Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2
BAB 17


__ADS_3

Bagaimana bisa Dion membuat keputusan secepat itu? Ingin menikahi Anggun dalam tempo yang singkat. Sesungguhnya Dion masih ingin menunggu Anggun sampai dia benar-benar bisa melupakan Adrian. Membuka hati untuk seorang Dion Putra Mahendra. Namun kejadian hari ini sungguh membuatnya gelap mata. Dimana dia yang sedang gelisah menunggu Anggun yang sedang menjenguk mantan mertuanya, dan di saat bersamaan matanya melihat sosok kedatangan Adrian, sungguh hatinya di buat semakin gelisah.


Pada akhirnya kegelisahan dalam benaknya tak dapat di tolerir lagi. Diapun berusaha menghubungi Anggun. Ini memang agak keterlaluan. Tapi setidaknya Dion berharap kalau bisa mendengar suara wanita itu meski hanya sekedar kata 'Halo', itu sudah cukup menjadi kepuasan untuk mengobati rasa was-was yang melanda jiwanya.


Ya. Dion khawatir kalau Anggun akan menoleh kembali pada Adrian. Dia khawatir kalau keberadaan ibunya yang sakit akan memanfaatkan perpisahan mereka dan menyuruh keduanya bersatu kembali.


Dan setelah Dion berusaha menelfon Anggun, namun nyatanya wanita itu tak menjawab sama sekali. Itu berlangsung sampai lima kali panggilan dan hal sama di terima oleh Dion. Sungguh pria itu merasa terkhianati. Sehingga tanpa pikir panjang lagi, saat Anggun keluar dari rumah keluarga Sujono dan segera masuk dalam mobilnya, dengan emosi penuh Dion melampiaskan kemarahannya pada cara berkendaranya. Berkali-kali Anggun mempertanyakan keadaan Dion yang terasa aneh baginya, dan entah kenapa Dion semakin kesal karena pada saat itu pula bayangan Adrian selalu melintas di pikirannya. Ya. Dion benar-benar cemburu.


Dan begitulah akhirnya, Dion memutuskan untuk menikah dengan Anggun meski wanita itu tidak bisa memberikan harapan perasaan buatnya. Dan kali inipun Dion benar-benar tak ingin menunggu. Menikahi Anggun adalah keputusannya.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Saat ini Dion baru pulang dari kantor, dan betapa terkejutnya dia saat melihat sang mama sudah berada di rumahnya.


"Mama? Kapan Mama datang?" Pria itu tak menyangka kalau mamanya akan datang berkunjung.


Ny Mayang berdiri seketika dari duduknya dan menghampiri Dion dengan kedua tangan bersilang di depan dada. "Jelaskan apa maksud semua ini, Dion!!"


Flash Back On


*Keputusan Dion yang ingin menikahi Anggun benar-benar sudah bulat. Meski berkali-kali Anggun meyakinkan padanya untuk memberinya waktu, namun pria itu tak mau mendengar. Dia lalu berusaha menghubungi mamanya karena jalan inilah satu-satunya yang bisa menguatkan keputusannya.


"Iya Sayang?" Suara sang mama dari seberang telpon.


"Ma, aku sudah menjatuhkan keputusan." Dion langsung ke pokok permasalahan.


"Soal apa?" tanya Ny Mayang bingung.


"Untuk menikahi Anggun."


"Oh...ya? Jadi, kapan kalian akan menikah?"


"Tepatnya dua bulan setelah ini."


"Kau yakin, Sayang? Bukankah itu terlalu dekat? Tidakkah kau menunggu satu atau dua tahun lagi?"


"Tidak Ma! Semakin cepat semakin baik. Dan aku juga mau bilang sama Mama kalau aku akan bertunangan dengan Anggun. Tidak apa-apa kan kalau aku mengikatnya lebih dulu?"


"Sebenarnya itu...."


"Aku mau jawaban iya dan tidak mau jawaban tidak, Ma."

__ADS_1


"Dion....Dion....Mama rasa kita perlu bicara berdua dulu."


"Ya. Tentu saja. Aku akan kesana Minggu besok."


