ANTOLOGI CERPEN [HORROR] !

ANTOLOGI CERPEN [HORROR] !
MISTERI KAMPUNG HOROR


__ADS_3

Malam itu Roni, Andy, Rahmat, dan Amat terpaksa harus pergi ke sebuah kampung, yang terletak di daerah perbukitan untuk mengambil sebuah handphone yang tertinggal. Kampung itu bernama kampung Apit, dan bukit tersebut sekarang bernama Bukit Nescafe.


Handphone yang ternyata tertinggal itu bukan milik salah satu dari keempat lelaki itu, melainkan milik seorang guru di sekolah mereka.


Awalnya, seorang guru di sekolah mereka meminta bantuan untuk membawakan handphone tersebut ke tukang service. Namun setelah jadi, ternyata tukang service tersebut sedang tutup.


Keempat lelaki itu memang sangat dekat dengan tukang service handphone itu, karena itulah mereka tahu harus mencarinya ke mana jika counternya sedang tutup.


Rajib nama tukang service itu. Sebenarnya rumah Rajib ada di kota Mataram, namun kempung Apit adalah rumah istri Rajib.


Dan setiap hari minggu Rajib pasti meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah mertuanya, kemudian menginap untuk satu malam. Walaupun terkesan horor, namun keempat lelaki itu tetap bersikeras untuk pergi.


Menurut cerita warga sekitar, bukit tersebut terkenal sangat angker dan dihidupi oleh berbagai macam makhluk halus.


Warga-warga sekitar desa pun tidak menyarankan siapa pun untuk berkunjung pada malam hari, karena banyak orang yang sudah melakukannya, kemudian tidak pernah kembali.


“Wih! Gelap banget, Coy,” gerutu Roni sambil terus melajukan sepeda motornya.


“Udah! Jalan aja terus!” sambut Andy sewot, yang pada saat itu dibonceng oleh Andy.


Sementara itu, 2 lainnya berada di belakang membuntuti Andy. Seperti apa yang telah diisukan bahwa jalanan di sekitar Bukit Nescafe tidak begitu mulus.


Bisa dibilang sangat hancur. Bahkan, listrik-listrik dan lampu belum masuk ke Bukit Nescafe. Oleh karena itu, keempat lelaki itu harus terpaksa mengandalkan lampu pada sepeda motor mereka.


“Masih jauh nggak, sih, jalannya?!” tanya Rahmat sedikit kesal karena melalui jalan yang rusak.


“Masih jauh, Bro,” jawab Amat yang pada saat itu dibonceng oleh Rahmat.


Karena melewati jalanan berkrikil dan terdapat jurang di samping kiri dan kanan mereka, kedua lelaki yang sedang mengendarai itu harus ekstra hati-hati agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Namun, tiba-tiba saja sepda motor yang sedang dikendarai oleh Rahmat mati seketika.


“Loh, kok mati?!” pekik Rahmat terpancing panik. Kemudian, dengan segera ia mengerem dan berhenti sejenak.


Rahmat dan Amat tampak begitu kebingungan. Mereka berdua berusaha menghidupkan kembali sepeda motor tersebut.



“Stop, Ron!” perintah Andy tiba-tiba pada Roni.


“Kenapa, Ndy?” tanya Roni bingung, namun terus melajukan sepeda motornya.


“Aku bilang stop!”


“Ada apa, sih?!” tanya Roni kesal sambil menghentikan kendaraannya.


“Rahmat nggak ada di belakang, Ron. Liat, tuh! Sepi,” ujar Andy tampak ketakutan sambil mengawasi jalanan di belakangnya.


“Loh, iya! Ke mana mereka?” Roni pun akhirnya tersadar bahwa Rahmat dan Amat memang tidak ada di belakang.


“Coba telpon, Ron!”


“Coba kamu aja. Aku nggak ada pulsa, nih.” Akhirnya, Andy terpaksa mengeluarkan handphone miliknya dari saku celana. Namun setelah ternyata menekan salah satu tombol, “Aduh! Nggak ada sinyal, Ron!”


“Masa’, sih?” Roni tampak tak percaya.


“Coba sini lihat!” lanjutnya seraya mengambil handphone milik Andy.


“Waduh! Benar juga. Gimana, dong?”


