Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2
BAB 24


__ADS_3

Anggun dan Dion hampir sampai di rumah keluarga Sujono. Entah kenapa kedatangan mereka kali ini membawa rasa tegang di hati Anggun. Pasalnya, dia datang bersama Dion dan yang pasti keluarga itu akan bertanya mengenai hubungan mereka yang sangat mencurigakan. Ah....kalau saja Dion orang lain? Kalau saja ia bukan sahabat dekat Adrian? Pasti masalah takkan serumit ini.


Anggun tertegun saat merasakan tangannya di genggam oleh Dion. Wanita itu menoleh. "Sejak tadi kulihat kau tegang sekali?"


"Hmmm, yach. Aku benar-benar tegang."


"Tenanglah. Bukankah ada aku disini? Kau tidak bertemu mereka sendiri."


"Justru karena ada kau aku menjadi tegang."


Dion terdiam. Sebenarnya dia juga enggan bertemu dengan keluarga Sujono. Menilik mereka sudah seperti orang tua kedua baginya, dan sekarang jika mereka tau dirinya akan meminang wanita yang merupakan mantan menantu dari keluarga itu, bagaimana reaksi mereka mendengar kebenaran tersebut?


Ingatan pemuda itu terbang pada kejadian tadi pagi saat dirinya menjemput Anggun untuk berangkat mengajar. Sang mama mengajaknya bicara empat mata sementara dirinya menunggu Anggun bersiap.


Flash Back On


"*Dion, Mama ingin bicara denganmu." Dahi Dion mengernyit.


"Ya, tentu saja Ma. Katakan saja, Dion dengarkan kok."


"Dion, Mama ingin nanti malam kau temani Anggun ke rumah keluarga Sujono." Untuk kedua kalinya keningnya berkerut.


"Ada hal apa Anggun ke sana?"


"Mama juga tidak tahu, Sayang. Tapi yang pasti, ini ada hubungannya dengan pernikahan kalian," mama Dion mencoba menebak.


"Kenapa begitu, Ma? Dan dari mana mereka tau kalau aku dan Anggun mau menikah? Yah, Adrian memang tau soal itu, tapi aku yakin dia tidak bilang orang tuanya."


"Maafkan Mama, Sayang. Mamalah yang bicara pada mereka. Ah....tidak, tepatnya pada Ibu Adrian,"


"Apa? Mama mengatakannya? Mama menelfon mereka?" potong Dion gusar.


"Bukan seperti itu, Dion. Mama hanya tidak sengaja bertemu dengan jeng Ratih di jalan. Dan saat dia bertanya Mama mau kemana, tentunya Mama harus jujur padanya kalau Mama sedang mengurus pernikahanmu. Dan Mama akhirnya berterus terang padanya kalau kau akan menikah dengan Anggun."


Dion berjalan memunggungi mamanya. Tangannya berkacak pinggang menandakan ia sangat gelisah dan frustasi.


"Dion, Mama tau Mama salah dengan berkata jujur pada jeng Ratih. Tapi tidak ada salahnya kita jujur padanya. Karena akan lebih tidak enak lagi kalau mereka mendengar dari orang lain. Jadi, Mama ingin kau temani Anggun kesana. Mama takut akan ada apa-apa padanya. Karena Mama lihat jeng Ratih sepertinya tidak suka dengan berita yang Mama sampaikan,"


"Jangan khawatir Ma, aku akan selalu bersamanya."*


Flash Back Off


Dion mendesah.


"Kenapa? Sekarang kau yang nampak gelisah?" tanya Anggun balik.


"Tidak."


"Kau mau bohong di depanku? Aku bisa melihat raut wajahmu yang cemas." Dion akhirnya tersenyum.


