![ANTOLOGI CERPEN [HORROR] !](https://asset.asean.biz.id/antologi-cerpen--horror---.webp)
17 JUNI 2020
KOTAPINANG, SUMATERA UTARA
Sudah lebih dari sebulan aku tak bertemu dengan Lina. Kemana aja dia, menghilang tanpa kabar dan berita.
Pagi ini aku berniat mengunjungi nya di rumah nya. Mungkin saja dia lagi sakit dan tak bisa mengabari ku.
Aku bersiap dan berjalan menuju rumahnya. Jarak antara rumah ku dan rumah Lina hanya beberapa meter dan di pisahin oleh beberapa blok.
Suasana rumah Lina sangat menyeramkan, aku mendekat ke pagar rumah dan mencoba membuka kuncinya.
Mudah sekali, gerbang itu terbuka dan aku langsung masuk ke dalam lalu mencoba mengetuk pintu rumah Lina.
Tak ada sahutan dari dalam rumah, bahkan tanda-tanda ada atau tidaknya orang di rumah itu tak ada.
"Apa Lina pergi liburan? Tapi kenapa dia gak ngabarin aku?" Ucap ku menduga-duga.
Sudah sepuluh menit aku mengetuk dan berdiri di Luar rumah Lina. Bahkan ketika aku sampai di blok perumahan ini, aku tak melihat satu orang pun di sini.
"kemana perginya semua orang," Batin ku sambil melihat ke sekeliling ruamh Lina.
Mungkin aja ada seseorang yang bisa aku ajak bicara atau aku tanya tentang Lina.
Dan Ya!!
Ini keberuntungan ku, ada seorang lelaki yang tampaknya berjalan terburu-buru di depan sana.
Aku mengejarnya dan memanggil nya mencoba menghentikan langkah panjangnya.
"MAS," Teriak ku memanggilnya.
Dia mungkin merasa terpanggil karena teriakan ku, lelaki itu menghentikan langkahnya dan berbalik mencari orang yang memanggil nya.
Aku berlari menghampiri nya dan berhenti tepat di depan nya. Aku menarik napas lalu mengeluarkan nya guna menetralkan napas ku.
Dapat ku lihat kalau Lelaki itu menaikkan alisnya sebelah menatap ku bingung.
"Mas mau tanya dong, Mas tinggal di blok ini kan?" Tanya ku kepada Lelaki itu di angguki dia.
"Iya, ada apa ya mbak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Lelaki itu sambil melihat ke sekeliling seolah memastikan sesuatu.
Aku pun ikut melihat ke sekeliling, tak ada siapapun di sini selain kami berdua.
Tapi aku merasa aneh, aku merasa ada seseorang bahkan lebih yang sedang menatap kami dari jauh.
"Em maaf mbak,saya buru-buru. Saya permisi dulu mbak," ucap lelaki itu terburu-buru.
Dapat ku dengar ada nada panik dalam perkataannya, juga mengapa ia harus berlari kalau hanya ingin masuk kedalam rumah.
"Padahal aku belum bertanya. Apakah wajah ku seseram itu?" Tanya ku pada diri ku sambil mengeluarkan ponsel untuk berkaca.
"Tak ada yang aneh pada wajah ku, tapi mengapa Mas tadi pergi ketakutan ya?" Tanya ku berkata pelan.
__ADS_1
Tak ingin memikirkan hal lain, aku mengangkat kedua bahu ku dan kembali ke rumah Lina dan mengetuk rumah itu lagi.
Karena bosan menunggunya, aku memutuskan mencoba membuka pintu rumah Lina.
Pintu nya terbuka karena tak terkunci.
"Bagaimana Lina bisa membiarkan rumahnya tak terkunci, kalau ada penjahat yang masuk bagaimana," Batin ku merutuki kebodohan Lina yang satu ini.
Aku berjalan memasuki rumah dan mencari Lina memanggil nama nya.
Rumah Lina sepi tak ada penghuninya, bahkan aku yang berteriak memanggil namanya tak ada sahutan.
Suara panggilan ku menggema di rumah Lina karena rumah ini yang kosong dan mulai berdebu.
Aku berjalan menyusuri rumah Lina, mulai dari teras depan, dapur bahkan sampai ke garasi mobil.
Tapi tak ada satu pun orang yang muncul saat ku panggil. Hanya ada satu ruangan belum ku periksa, kamar Lina.
Aku memutuskan untuk memeriksa kamar Lina, mungkin saja ia meninggalkan surat atau pesan di kamar nya.
Suara hentakan kaki ku terdengar menggema di dalam rumah. Sedikit menakutkan menurutku, berada di rumah teman seorang diri tanpa ada orang lain.
Belum lagi suasana yang tercipta dengan sendirinya, sangat berbeda dari biasanya. Biasanya kalau aku main ke rumah Lina, suasana yang hangat juga ceria yang menyambut ku. Tapi kini berbeda, hanya suasana mencekam yang menyambut.
Aku mengetuk pintu kamar Lina dengan pelan takut menganggu, mungkin saja Lina sedang tidur.
Tak ada sahutan juga, aku mengetuk lagi pintu kamar Lina kali ini sedikit keras.