Kedua lelaki itu pun mulai panik dan takut. Bagaimana tidak takut? Di tempat itu, tak ada satu pun orang yang bisa dimintai bantuan. Sudah gelap, sepi lagi. Pasti banyak hantunya, nih. Pikir Roni sedikit gemetar.


Namun setelah beberapa saat kedua lelaki itu terdiam, suara sebuah sepeda motor terdengar semakin mendekat ke arah mereka.


“Ron! Dengar, nggak?” tanya Andy sambil terus fokus mendengar suara tersebut.


“Apaan?” tanya Roni bingung.


“Ada suara motor. Itu pasti Rahmat sama si Amat,” tebaknya.


“Iya juga. Mudahan benar,” kata Roni penuh harap.


Dan ternyata benar, bahwa suara mesin sepeda motor yang tadi didengar oleh Roni dan Andy adalah milik Rahmat. Rahmat yang tengah melihat si Andy dan Roni, lantas berhenti dan menghampiri keduanya.


“Kenapa berhenti?” tanya Rahmat tanpa mematikan mesin sepeda motornya.


“Lama banget kalian. Kalian habis ngapain, sih?” tanya Roni sewot.


“Sory sory. Tadi motor ane mati, Bro,” ucap Rahmat sambil cengar-cengir.


“Ya sudah. Yuk, jalan!” ajak Roni.


Keempat lelaki itu pun melanjutkan perjalanan mereka menuju kampung Apit yang masih 4 kilometer jauhnya.


Jarak, gelap, dan jalanan berkrikil itu tidak membuat keempat lelaki itu menyerah. Demi sebuah handphone, mereka rela melawan rasa takut. Itu karena mereka memang harus bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.


Setelah akhirnya mengendarai entah berapa lama, dan melewati jalanan berkrikil, keempat lelaki itu sampai di sebuah perkampungan.


Di sana memang tidak terdapat banyak rumah, karena berada di daerah pedalaman. Desa tersebut sangat sepi dan menyeramkan. Bahkan, rumah-rumah di sana tidak memiliki lampu satu pun.


Karena melihat jalan buntu, akhirnya keempat lelaki itu berhenti sejenak di bawah sebuah pohon besar. Dan, kebetulan juga ada sebuah rumah sederhana di sana.


“Wah! Kok, sepi,” kata Andy sambil pandangannya mengitari seluruh desa.


“Gini aja. Salah satu tunggu di sini buat jaga motor. Andy, Rahmat sama saya, pergi ke rumah itu minjam senter. Gimana?” usul Amat tampak serius.


“Wah, jangan, dong. Berarti aku sendirian di sini? Nggak berani aku, Mat,” protes Roni dengan wajah takutnya.


“Penakut banget, sih! Rumahnya ada di situ. Cuma beberapa meter dari sini. Sudah, tunggu saja!” paksa Amat pada si Roni.


Karena tidak bisa menolak, akhirnya Roni terpaksa harus berjaga seorang diri di bawah pohon besar yang tampak mengerikan itu.


Ya, Allah. Selametin hamba. Jangan sampe ada yang aneh-aneh menghampiri. Batin Roni dalam hati, namun mulutnya komat-kamit sambil melafalkan doa-doa.


“Rrrrgggggghhhhh!!!”

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar desisan entah apa itu di sebuah semak yang dekat dengan pohon dimana Roni sedang tertegun bersama rasa takutnya. Untuk beberapa kali, desisan itu terdengar lagi.


“Permisi… Permisi… Saya tidak mengganggu di sini. Maaf… Saya tidak mengganggu…,” celoteh Roni seorang diri. Namun, karena merasa rasa takutnya sudah sampai pada batasnya, Roni pun mencoba mencari ketiga sahabatnya.


Mereka ke mana, sih. Sudah tahu orang takut, masih aja ditinggal. Batin Roni sambil memperhatikan sekitar, mencoba mencari-cari ketiga temannya.


“Rrrrrggggghhhhh!!!”


Lagi-lagi desisan itu terdengar, namun kali ini lebih keras dari sebelumnya. Dan Roni semakin mempercepat langkah kakinya.


Tiba-tiba, “Aauuuuwww! Ampun… Ampun… Saya tidak salah. Ampun…,” pekik Roni seraya menjongkok, kemudian menutup mata.


