
Rupanya terbongkar sudah apa yang menjadi alasan selama ini perubahan sikap Dion. Benar kalau ia memang sedang menyiapkan sebuah kejutan pada calon istrinya. Memperbaiki dan mendekorasi rumahnya adalah salah satu dari kejutan itu sendiri. Itulah sebabnya, waktu pria itu sedikit terkuras dan cenderung mengabaikan Anggun. Termasuk kerjasama dengan Fitri tempo hari. Ia sengaja memesan sebuah perhiasan pada wanita itu, yang nantinya akan ia jadikan sebagai mas kawin. Dan Adrian sendiri lupa kalau Fitri adalah seorang perancang perhiasan.
π
π
Dinda baru saja berbenah diri dan siap menuju kediaman keluarga Mahendra saat tiba-tiba dilihatnya Adrian, kakak keduanya tengah duduk melamun di teras rumah dengan posisi menghadap pelataran halaman.
Dinda mendekat, dan berdehem kecil sebelum ia akhirnya duduk dan menyapa kakaknya tersebut.
"Mas Rian masih disini? Kenapa belum berangkat?" gadis itu bertanya perlahan. Menatap kakaknya yang sedang memandang jauh ke atas, ke langit luas.
"Kau pergilah dulu, nanti aku menyusul," jawab Adrian sedikit malas.
"Kenapa? Apa mas Rian gak mau lihat akad nikahnya mbak Anggun sama mas Dion?"
Tak ada sahutan apapun dari abangnya tersebut. Yang terdengar adalah desahan nafas halus yang di tarik secara berat. Dinda memang masih tergolong anak-anak. Tapi bukan berarti ia tidak tahu beban yang saat ini di rasakan kakak keduanya itu.
"Mas, seperti apapun saat ini yang mas Rian rasakan, semua sudah terlambat. Dan demi apapun mas Rian mencoba, takkan bisa merubah apapun."
Adrian menoleh langsung pada keberadaan Dinda di sampingnya. Pria itu tertegun. Tak percaya bahwa adik perempuan satu-satunya bisa menebak isi hatinya saat ini.
"Kau sudah semakin besar, Adikku," ulas Adrian sambil mengurai senyum. Tangannya mengacak rambut gadis itu perlahan. Membuat wajah Dinda memberengut kesal karena tatanan rambutnya telah di rusak.
"Sudah ah. Aku pergi dulu. Mas Rian cepatlah menyusul!"
Gadis itu berdiri dan berjalan menjauhi Adrian yang masih duduk di teras rumah. Namun saat ia hendak masuk ke dalam mobil, Adrian tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Eh, tunggu, Dinda!" seru pria itu dan berdiri seketika. Dinda pun menoleh langsung pada kakaknya. Perlahan Adrian berjalan mendekat ke arah sang adik.
"Ada apa Mas?" tanya Dinda tertegun. Tampak olehnya Adrian merogoh sesuatu dari saku celananya.
"Ini, tolong berikan ini pada Anggun," ujar Adrian lalu menyerahkan sebuah bingkisan kecil pada Dinda.
"Apa ini, Mas?" tanya Dinda penasaran.
"Tidak perlu tahu. Yang penting, kamu serahkan hadiah itu pada Anggun," jelas Adrian.
"Ahhh, enggak ah! Mas Rian serahkan sendiri hadiah ini sama mbak Anggun. Masa aku yang ngasih."
"Tolonglah! Mau ya?"
"Tetep enggak! Emang Dinda tukang pos apa pakai di titip-titipin barang segala. Nggak mau ah," gadis itu berkeras. "Lagian, kenapa sih nggak mau ngasih sendiri?" Tatapan gadis itu memicing sinis.
Adrian tak bisa memaksa lagi. Mungkin memang harusnya dia datang dan menyerahkan sendiri hadiah itu pada yang bersangkutan.
"Baiklah. Aku akan memberikannya sendiri."
π
π
π
Setengah jam lagi akad nikah akan segera di mulai. Di pojok ruangan, duduk calon pengantin laki-laki dengan wajah gugup cemas. Tentu saja, ini adalah pertama kali untuknya. Jelas itu membuat ia sedikit tertekan karena takut sekaligus senang. Nerveous. Di sampingnya duduk kedua saudaranya, Rangga dan Desta. Keduanya akan menjadi saksi pernikahan itu.
"Eheeemmm, kenapa kau gugup sekali, Bang?" terdengar si bungsu meledek dengan usil. Ya, itu memang kebiasaannya. "Kemana abangku yang sok jagoan itu? Kenapa sekarang jadi kayak ayam mau di sembelih ya?" ledek Desta lagi dan mendapat delikan tajam dari sang kakak.
Rangga yang berada di tengah keduanya hanya terkikik mesum. Sepertinya ia lebih setuju pada si bungsu kali ini. Dan karenanya ia pun mendapat protes yang sama dari Dion lewat ekspresi mata pria itu.
