
Suasana mencekam terasa menghantui ruang keluarga, Sujono. Di sana duduk sang kepala rumah tangga dan istrinya yang berseberangan dan saling berhadapan. Di ujung kursi, ada Adrian yang juga duduk diam terpekur. Rupanya perdebatan mengenai tinggalnya Adrian di rumah itu masih sengit di perbincangkan.
Dan hingga kini dari kedua kubu, baik itu ayah maupun ibu Adrian masih belum menemui jalan keluar. Keduanya tetap keras pada pendiriannya masing-masing. Sesungguhnya Adrian masih berada di pihak sang ayah. Dia juga merasa tidak enak hati kalau disuruh tinggal di sana dan satu atap dengan mantan istrinya. Namun nyatanya keinginannya itu justru membuat sang ibu semakin gusar.
"Apa buruknya sih kamu nurut sama Ibu? Ibu hanya ingin dekat denganmu, Adrian. Lagi pula, di rumahmu kau tidak punya teman. Di sini ada Bapak, Ibu dan juga adikmu yang akan selalu menemani." Ratih tetap keras pada niatnya.
"Jangan lupa Bu, disini sekarang tidak hanya ada kita. Anggun juga tinggal di sini." Pak Sujono juga masih berusaha menentang. Jadilah Adrian hanya diam membisu mendengar pertengkaran kedua orang tuanya.
Di tengah-tengah perdebatan itulah terdengar sayup-sayup suara ketukan pintu. Mbok Inem yang mendengar ada orang yang bertandang ke rumah itupun dengan langkah tergesa menuju ke arah pintu.
Ceklek!! Suara pintu di buka.
"Eh....non Andini. Mari masuk, Non." Yang disapa hanya mengulas senyum tipis.
"Adrian ada, Bi?"
"Ada Non. Lagi berbincang sama Bapak dan Ibu di ruang keluarga." Andini mengangguk lalu melangkah masuk. "Silahkan duduk, Non. Saya akan panggilkan den Adrian dulu." Sekali lagi Andini mengangguk.
Untuk kesekian kalinya mbok Inem melangkah dengan tergesa menuju ruang keluarga. Mengetuk pintu perlahan lalu datang mendekati Adrian.
"Ada apa Bi?" tanya Adrian yang di tatap oleh perempuan tua itu dengan makna ingin memberi penjelasan. Sedangkan pak Sujono dan istrinya hanya memandang dengan tatapan yang hampir serupa. Bertanya.
"Anu Den, ada non Andini di depan," jawab bi Inem sedikit berbisik.
"Andini? Oh....baiklah. Aku akan kesana." Adrian seketika bangkit dari duduknya dan tanpa pamit langsung meninggalkan keberadaan orang tuanya.
"Siapa Bi?" Ratih bertanya meski sebelumnya ia sempat mendengar.
"Non Andini, Ndoro."
Ratih menghela napas kasar. Entah kenapa ada sebuah perasaan kesal mendengar nama itu terutama saat ini. Bi Inem yang merasa tak di perlukan akhirnyapun pamit ke belakang.
"Jadi, apakah kamu juga lupa dengan keberadaan Andini?" Suara bariton pak Sujono menginterupsi. Tatapannya jelas mencemooh sang istri. Ratih hanya melengos kesal merasa dirinya sekarang terpojokkan. Ya, bagaimanapun juga dia harus mengakui kalau adanya Andini di tengah Anggun dan Adrian tak bisa di elakkan. Untuk saat ini Ratih belum berpikir apa yang harus ia lakukan dengan keberadaan tunangan putranya itu.
Di ruang tamu.....
"Hai Din," Adrian menyapa kekasihnya itu. Andini mengulas senyum tipis. "Kenapa kau tidak memberi tahuku dulu kalau mau ke sini?"
"Maaf, aku hanya sekedar mampir. Kebetulan aku baru dari rumah budhe, dan karena belum terlalu malam jadinya aku putuskan kemari."
"Tapi, ngomong-ngomong dari mana kamu tau kalau aku ada disini?" Adrian menelusur. Sejenak kemudian tatapannya berubah curiga, "jangan bilang kalau kau tadi sempat ke rumahku."
