
Bagaimana bisa pak Sujono semudah itu merestui hubungan Adrian dan Andini? Padahal jelas-jelas sekali sebelumnya dia sangat gusar akan perceraian Anggun dan putranya. Dan sungguh beliau masih berharap Anggun dan Adrian bisa kembali bersatu.
Hal ini ternyata ada sangkut pautnya saat Anggun datang ke rumah keluarga Sujono dengan maksud menjenguk sang ibu yang sedang jatuh sakit. Pada saat pak Sujono meninggalkan kamarnya dengan maksud membiarkan anak dan mantan menantunya berbincang, dia berjalan menuju beranda rumah. Pada saat itulah dia melihat samar-samar sosok Dion yang tengah menanti Anggun.
Kening pak Sujono tampak mengernyit. Berfikir kenapa sahabat dekat Adrian itu ada disini dan bukannya masuk tapi justru menunggu di luar? Setahunya juga kalau pemuda itu sudah pergi sejak satu tahun yang lalu. Pikiran pria paruh baya itupun merayap. Menghubungkan kejadian demi kejadian. Dia teringat cerita Bagas saat Anggun melahirkan, dimana saat itu terjadi kesalah pahaman diantara Anggun dan Adrian. Dan Dionlah saat itu yang membantu menantunya. Dari situlah pak Sujono sudah menangkap gelagat yang tak semestinya.
Seorang pria yang menolong wanita pada setiap kesulitannya dan rela melakukan apapun demi dia, tentu tak hanya bisa dikatakan hanya seorang teman biasa. Setidaknya, pria itu pasti memiliki sedikit rasa pada wanita yang di tolongnya.
Pak Sujono menghisap cerutunya lalu mengepulkan asap dalam sekali hembusan. Pikirannya lalu berputar sekali lagi. Mengaitkan kejadian lalu dengan saat ini. Apakah memang sangat kebetulan, Dion datang disaat Adrian bercerai dari Anggun? Ataukah memang dia sengaja pulang karena sebuah alasan? Dan alasan itu tentu berkaitan dengan menantunya. Karena tidak mungkin saat ini Dion akan berada disini bersama Anggun kalau tidak ada sesuatu di antara mereka. Jika memang di antara Dion dan Anggun tak ada apa-apa, dan dia kesini karena Adrian, kenapa pemuda itu tidak ikut masuk?
Dari situlah kesimpulan pak Sujono berasal. Dan saat Adrian mengemukakan keinginannya yang akan melamar Andini, sang ayah dengan cepat memutuskan kalau hal ini mungkin yang terbaik. Pak Sujono sadar kalau selama ini kedua putranya baik Bagas maupun Adrian tak bisa memberikan kebahagiaan yang semestinya pada Anggun. Dan jika benar diantara Dion dan Anggun ada suatu hubungan, mungkin saja pemuda itu bisa memberikan kebahagiaan yang tak bisa di berikan oleh kedua putranya. Jalan satu-satunya adalah Adrian harus memulai awal yang baru supaya Anggun juga bisa memulai kehidupan barunya. Karena pak Sujono tau kalau hati Anggun masih terikat pada Adrian. Hal itu tidak bisa di biarkan berlarut-larut atau disini Anggunlah yang merasa tersakiti. Pak Sujono percaya kalau Dion adalah pemuda baik. Dia mengenal jelas kepribadian pemuda itu. Berteman dengan Adrian sekian tahun, sudah cukup bagi pria paruh baya itu memahami sifat dan karakter seorang Dion.
π
π
"Dion, kau mau mengajakku kemana?" tanya Anggun pada suatu hari. Hari itu Dion menjemput Anggun di rumah mamanya. Dan setelah beberapa waktu perdebatan seru dengan orang tuanya, atas seizin sang mama juga merekapun akhirnya bisa keluar.
Dion di buat geleng-geleng kepala karena sikap protektif mamanya. Bagaimana tidak, Dion bahkan di larang menemui Anggun setiap malam. Kalaupun mengijinkan, itupun tidak lebih dari jam sembilan malam. Bahkan wanita paruh baya itu tak segan mengusir putranya jika meminta pertambahan waktu meski itu lima menit.
Siapa disini yang jadi anak kandungnya? Kenapa aku terkesan seperti orang lain?
Masih belum cukup itu saja, Ny Mayang atau bahkan papanya juga tak pernah membiarkan Dion dan Anggun duduk berdua saja. Mereka selalu mendampingi saat keduanya tengah asik mengobrol. Gila. Ini mah kalah anak SMP. Atau kalau pas kedua orang tuanya tidak ada di rumah, kedua saudaranyalah yang bertugas menjaga. Sungguh mereka benar-benar kompak.
"Ingat Dion, sekarang Anggun adalah putri Mama. Jadi, sekarang kau tidak bisa berbuat seenaknya." Itulah salah satu kalimat andalan sang mama kalau Dion berusaha memprotes.
"Lalu, Dion ini siapa?"
"Tentu saja kau adalah putra Mama, masih bertanya kau siapa?!"
"Kalau begitu kenapa aku terkesan seperti orang lain buat kalian?"
"Jadi, kau ingin seperti apa? Memperbolehkanmu berbuat semaumu? Baiklah kalau begitu, tapi jangan harap Mama akan merestui hubungan kalian." Dan kalau keputusan Ny Mayang sudah demikian, maka Dion hanya bisa pasrah.
"Baiklah. Terserah Mama. Tapi setidaknya kalian beri kebebasan padaku dan Anggun sedikit saja saat kami berdua. Atau Mama ijinkan kami keluar bersama meski hanya sekedar nonton. Dion janji kok akan bawa pulang Anggun tepat waktu."
