ANTOLOGI CERPEN [HORROR] !

ANTOLOGI CERPEN [HORROR] !
GADIS GAUN MERAH


__ADS_3

11 JUNI 2020


KOTAPINANG, SUMATERA UTARA


Bukan hanya sekali ataupun dua kali ia melihat gadis bergaun merah itu di bawah pohon itu.


Setiap malam gadis bergaun merah itu duduk di bawah pohon jambu di seberang sana.


Malam ini Aldi memutuskan untuk menghampiri gadis itu.


Aldi berjalan pelan menghampiri gadis itu. Setelah jarak mereka yang lumayan dekat Andi berhenti di belakang nya.


Gadis itu berdiri dan berbalik melihat ke Andi. Mata sendu gadis itu bertabrakan dengan mata tajam Andi.


Andi terkejut melihat wajah gadis gaun merah itu. Wajah itu hitam seperti habis terbakar dengan kulit yang melepuh dan terkelupas.


Andi berjalan mendekat walaupun dirinya takut.


Aldi memutuskan duduk di bangku yang tadi gadis itu duduki. Gadis itu melihat Aldi terus dengan mata yang tajam.


"Kau tidak takut pada ku?" Tanya gadis itu dengan nada berat.


Aldi menggeleng mencoba membuang rasa takut nya.


"Jangan berbohong. Aku yakin kau takut pada ku karena wajah ku yang hitam, bukan?" Tanya gadis itu kepada Aldi.


Gadis itu duduk di dekat Aldi dan menatap Aldi dalam.


"Mengapa kau ke sini? Apa aku mengganggu mu?" Tanya gadis itu menatap Aldi bingung.


"Aku penasaran dengan mu, mengapa kau selalu ada di sini setiap matahari tenggelam. Apakah kau tak punya rumah?" Tanya Aldi mengungkapkan isi hati nya.


Gadis diam menatap Aldi, kemudian membuang muka menatap rumah yang ada di depannya.


"Aku tinggal di sini, dan itu rumah ku," ucap Gadis itu menunjuk rumah yang ada di depan mereka.


Aldi melihat arah yang di tunjuk gadis itu, "rumah kosong itu?" Batin Aldi bingung.


Gadis itu yang melihat Aldi mengejutkan keningnya mengerti.


"Aku sudah meninggal," ucap gadis itu menatap rumah itu.


Aldi menatap gadis itu bingung dan tak percaya.


"Aku sudah meninggal. Kami semua meninggal karena terbakar di rumah itu. Waktu itu kami mengadakan acara syukuran. Tak ada satu pun dari kami yang sadar kalau seluruh pintu juga jendela sudah terkunci, kami juga gak ada yang mencium bau minyak yang menyengat," ucap gadis itu sambil menatap masa lalu.


Aldi mendengarkan cerita gadis itu dalam diam melihat ke rumah kosong itu.

__ADS_1


Seolah kembali ke masa lalu, Aldi dapat melihat bagaimana kejadian demi kejadian itu terjadi.


"Saat api mulai membakar seluruh rumah kami sadar dan panik. Kami semua mencoba mencari jalan keluar, tapi tak ada jalan bagi kami untuk keluar. Kami pasrah, satu persatu dari kami semua mulai pingsan karena terlalu banyak menghirup asap," ucap gadis itu melanjutkan ceritanya.


Mereka saling diam, tak ada satu pun yang berniat berbicara.


"Kami meninggal karena terlalu banyak menghirup asap. Tak ada seorang pun yang datang saat itu untuk membantu kami, padahal kebakaran yang terjadi dulu sangat lah besar," ucap gadis itu setelah diam.


"Kalau kamu bertanya mengapa aku memakai baju merah, itu karena saat peristiwa itu terjadi aku memakai baju ini. Baju ini merupakan baju kesayangan ku," ucap gadis itu menjelaskan perihal baju nya.


Aldi mengangguk mengerti mendengar cerita gadis gaun merah itu.


"Kenapa kamu di sini? Bukankah seharusnya kamu sudah ada di alam mu?" Tanya Aldi menatap gadis itu.


Gadis itu menatap Aldi, pandangan mata nya tak setajam tadi sekarang meredup sayu.


