Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2
BAB 36


__ADS_3

"Akkhhh....Adriaaaannn..."


Anggun terjaga seketika saat tubuhnya di tindih oleh seseorang. Dan lebih terkejut lagi saat mengetahui orang itu adalah Adrian.


"Apa yang kau lakukan disini, Adrian?" teriak Anggun mencoba meronta dan melepaskan diri dari kungkungan Adrian.


"Memilikimu," jawab Adrian singkat.


"Tidak! Jangan gila Adrian. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Pergi kau sekarang! Keluar dari kamarku!"


Anggun berusaha memberontak sekuat tenaga manakala bibir Adrian sudah menyapu beberapa bagian tubuhnya yang terbuka. Dan tahulah ia bahwasanya saat ini pria itu tengah mabuk berat. Itu terlihat dari bau alkohol yang tercium dari hembusan nafasnya.


"Hentikan Adrian! Kau mabuk!" Anggun kembali berteriak memberontak. Dan kali ini dia dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Adrian menjauhinya.


"Aku tidak mabuk, Anggun," tampik Adrian masih terus berusaha mencumbu Anggun.


"Tidak! Kau mabuk, Adrian," Anggun bertahan. "Ayo, pergilah dari sini. Pergi Adrian!" ujarnya lagi. Sementara di luar kamar, Bapak dan Ibu Adrian juga orang-orang sudah berkumpul di depan pintu. Menggedor-gedor pintu kamar, memanggil-manggil nama Anggun dan Adrian bergantian.


"Anggun, Adrian, buka pintunya!" seru Bu Ratih dengan suara cemas. "Pak, ini gimana? Ibu takut Adrian akan berbuat macam-macam sama Anggun. Baru saja Dinda menelfon kalau Adrian datang kemari dengan kondisi mabuk. Katanya, Adrian ingin menggagalkan pernikahan Anggun dan Dion," lanjut wanita bercerita.


"Tenanglah, Bu. Tidak akan terjadi apa-apa dengan Anggun. Adrian tak akan mungkin melakukan perbuatan nista padanya," Pak Sujono mencoba menenangkan.


"Iya tapi kalau pintunya tidak di buka, Ibu khawatir akan terjadi sesuatu nantinya," Bu Ratih masih bertahan.


"Kalau pintu ini tidak segera di buka, maka terpaksa Bapak akan mendobraknya," putus Pak Sujono kemudian.


Sementara mereka masih bingung dengan perasaan masing-masing, di dalam kamar, Anggun dan Adrian tak ubahnya ular dan tikus yang tengah berseteru.


"Aku hanya ingin kau kembali padaku, Anggun," kata Adrian setengah memelas.


"Tidak bisa Adrian. Dan itu tidak mungkin terjadi," tolak Anggun.


"Tolong kembalilah bersamaku. Tinggalkan Dion, dan mari kita membina hubungan lagi."


"Adrian, apa kau sudah tidak waras? Kau memintaku demikian apa kau tidak memikirkan perasaan wanita lain?" geram Anggun marah. Dengan seluruh tenaganya yang terkumpul akhirnya ia bisa menyingkirkan tubuh Adrian.


Anggun dengan cepat turun dari pembaringan dan membenarkan pakaiannya yang sudah berantakan karena ulah Adrian.


Sementara pria itu jatuh terkulai di tepi ranjang. Matanya terpejam sudah. Mabuk dan kantuk mungkin sudah menguasainya.


"Andini....Dia....Dia....sudah mengkhianatiku," ratap Adrian kemudian. Terdengar isak tangis pria itu meski sangat pelan. "Rupanya dia berselingkuh dengan pria lain," lanjut Adrian dalam kondisinya yang setengah tidak sadar.

__ADS_1


Anggun terdiam kaku. Dia bisa melihat keterpurukan pria yang pernah menjadi mantan suaminya itu. Hancur. Pasti itu yang di rasakan Adrian saat ini. Anggun jelas-jelas mengerti perasaan itu karena dua kali dia di khianati. Yah, meski itu Adrian sendiri salah satu orang yang pernah menghancurkan mimpi dan harapannya.