"Tertawa saja kalian! Awas saja kalau nanti tiba giliran kalian berdua," Dion mengancam. Dan bukannya takut, kedua saudara itu semakin memperlebar senyumnya membuat Dion semakin kesal.
Tiba-tiba sebuah suara berat menginterupsi, "Bagaimana? Sudah siap?"
Mereka bertiga menoleh ke arah datangnya suara. Rupanya bapak penghulu sudah hadir dan memeriksa semua persyaratan yang ada.
"Sudah siap, Nak Dion?" tanya Bapak penghulu itu.
__ADS_1
"Insya Allah, Pak," jawab Dion pasti. Setengah menguatkan perasaannya, juga karena masih terlalu gugup saat ini.
"Baik. Kalau begitu, panggil mempelai wanitanya!" perintah penghulu tersebut pada seseorang yang ada di sana.
Beberapa menit berlalu dan muncullah orang yang di tunggu. Anggun. Memakai gaun serba putih. Cantik dan Anggun sesuai namanya. Dion bahkan terpana melihat wajah ayu yang baru saja muncul dari dalam bilik. Sementara Anggun sendiri hanya bisa tertunduk tanpa berani menatap sekitarnya. Perasaan yang sama juga ia alami saat ini. Meski ini yang kedua untuknya, namun Anggun masih belum terbiasa dengan suasana sakral ini.
Bu Ratih yang sejak tadi mendampingi, lalu membimbing sang putri untuk duduk di samping Dion yang sudah berhadapan langsung dengan sang penghulu. Menyampirkan sebuah kerudung putih panjang pada Anggun dan Dion, menutupi kepala mereka. Masih terdengar suara deheman kecil dari Desta yang sejak tadi tersenyum-senyum sendiri. Meledek kakaknya.
"Baik, kita mulai ya?" sekali lagi sang penghulu menghimbau. Dion mengangguk sebagai jawaban. "Jadi setelah Bapak mengucap ijab dan memberi isyarat lewat tangan nanti, Nak Dion harus segera menjawab qabulnya. Sudah paham kan kalimatnya?"
"Iya Pak. Insya Allah."
"Ya sudah, mari kita mulai!"
Sejenak suasana hening mencekam. Ketegangan tercipta jelas di ruangan itu. Anggun merasa tangannya sangat dingin. Seperti orang yang baru saja berselancar di atas salju.
Tak hanya Dion mapun Anggun, bahkan orang-orang yang menjadi saksi di tempat itu merasa tubuhnya kaku tegang. Seolah mereka sendiri yang mengalami saat-saat mendebarkan itu. Dan beberapa saat kemudian terdengar pak penghulu memulai kalimatnya. Namun siapa yang menyangka bahwa sesuatu hal akan terjadi. Ketika hampir terdengar seruan dari sang pemimpin acara, tiba-tiba Dion menyerukan erangan kesakitan.
Pria itu meringis menahan sakit sambil memegang dada sebelah kirinya. Sontak semua mata memandang ke arahnya di liputi kecemasan.
"Arrgghhhh," rintihnya lirih. Anggun yang mulai panik, menyingkap kerudung yang menutupi kepalanya dan meraih bahu Dion di sampingnya.
"Dion, Dion, kau tidak apa-apa?" tanya wanita itu dengan wajah cemas tak tertebak.
Ny Mayang yang ada di kursi belakang segera lari menghampiri putranya berikut sang suami di belakangnya.
"Sayang, kau tidak apa-apa, 'kan?" ujar sang ibu tak luput dari kecemasan pula. Dan hingga sekian detik lamanya, masih belum ada jawaban apapun dari Dion. Ia hanya meringis menahan sakit sambil memejamkan matanya.
Tidak! Jangan! Ku mohon, jangan saat ini!
"Mungkin, sebaiknya kita tunda saja akad nikah ini untuk sementara waktu," terdengar himbauan dari sang penghulu memberi solusi. Semua yang hadir menganggukkan kepala, menyetujui usul tersebut. Namun tidak dengan Dion. Pria itu menjawab ketidak setujuan usulan tersebut dengan mengangkat tangannya langsung.Β
"Tidak! Tidak! Kita lanjutkan acara ini sekarang!" sahutnya memberi keputusan.
"Dion, tapi kamu--," Ny Mayang hendak memprotes namun di potong cepat oleh putranya.
Semua memperhatikan Dion dengan tatapan bingung dan hati yang di selimuti berbagai pertanyaan. Sesaat kemudian sang penghulu bertanya kembali, namun kali ini ia meminta pendapat dari Tuan Mahendra sendiri.
Kepala keluarga itu menatap putranya sesaat lalu mengangguk pasti dan berkata, "Kita lanjutkan acaranya!"