Masih sama tak ada sahutan. Rasa tak sabar ku kambuh kali ini, aku membuka pintu kamar Lina dengan pelan.
Hanya kata itu yang bisa aku pikirkan saat ini untuk mewakili apa yang aku lihat. Tak ada satu pun cahaya yang dapat masuk ke dalam kamar karena seluruh jendela di tutup dengan besi.
Aku sedikit mengerutkan dahi ku merasa aneh juga bingung. "Bukan kah Lina tak suka gelap pada kamarnya, tapi mengapa sekarang hanya ada gelap. Dan sejak kapan pula semua jendela ini tertutup besi," Batin ku.
Aku mencoba menghidupkan lampu kamar Lina. Lampu nya menyala dan aku bisa melihat seluruh ruangan ini.
Berantakan, banyak barang yang berserakan di lantai. Kaca juga guci serta cermin kesayangan milik Lina hancur berserakan di lantai.
Bahkan ada tetesan darah di tempat tidur juga ada genangan darah yang telah mengering di lantai.
Aku berjalan menuju tempat tidur dan mengambil Ponsel milik Lina yang tergeletak di kasur.
Aku membuka ponsel itu dan melihat riwayat akhir Lina membuka ponselnya. Ada sebuah video di mana Lina sedang membuat video untuk koleksi make up miliknya.
Tapi ada yang mengganjal di video itu, karena saat Lina akan menutup video nya ada sekumpulan orang berbaju hitam yang masuk ke kamar nya dan menarik rambut nya dengan paksa.
Ponsel itu terjatuh dan beruntungnya ponsel itu mengarah ke-kejadian yang mengerikan yang pernah ku lihat.
Orang-orang berbaju hitam itu mengikat Lina di kursi belajarnya dan memukul nya. Mereka seolah ingin membunuh Lina dengan perlahan.
Mereka memotong rambut panjang Lina dan memaksa nya untuk memakannya. Salah satu dari mereka ada yang mengiris pipi Lina dan tertawa senang.
Itu belum berakhir!
__ADS_1
Mereka bahkan mematakan Jari-jemari Lina dan membuat teriakan Lina menggema. " Mengapa tak ada seorang pun yang mendengar teriakan Lina," Batin ku menjerit tak kuat mendengar teriakan pilu Lina.
Air mata ku menetes saat mereka dengan senangnya menusuk perut Lina menggunakan pisau putih.
Mereka mengoyak perut Lina tapi tak membiarkan Lina meninggal. Mereka melakukan itu dengan tawa yang menggema di kamar ini.
Psikopat
Kata itu melintas dengan sendirinya di pikiran ku melihat Perilaku mereka di video ini.
"Aku harus cepat melapor ke polisi," Ucap Ku pelan sambil mengusap air mata yang menetes.
Aku terus melihat video itu sampai orang-orang berbaju hitam itu pergi setelah menyimpan tubuh tak berdaya Lina di lemari buku nya.
HELL NO!!
Lemari buku, itu lemari yang kecil. Bagaimana mereka memasukkan Lina ke sana, mungkinkah mereka melipat tubuh Lina?
Tidak, aku tak ingin berpikir sejauh itu.
Aku berjalan menuju lemari buku Lina dan membuka nya. Spontan aku menutup mulutku tak percaya, air mata mulai keluar dari mata ku melihat apa yang ada di depan ku ini.
Tubuh Lina membusuk dengan banyaknya goresan juga potongan di setiap tubuhnya. Bajunya yang berlumur darah juga kepala nya yang mengeluarkan darah dengan begitu banyak.
Aku gak kuat melihat ini, aku langsung berlari keluar rumah untuk meminta bantuan.
Aku dapat mendengar banyaknya langkah kaki yang memasuki rumah ini dari pintu kamar Lina.
Aku panik saat melihat bayangan orang-orang berbaju hitam itu yang datang.
Sekelebat bayangan yang menyerupai sosok Lina melayang ke arah ku. Itu hantu Lina!!
Lina seolah ingin berkata kepada ku tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tangan nya bergerak seolah ingin menarik ku keluar dari rumah ini.
"Pergi atau Lo yang akan jadi korban selanjutnya!!" Seru Lina tanpa suara yang bisa ku baca.
Aku mengangguk dan tersenyum pedih diiringi air mata yang semakin deras keluar melihat sosok Lina yang penuh dengan darah.
Aku berlari menuju belakang dan berniat kabur dari belakang. Tapi ternyata orang-orang berbaju hitam itu lebih pintar dari pada yang ku pikirkan.
Ada sebagian dari mereka yang menunggu di pintu belakang. Langkah ku terhenti melihat mereka yang semakin mendekat.
"Sekarang giliran mu yang akan menyusul dia," ucap salah satu dari mereka.
Mereka semakin banyak dan mendekat.
"Nantikan lah kematian mu!!" Seru salah satu dari mereka.
Mereka menarik rambut ku dan menyeretku ke dalam kamar Lina.
Pandangan ku semakin gelap dan aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tapi satu hal yang ku tahu, aku akan pergi menyusul Lina juga kedua orang tua ku.
***
__ADS_1
END