Perlahan Anggun mendekat. Mengabaikan gedoran pintu orang-orang di luar sana. Entah angin apa yang membawanya ingin memeluk pria itu. Hanya saja saat ini Anggun merasa iba padanya. Seorang pria menangis? Itu tak akan terjadi jika pria itu tak merasakan sakit yang amat sangat. Sifat yang bertolak belakang dengan watak asli pada umumnya.


"Adrian, kau tidak apa-apa?" gumam Anggun pelan. Mencoba menyentuh pria itu meski sedikit rasa takut menghantuinya. Masih terdengar isak tangis pria itu meski sangat pelan.


Anggun lalu duduk di dekat Adrian berbaring. Dia mencoba menenangkan pria itu, "Adrian, kau...." kalimat Anggun terpotong karena tiba-tiba Adrian bangun dan memeluk wanita itu.


Hampir saja Anggun memberontak, namun hal itu terurung karena ia bisa merasakan pelukan Adrian saat ini berbeda dari sebelumnya.


"Sebentar saja. Jangan pergi! Aku ingin seperti ini sebelum kau resmi menjadi milik orang lain," bisik Adrian. Kali ini tangis pria itu sudah tak terdengar lagi. "Maaf Anggun, maaf. Aku tak seharusnya seperti tadi. Tolong jangan katakan apapun pada Dion," ujar pria itu kemudian. Anggun hanya mengangguk perlahan sambil mengusap punggung Adrian.


Wanita itu hampir saja membuka suara saat tiba-tiba suara pintu di buka paksa. BRAAAAKKKK!!!


Pelukan Adrian terlepas begitu saja. Di ambang pintu sudah berdiri Pak Sujono dengan aura menakutkan. Matanya membulat penuh dengan kedua tangan menggenggam erat. Dengan langkah kasar pria paruh baya itu mendekati tempat Anggun dan Adrian berada.


"Dasar anak tidak tahu diuntung! Tidak tahu malu! Pergi kamu dari sini! Pergi!"


Pak Sujono menarik paksa Adrian menjauhi ranjang. Sementara pria itu hanya pasrah tanpa bisa melakukan apapun. Anggun ingin sekali mencegah namun ia cepat di songsong oleh Bu Ratih.


"Kamu ndak apa-apa to, Nduk? Adrian tidak berbuat apa-apa sama kamu kan?" tanya wanita itu bertubi-tubi. Wajah penuh cemas menghias disana.


Anggun tersenyum perlahan. Mencoba menenangkan perasaan wanita itu, "Anggun tidak apa-apa kok, Bu. Ibu tidak perlu cemas."


"Tentu Ibu cemas, Ngger. Adrian datang dalam kondisi mabuk dan tiba-tiba masuk ke dalam kamar kamu. Apa yang sebenarnya terjadi?" Bu Ratih mengulas pelan. Anggun tampak bimbang apakah ia harus menceritakan tentang keterpurukan Adrian saat ini.


"Hmm, sepertinya ada masalah antara Adrian dengan Andini saat ini, Bu," jawabnya mengambang. Anggun tahu, ia tidak berhak mengatakannya secara penuh. Biar Adrian sendiri yang memberi tahu langsung.


Dan Bu Ratih hanya menarik napas panjang. Sementara Anggun hanya bisa melihat Adrian yang di seret paksa keluar kamar oleh sang ayah. Wanita itu tak bisa berbuat apapun selain menghela napas juga.


Malam itu akhirnya Adrian tidur di rumah keluarga Sujono. Sang ayah menyuruh Pak Doni, sopir pribadinya untuk mengantarkannya pulang karena tak mungkin bagi Adrian mengendarai mobil sendiri sedang kondisi pria itu sudah hampir tak sadarkan diri.