"Nggak, Dion. Ayolah....waktumu hanya tinggal satu setengah bulan lagi sampai kalian menikah. Dan Mama rasa itu bukan waktu yang lama. Lagi pula bukankah setiap pagi kau selalu menjemput Anggun untuk berangkat kerja?" Memang harapan Dion untuk berdua dengan Anggun hanya saat mereka berangkat kerja.
Dion yang sejak tadi hanya bungkam karena teringat sikap keluarganya, terkejut saat sebuah tangan halus menepuk bahunya. Pria itu menoleh seketika.
__ADS_1
"Oh....eh...apa?" tanyanya tergagap.
"Kau mau mengajakku kemana?" tanya Anggun sekali lagi dengan sabar.
"Hmmm, kita akan ke butik."
"Butik?"
"Ya." Anggun mengerutkan keningnya. "Kita akan memesan baju pernikahan disana. Aku punya sebuah kenalan dimana disana memiliki koleksi baju pernikahan yang cantik. Percayalah, kau akan suka nanti."
Anggun mendesah panjang. Hingga saat ini rasanya ia masih tak percaya kalau akan memulai kehidupan baru dengan seseorang. Apalagi orang itu adalah Dion. Entahlah, nyatanya hingga saat ini, hatinya masih ragu.
"Dion, apa kau yakin akan menikahiku?"
"Kenapa kau masih bertanya demikian? Bukankah sudah jelas kalau itu adalah keinginanku."
"Tapi aku...."
"Cukup Anggun!! Aku harap kau tak mengatakan hal apapun yang membuatku berubah pikiran."
"Justru itu yang ku inginkan. Kau akan berubah pikiran."
"Hah? Apa?" Anggun terbelalak. Matanya membulat, mengerjap-ngerjap tak mengerti.
"Kau ingin aku berubah pikiran bukan? Baiklah kalau itu maumu. Aku tidak akan menunggu lagi sampai masa idah'mu berakhir."
"Di...Dion...bukan itu yang ku maksud?" Anggun jadi ketakutan sendiri. Rasanya percuma saja memperingatkan Dion. Pemuda itu sangat-sangat bebal. Dion justru merasa geli sendiri melihat tingkah Anggun yang gelisah dan cemas.
Anggun...Anggun...kau memang berbeda dari wanita lain. Kalau orang lain saja pasti akan senang mendengar aku ingin menikahinya. Tapi kau? Kau justru ketakutan dan cemas.
Dion hanya menggeleng-geleng perlahan sambil menahan senyum geli.
π
π
π
Beberapa waktu kemudian keduanya sampai di tempat yang di tuju. Sebuah butik yang cukup besar. Anggun terpaku melihat koleksi baju pengantin yang di jejer di lemari-lemari khusus, juga beberapa helai yang terpasang pada manekin.
__ADS_1
"Aku tau kau pasti suka." Suara Dion menginterupsi kebekuannya karena takjub akan keindahan pakaian-pakaian itu.
"Ini...benar-benar indah, Dion," balas Anggun tanpa mengalihkan pandangannya pada gaun-gaun itu. Tangannya bahkan tak segan memegang dan mencoba menebak bahan dari gaun tersebut.
"Tunggulah disini, aku akan menunjukkan yang lebih indah lagi." Dion kemudian berlalu dari tempat itu sementara Anggun masih tetap di tempatnya dan sesekali berjalan perlahan mendekati gaun yang lain.
Saat Anggun masih sibuk dengan kekagumannya, saat itulah dia menangkap sebuah suara yang tak asing di telinganya.
"Mbak, aku ingin mengambil pesananku." Orang itu lalu menyerahkan selembar kertas kepada seorang penjaga butik.
"Sebentar ya, Mbak. Saya ambil dulu." Penjaga itu meninggalkan si customer sendirian. Selang beberapa menit kemudian penjaga itu datang kembali dengan membawa sebuah kebaya berwarna coklat keemasan. "Ini Mbak?"
Orang itu kemudian menerima pakaian tersebut.
"Akan saya coba dulu."
"Baiklah. Silahkan ke ruang ganti." Si penjaga mempersilahkan sambil menunjuk sebuah kamar pas.
Tak lama kemudian orang itu keluar dari kamar ganti dengan sebuah kebaya cantik dan elegan yang melekat pas di tubuhnya. Saat itulah, seseorang muncul di depannya.
"Bagaimana? Bagus?" Wanita itu memutar tubuh sambil berlenggok bak seorang model.
"Hmmm, cantik! Pilihanmu benar-benar sesuai," ujar seorang pria dengan kemeja flanel.
"Kau cobalah juga pakaianmu. Aku juga ingin melihatnya." Perempuan itu lalu menyerahkan setelan jas hitam, lengkap dengan kemeja dan dasinya.
Wanita itu terkejut saat sebuah tangan menepuk lengannya perlahan.
"Mbak Anggun?" Mata Anggun menajam melihat seseorang di depannya dengan sebuah kebaya cantik di badannya.
"Kau?!"
"Aku kesini bersama Adrian, Mbak. Kami memesan pakaian untuk pertunangan kami." Telinga Anggun berdengung seketika. Ucapan wanita itu seperti sebuah pukulan berat baginya.
Jadi, mereka memutuskan akan bertunangan?
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang. "Bagaimana penampilanku, Andini?" Suara Adrian yang baru keluar dari kamar pas. Kedua wanita itu menoleh langsung ke arah Adrian. Anggun tercekat di tempatnya. Matanya membeku manakala melihat penampilan Adrian saat ini. Pria itu menengadahkan kepalanya dan hal sama juga terjadi padanya, ia di buat terkejut karena kehadiran Anggun disana.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
__ADS_1
πΊππΊππΊππΊππΊππΊ