"Apa memangnya yang harus aku cemaskan? Kau ada disisiku dan sebentar lagi kita akan menikah," ujarnya sambil meraih tangan Anggun dan mengecupnya perlahan.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Di dalam rumah keluarga Sujono, tampak Ibu Adrian berjalan mondar-mandir di depan pintu dengan sesekali melongok keluar rumah. Pak Sujono yang sejak tadi duduk di kursi kebesarannya, kursi goyang, sambil membaca surat kabar terlihat heran. Dahinya mengerut. Di turunkannya kaca mata baca yang ia pakai dan mendongak ke arah istrinya.


"Ada apa denganmu, Bu?" tegur pria itu.


Tak ada jawaban selain desahan napas panjang. Ny Sujono lalu mendaratkan tubuhnya di kursi panjang. Wajahnya memang terlihat gelisah saat ini.

__ADS_1


"Ono opo sih, Bu? Kawit maeng tak sawang kok wira-wiri ora jelas," sekali lagi Pak Sujono bertanya dengan gaya bahasa daerahnya.Β Β 


"Aku iki ngenteni Anggun, pak. Nganti yah mene kok urung teko-teko bocah kuwi," Ny Sujono menggerutu. Namun pernyataannya barusan justru membuat sang suami terkejut.


"Anggun? Anggun datang kemari? Ada apa memangnya?" Pak Sujono merasa ada gelagat tidak baik yang di sembunyikan istrinya.


Merasa keceplosan, Ny Sujono semakin cemas. Diapun berusaha menghindar, "Ah....sudahlah pak. Saya tak ke dalam dulu." Wanita itu lalu beranjak pergi.


"Lho....Lho....Lho.....piye to Bu? Sek to, wong takon urung di jawab kok malah mlayu."


Sementara itu.....


Mobil yang di naiki Anggun dan Dion akhirnya sampai di pelataran rumah keluarga Sujono. Semakin berdebar rasanya hati Anggun. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.


Untuk kesekian kalinya, Dion meraih tangan Anggun, berusaha menguatkan hati wanita itu. "Ayo kita masuk," ajaknya.


"Dion....aku...."


"Jangan cemaskan apapun, yang akan terjadi di dalam sana, akan kita hadapi bersama." Dion tersenyum sambil mengeratkan genggaman tangannya. Dan Anggun mengangguk membalas senyum Dion.


Kedua manusia itupun melangkah bersama menuju rumah. Anggun mengetuk pintu dengan pelan.


"Assalamualaikum...." Masih belum ada jawaban dan tanda-tanda pintu akan di buka. Untuk kedua kalinya Anggun mengetuk pintu dan sesaat kemudian muncul wajah pria yang sudah ia anggap sebagai ayah sendiri.


"Pak," Anggun menyapa.


"Anggun, Dion, ayo masuk..." Pak Sujono mempersilahkan. Terlebih dahulu Anggun menyalami pria itu di ikuti Dion setelahnya.


"Ehmmm, Ibu ada Pak?" tanya Anggun hati-hati.


"Ada. Sebentar ya, Bapak panggilkan dulu."


Pria itu melangkah pergi menemui sang istri. Tak berapa lama ia kembali dengan wanita yang ingin Anggun temui.


Seperti halnya kepada Pak Sujono, Anggun juga menyalami mantan ibu mertuanya. Namun sungguh sikap Ny Sujono terlihat tak menyenangkan hati. Wanita itu melengos meski tangannya di sambut Anggun dan di cium olehnya. Sementara Pak Sujono duduk di kursi tunggal di samping istrinya.


"Maaf, Anggun baru datang Bu," ujarnya lagi setelah dia duduk kembali. "Jadi....ada keperluan apa sampai Ibu memanggil Anggun kemari?"


Ny Sujono melirik sekilas pada keberadaan Dion yang duduk di samping Anggun. Wajahnya benar-benar menunjukkan rasa tidak suka.


"Bagaimana kabarmu, Dion?" tanya Ibu Adrian mengabaikan pertanyaan Anggun.


"Alkhamdulillah baik, Bu."


"Baru kali ini Ibu lihat putri Ibu dekat dengan sahabat dari anak laki-laki Ibu." Ny Sujono menarik satu sudut bibirnya. Melirik tajam dan menunjukkan rasa tidak sukanya.