Mungkin Adrian tidak segera bangun kalau saja tidak terdengar olehnya telfon berdering berkali-kali. Matanya mengerjap perlahan menyeimbangkan penglihatannya dengan cahaya yang menembus masuk ke dalam kamar.


Di lihat nya jam yang masih setia melingkar di tangannya. Dan Adrian terkejut mendapati waktu sudah lebih dari jam masuk kantor. Ia merogoh ponselnya dan melihat disana banyak tertera panggilan tak terjawab dari sang atasan.


Adrian menepuk jidatnya sendiri. Matilah aku! Serunya dalam hati. Dia lalu menelpon balik ke nomor tersebut. Dan belum sempat Adrian mengeluarkan suara, sebuah hujatan dan makian terdengar di telinganya. Siapa lagi kalau bukan si Bos yang marah-marah. Pria itu hanya bisa menjauhkan ponsel sedikit jauh dari telinganya karena pekak. Suara si Bos memang lantang dan tak tanggung-tanggung.


"Baik, Pak. Saya akan berangkat sekarang," sebuah jawaban akhirnya lolos dari mulut Adrian. Tentunya setelah mendapat sederet rentetan kalimat panjang lebar yang berisi ceramah membosankan.


Dan kenapa hal itu terjadi? Semua karena kejadian kemarin saat Adrian yang melakukan pertemuan penting dengan seorang klien. Dan semua gagal karena tujuannya teralih dengan keberadaan Andini yang sedang bersama seorang pria. Karenanya sang atasan marah habis-habisan dan menyuruh Adrian hari ini juga menyelesaikan tugas yang kemarin terbengkalai.

__ADS_1


Tepat pada tengah hari....


Pertemuan itu diadakan di kantor si Klien. Tujuannya agar tak terganggu lagi seperti hari sebelumnya. Dan Adrian menyelesaikan pertemuannya tepat pada tengah hari. Syukurlah Klien tersebut mau menerima permintaan maaf Adrian juga bersedia memulai lagi pembahasan soal kontrak kerja kemarin.


Ketika Adrian hendak kembali ke kantor, di perjalanan dia berpapasan dengan mobil seseorang. Dion? Bukankah dia sudah mulai mengambil cuti? Dan sepertinya dia bersama seseorang.


Adrian mengurungkan niatnya kembali ke kantor. Dia memutar kemudi lalu mengikuti keberadaan Dion. Entahlah, tapi pria itu mencurigai sesuatu. Adrian yakin bahwa wanita yang saat ini bersama Dion bukanlah Anggun.


Ah....Anggun? Memikirkan wanita itu membuat Adrian teringat kejadian semalam. Meski dalam kondisi mabuk, tidak berarti ia tak bisa mengingat jelas perbuatan memalukan yang ia lakukan. Adrian meraup wajahnya seketika. Benar-benar memalukan!


Mobil mereka akhirnya berhenti di parkiran sebuah mall. Adrian menunggu sampai Dion dan wanita yang ikut bersamanya keluar. Pria itu tertegun saat tahu siapa wanita yang bersama sahabatnya itu saat ini.


Dia lagi. Fitri.


Adrian lalu membuntuti keduanya secara diam-diam. Rupanya tempat yang di tuju pertama kali oleh Dion dan Fitri adalah toko pakaian. Adrian masih ingat, kalau mantan kekasih Dion yang satu ini memang hobi berbelanja. Dan kalau sedang melakukan hobinya ini, bisa sampai lupa waktu. Ah...sebegitu tahukah Adrian dengan semua pacar-pacar Dion dulunya? Tentu saja. Dion selalu bercerita apapun pada Adrian. Termasuk kebiasaan pacarnya. Dan dengan si Fitri ini, ia pernah kena batunya.