“Wkwkwk,” Amat, Andy, serta Rahmat terkekeh karena melihat tingkah Roni yang begitu penakut.


Roni tersadar, kemudian menengok ke belakang. Dan yang ditemuinya, ketiga sahabatnya itu sedang terbahak-bahak.


“Sialan, kalian! Tega-teganya nakut-nakutin orang begitu. Kalau aku jantungan gimana?” protes Roni agak sewot.


“Makanya jadi laki itu jangan penakut!” kata Andy meledek sambil masih dengan tawanya. Roni pun segera berdiri dengan tampang kekesalannya.


Keempat lelaki itu pun segera melanjutkan perjalanan mereka. Menurut seorang warga, rumah Rajib sudah sangat dekat.


Akan tetapi, untuk sampai di rumah Rajib, mereka tidak bisa menggunakan sepeda motor, dikarenakan mereka harus melewati jalanan kecil dimana terdapat banyak sekali pepohonan di sekitar jalan.


Akhirnya, mereka terpaksa harus meninggalkan sepeda motor mereka di bawah pohon tadi. Pastinya, keamanannya sudah dijamin oleh warga tersebut.


Keempat lelaki itu terus berjalan melewati jalanan yang tampak sangat menyeramkan nan gelap. Andy berada di paling depan dengan membawa sebuah senter yang tadi dipinjamnya dari salah seorang warga di desa.


Diikuti oleh Rahmat, kemudian di belakang Rahmat ada Amat, dan yang terakhir ada Roni yang begitu penakut sambil berpegangan pada baju Amat.


“Ron! Kamu ngapain, sih?! Penakut banget. Lepasin bajuku, ah. Nanti sobek!” perintah Amat sedikit kesal karena tingkah Roni yang begitu penakut.


“Please! Sekali ini aja, Mat. Kamu, sih, nggak tahu rasanya jadi paling belakang. Kalau aku tiba-tiba ilang, gimana? Mau kamu tanggung jawab?”


“Ada-ada aja kamu. Mana ada hantu yang mau sama kamu. Hantu aja ogah, apalagi manusia.” Amat pun cekikikan.


“Kamu, tuh, kalau ngomong nggak bisa di…, aduh!”


“Kenapa, Ron?” tanya Amat. Bingung dengan ucapan Roni.


“Mat! Kamu ngelempar aku tadi, ya? Kena kepala aku, nih,” protes Roni tiba-tiba sambil menggaruk-garuk kepalanya.


“Ngelempar? Yang benar aja, Ron. Kamu kan lihat dari tadi aku jalan. Emang gimana caranya aku ngelempar kamu. Mestinya kamu lihat, dong,” jelas Amat.


“Eh! Kalian berdua ngapain, sih! Ribut banget, deh,” tegur Rahmat tampak kesal.


“Ini si Amat ngelempar aku pake batu tadi. Malah nggak mau ngaku dia,” jawab Roni masih menyalahkan Amat.


“Enak aja kamu nyalahin aku, Ron. Kalau nuduh kira-kira, dong. Jangan asal nuduh!” bantah Amat dengan nada suara yang meninggi.


Memang bukan hal yang baru. Amat dan Roni selalu bertengkar adu argumen di mana pun mereka berada.


“Sudah, sudah. Berhenti kalian berdua!” ujar Rahmat berusaha melerai.


Amat dan Roni pun akhirnya terdiam. Roni yang tadinya berpegangan pada baju Amat, kini sudah tidak lagi. Suasana canggung pun terjadi di antara Amat dan Roni. Kini, Roni sedikit menjauh dari Amat.


Sialan si Roni. Bikin emosiku naik aja. Pikir Amat tampak kesal.


“Rrrrrrggggghhhhhh!!!”


Tiba-tiba suara desisan itu terdengar lagi di telinga Roni. Kali ini lebih menyeramkan dari sebelumnya. Roni yang tengah mendengar suara tersebut pun lantas semakin mempercepat jalannya, kemudian menyalip Andy yang ada di barisan paling depan.


“Ron! Kalau kamu di belakang, kamu nggak bakal lihat apa-apa. Kan, aku yang pegang senter,” ujar Andy memperingatkan.


“Nggak peduli! Yang penting aku nggak di belakang! Ngeri tau. Apa kamu nggak dengar tadi kalau ada suara?” tanya Roni. Masih dengan tampang penakutnya.