Percakapan itupun berakhir. Namun nyatanya Ny Mayang tak sabar untuk menanti hingga hari Minggu tiba. Dan saat inilah dia memutuskan untuk datang ke rumah Dion.*


Flash Back Off


"Mama, harusnya mama menelfon dulu kalau mau kemari." Dion meletakkan tas kerjanya langsung ke atas sofa lalu menarik dasi dan berusaha melonggarkannya.


"Dion, jangan menghindar dari pertanyaan Mama. Jelaskan pada Mama apa maksud semua ini?" Terlihat sekali kalau wajah Ny Mayang sangat gusar.


Dion melihat sekelebat bayangan Anggun keluar dari ruang makan. Sepertinya dia baru saja selesai menyiapkan makan malam.


"Ma, aku tidak mengerti apa yang Mama maksud? Apakah itu soal pernikahan dan pertunangan? Kalau iya, sudah jelas kan apa yang Dion sampaikan kemarin."


"Dion, seharusnya kau tau apa yang Mama gusarkan saat ini."


Dion tak menjawab. Dia lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya setelah selesai melepas sepatu dan meletakkannya pada rak. "Ma, biarkan aku mandi dulu."


Ny Mayang mendengus kesal. Membuang muka ke samping masih dengan tangan yang bersilang di depan dada. Anggun berjalan pelan mendekatinya. Menepuk lengannya perlahan.


"Tante, mari kita tunggu Dion di meja makan," ujar Anggun sambil mengulas senyum. Dan seketika kekesalan wanita paruh baya itu menjadi luruh.


"Baiklah. Ayo!" jawabnya sambil membalas senyum.


Akhirnya yang di tunggupun muncul. Dion keluar dari kamar dengan sebuah kaos polo putih dengan celana pendek training. Wajah nya yang semula kusam kini terlihat segar. Anggun tak menampik kalau Dion memang tampan. Tubuh atletis pria itu terbentuk jelas di balik kaosnya yang ketat. Rahangnya yang keras dan tegas seakan menunjukkan bahwa pria itu tipe seorang pria yang menjaga komitmen.


"Jadi, apakah sekarang Mama bisa mendengar penjelasanmu, Dion?" Kata mamanya di sela-sela makan malam mereka.


"Tidak bisakah Mama menundanya sampai kita selesai makan?" Bantah Dion masih fokus dengan makanannya. Sementara itu disisi lain terlihat Anggun yang duduk membeku sambil menikmati makan malamnya juga. Dia hanya bisa mendengar kedua manusia yang terikat jalinan keluarga itu sedang berdebat.


"Dion, Mama tau kau sengaja menghindar dari pertanyaan Mama." Wanita paruh baya itu meletakkan sendoknya seketika.


"Baiklah, jadi sebenarnya apa yang harus ku jelaskan?" Dion ikut meletakkan sendoknya di atas piring. Menautkan jarinya satu sama lain dengan kedua siku bertumpu di atas meja. Matanya tampak tenang menatap sang mama yang memandangnya dengan tatapan mata meminta penjelasan.


"Kenapa Anggun bisa tinggal disini? Kau tau kalau ini tidak seharusnya. Bagaimana kalau orang lain tau kalian tinggal bersama sedang kalian belum ada ikatan apa-apa?" Sang mama mencerca panjang lebar.


"Sudah?" tanya Dion memastikan kalau mamanya tak akan bertanya hal lain lagi setelah itu.


"Kau juga harus menjelaskan pada Mama mengenai pernikahan yang kau maksud." Dion menunggu mamanya untuk beberapa saat sampai dia benar-benar yakin kalau Ny Mayang tak akan berkata lagi.


"Jadi, pertama aku ingin memberi tahu mama kalau sesungguhnya aku sudah meminta ijin pada pihak RT setempat. Apakah Mama pikir aku bodoh dengan membawa Anggun tinggal bersamaku tanpa adanya laporan padaΒ perangkat perumahan ini? Semua orang bahkan sudah tau kalau tamu yang tinggal lebih dari 24 jam harus melapor pada pihak RT." Dion menghentikan kalimatnya sejenak. Menoleh pada Anggun yang hanya menunduk tanpa berani melihat ke arah Dion maupun mamanya meski hanya sekilas.

__ADS_1


"Aku tau tindakanku ini salah. Tapi aku tidak tau lagi bagaimana caraku bisa membantu Anggun keluar dari kesedihannya. Karena kalau Anggun ku biarkan tinggal sendiri, aku yakin dia pasti akan terpuruk. Dan aku tidak mau itu terjadi padanya."