Tak ada jawaban apapun baik dari Dion maupun Anggun. Mereka tertunduk. Kegelisahan Anggun terlihat dari gerakan tangannya yang saling meremas satu sama lain. Dingin dan berkeringat. Itu yang ia rasakan di telapak tangannya. Dion tau kalau Anggun saat ini sedang resah.


"Ada satu hal yang ingin kami sampaikan pada Bapak dan Ibu," Dion tiba-tiba bersuara. "Ini mengenai kami berdua." Di tolehnya Anggun sesaat dimana wanita itu sedikit terperanjat pada ucapan Dion. Anggun tau akan mengarah kemana pembicaraan Dion kali ini. Dan tubuhnya seketika menegang.


"Pak, Bu, saya dan Anggun....." Dion memotong kalimatnya sejenak. "Kami akan menikah." Terlihat Anggun memejamkan mata meski sesaat. Tak sanggup melihat reaksi dua orang di hadapannya.


Dan sungguh di luar dugaan kalau mereka sama sekali tak terkejut. Tentunya Anggun tidak tau kalau Ibunya sudah tau mengenai kabar pernikahannya. Sedangkan sang ayah, dia memang sudah memprediksi jauh-jauh hari kalau hubungan Anggun dan Dion akan sampai pada tahap yang seserius ini.


Dion sendiri yang sudah tahu kejadian antara mamanya dengan Ibu Adrian, tak lepas mengamati wanita paruh baya itu. Sudah bulat memang keputusannya untuk mengaku. Menilik dari kalimat sindiran yang di ucapkan Ny Sujono tadi, menggugahnya untuk membuka kebenaran lewat mulutnya sendiri.


"Rupanya kau sudah tau apa niatku menyuruh Anggun kesini, Dion." Ny Sujono menggunakan bahasa sindiran. Dan disaat bersamaan, sang suami menoleh ke arahnya dan mendelik tajam. Sedang Anggun menoleh ke arah Dion meminta pembenaran lewat sorot matanya.


"Maaf, sungguh saya sebenarnya tidak tahu apa tujuan Ibu menyuruh Anggun datang kemari. Tapi berhubung Bapak dan Ibu melihat Anggun kesini tidak sendiri, itu berarti saya harus menjelaskan kalau kehadiran saya yang mendampingi Anggun disini karena adanya sesuatu di antara kami. Dan itu mengharuskan saya jujur pada Bapak dan Ibu mengenai hubungan kami sebelum kalian bertanya lebih dahulu."


Kali ini Ny Sujono terbungkam. Begitu pandai Dion mengolah kata sampai ia sendiri pun tak berkutik menyanggahnya.


"Ah....apapun itu Dion, Bapak ucapkan selamat padamu dan Anggun. Bapak ikut senang mendengar kabar ini," timpal Pak Sujono sebelum istrinya membuka mulut.

__ADS_1


Rupanya karena ini sang istri merasa gundah sejak kemarin. Pasti mama Dion sudah membuka rahasia tentang pernikahan Dion dan Anggun lebih dahulu. Dan Ratih seakan tidak terima akan berita pernikahan itu. Kenapa memangnya? Bukankah keluarga Sujono sudah tidak berhak lagi ikut campur pada kehidupan pribadi Anggun?


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


"Terima kasih karena kau sudah mendampingiku malam ini, Dion. Aku tidak tahu bagaimana menghadapi mereka jika tanpamu," kata Anggun saat mereka sudah kembali kerumah.


"Tidak perlu berterima kasih, Sayang. Itu sudah tugasku sebagai calon suamimu."


Anggun tersenyum haru. Matanya tertegun menatap Dion. Ada rasa bangga pada dirinya karena memperoleh calon suami seperti Dion. Sungguh sosok pria yang berkarakter. Tegas. Dan melindungi.


"Tapi, ngomong-ngomong, kamu benar-benar tidak tahu apa tujuan Ibu menyuruhku datang kesana?"


