dion mengkhianatinya?


Entah sudah berapa kali keduanya mengitari mall besar itu. Dari lantai dasar hingga paling atas. Dan hampir tiap toko tak luput dari penggerebekan keduanya. Tapi sayang, hingga sejauh ini mereka masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan Dion.


Adrian bahkan hampir putus asa. Apakah mereka sudah pergi? Tapi sepertinya belum, mengingat Adrian meninggalkan mall itu tak lebih dari satu jam. Tidak. Adrian yakin Dion dan Fitri masih di sana. Bahkan Anggun sendiri hampir membuat keputusan kalau Adrian sudah mengada-ada dan memfitnah Dion untuk kesekian kalinya.


Keduanya lalu berhenti sejenak di lantai dua. Pandangan Adrian mengedar. Melihat dan meneliti dengan seksama mall tersebut dari tempatnya berada. Nafas yang saling berkejar-kejaran menunjukkan kalau mereka sudah lelah.


"Anggun, sebaiknya kita ke sana. Aku rasa toko jam itu belum kita lihat tadi," tunjuk Adrian pada sebuah toko jam yang tak jauh dari tempatnya.


Tangan pria itu hampir saja menyambar lengan Anggun sebelum akhirnya Anggun berlari sendiri dan menaiki eskalator sambil berlari-lari kecil.


"Kau mau ke mana, Anggun?" teriaknya mengikuti arah lari wanita itu. Anggun tak menggubris meski Adrian berteriak padanya berkali-kali. Tujuannya sekarang hanya satu. Food court.


Hingga akhirnya dia sampai di tempat yang di maksud, matanya membulat penuh mendapati di depan sana dua orang tengah menyantap makan siang dengan gembiranya. Ya, disana nampak olehnya Dion tengah duduk berseberangan dengan seorang wanita yang pernah di lihatnya. Kalau tidak salah wanita yang ada di foto yang pernah di tunjukkan Adrian padanya.


Tak lama kemudian Adrian sampai di dekat Anggun dan reaksinya hampir sama dengan wanita itu. Namun berbeda dengan perasaan Anggun yang hampir mengalami shock, pria itu justru meradang. Marah. Dan kali ini emosinya tak bisa di tolerir lagi.


Tanpa meminta persetujuan Anggun lebih dulu, Adrian mengambil langkah lebar mendekati tempat Dion berada. Tangannya gatal ingin menghajar sahabatnya itu. Bagaimana bisa dia enak-enakan di sini dengan wanita lain sementara calon istrinya menunggu di rumah mempersiapkan pernikahan mereka.


Anggun yang sejak tadi berdiri bak patung menjadi sadar seketika saat Adrian sudah dekat dengan keberadaan Dion dan tanpa berpikir panjang tiba-tiba memberi pukulan pada calon suaminya itu.


Buugghhh!!!


Sebuah bogem keras melayang di wajah Dion. Tentu pria itu terkejut saat tiba-tiba pakaiannya di tarik dari belakang dan tanpa sempat menghindar sebuah pukulan telah mengenai wajahnya. Dion terhuyung karenanya.


Baik Anggun maupun Fitri yang ada di tempat itu, keduanya sama-sama menjerit menyerukan nama mereka. Seketika itu juga Anggun berlari mendekat. Namun dia hanya diam mematung meski sebelumnya sempat berteriak histeris.


Tak ayal, Dion dan Adrian kini menjadi tontonan seluruh mall. Banyak orang yang berbondong-bondong mendekat dan berkerumun di tempat itu hanya ingin melihat apa yang terjadi. Hingga beberapa saat lamanya, Adrian masih teguh memberikan pukulannya pada Dion. Dan meski sahabatnya itu memprotes, Adrian tak menghiraukan sama sekali.


Fitri yang mulai cemas dengan keadaan Dion lalu berseru pada Anggun, "Kamu pasti Anggun, bukan? Kamu calon istri Dion bukan? Kenapa kamu hanya diam saja melihat calon suamimu di pukuli habis-habisan?"


Anggun tak menjawab dan hanya memandang wanita itu. Tatapan yang bimbang dan kecewa. Haruskah dia membantu Dion yang jelas-jelas sudah tertangkap basah berdua dengan wanita lain?


"Kenapa bukan kau saja yang menolongnya? Bukankah kau juga mencintainya?" Anggun balik memojokkan. Fitri terbelalak seketika mendapat tuduhan tak berdasar itu.


"Aku?" kalimat Fitri seperti terhenti di tenggorokan. Mendapat tatapan tajam dari Anggun membuat ia mengurungkan niat berkata lebih.Β  Dan entah kenapa mendadak lidahnya terasa kelu.


