![ANTOLOGI CERPEN [HORROR] !](https://asset.asean.biz.id/antologi-cerpen--horror---.webp)
10 JUNI 2020
KOTAPINANG, SUMATERA UTARA
Rena, Si gadis indigo pulang melewati gang sempit yang sepi.
Dia pulang melalui gang itu agar lebih cepat sampai ke rumah.
Melewati jembatan satu-satunya pelintas jalan, suara nyanyian terdengar di telinganya.
Menyeramkan, walaupun Rena indigo tapi terkadang dia tak bisa melihat juga berinteraksi dengan 'mereka '.
Memutuskan untuk tidak menoleh dan memperdulikan nyanyian itu, Rena berjalan lebih cepat.
Semakin cepat ia berjalan semakin keras nyanyian itu diikuti suara gamelan yang keras.
Rena menghentikan langkahnya dan musik itu memelan suaranya.
Rena melihat ke sekitar nya, hanya ada kegelapan juga suara-suara jangkrik serta kodok yang bersahutan.
Rena tidak dapat merasakan keberadaan mereka di sekitarnya.
Rena memutuskan untuk berjalan kembali dan tak memperdulikan suara musik yang muncul.
....
Rena membuka gerbang rumahnya lalu mengunci nya.
Saat akan masuk ke dalam rumah, suara musik itu kembali terdengar bahkan sekarang sangat jelas tidak seperti tadi.
Rena melihat ke sekeliling nya dan lagi, dia tak melihat siapapun di sini yang sedang memainkan alat musik gamelan.
Rena menarik napasnya untuk membuyarkan pikiran buruknya.
"Lagian mana ada hantu gamelan," gumamnya pelan.
Dia memasuki rumah dan menuju kamar.
Rena langsung membersihkan diri dan menuju ke kasur siap untuk tidur.
Baru saja dia memejamkan mata nya, suara gamelan itu kembali berbunyi.
Rena mencoba untuk tidak memperdulikan suara itu, dia menutup wajah nya menggunakan selimut.
Suara musik semakin kuat dan nyaring di telinganya, seolah suara itu tepat ada di sampingnya.
__ADS_1
Rena yang tak tahan dengan suara yang mengganggunya itu membuka selimut nya di ikuti berhenti nya musik gamelan tersebut.
"Syukurlah berhenti, " batinnya merasa lega.
Rena memutuskan untuk tidur kembali dan berharap mimpi indah.
....
Jam menunjukkan waktu pukul dua dini hari.
Dan suara musik itu terdengar lagi, Rena merasa ada suara musik dan itu mengganggunya.
Rena mengusap matanya dan melihat ke sekeliling nya.
Gelap ?
"Bukannya tadi lampu nya hidup sewaktu aku akan tidur?" Tanya nya pada diri sendiri.
Rena mengambil ponselnya yang ada di sebelah nya dan menghidupkan senter nya.
Setelah senter itu hidup, Rena mengarahkan ponselnya ke arah saklar lampu.
Tapi bukan saklar lampu yang di Dapat nya melainkan wajah penuh luka dan darah.
"AAAAAAAKK,"
Wajah itu tergantung dan melayang di depannya, tak ada anggota tubuh nya yang lain.
Rena berlari menuju pintu dan mencoba membuka pintu itu.
Tak bisa !!!
Pintu itu seolah terkunci dengan sendirinya.
Rena melihat ke Belakang apakah kepada itu mengikutinya.
Benar, kepala itu melayang ke arah nya dengan diikuti suara gamelan yang kuat di dalam kamar nya.
Rena menggeleng dan mencoba kembali membuka pintu itu tapi tetap tak bisa.
Tak ingin kepala itu mendekati nya, Rena berlari menuju balkon kamarnya dan menguncinya dari luar.
Rena bernapas lega karena bisa kabur dari kepala itu.
Dia berjalan menuju pinggir balkon dan melihat ke bawah.
__ADS_1
Sunyi dan gelap.
Sekelebat bayangan putih melintas di depannya di ikuti bunyi gamelan yang kembali terdengar.
Itu membuatnya terkejut dan takut.
Dia merutuki dirinya yang melewati gang sempit tadi .
Dirinya juga merutuki mengapa ke indigoannya tak bisa berguna di saat seperti ini.
Rena mencari bayangan putih itu dan tak ada.
Saat dia melihat ke bawah ada bayangan yang bergerak ke arah nya seolah sedang memanjat balkon kamar nya.
Rena terkejut dan berjalan menjauh saat tahu kalau yang sedang memanjat itu hantu.
Hantu itu berjalan dengan lambat sambil menatap Rena tajam.
Rena mundur dengan pelan dan mencoba membuka pintu balkon kamar nya.
Tak bisa juga !!!
Seolah di kunci dari dalam padahal kunci nya ada bersama nya.
Hantu itu semakin mendekat ke arah nya.
Rena memejamkan matanya, dapat ia rasakan cekikan di lehernya dari tangan dingin hantu itu.
Saat hantu itu mengencangkan cekikan nya , Rena spontan berteriak.
"AAAAAAAKK,"
Rena terbangun dari mimpi buruknya.
Dia mengusap wajahnya dengan kasar dan berjalan menuju balkon kamar memastikan hal itu tak terjadi.
Hari masih pagi dan Matahari baru muncul.
Rena menghela napas, dia tak pernah berpikir kalau dia akan bermimpi seperti itu hanya karena melewati gang sempit.
Rena berjanji kalau mulai sekarang ia tak akan pernah lagi melewati gang itu, baik siang, malam, bahkan kalau terdesak sekalipun.
****
END
__ADS_1