Dion mengulas senyum. Tangannya merengkuh pundak Anggun dengan lembut, "Aku tahu atau tidak, itu tidak penting. Yang terpenting adalah bagaimana aku menyelesaikan tugasku. Yakni meminangmu di hadapan mereka."


Wajah Anggun tiba-tiba bersemu merah. "Kalimat yang kau ucapkan tadi? Apakah itu termasuk kalimat pinangan? Yang benar saja? Kau bercanda."


"Tapi bukankah kau dengar sendiri kalau Pak Sujono bahagia mendengar berita pernikahan kita. Itu berarti dia merestui hubungan kita."


"Tapi Ibu....."


"Sssttttt!! Aku tau Ibu nampak kurang suka dengan ini, tapi itu tidak masalah. Kita memang harus mengerti kalau beliau masih belum bisa menerima perceraianmu dengan Adrian. Sehingga mendengar kita akan menikah, seakan mengusik hatinya. Ah....sudahlah. Jangan di pikirkan. Sebaiknya kita fokus pada pernikahan kita. Ingat, hanya tinggal tiga minggu lagi sampai aku meresmikanmu menjadi milikku." Dion menaik turunkan alisnya menggoda Anggun. Wanita itu tak bisa menahan gelinya melihat ekspresi calon suaminya yang lucu dan menggemaskan.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Di lain tempat, Bu Ratih masih kelihatan gusar. Itu jelas terlihat dari raut wajahnya yang nampak masam.


"Kenapa lagi to, Bu?" tanya Pak Sujono karena masih melihat ekspresi wajah istrinya yang tak enak di pandang.


"Saya ndak habis pikir, bagaimana bisa Anggun menikah secepat ini dengan orang lain. Terlebih lagi laki-laki itu adalah Dion, sahabat Adrian sendiri."


"Terus apa masalahnya? Lagi pula bukankah tadi mereka sudah menjelaskan kalau pernikahan mereka akan terlaksana setelah masa id'ah Anggun selesai?"


"Pak, coba mbok ya Bapak pikir. Apa kata orang kalau mereka menikah?"


"Memang apa kata orang?"


"Lha ya itu, Dion itu kan temennya Adrian. Apa pantas kalau menikah sama mantan istri sahabatnya?"


"Sek....sek....sek....Iki jane sing sampean permasalahne opo to Bu?" Bu Ratih tampak mendengus. Keningnya berkerut sampai kedua alis tipis itu hampir menyatu. "Jangan bilang kalau Ibu gak setuju Anggun menikah?"


"Ya. Bapak benar. Ibu memang ndak setuju Anggun menikah. Apalagi dengan Dion," sahut Bu Ratih cepat dan berapi-api. "Bapak tau, Ibu masih berharap Anggun dan Adrian bisa bersama lagi,"


"Bahkan setelah Adrian bertunangan dengan Andini? Apa Ibu masih ingin mereka bersama sedangkan Adrian juga sudah membuat keputusannya untuk menjalani hidup dengan orang lain?"


"Mereka kan masih bertunangan, Pak."


"Ojok ngawur sampeyan, Bu!! Jangan membuat masalah tambah kacau."


"Tapi pak."


"Sudah!! Bapak ndak mau bahas ini lagi. Sudah cukup keluarga kita membuat Anggun sakit hati. Biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri," Pak Sujono menjatuhkan vonisnya. Kilatan amarah terpancar dari wajah tuanya. Hatinya berang melihat kepicikan sang istri. Bagaimana bisa istrinya berpikir sesempit itu. Bersikap egois dan hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri.


Pak Sujono berjalan menjauh meninggalkan Bu Ratih yang tampak masih belum puas dengan akhir dari perdebatan mereka barusan. Mata wanita itu menerawang ke langit-langit rumah. Dan sebuah ide tiba-tibaΒ  muncul di otaknya.


Sepertinya aku harus melakukan sesuatu.....

__ADS_1


πŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒ


__ADS_2