Saat itu Dion menelfon Adrian untuk datang ke sebuah mall di khawasan elit. Sayangnya Adrian tak menaruh curiga apapun dengan tujuan Dion sebenarnya. Dan tidak tahunya dia malah di suruh ikut menemani keduanya berbelanja. Siapa lagi kalau bukan Fitri dan Dion. Satu sampai dua jam nggak terasa memang. Tapi kalau sudah hampir setengah hari lebih? Mana ada pria yang betah? Akhirnya Adrian mencari cara melarikan diri dengan alasan sakit perut. Dia pamit ke toilet padahal sebenarnya ia kabur duluan. Nasib. Nasib.


Adrian tiba-tiba kembali teringat Anggun. Kalau seperti ini, kasihan Anggun, pikirnya. Akhirnya Adrian memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka. Kalau memang sifat Fitri tidak berubah dan semua sesuai prediksi Adrian, maka pastinya mereka masih lama ada di mall ini. Adrian jadi punya niat lain. Membawa Anggun ke hadapan mereka supaya wanita itu tahu siapa sebenarnya calon suaminya itu. Bukankah selama ini Anggun masih bertahan dengan kepercayaannya pada Dion?


Keributan terjadi lagi di rumah Anggun saat Adrian masuk tanpa permisi dan dengan seenaknya sendiri membawa Anggun pergi. Menyeret paksa wanita itu tanpa memikirkan Anggun saat ini tengah mendapat perawatan diri sebelum pernikahan. Jadilah semua berantakan. Bubuk-bubuk lulur yang siap di balurkan ke tubuh wanita itu jadi tumpah semua karena terkena tendangan Adrian. Meski itu ia lakukan dengan tidak sengaja.


"Apa maumu, Adrian?" seru Anggun sambil meronta dari cengkeraman Adrian.


"Jangan banyak tanya! Ikut saja denganku!" Adrian membentak.


"Kau tidak bisa seenaknya saja memaksakan kehendakmu," Anggun masih bertahan.


"Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu padamu. Sesuatu yang akan membuka kedua matamu," balas Adrian tak kalah sengit.


Anggun hanya mendengus saat dirinya di dorong paksa masuk ke dalam mobil. Dan pria itu mengemudikan mobilnya dengan segera sebelum orang tuanya berlari dan berusaha mencegah perbuatannya yang menculik Anggun secara tiba-tiba.


Di dalam mobil, Anggun masih sempat menggerutu dan mengomel tanpa henti. Sedang Adrian hanya diam tak bersuara sedikitpun. Matanya hanya tertumpu pada jalanan. Berusaha mempercepat laju mobilnya agar cepat sampai di tujuan.


Dan memang tak beberapa lama kemudian mereka pun sampai di mall yang di tuju. Anggun bingung mengapa Adrian mengajaknya ke tempat itu. Sedari tadi ia bertanya namun tak mendapat sedikitpun jawaban.


"Ayo, cepat ikut aku, Anggun!" ajak Adrian setelah turun dari mobil. Namun kali ini ganti Anggun yang diam tak bergeming. Membuat Adrian semakin jengkel di buatnya. "Cepatlah, Anggun! Kau semakin membuang waktu," geramnya.


"Tidak, sampai kau memberi tahuku apa tujuanmu membawaku kemari," Anggun bersikeras menolak membuat Adrian berdecak dan membuang napas kasar.


"Baiklah. Kau ingin tau? Jangan terkejut kalau nanti kau mendapati calon suamimu tengah bermesraan dengan wanita lain di dalam sana," jelas Adrian sambil berkacak pinggang. Anggun seketika terbelalak tak percaya. "Sekarang, keluarlah dari mobil!" Adrian kembali mengajak.

__ADS_1


Seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, Anggun kemudian menurut perintah Adrian begitu saja. Saat ini dia tak bisa berpikir apapun. Entah kenapa seketika itu juga otaknya menjadi kosong. Benarkah yang Adrian ucapkan barusan bahwa Dion tengah bersama seseorang? Apakah benar selama ini kecurigaannya? Benarkah Dion sudah mengkhianatinya?


πŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊ


__ADS_2