Merasa tak mendapat penjelasan dari Fitri, kembali tatapan Anggun teralih pada kedua orang yang tengah berseteru. Dion dan Adrian seperti tak punya malu dan main baku hantam saja di tempat umum.


Saat satpam hendak datang memisah, tiba-tiba datang seorang pria asing.

__ADS_1


"Fitri, apa yang terjadi?" tanya pria asing itu pada Fitri. Wanita itu merasa lega saat orang tersebut datang menghampirinya.


"Syukurlah kamu datang, Bobby. Lihatlah, mereka tengah berkelahi dan aku tidak tahu apa sebabnya. Kau harus segera melerai mereka atau keduanya akan terluka," Fitri setengah merengek.


Bobby kemudian berpindah pada Adrian dan Dion. Menghampiri keduanya.


"Adrian, Dion, apa yang kalian lakukan?" ujar pria itu setengah berteriak. Dengan segera orang itu melerai keduanya. "Apa-apaan kalian? Seperti anak kecil saja berkelahi di tempat umum," omelnya setelah bisa memisah keduanya.


"Bobby, kamu?" Adrian berseru. Pria itu meringis menahan sakit di ujung bibirnya yang sempat terkena pukulan Dion.


"Apa yang terjadi?" suara seorang security tiba-tiba membelah suasana.


"Hmmm, maaf Pak. Barusan hanya terjadi kesalah pahaman saja. Tapi tenang, semua sudah selesai," Bobby berusaha menutupi. Security itu memperhatikan kelima tersangka dengan tatapan mencurigai. "Percayalah, Pak. Tidak ada apa-apa. Hanya kesalah pahaman saja," kembali Bobby bersuara berusaha meyakinkan satpam itu.


Akhirnya security tersebut mengangguk percaya. "Tolong, jangan buat keributan apapun di tempat ini," imbuhnya sebelum pergi untuk berkeliling kembali. Mereka yang sempat di buat tegang akhirnya bernapas dengan lega. Dan kerumunan di tempat itu bubar seketika.


Bobby lalu mengajak mereka semua untuk duduk. Dion yang menghampiri Anggun dan berusaha menyentuh wanita itu ternyata mendapat sambutan tidak baik darinya. Anggun menepisnya tanpa sungkan.


"Anggun," kalimat Dion tercekat saat wanita itu mengangkat tangannya tak ingin mendengar penjelasan apapun. Akhirnya Dion hanya bisa diam.


"Jadi, katakan! Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" Bobby meminta penjelasan ketika semua orang sudah duduk.


"Cobalah tanya Adrian. Dia tiba-tiba saja datang dan memukulku tanpa sebab," Dion menyerobot langsung. Kelihatan sekali ia sangat kesal.Β 


"Memang apa yang sudah aku lakukan pada Anggun?" protes Dion tak mau kalah.


"Oh....jadi setelah jelas-jelas ketahuan berselingkuh, kau sekarang jadi ingin lari dari kebenaran, begitu?" Adrian memojokkan. Tatapannya sekilas melirik ke arah Fitri yang duduk tepat di samping Bobby.


"Apa?" Dion membelalak.


"Tunggu! Tunggu! Apa maksudmu berselingkuh, Adrian? Apakah kau mencurigai Dion ada affair denganku?" kali ini Fitri memprotes. Lirikan Adrian barusan jelas-jelas bermaksud tuduhan untuknya. Dan ia tidak terima.


Adrian yang di tanya hanya mengerdikkan bahu. Enggan untuk menjawab. Fitri pun berdecak akhirnya.


"Oh....jadi karena ini kau tiba-tiba memukulku. Dasar kurang ajar kau Adrian," Dion meradang dan bermaksud memukul Adrian. Namun untung segera di cegah oleh Bobby.


"Sudah! Sudah! Jangan buat keributan lagi disini atau kita semua akan diseret langsung keluar oleh security," lerai Bobby jengah. Dion membuang napas kasar. Mencoba menetralkan emosinya.


"Jadi apa kau juga mencurigaiku, Anggun?" tanya Dion kemudian pada wanitanya dengan tatapan memicing.


"Kamu jawab sendiri. Apa kamu benar-benar berselingkuh atau tidak," jawab Anggun enteng.


"Ok. Aku tahu sekarang permasalahannya. Ini semua terjadi karena salah paham," kini Fitri mengambil alih pembicaraan. "Aku tahu, kalian berdua mencurigai aku dan Dion ada hubungan bukan? Baiklah aku jelaskan. Sesungguhnya dugaan kalian itu salah," lanjut Fitri kemudian.

