Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2
BAB 8


__ADS_3

Sebenarnya Anggun bukan tidak mau berusaha mempertahankan pernikahannya. Hanya saja karena Adrian sudah mengambil tindakan terlebih dahulu ke pengadilan, dan itu cukup membuktikan kalau tak ada tempat lagi baginya di sudut hati pria itu, maka Anggun hanya bisa pasrah menerima kenyataan menyakitkan tersebut.


Saat ini yang bisa di lakukan Anggun hanya berusaha menjadi istri yang baik buat Adrian sampai perceraian itu tiba. Dan hingga kini, keduanya masih menyembunyikan rencana perceraian ini dari keluarganya. Anggun tak ingin membuat Pak Sujono dan istrinya sedih, meskipun kesedihan itu akan tetap merengkuh mereka nantinya.


Disisi lain, Andini yang mendengar kabar bahwa Anggun sudah menyetujui gugatan cerai dari Adrian, benar-benar tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.


"Adrian, aku bahagia sekali. Akhirnya setelah sekian lama, hubungan kita akan kembali seperti dulu lagi," seru gadis itu sambil memeluk Adrian erat. Adrian hanya bisa tersenyum hambar. Entahlah. Dia tak tahu harus merasa senang atau sedih. "Dan bagaimana setelah kau bercerai, Adrian? Bukankah waktu itu kau berniat melamarku? Apakah kau tidak ingin melanjutkan hubungan kita ini?" Andini mulai mendesak.


"Ya. Tentu saja. Hal yang tertunda waktu itu akan kita perbaiki kembali. Aku akan melamarmu dan kita akan bertunangan."


"Benarkah?" Mata gadis itu berbinar senang. Bibirnya tak lepas dari senyum yang mengembang. "Aku tak sabar menanti hari itu tiba." Sekali lagi Andini membenamkan tubuhnya di pelukan Adrian. Seolah dia sudah menemukan dunianya kembali setelah lama menghilang.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Adrian baru pulang setelah dia keluar seharian dengan Andini. Hari ini adalah hari Minggu. Namun Adrian tak menghabiskan waktunya di rumah. Dia memilih keluar dengan Andini. Dan nyatanya Anggun tak keberatan. Sudah ia putuskan, kalau dia tak akan berusaha untuk menghalangi apapun kemauan Adrian. Karena semakin ia mengekang, pria itu akan semakin memberontak padanya dan ujung-ujungnya Anggun sendiri yang akan tersakiti.


"Kau belum tidur?" Adrian sedikit terkejut saat melihat Anggun masih duduk terpekur di ruang tamu sambil membaca sebuah buku. Padahal ini hampir larut malam.


"Hmmm." Hanya itu saja jawaban dari Anggun tanpa berniat menoleh sedikitpun pada Adrian.


"Apakah kau menungguku untuk makan malam? Ah...sayang sekali Anggun, tapi aku tadi sudah..."


"Tenanglah. Aku tidak menunggumu makan malam. Dan aku juga sudah tau kalau kau makan di luar." Anggun berdiri lalu melangkah pergi mendahului ke kamarnya.Β 


Sungguh Adrian di buat terheran-heran. Sifat Anggun sepertinya berubah. Dia tidak marah namun tidak juga sedih apalagi senang. Hanya ekspresi datar dan acuh tak acuh saja yang di tunjukkannya pada Adrian.

__ADS_1


Pria itu lalu menyusul Anggun ke kamar. Terlihat olehnya Anggun sudah mengatur selimut dan berniat untuk tidur. "Eh...Anggun, perceraian kita kurang...."


"Satu minggu lagi. Kau sudah mengulanginya berapa kali selama seharian ini?" potong Anggun cepat lalu memasukkan tubuhnya ke dalam selimut.


"Aku hanya ingin kau siap saat waktu itu tiba."


"Jangan khawatir. Aku sudah siap menerima semua keputusanmu." Anggun lalu memejamkan matanya. Tak ingin terlibat pembicaraan lebih lama lagi dengan pria itu.


Dan keesokan harinya....


Adrian mengira kalau Anggun sudah mengabaikannya. Namun nyatanya tidak. Perempuan itu tetap menyiapkan semua keperluan Adrian mulai dari air untuk mandi, pakaian, bahkan sarapan untuknya. Bukankah ini sudah menjadi janji Anggun kalau dia akan menjalankan tugasnya dengan baik sebagai seorang istri sampai perceraian itu tiba.


"Kau tak perlu repot-repot lagi melayaniku, Anggun. Karena sebentar lagi kita akan berpisah. Sebaiknya kau urus dirimu sendiri saja," kata Adrian saat mereka tengah berada di meja makan untuk sarapan.


Seketika Anggun meletakkan sendoknya dengan kasar ke atas piring sehingga menimbulkan bunyi gemerincing yang berisik membuat Adrian terkejut. "Tidak bisakah kau menghargai pengorbananku sedikit saja? Aku tidak meminta apa-apa darimu, Adrian. Kau minta cerai, aku mengabulkan. Kau ingin bersama kekasihmu sementara kita belum resmi bercerai, aku juga tidak menghalangimu. Tapi kenapa saat aku ingin menunaikan tugas terakhirku saja kau keberatan? Kau benar-benar sangat memuakkan!" Anggun berdiri seketika dari kursinya. Menyambar segelas air putih dan meminumnya dengan kasar untuk kemudian berlalu dari tempat itu. Adrian hanya diam terpaku. Entah apa yang di pikirkan pria itu saat ini.