Andini tersenyum malu karena merasa dirinya ketahuan. "Jadi, sebenarnya kamu kesini karena mampir atau...."
"Aku rindu kamu Adrian," serobot Andini cepat. "Maaf, tadi itu aku berbohong. Ya, aku memang mencarimu ke rumahmu. Sejak siang hari ponselmu nggak aktif. Tidak biasanya kau seperti ini. Dan tentu saja aku khawatir hingga setelah pulang dari rumah sakit aku cepat pergi ke rumahmu. Namun nyatanya kau tidak ada di sana. Jadi harapanku adalah rumah ini. Dan memang benar kalau kau ada disini."
Adrian terdiam. Ya. Dia memang sengaja mematikan ponsel sejak siang hari.
__ADS_1
"Ah, mungkin karena low batt," bohongnya.
"Benarkah?" Andini merasa curiga. Ya, masalahnya karena ponsel itu mati sejak siang hari. Seharusnya Adrian sudah tau sejak tadi dan kalau memang low batt, harusnya ia sudah menchargernya. Namun nyatanya hingga malam hari, ponsel tersebut masih belum aktif. Dan Adrian berlagak tidak tahu. Ah....yang benar saja?
"Nanti akan aku periksa." Andini tak menjawab. Hatinya masih terganjal sesuatu yang aneh. Seperti ada yang di sembunyikan Adrian. "Jadi, kau ingin kita keluar?" tanya Adrian kemudian.
"Hmmm, kalau kau tidak keberatan."
"Baiklah. Tunggulah sebentar, aku akan bersiap dulu."
Adrian lalu masuk ke dalam. Untungnya, semua pakaian yang masih ada di rumah itu sudah di pindahkan bi Inem sejak sore. Bi Inem memindahkannya dari kamar yang di tempati Anggun ke kamar tamu. Entahlah, Adrian sendiri belum memutuskan apakah dia akan tinggal di rumah orang tuanya lagi atau tidak.
Sementara itu Anggun yang sudah bersiap sejak beberapa menit yang lalu tampak tergesa mengangkat telfon. Rupanya Dion menghubunginya lagi.
"Aku hampir sampai, Sayang."
"Oh, apakah kita benar-benar akan keluar? Hmmm....maksudku, kau akan mengajakku keluar?"
"Ya. Terus kamu pikir aku ke sana untuk apa?"
"Aku tidak yakin ibu akan mengijinkanku," ujar Anggun ragu.
"Tenanglah, siapapun tidak bisa melarang kita bersama. Termasuk Bu Ratih sekalipun." Pembicaraan terhenti sejenak. "Baiklah. Aku tutup dulu. Aku sudah sampai di pekarangan nih...bye..." belum sempat menjawab, telfon sudah di tutup terlebih dahulu oleh Dion. Anggun mendesah halus.
Semoga malam ini tidak terjadi masalah.
π
π
Ratih sudah menemui Andini sejak beberapa menit yang lalu. Di sana juga ada sang suami yang duduk mendampingi.
"Kalian mau keluar?" tanya Ratih mencoba mengorek keterangan.
"Iya Bu. Mau cari angin sebentar," Andini memberi kiasan.
"Yah, asal jangan sampai lupa waktu saja dan pulang sampai larut malam."
Andini tercekat mendengar gumaman calon ibu mertuanya. Kenapa Ibu berkata demikian?
Andini tentu saja bisa merasakan ada kesan tidak suka dari kalimat tersebut.
"Tentu saja tidak Bu. Kami hanya keluar sebentar kok."
"Jangan dengarkan kata-kata ibumu, Nduk," suara pak Sujono menimpali. Andini hanya tersenyum masam mendengar pembelaan pak Sujono.
Pada saat itulah suara deru mesin mobil dari halaman rumah menggema. Semua yang ada di ruang tamu itu tentu mendengar dan yang pasti sang tuan rumah berpikir siapa kira-kira tamu yang datang malam-malam begini?
__ADS_1
Hanya beberapa saat kemudian hingga muncullah sosok tersebut di ambang pintu. Mengetuk pintu sekaligus mengucap salam.
"Oh...kamu nak Dion, ayo...masuk...masuk..." seru pak Sujono dengan wajah sumringah.
