![ANTOLOGI CERPEN [HORROR] !](https://asset.asean.biz.id/antologi-cerpen--horror---.webp)
CERITA SATU
RUMAH TERLARANG
Hari mulai malam dan hujan akan segera turun. Aku mulai berjalan dengan putus asa dan rasa ketakutan yang mulai menjalar di tubuhku, ketika aku sadar aku sedang tersesat sendirian dan tidak dapat menemukan camp perkemahan.
Aku terus berjalan menyusuri hutan dengan memegangi senterku erat-erat. Tak lama kemudian, aku melihat sebuah rumah yang terbilang cukup mewah di depanku.
Aku menghampiri rumah itu dengan ketakutan luar biasa yang mulai menjalari tubuhku ini.
Saat mulai memasuki rumah ini, senter yang kupegang tiba-tiba padam dan pelita di atas meja menyala dengan sendirinya.
Aku menelan ludahku sendiri, sambil mencoba tetap tegar.
Aku menyusuru seluruh isi rumah ini. Di ruang tamu aku dapat melihat dinding yang dihiasi foto-foto lama hitam putih yang kusam dan tertutup debu.
Tiba-tiba aku melihat sesosok wanita tua yang memakai pakaian gaya tahun 1970 an yang wajahnya tidak terlihat karena gelap.
Aku bersyukur karena ternyata rumah ini berpenghuni. Namun saat itu juga tiba-tiba mataku terasa sangat perih dan gatal. Saat aku mengedipkan mataku, sosok wanita itu tak terlihat lagi.
Waktu sudah tengah malam, hujan semakin lebat. Aku duduk di kursi sekeliling meja panjang sambil memandang salah satu foto wanita belanda.
Aku melihat di foto tersebut terdapat tulisan-tulisan di bawahnya. “nyonya Nany Arabele, meninggal 5 Januari 1978 karena racun”.
“Astaga!! Berarti wanita itu bukan manusia!!”.
Jantungku seakan berhenti berdetak dan nafasku seakan berhenti. Aku langsung bangkit dari kursi dan berlari sekencang mungkin.
Aku berlari keluar tanpa mempedulikan di luar hujan. Sekilas aku mendengar suara bisikan “kau harus mati, kau harus mati.”
Aku langsung mempercepat lariku. Wanita itu melayang-layang di belakangku sambil tertawa seram.
Aku berlari ratusan meter jauhnya dari rumah tersebut. Hantu itu sudah tidak terlihat lagi.
Aku terpaksa berjalan tanpa istirahat di tengah hujan yang kian deras. Aku berjalan cukup jauh hingga aku melihat sebuah perkampungan di luar hutan ini.
Aku senang ini semua akan berakhir, namun saat aku hendak melangkahkan kakiku keluar, tubuhku tidak dapat bergerak lagi.
Darah merembes keluar dari dadaku. Aku kembali mendengar bisikan itu lagi “mati, kau akan mati” yang segera disusul tawa itu lagi.
*****
END
__ADS_1
CERITA 2
HOTEL KUTUKAN
Hai, perkenalkan namaku Fajar Setiawan, biasa dipanggil Wawan. Hari ini aku dan teman teman kelas 12 akan pergi untuk perpisahan. Kami berencana pergi ke pantai. Saat ini kami sudah ada di hotel terdekat dengan pantai yang kami tuju. Aku segera memesan kamar hotel untukku dan dua sahabatku.
“Ndi, kita dapat kamar no 1314 nih, yang paling ujung itu lho.” Kataku pada sohib-sohibku itu
Oh iya, aku lupa memperkenalkan best friendsku itu ya. Yang pertama adalah Andi, dia yang paling kuat dan pemberani. Ada juga Fadil, dia adalah yang paling kurus dan penakut diantara kami bertiga.
Kami langsung menuju ke kamar kami. Namun tiba-tiba saat kami sudah mencapai kamar kami, aku melihat sekelebat bayangan hitam masuk ke kamar kami.
“Wah, apaan itu tadi Wan.” Kata Fadil pada ku.
“Ah, mana, ga ada apa-apa kok Dil.” Balasku berpura-pura tegar.
Sebenarnya aku juga takut, tapi apa daya, kamar ini adalah kamar terakhir.
“Udah ah, ayo masuk.” Ajak Andi pada kami berdua.
Andi membuka kunci kamar yang agaknya seperti sulit sekali untuk dibuka.
“Lho, kok ga bisa gini sih.” Kata Andi kaget.
“Eh, kok kayak ada bau ga enak gini ya.” Kata Andi padaku.
“Iya ya Ndi, kok baunya kayak bangkai.” Seruku.
Tak lama kemudian, Fadil sudah membawa seorang petugas hotel kemari.
“Mana dik, bisa gini.” Seru petugas hotel yang membuka kunci dengan mudah nya.
“Tapi bener kok tadi ga bisa kebuka.” Bantah ku dan Andi bersamaan.
Malamnya…
“Guys, gue mandi dulu ya.” Seru Fadil.
“Iya noh, mandi aja, bau nih.” Candaku yang serentak membuat kami tertawa.
Nah, tinggalah kami berdua di ruangan ini. “Eh, gue bawa kartu, main yuk.” Kataku pada Andi.
“Yah, lu ga bilang dari tadi.” Seru Andi.
__ADS_1
Aku pergi mengambil kartu di tasku.
“Nih ketemu Ndi.” Seruku menunjukan kartuku pada Andi.
“Oke, bawa sini.” Balas Andi.
Kami bermain cukup lama. Satu jam telah berlalu, kami mulai tidak enak ditambah lampu yang mulai mati berkedip.
“Eh, dari tadi si Fadil kok ga ada suaranya ya.” Kataku pada Andi
“Iya, ya gue juga baru sadar.
Tiba-tiba, lampu mati seketika dan terdengar teriakan dimana-mana terlebih teriakan Fadil dari kamar mandi.
Aku dan Andi berlari mendekati kamar mandi sambil terus mengetok.
“Dil, lu kenapa Dil, jawab Dil seru ku khawatir. Tanpa buang kata, Andi langsung mendobrak pintu kamar mandi.
“Akhhhh.” Teriakku memecah suasana.
Kami menemukan Fadil tergeletak tak bernyawa.
“Ndi lihat Ndi, cepet lari Ndi.” Seruku berlari ke arah pintu.
Pintu terbuka dan pemandangan di luar kamar benar-benar lebih mengerikan. Banyak mayat teman-teman dan guru maupun petugas hotel bergelimpangan.
Aku dan Andi berlari secepat mungkin ke arah lantai bawah.
Namun tiba-tiba aku dan Andi dikejutkan dengan sekelebat bayangan yang lewat menghadang jalan ke bawah.
Sosok itu mulai terlihat, dan menampakan wujudnya.
Wajahnya yang berlumur darah itu membuat kesan menyeramkan semakin dalam lagi.
“Kalian, harus mati, mati!!.” Kata itu berulang kali kami dengar. Lama-kelamaan pun pandanganku makin gelap.
“Tidak, tidak, kenapa, kenapa.” Aku melihat seluruh ruangan begitu gelap. Andi juga sudah tergeletak tak berdaya bersimbah darah.
“Jangannnnnnn.”
****
END
__ADS_1