![ANTOLOGI CERPEN [HORROR] !](https://asset.asean.biz.id/antologi-cerpen--horror---.webp)
07 JUNI 2020
KOTAPINANG, SUMATERA UTARA
Menyeramkan.
Itulah gambaran dari rumah yang akan Dimas serta keluarga nya tinggalin.
Mereka baru pindah dari kota seberang dan akan menetap di sini dalam waktu yang lama.
Mereka memutuskan mengontrak sebuah rumah besar yang ada di tengah kompleks perumahan elit.
Dimas dan keluarga nya memasuki rumah dan melihat bangunan itu.
Dimas memilih kamar di lantai dua agar bisa melihat sekitar kompleks katanya.
Dimas memasuki kamarnya yang berada di ujung.
Gelap dan seram.
Suasana itu yang menyambut Dimas ketika menginjak kan kaki nya di kamar itu.
Dimas memasuki kamar nya dan menjelajahi nya.
Kamar mandi yang tak begitu besar sangat cocok dengan selera nya.
Tempat tidur yang cukup menampung lebih dari dua orang serta sofa yang ada di sebelah tembok.
Ada pula televisi juga ruang perpustakaan sendiri, sungguh menyenangkan hati Dimas.
Dimas duduk di sofa dan menyala kan televisi.
Saat asik menonton, mata nya tak sengaja melihat Lukisan aneh di balik pintu ruang perpustakaan itu.
Dimas yang penasaran mendekati Lukisan itu dan melihat serta menilainya dengan jelas.
Sebuah Lukisan tua yang masih cantik seolah tak termakan waktu.
Di dalam Lukisan itu ada gambar seorang wanita cantik yang jika di lihat lebih jelas sedang duduk di sebuah taman.
Dika memegang Lukisan itu dan secara tak sengaja ia memiringkan Lukisan itu.
Gambar berganti menjadi menyeramkan, Lukisan itu berganti dengan gambar Wanitayang sedang di gantung dengan banyak luka di tubuhnya.
Dimas yang takut melepaskan tangannya dari lukisan itu dan menjauh dari sana.
Dimas memutuskan untuk mandi, mendinginkan kepalanya yang sudah berpikir buruk tentang Lukisan itu.
Lukisan itu mengeluarkan darah saat Dimas meninggalkannya.
...
Setelah makan malam, mereka memasuki kamar masing-masing.
Dimas memasuki kamarnya dengan mata mengantuk. Dia lelah mengangkat barang dan menyusunnya membantu sang bunda.
Dimas menjatuhkan tubuhnya di kasur dan tertidur.
...
Dimas menghalangi cahaya yang menerpa nya menggunakan tangan.
Dia melihat di depan sana kalau ada seorang wanitayang sedang duduk sambil melukis.
"Wanita itu bukannya yang ada di Lukisan?" Tanya Dimas pada dirinya.
Dimas mencoba mendekati wanita itu, saat sudah dekat langkah nya terhenti saat ada seseorang yang memanggil wanita itu.
"Rena, " Panggil Seorang lelaki kepada wanita itu.
Wanita yang bernama Rena itu menoleh dan bergetar ketakutan.
Tanpa aba-aba wanita itu berdiri dan berlari meninggalkan barangnya serta Lukisan itu.
Lelaki yang memanggil wanita itu berlari mengejar wanita itu.
Dimas mencoba menyelamatkan wanita itu tapi tak bisa, tubuh nya menembus ketika dia akan menarik tangan wanita itu.
Lelaki yang mengejar wanita tadi, memegang tangan wanita itu dengan kuat dan kasar.
Terbukti dari tangan wanita itu yang memerah.
Lelaki itu menggendong wanita itu di pundaknya sambil tertawa keras diiringi teriakan dan tangis si wanita.
__ADS_1
Dimas memandang kepergian mereka sendu karena ia tak bisa menolong wanita itu.
Diam berjalan menuju lukisan yang tertinggal. Dimas mengambil nya dan melihat Lukisan itu.
Lukisan itu persis sama dengan Lukisan yang ada di balik pintu perpustakaan nya.
Cahaya putih menariknya dari sana dan membuatnya terbangun.
"Huh cuma mimpi," ucap Dimas mengusap wajahnya.
Suara tangisan mengejutkan nya, Dimas berjalan menuju asal tangis itu.
Suara itu berasal dari perpustakaan miliknya.
Di buka nya perpustakaan itu dan mencari suara itu. Ada di balik pintu tempat lukisan itu berada.
Dimas mulai merinding dan mengusap tangannya. Mencoba memberanikan diri, dia membuka pintu dan melihat lukisan itu.
Dimas terkejut dan takut sekaligus. Terkejut karena suara itu berasal dari Lukisan itu juga takut karena Lukisan itu berdarah.
Dimas melihat dengan jelas kalau darah itu keluar dari Lukisan itu.
Dengan teliti dia memeriksa Lukisan tersebut dan BUMM!!
Darah itu keluar dari mata wanita itu. Keterkejutannya Dimas tak selesai sampai di situ, bercak darah juga mulai muncul di Lukisan itu.
"Tolong Saya,"
Sebuah suara muncul dan membuat Dimas mundur ketakutan.
Sebuah sosok keluar dari Lukisan itu berjalan menuju Dimas.
Semakin Dimas mundur semakin maju sosok itu.
Sosok itu sangat menyeramkan dengan rambut panjang yang terjatuh ke lantai juga baju yang sama dengan yang Dimas lihat di mimpi penuh dengan darah jangan lupakan matanya yang mengeluarkan darah.
"KAMU HARUS MATI!!"
Sosok itu berteriak dengan kencang dan terbang menuju Dimas bersiap membunuh Dimas.
