![ANTOLOGI CERPEN [HORROR] !](https://asset.asean.biz.id/antologi-cerpen--horror---.webp)
Cerita ini terjadi saat aku masih SMP kelas Delapan. Masih terlalu dini dan menakutkan bagi anak-anak seperti ku
Saat itu aku memiliki sahabat seperti saudara, kami selalu bersama dimana pun bahkan tak jarang kami saling berkunjung.
Aku Nina, Dan temanku ini Nana. Hampir mirip bukan nama kami.
Ya, banyak orang yang menganggap kami ini kembar ketika mendengar nama kami padahal tidak.
Malam ini aku menginap di rumah Nana, karena ayah dan ibu yang melakukan perjalanan keluar kota.
Ayah Nana seorang pengacara yang membuat Nana selalu di tinggal sendiri.
Tak ada yang aneh di sini, sama saja seperti hari lainnya. Namun sore ini aku merasa aneh di rumah ini, seolah ada perasaan asing namun hanya aku yang merasakannya.
Ketika aku memberitahu Nana akan apa yang kurasakan, dia berkata kalau aku hanya tidak enak badan sehingga merasa aneh-aneh.
Sore berganti dengan malam, memang tak ada yang menggangu ku tapi perasaan tak enak itu masih ada di hati ku.
Aku baru bisa tidur sekitar jam dua pagi. Suasana pagi itu sangat hening, bahkan tak ada suara nyamuk juga cicak yang terdengar.
Aku mulai hanyut dalam tidurku, namun aku mulai terbangun lagi dan rasanya tubuhku kaku.
Jika kalian tahu ketindihan atau Sleep paralysis , dimana tubuh terasa kaku dan tak bisa di gerakkan.
__ADS_1
Posisi ku saat itu membelakangi Nana dan menghadap ke jendela besarnya. Kami saat ini tidur di ruang keluarga.
Lampunya di padamkan dan pencahayaan hanya berasal dari luar. Aku terus menatap jendela besar itu, karena sesuatu yang aneh menganggu pandangan ku.
Seperti rambut terurai panjang dan kusut merayap dari atas. Rambut itu merayap dari atas dan terus turun kebawah.
Aku berusaha keras untuk menggerakkan tubuh ku, namun percuma saja.
Mata ku mulai terasa perih dan anehnya tak bisa tertutup.
Aku sadar saat ini aku tidak mimpi. Rambut itu membentuk tubuh yang utuh.
Penampakan nya seperti wanita tua yang tubuh nya agak bungkuk. Tubuh itu menyamping di hadapan meja tinggi yang biasa menjadi tempat pajangan Nana
Sangat mengerikan, tangannya seolah mencakar meja itu pelan.
"Kreeet...Kreeet...Kreeet..."
Rambut wanita itu sangat panjang hingga menyentuh lantai. Bajunya yang berwarna hitam menambah kesan menyeramkan.
Wajahnya tak bisa ku lihat.. Tapi aku yakin kalau wanita tua itu sangat menyeramkan.
Nafasku mulai sesak, saat pergerakan wanita itu. Tubuhku akhirnya bisa kembali bergerak normal.
__ADS_1
Wanita itu kini terlihat merayap ke atas dan menghilang. Aku menghela nafas lega.
Tapi itu tak lama, aku dapat merasakan kalau rambut ku terasa di tarik ke atas dengan kuat.
Aku menutup mata untuk mencoba mengurangi rasa sakit itu. Namun aku tak melihat apapun itu yang menarik rambutku.
Aku meronta sekuat tenaga hingga aku merasa kalau tubuh ku terhempas kuat dan aku membuka mata ku.
Nana memanggil nama ku berkali-kali. Ia berkata kalau aku sedang bermimpi dan seperti orang kejang-kejang.
Namun aku tak yakin. Aku merasa kalau itu nyata. Terbukti dari banyaknya rambut milikku yang rontok di sekeliling ku.
Kulit kepala ku pun masih terasa sakit. Aku tak berani bercerita kepada Nana maupun keluarga nya.
Karena aku tahu wanita tua itu tinggal di depan rumah mereka. Ia masih kerabat dekat Nana.
Nana biasa memanggilnya uwak, ia belum terlalu tua. Tapi entah mengapa wajahnya terlihat menakutkan.
Apalagi saat ia menatap ku dengan sangat tajam. Seolah-olah ia tahu jika ia pernah bertemu dengan ku dalam wujud sosok lain.
****
END
__ADS_1