"Aku belum bisa kembali ke sana, aku kehilangan barang milik ku. Apakah kamu bisa membantu ku?" Ucap gadis itu meminta bantuan Aldi.


Aldi nampak berpikir menatap rumput di bawah.


"Apa barang yang hilang dari diri mu? di mana barang itu terakhir kali kamu letakkan?" Tanya Aldi mencoba mempertimbangkan.


"Aku kehilangan cincin pemberian ayah. Aku memakainya setiap hari bahkan sampai kebakaran itu terjadi," ucap gadis itu mengingat cincin miliknya.


Aldi mengangguk dan tersenyum setuju.


"Aku bisa membantu mu, tapi kau harus membantu ku juga dalam mencari nya. Aku tak tahu pasti tentang rumah itu," ucap Aldi menunjuk rumah itu.


"Udah malam banget, aku masuk dulu yah," ucap Aldi berpamitan kepada gadis itu.


Gadis itu mengangguk dan tersenyum walaupun wajahnya hitam tak bisa di pungkiri kalau gadis itu cantik.


"Terima kasih telah menemani juga mendengarkan ku, terima kasih kamu mau berbicara kepada ku, terima kasih juga kamu mau menolong ku," ucap gadis itu memandang Aldi berkaca-kaca.


Selama dia duduk di bawah pohon ini, belum ada seorang pun yang datang untuk menghampiri nya.


Dia pernah mencoba meminta tolong kepada Mereka yang melihat nya tapi bukannya menolong mereka malah lari ketakutan melihat wajahnya yang hitam. Itu membuatnya sedih.


"Jangan berterima kasih, bukan kah kita semua harus saling tolong menolong walaupun berbeda alam," ucap Aldi menolak ucapan terima kasih gadis itu.


"Aku permisi dulu yah, dah.." ucap Aldi melambaikan tangannya dan berjalan menuju rumah nya.


Gadis itu melihat kepergian Aldi dengan senyum manisnya, perlahan dia menghilang.


....


Siang ini Aldi memutuskan mencari cincin milik gadis merah itu.

__ADS_1


Aldi berjalan ke rumah yang sudah terbakar itu, hanya tersisa tembok saja yang berdiri di sana.


Aldi berjalan mencari cincin itu, sudah seluruh ruang dia mencari cincin itu.


"Mungkin saja tertimbun bangunan ini," Batin Aldi mencoba membongkar bangunan itu.


Aldi memutuskan beristirahat dulu lalu melanjukan pencarian nya.


Gadis gaun merah itu muncul dan membuat Aldi terkejut.


"Udah ketemu?" Tanya gadis itu penuh harap.


Aldi menggeleng tak memandang gadis itu, ia tak kuat melihat pandangan sendu gadis merah itu.


"Sewaktu kebakaran itu terjadi, kamu ada di mana?" Tanya Aldi mencoba mencari tahu.


Gadis itu tampak berpikir mencoba mengingat kembali.


"Terakhir kali yang aku ingat saat kejadian itu aku ada di ruang keluarga bersama yang lainnya. Tapi aku ada di dekat pintu kamar," ucap gadis itu menatap Aldi.


Aldi mengangguk dan berjalan mengajak gadis itu ke rumah itu.


"Ayo kita cari bersama, " ucap Aldi kepada gadis itu.


Gadis itu tersenyum dan mengangguk lalu menyusul Aldi yang ada di depannya.


....


"Ketemu..," ucap Aldi mengangkat tinggi cincin milik gadis itu.


Cincin itu sudah berkarat karena terkena hujan dan terletak di tempat lembab pula.


Aldi memberikan cincin itu kepada gadis itu dengan senyum bangga.


Gadis itu menerima cincin itu dan memakaikan nya ke jari nya. Senyum nya terbit melihat cincin pemberian ayah nya kembali ke jari nya.


"Terima kasih ya, kamu baik banget," ucap gadis itu menatap Aldi senang.


Aldi mengangguk dan tersenyum.


"Gue seneng banget bisa kenal Lo, mulai sekarang kita temen oke," ucap Aldi kepada gadis itu.


Gadis itu tersenyum mendengar perkataan Aldi yang ingin berteman dengan nya.


Mereka berteman mulai saat itu, melindungi satu sama lain dan membantu sama lain pula.


Teman beda Alam.

__ADS_1


***


END


__ADS_2