Untunglah Dion segera berangsur pulih. Wajahnya yang sesaat lalu pucat, kini berseri kembali meski masih jelas menampakkan ketegangan. Bu Ratih membenarkan kembali letak kerudung yang sempat tersingkap oleh tangan Anggun. Dan semua orang kembali lagi pada posisi semula.
"Baik, kita mulai, Bismillah Hirrohmaanirrohim, saudara Dion Putra Mahendra bin Anton Tri Mahendra, saya nikahkan dan kawinkan Engkau dengan Anggun Kirana Larasati binti Agung Hermanto dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 24 karat senilai 20 gram, di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Anggun Kirana Larasati binti Agung Hermanto dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 24 karat senilai 20 gram, di bayar tunai!"
"Bagaimana Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian? Sah?" tanya pak penghulu pada semua yang hadir di ruangan itu.
"Sah! Sah! Sah!" koor semuanya serempak. Penghulu lalu membaca doa untuk kedua mempelai. Dan di aminkan oleh semua orang yang hadir disana.
"Selamat nak Dion dan nak Anggun, kalian sekarang sudah sah menjadi suami-istri," penghulu itu memberi ucapan selamat dan menyalami kedua mempelai bergantian.
Anggun dan Dion saling berpandangan dan tersenyum satu sama lain. Terlihat binar-binar kebahagiaan pada keduanya.
"Peluk dong! Masa sudah sah, terus di anggurin begitu saja?" sindir Rangga sambil menyenggol lengan abangnya. Anggun yang sempat mendengar kelakar jahil tersebut hanya menundukkan kepala karena malu. Dion memicingkan mata mengancam pada adik sulungnya, namun tak urung ia melakukan tindakan yang di suruh.
Suara tepuk riuh memenuhi ruangan. Tangis haru melingkupi suasana saat itu. Bu Ratih berlinang air mata, dan semakin tergugu saat Anggun memeluknya. Entah apa yang harus ia sampaikan. Kenyataan bahwa kedua putranya tak mampu memberi kebahagiaan sempurna pada Anggun, dan hanya menambah luka hatinya,Β membuat wanita tiga orang anak itu selalu menyalahkan diri sendiri. Dan saat ini melihat mantan menantunya bersanding dengan pria lain, melihat ia tersenyum penuh bahagia, sungguh membuat Bu Ratih semakin bercucuran air mata karena bahagia. Bersyukur, akhirnya wanita yang sudah ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri itu, menemukan pelabuhan hatinya.
Semoga Dion bisa memberikan apa yang tidak bisa di berikan oleh Bagas maupun Adrian.
π
π
Adrian memang sudah sampai sejak beberapa waktu yang lalu. Ia bahkan mendengar sendiri bagaimana proses akad nikah berlangsung. Namun ia hanya menunggu di luar. Ia sama sekali tak punya keinginan untuk masuk ke dalam dan menjadi saksi pernikahan Anggun dan Dion.
Ada sebuah sembilu yang menggores salah satu sudut hatinya. Membuatnya merasakan perih yang tak terlihat. Jujur, Adrian menyesal sekarang. Ia ingat saat pernyataan bodoh ia berikan pada mantan istrinya beberapa bulan yang lalu. Melayangkan sebuah gugatan cerai padanya, dan Anggun masih bertahan untuk menjaga rumah tangganya, meski Adrian berkeras. Namun bisikan iblis yang merasuki, mengalahkan akal sehatnya. Hanya karena ragu, ia pun lalu mengambil jalan yang paling di benci oleh Tuhan itu. Dan kini, menyesal memang tak ada artinya sudah.
__ADS_1
Hingga beberapa saat lamanya, Adrian masih berdiri di luar. Menyandarkan tubuhnya pada tembok dengan satu tangan tersimpan di balik saku celana, dan satunya lagi memegang sebatang rokok yang sudah tersulut. Pandangannya menatap kosong ke depan. Banyak orang lalu lalang melewatinya dengan tatapan sekilas. Pria itu tak perduli meski orang lain akan berpikir negatif padanya. Dan entah sudah berapa batang rokok pula yang sudah ia habiskan, yang pasti puntungnya terlihat berserakan dimana-mana.
Pria itu lalu membuang puntung terakhir, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk masuk dan bertemu dengan kedua mempelai. Sebelumnya Adrian masih sempat berpapasan dengan ayah dan ibunya. Matanya menatap sendu pada keberadaan mereka. Pak Sujono tentu tahu bagaimana perasaan putra keduanya saat ini. Pria paruh baya itu menepuk pundak anaknya perlahan. Berusaha menguatkan batinnya.