"Terima kasih, Pak," ujar Dion sembari mengangguk sopan.
Di sudut ruangan terlihat wajah Ratih yang kurang senang akan hadirnya Dion di rumah tersebut. Tentu saja, meski Ratih maupun suaminya sudah tau kalau pemuda itu datang untuk mengunjungi Anggun.
Anak ini....padahal belum ada sehari aku membawa Anggun kemari, dia sudah mendatanginya,
Mata Dion dan Andini saling bertubrukan. Andini merasa aneh dengan kedatangan Dion di rumah itu.
Kenapa Dion kemari? Apakah dia ingin bertemu Adrian?
"Ayo Le, duduklah!" Suara Pak Sujono kembali terdengar.
"Iya Pak. Terima kasih." Dion memilih duduk di kursi di samping Andini. Dia hanya tersenyum dan mengangguk sekilas pada Ratih yang menatapnya dengan tatapan sinis. Dion mengerti hal itu. Tahu kalau kehadirannya di rumah itu tak di harapkan si empu rumah. Ah.....bodoh amat, pikirnya.
"Ada perlu dengan Adrian, Dion?" Andinipun membuka suara.
"Hah?" Dion sedikit terkejut saat tiba-tiba di tanya demikian oleh kekasih sahabatnya. "Eh....tidak. Aku ada urusan lain," jawab Dion ringan.
Andini hanya mengernyit perlahan. Sebenarnya ia penasaran dengan tujuan Dion ke rumah itu. Namun karena kehadiran Bapak dan Ibu Adrian di ruangan tersebut menjadikan ia harus menahan rasa keingin tahuannya.
Dan pada saat itulah muncul sosok yang di tunggu Dion. Wajah cantik itu menyembul dari balik pintu. Memecah kesunyian yang sedetik lalu tercipta. Tapi, ah....suasana apa ini? Anggun yang baru muncul juga tak akan mengira kalau di ruangan itu ada Andini yang tengah duduk membelakangi. Hingga kemunculan Anggun, tampaknya wanita itu belum tahu kalau ada mantan istri Adrian di sana.
"Ehemmm," Anggun hanya bisa berdehem sesaat. Dia tak tahu harus mengucap apa. Menyapa Dion atau Andini? Belum lagi ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan raut wajah tak suka. Siapa lagi kalau bukan Ny Sujono.
"Sini Nduk, Dion sudah menunggumu." Untuk ke sekian kalinya Pak Sujono menengahi ketegangan. Dan tentu saja baik Dion dan Andini menoleh pada keberadaan Anggun.
Dion tersenyum lebar melihat sosok wanita yang ia puja, dan berbeda dengan Andini yang terbelalak tak percaya pada siapa orang yang sekarang di lihatnya. Mulutnya ternganga. Ingin sekali suaranya keluar namun entah kenapa tiba-tiba tenggorokannya tercekat.
"Kau sudah siap?" Dion berdiri seketika.
"Anggun hanya mengangguk meng-iyakan. Mulutnyapun tiba-tiba kaku karena melihat keberadaan Andini disana. Bukan karena apa, dia hanya tak mau wanita itu berfikir macam-macam tentangnya, kenapa ia ada di rumah itu.
"Pak, Bu, kami pergi dulu," Dion meminta ijin pada sang pemilik rumah.
"Bersenang-senanglah kalian." Hanya suara pria paruh baya itu saja yang keluar. Sedang Ratih masih setia membisu dengan senyum masam yang terpaut di bibirnya.
"Yuk," Dion mengulurkan tangannya menyambut tangan Anggun. Dan perempuan itupun menerima uluran tangan tersebut. "Kami pergi dulu, Andini," kembali Dion bersuara.
"Oh...eh...ya." Andini spechless. Sungguh dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah orang tua Adrian itu? Bagaimana bisa Anggun ada di sana?
Belum habis kebingungan Andini pada keberadaan Anggun, orang yang ia tunggu pun keluar juga. Mengajak segera untuk keluar bersama. Hanya saja Adrian tidak tahu kalau saat ini Dion dan Anggun juga tengah keluar berdua.
πΊππΊππΊππΊππΊππΊ
__ADS_1