Satu minggu kemudian....


Anggun duduk termangu di sisi pembaringan. Kepalanya tertunduk terpekur sedang menatap sebingkai foto pernikahan dirinya dan Adrian. Pelan-pelan di usapnya foto itu dengan ibu jarinya. Setetes air bening jatuh dan membasahi gambar berbingkai kaca tersebut. Anggun menangis sesenggukan.


Sungguh, meski selama ini dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menunjukkan air matanya, namun nyatanya sekarang dia tak bisa menahan perih yang mendera. Siapa bilang dia ikhlas begitu saja bercerai dengan Adrian? Nyatanya wanita itu selalu menangis di malam hari sebelum ia tidur. Dan itu ia lakukan diam-diam tanpa sepengetahuan Adrian. Sakit. Hatinya sangat sakit. Melepaskan orang yang ia cintai dan harus kehilangan untuk kedua kalinya sungguh tidak mudah untuknya.


Selamat tinggal Adrian. Aku berharap kau benar-benar akan memperoleh kebahagiaanmu dengan orang yang kau cintai.


Anggun menyimpan foto itu kembali dan mulai mengemasi barang-barangnya. Karena mulai hari ini, dia tak akan tinggal lagi di rumah ini lagi. Dan saat waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 lewat, Anggun sudah siap pergi dari rumah itu. Sebelumnya, dia menghubungi pak Doni dan menyuruhnya datang. Dia hanya ingin menitip sebuah pesan pada sopir pribadi keluarga suaminya itu.


"Tolong sampaikan surat ini pada Ibu ya, Pak. Maaf. Anggun ndak bisa kesana karena ada sesuatu yang penting yang harus Anggun selesaikan," kata wanita itu pada pria yang usianya hampir paruh baya itu.


"Baik non Anggun. Ngomong-ngomong, sampean mau kemana kok bawa koper banyak?"

__ADS_1


Anggun tersenyum simpul. "Hanya memindahkan barang-barang yang tak terpakai disini saja, Pak. Oh...iya, terima kasih sebelumnya."


"Sama-sama, Non."


Pak Doni lalu keluar dari halaman rumah Adrian. Sedang Anggun sendiri sedang menanti taksi pesanannya. Dan tak beberapa lama kemudian, sebuah taksi berwarna orange berhenti di depan rumah. Pasti itu taksi yang di pesan Anggun. Sekali lagi wanita itu menoleh ke arah rumah. Dia ingat kapan pertama kali dia masuk rumah ini. Dan tidak terasa, sekarang adalah waktu terakhirnya menginjakkan kaki di rumah tersebut. Berat. Sangat berat.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Keputusan hakim sudah di ambil dan pengesahan perceraian telah di tetapkan. Sekuat tenaga Anggun berusaha untuk tidak menumpahkan air matanya di depan hakim. Meski jauh dalam lubuk hatinya luka semakin dalam menyayat, namun dia masih mencoba untuk bertahan.


Adrian dan Anggun keluar dari ruang sidang setelah beberapa puluh menit kemudian. "Anggun," Adrian menyapa pelan. Sungguh sebenarnya dia tak tega melakukan ini. Tapi memang benar kalau hatinya ragu apakah dia benar-benar mencintai Anggun atau itu hanya sekedar keterpaksaan saja. Sehingga mungkin jalan inilah yang terbaik. Perceraian. "Kau baik-baik saja?"


Anggun tertegun sejenak. Masih sama seperti di dalam ruang sidang. Sebisa mungkin Anggun menahan air matanya agar tak meleleh. Dan saat ini dia justru berusaha untuk tersenyum. "Tenanglah. Aku tidak apa-apa," jawabnya sembari melebarkan senyum. "Maaf, aku harus pergi. Selamat tinggal." Adrian hendak menyusul langkah Anggun. Masih ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan pada wanita yang sudah berubah status menjadi mantan istrinya itu, namun tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang.


"Adrian!" Ya. Itu suara Andini. Rupanya dia menyusul ke rumah persidangan ini. "Selamat Adrian, kita akan merayakannya malam ini." Wanita itu lalu memeluk tubuh Adrian tanpa permisi.


Dari jauh, sekali lagi Anggun menoleh pada keberadaan dua orang yang tengah asik bercengkrama mesra. Dan kali ini Anggun tak bisa membendung lagi air matanya. Runtuh sudah pertahanannya. Ternyata benar-benar sakit menahan perih selama ini. Anggun semakin mempercepat langkahnya karena semakin banyak tatapan asing yang melihatnya. Dan pada saat itulah sebuah tubuh besar menubruknya.


Anggun terkejut setengah mati. Sungguh ia tak sengaja menabrak orang itu. Dia memang ceroboh karena berjalan sambil menangis sampai tak memperhatikan sekelilingnya. Namun saat dirinya berusaha menumbukkan pandangannya pada orang itu, tiba-tiba matanya membulat penuh tak percaya. Air yang tadinya mengalir deras seakan terhenti seketika. Deg! Hatinya berdegup untuk sesaat.


Mata Anggun mengerjap tak percaya akan sosok tubuh yang menjulang tinggi di hadapannya. Wajah tampan, agresif, namun selalu membuatnya nyaman dalam segala suasana. Sosok itu kembali lagi saat dirinya terhempas kembali ke dasar jurang penderitaan.


"Di....D.I.O.N."

__ADS_1


πŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒ


__ADS_2