Adrian lalu melangkah mendekati tempat Anggun dan Dion berada. Keduanya tampak begitu bahagia. Senyum mengembang yang tak pernah lepas dalam menyambut tamu yang ada untuk memberi ucapan selamat, menjadi bukti bahwa mereka telah menemukan kebahagiaannya. Perlahan namun pasti, Adrian berjalan mendekat dan semakin dekat.
"Selamat untuk kalian berdua," ucapnya di buat sekuat mungkin meski batinnya menyangkal.
Anggun dan Dion menoleh seketika. Keduanya saling berpandangan untuk beberapa saat. Entah apa yang di rasakan kedua mempelai itu melihat kehadiran Adrian disana. Tanpa di sangka, tiba-tiba Adrian merangkul tubuh Dion, memeluknya.
"Aku bahagia, akhirnya kau menemukan pelabuhan hatimu, Sobat," bisiknya di telinga Dion.
"Terima kasih, Adrian. Terima kasih karena kau mau menyempatkan diri hadir di pernikahanku," Dion membalas. Suasana haru kini tercipta di antara mereka. Anggun sendiri hanya bisa menundukkan kepala. Ia tak sanggup menatap keduanya. Pria yang sama-sama memasuki kehidupannya meski dengan jalan mereka masing-masing. Yang satu adalah mantan suaminya, dan satunya lagi adalah suaminya saat ini.
Tidak sadar, ia menitikkan air mata. Berlinang tanpa bersuara. Seandainya saja ia bisa memilih, bisakah ia tidak hadir di antara keduanya?
"Anggun," suara itu menginterupsi lamunan Anggun. Ia pun mendongak seketika. Di hadapannya, Adrian menatap dirinya dengan bingung.
"Hei, kenapa kau menangis? Ini adalah hari bahagiamu. Jangan nodai upacara sakral ini dengan tangis kesedihan," hibur Adrian berusaha teguh. Meski sebenarnya hatinya pun berteriak.
Anggun dengan cepat menghapus air matanya. Ia lalu membalas senyum Adrian meski itu hambar.
"Nah, harus seperti itu. Tersenyum!" Adrian kembali berujar. "Oh, iya. Aku ada hadiah kecil untukmu." Adrian lalu menyerahkan bingkisan yang sejak tadi tersimpan di saku celananya.
"Apa ini, Adrian?" tanya Anggun sambil menerima bingkisan yang di ulurkan Adrian padanya.
"Bukalah nanti kalau aku sudah pergi," jawab Adrian ringan. "Hmmm, mungkin, aku harus segera kembali. Ada sesuatu hal yang harus ku urus saat ini."
"Kau tergesa-gesa sekali. Tidak mau di sini sampai akhir?" pancing Dion setengah bercanda.
"Tidak. Mungkin lain kali saja aku mengunjungi rumah kalian. Tentu boleh kan aku datang kesana?"
"Ckkkk, kau bercanda. Pintu rumahku selalu terbuka untuk sahabat baikku pastinya. Datanglah, kami menunggumu!"
Dion memeluk Adrian sekali lagi. Dan pria itupun membalasnya serupa.
"Baik, aku pergi dulu. Sekali lagi, selamat. Semoga bahagia."
Adrian hendak melangkah pergi, namun Anggun mencegahnya sesaat kemudian.
"Adrian, semoga kau dan Andini juga menemukan kebahagiaan yang sama," seru wanita itu.
Adrian menoleh kembali. Tersenyum getir lalu berujar, "Mungkin tidak akan lagi." Dan Ia pun melangkah kembali. Anggun menatap kepergian pria itu dengan hati yang kalut. Akhirnya sebuah genggaman hangat mencairkan suasana hatinya yang sempat tegang. Dion menggenggamnya.
π
π
π
Langkah Adrian terhenti manakala sebuah seruan halus terdengar di telinganya, "Adrian."
Pria itu menoleh. Tidak jauh darinya berdiri sosok wanita yang sangat ia kenal. Andini. Rupanya wanita itu juga hadir memenuhi undangan Anggun-Dion.
Perlahan Andini mendekat dan berhenti tepat di hadapan Adrian.
"Adrian, aku minta maaf atas sikapku tempo hari. Aku ingin kita--,"
"Aku akan datang menemui orang tuamu dan membicarakan pembatalan rencana pernikahan kita, Andini."
Wanita itu tersentak seketika. Tak percaya akan ucapan Adrian barusan.
"T-tapi, Adrian," Andini mencoba memprotes. Dan langkah kaki Adrian yang berjalan melewatinya merupakan jawaban bahwa pria itu tak mau mendengar penjelasan apapun lagi. Dua kali ia tersakiti oleh Andini. Meski awalnya ia yang menusuk pisau lebih dulu. Dan rupanya, Tuhan memang tak berkehendak ia bersatu dengan cinta pertamanya itu.
Selamat tinggal Anggun, selamat tinggal Andini......
ππΊππΊππΊππΊπ
__ADS_1