Sontak saja Dimas terkejut dan berteriak.
"BUNDAAAAA,"
"Bunda," Lirih Dimas lalu memeluk Bunda.
"Adek mimpi buruk hm?" Tanya Ria, Sang Bunda mengusap kepala Dimas.
Dimas mengangguk dalam pelukan Ria.
"Aku tidur di kamar bunda ya," Ucap Dimas melepaskan pelukan itu.
Ria menoleh kearah suaminya meminta persetujuan. Rian mengangguk setuju ketika melihat sang istri yang melihatnya.
Ria mengangguk dan mengajak Dimas menuju kamarnya.
Mereka meninggalkan kamar Dimas dan mematikan lampu nya.
Wanita Lukisan itu melihat mereka dengan marah.
...
Paginya Dimas menceritakan apa mimpi nya semalam.
Awalnya mereka tak percaya tapi setelah Dimas menunjukkan Lukisan itu mereka akhirnya percaya akan perkataan Dimas.
Mereka langsung mencari tahu tentang rumah dan Lukisan itu dengan bertanya kepada tetangga.
Tak ada satu pun dari mereka semua yang tahu tentang Lukisan itu.
Dimas dan keluarga nya menyerah mencari tahu tentang rumah dan Lukisan itu.
Dimas pindah kamar menjadi tidur dengan sang abang di lantai bawah.
Kejadian aneh tetap terjadi pada Dimas walaupun dia sudah pindah kamar.
Tak jarang pula Wanita Lukisan itu muncul dalam mimpi ataupun menemui Dimas secara langsung.
Masih dengan kata kata yang sama.
"KAMU HARUS MATI!!"
...
__ADS_1
Seorang nenek tua berhenti di depan rumah mereka.
Nenek itu memandang rumah mereka dengan mata yang memicing tajam.
Nenek itu berjalan menuju rumah itu dan mengetuk pintu.
"TOK..TOK..TOK.."
Suara ketukan membuat Dimas dan keluarga nya yang sedang berkumpul menoleh.
Mereka berjalan menuju pintu dan membuka nya.
Seorang nenek yang mengetuk pintu tersebut menatap Dimas tajam.
Mereka mempersilakan nenek itu untuk masuk.
"Di sini ada Lukisan wanita cantik yang mengusir kamu setiap hari bukan? " Tanya Nenek itu pada Dimas setelah Duduk.
Dimas mengangguk membenarkan pertanyaan si nenek.
"Kamu tahu apa sebabnya? " Tanya Nenek itu menatap Dimas tajam.
Dimas hanya menggeleng tak tahu apa sebab wanita Lukisan itu mengganggunya.
"Wanita itu anak saya," ucap Nenek itu.
Mereka terkejut mendengar perkataan si Nenek.
"Rumah ini milik seorang lelaki yang terobsesi kepada anak saya. Laki-laki itu menculik dan membunuh anak saya di rumah ini tepatnya di kamar kamu. Dan Lukisan itu adalah lukisan terakhir yang di Lukis anak saya. Dia bisa melihat masa depan itu sebabnya Dia melukis kan kisah kematian nya agar Dia bisa masuk ke dalam Lukisan itu dan membalaskan dendam nya pada laki-laki itu," ucap Nenek itu bercerita tentang masalalu dia melihat Dimas ketika menyebutkan kata laki-laki.
"Kenapa saya Nek? Saya bahkan gak kenal sama Laki-laki juga Wanita itu. Kenapa saya yang di teror?" Tanya Dimas frustasi.
"Karna wajah kamu mirip sekali dengan wajah laki-laki itu," Ucap Nenek itu .
"Tolong Saya Nek, saya gak mau terus-terus di teror oleh wanita itu," ucap Dimas kepada Nenek itu.
Nenek itu mengangguk setuju ingin membantu Dimas.
"Saya akan tolong kamu, tapi kamu harus menolong anak saya untuk menemukan laki-laki yang mirip dengan kamu," ucap Nenek itu kepada Dimas.
Dimas mengangguk setuju.
Nenek itu naik ke atas menuju kamar Dimas.
...
"Dia tidak akan mengganggu kamu lagi asalkan kamu benar-benar akan mencari laki-laki yang mirip dengan kamu," ucap Nenek dari tangga mengejutkan semuanya.
Mereka berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri nenek itu.
"Kali boleh tahu apakah nenek tahu kabar terakhir tentang laki-laki itu?" Tanya Rian.
Nenek itu menggeleng pelan.
"Lukisan ini akan saya bawa pulang," Ucap Nenek itu sambil memegang Lukisan itu.
Mereka mengangguk menyetujui ucapan sang nenek.
Nenek keluar dari rumah membawa Lukisan itu.
"Makasih ya Nek," ucap Dimas kepada Nenek itu.
Nenek itu mengangguk dan berjalan keluar lalu pergi.
Dimas dan keluarga nya masuk ke rumah dan berunding mencari laki-laki yang mirip dengan Dimas.
...
Sudah sebulan mereka mencari pemilik rumah sebelumnya.
Dan itu membuahkan hasil yang memuaskan.
Mereka mendapatkan berita terakhir pemilik rumah ini.
Pemilik rumah ini sedang berada di rumah sakit jiwa di selatan kota.
Laki-laki yang mirip dengan Dimas itu menderita kelainan Jiwa karena di hantui rasa bersalah kepada wanita itu.
Wanita Lukisan itu tak lagi mengganggu Dimas dan keluarga nya karena telah mengetahui kondisi laki-laki itu dari cerita si Nenek yang setiap hari mereka bercerita karena si nenek yang mempunyai indra keenam.
***
END
__ADS_1