"Kalau begitu Mama punya usul." Dion mengerutkan keningnya, bertanya. "Mama akan mengajak Anggun tinggal di rumah Mama." Anggun yang mendengar keputusan itu mendongakkan kepalanya seketika. Ini benar-benar tak dapat di percaya. Ibu dan anak ternyata sama saja. Sama-sama suka memaksakan kehendaknya tanpa minta pertimbangan terlebih dahulu.


"Tapi Ma...." Dion berusaha menyanggah.


"Tidak! Keputusan Mama ini tidak bisa di ganggu gugat atau Mama tidak akan merestui kalian menikah." Kali ini Dion mendengus pasrah. Disisi lain, Anggun hanya menarik napas lelah. "Lalu, dengan rencana pernikahan kalian?"


"Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan menikahi Anggun dua bulan setelah ini. Dan untuk saran Mama yang mengatakan kalau aku harus menunggu satu atau bahkan dua tahun lagi, itu jelas-jelas aku tolak. Tidak. Aku tak mau menunggu lagi. Karena aku sudah menunggu terlalu lama hingga saat ini. Namun sebelum itu, aku ingin mengadakan acara pertunangan dengannya. Tidak perlu besar-besar. Cukup hanya keluarga kita saja yang tau."


Dan begitulah, percakapan itu berhenti pada keputusan Dion barusan. Anggun yang sejak tadi hanya diam tiba-tiba terkejut saat mama Dion mengajukan sebuah pertanyaan padanya.


"Bagaimana denganmu, Anggun?"


"Eh....saya...."


"Anggun setuju apapun keputusanku, Ma." Anggun mendelik tajam pada Dion, namun pria itu tak merespon. Dia justru sengaja menghindar dengan memulai kembali makan malamnya yang sempat tertunda.


"Ya. Baiklah. Mama ikut saja apa keputusanmu. Tapi yang pasti mulai sekarang Anggun akan tinggal di rumah Mama." Dion ingin memprotes kembali namun Ny Mayang mengangkat tangannya dengan cepat tanda dia tak mau di bantah. Anggun sendiri hanya bisa memijit-mijit pelipisnya yang terasa berat.Β 


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Kesehatan Ny Sujono berangsur-angsur pulih. Kini Adrian jarang tinggal di rumahnya sendiri. Selain dia ingin menemani ibunya, disana juga tak ada teman lain sehingga membuatnya sedikit kesepian. Hanya sesekali saja setelah pulang kantor dia menyempatkan diri mampir ke rumah tersebut. Adrian juga tak lupa menyewa jasa seorang pembantu rumah tangga untuk membantu membersihkan rumahnya.


Dan akhir-akhir ini, kedekatannya dengan keluarga mulai terjalin kembali. Pak Sujono juga tidak menunjukkan kekesalannya lagi. Itu terlihat dari cara mereka berbincang yang sudah mulai akrab.


"Pak...Bu...Rian mau bicara sesuatu." Katanya pada suatu hari saat kedua orang tuanya tengah berkumpul bersama.


"Katakan Ngger!!" Sang ibu menyahut. Sementara Pak Sujono asik menghisap cerutunya sambil duduk manis di kursi goyang.


"Hmmm...ini...soal Andini." Kata Adrian ragu-ragu.


"Andini?" Ny Sujono melatahi.


"Iya Bu. Saya....saya....ingin melamar Andini, Bu." Wajah ibu Adrian membeku. "Saya ingin melanjutkan hubungan kembali dengannya, Bu."


Tak ada jawaban apapun dari sang ibu. Wanita paruh baya itu menoleh pada suaminya yang masih tampak tenang dalam diamnya. Untuk sejenak suasana hening. Sejauh ini belum ada tanggapan dari Ny Sujono. Dan Adrian juga tak ingin berusaha menekan orang tuanya. Dia tak ingin hubungannya akan kembali retak dengan mereka. Maka dari itulah Adrian lebih baik menunggu keputusan dari mereka.

__ADS_1


Tiba-tiba pak Sujono berdiri dari duduknya dan berkata dengan penuh kesungguhan. "Baiklah. Kita akan melamar Andini! Minggu depan kita akan kesana."


πŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒ


__ADS_2