__ADS_1


"Salah? Oh....ya? Setelah berkali-kali aku memergoki kalian berdua jalan bersama?" Adrian menepis.


"Oh....jadi selama ini kau memata-mataiku, Adrian?" cetus Dion tak terima.


"Maaf, aku melihat semua secara tidak sengaja," Adrian mendebat. "Dan sekarang apa yang bisa kalian jelaskan dari semua itu?" todongnya.


"Tentu saja aku bisa jelaskan. Asal kamu tahu, Adrian. Aku dan Dion jalan bersama karena kami ada hubungan bisnis," jelas Fitri.


"Bisnis? Benarkah?" kali ini Anggun yang bertanya. Kalimatnya mengandung ketidak percayaan.


"Tentu saja, Sayang. Aku dan Fitri hanya sebatas rekan bisnis," Dion mencoba meyakinkan sekaligus mendinginkan hati wanita itu. Ia tahu kalau saat ini Anggun tengah cemburu.


"Bisnis antara kamu dengan mantan pacarmu?" Anggun menekan. Tatapannya tajam menghunjam. Dion sedikit terkejut mendengar kalimat wanita itu. "Kenapa kau terkejut? Apakah karena aku tahu kalau dia adalah mantan pacarmu?"


Dion tak menjawab kali ini. Dan itu membuat Adrian tersenyum miring. Senang melihat Dion kalah telak. Pertanda kemenangan ada padanya.


"Sebentar, sebentar. Dion, apa kau tidak mengatakan pada Anggun kalau kau sedang mempersiapkan kejutan untuknya?" Fitri mencoba menengahi. Wajahnya benar-benar terlihat cemas. Dion yang di tanya hanya diam saja. Dan itu sudah memberi jawaban pada wanita itu.


Fitri pun menarik napas panjang dan membuangnya kasar.


"Kau juga terlalu, Dion. Tidak mengatakan semuanya pada calon istrimu sendiri sampai membuat dia curiga," kali ini Fitri menyalahkan. Dia mengaduk-aduk minuman yang sudah ia pesan dari awal lalu meminumnya kemudian.


"Dengar Anggun, Adrian. Sekali lagi aku jelaskan, kalau antara aku dan Dion sebenarnya tidak ada hubungan apapun kecuali bisnis. Dan memang aku dulunya adalah mantan pacar Dion. Tapi apakah Dion salah kalau menjalin hubungan bisnis denganku meski kami sudah berpisah? Dan lagi pula, aku tidak mungkin suka sama Dion karena aku sendiri statusnya sudah bersuami," penjelasan Fitri kali ini membuat Anggun dan Adrian terkejut. Refleks mereka pun saling berpandangan.


"Jadi...." kalimat Adrian tak berlanjut. Dia menelan ludah pahit. Betapa malunya dia kalau dugaannya selama ini salah.


"Jadi aku memang tidak main serong, Sobat. Kamu saja yang mencurigaiku tanpa alasan. Dan aku yakin kecurigaan Anggun padaku juga di sebabkan olehmu. Dia bahkan tak mungkin kemari kalau bukan kamu yang memaksanya bukan?" Dion menjawab langsung. Matanya sekilas melirik pada Anggun. Dan wanita itu hanya bisa duduk diam sambil tertunduk malu.


Namun Dion memang pria pengertian. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran Anggun. Dengan segera dia meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya erat. Berusaha meyakinkan wanitanya bahwa sedikitpun ia tidak marah ataupun kecewa. Anggun yang di perlakukan demikian semakin menundukkan kepala. Tak sanggup memandang calon suaminya itu.


"Sekarang sudah jelas bukan permasalahannya?" sela Fitri akhirnya.


Adrian tak bisa mengelak dari kesalahannya. Diapun hanya bisa tertunduk. Hanya bisa merutuki kebodohannya karena telah salah sangka.


"Baiklah, syukur semua sudah jelas sekarang," Bobby tiba-tiba membelah suasana canggung.


"Ya. Kau benar," Dion menyambut. "Eh...tapi ngomong-ngomong kenapa kamu ada disini, Bro? Setelah lulus kuliah kau seperti hilang di telan bumi. Dan ngomong-ngomong bagaimana kau bisa kenal Fitri juga?"


"Hmmm, itu....karena Fitri adalah istriku," jawab Bobby sambil menggaruk tengkuk lehernya.


Dan kebenaran itu membuat Dion dan Adrian berteriak bersamaan, "Apa?"


πŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒ

__ADS_1


__ADS_2