Ia menatap sekitar jalan yang gelap gulita, serta menatap pohon-pohon yang tampak menyeramkan.


“Suara? Ngada-ngada kamu, Ron. Kalau takut bilang aja. Nggak usah pake alesan segala,” sambut Amat mulai memancing emosi.


“Emang aku peduli?! Kalau nggak percaya, silahkan nanti rasain sendiri!” kata Roni terpancing.


“Ngomong-ngomong, berapa lama lagi kita bakal sampai, Ndy?” tanya Amat pada Andy tanpa memedulikan ucapan Roni.


“Bentar lagi, kok. Kamu lihat cahaya kuning itu?” tanya Andy sambil menunjuk ke arah sebuah cahaya yang ternyata adalah lampu sebuah rumah.


“Iya, aku lihat. Itu tempatnya?”


“Iya, benar. Wih, lumayan, sih,” balas Amat.


Setelah percakapan itu berakhir, suasana tertelan keheningan untuk beberapa saat. Yang terdengar hanya langkah kaki keempat lelaki itu, beserta desir angin yang berhembus pelan sesekali.


Justru karena keheningan yang berlangsung itu, suasana di sekitar bertambah menyeramkan.


“Stop!” tiba-tiba Andy berhenti melangkah, kemudian Amat dan Rahmat pun ikut berhenti. Roni yang baru menyadari bahwa ketiga temannya berhenti, sontak menghadap ke belakang, kemudian berlari kecil dan berhenti tepat di hadapan Andy.


“Woi! Kalau berhenti bilang-bilang, kek,” protes Roni.


“Tadi udah, kok. Makanya aku suruh kamu di belakang.”


“Ngomong-ngomong, kenapa kita berhenti?” tanya Rahmat tampak kebingungan.


“Ssssstttt! Coba dengar! Ada suara cewek nangis,” kata Andy setengah berbisik.


“Ce-cewek nangis?!” kata Roni tiba-tiba dengan nada suara yang cukup tinggi.


“Hus!!! Kecilin suara, Ron,” perintah Andy pelan. “Coba dengar! Fokus!” lanjut Andy.


Kemudian keempat lelaki itu melakukan apa yang diperintahkan Andy. Mereka mencoba menangkap suara yang didengar oleh Andy. Seperti yang dikatakan Andy, suara seorang perempuan sedang menangis itu terdengar sangat menyeramkan.


“Iya benar ada suara tangisan!” seru Amat pelan.


“Terus kita harus gimana, dong?” tanya Rahmat bingung.


“Udah. Kita jalan aja. Jangan dengarin suara itu. Abaikan aja suaranya!” kata Andy mencoba tetap tenang.

__ADS_1


Namun, meskipun Andy sudah meminta mereka untuk mengabaikan suara menyeramkan tersebut, Roni tetap tak bisa tenang.


Justru, Roni kini menggandeng tangan Andy karena tak bisa melawan rasa takutnya.


“Ron! Ngapain, sih. Kalau takut jangan lebay, dong!” seru Andy sambil mencoba melepaskan gandengan tangannya dari Roni.


“Sekali aja, Ndy. Please! Aku takut banget. Sekaliiiii aja!” pintanya memelas.


“Ya udah, deh. Terserah kamu a…”


Secara tiba-tiba, Andy tak melanjutkan perkataannya. Begitu juga dengan ketiganya, mereka sontak terdiam. Kenapa? Suara tangisan perempuan itu tiba-tiba terdengar semakin mendekat.


Begitu cepat. Karena menyadari hal tersebut, keempat lelaki itu langsung berlari terbirit-birit tanpa memedulikan satu sama lain.


“Tunggu!” pekik Roni seraya berusaha mengejar ketiga sahabatnya. Ia sedikit tertinggal karena sempat terdiam beberapa saat.


Sial! Sial! Sial! Kenapa ini semua harus terjadi? Roni membatin kesal bercampur takut yang tak dapat dibendungnya.


Entah berapa lama mereka berlari, namun setitik cahaya yang mereka tuju tidak semakin dekat, melainkah semakin jauh dari pandangan mereka. Menyadari hal tersebut, mereka pun berhenti sejenak karena lelah.


“Capek!” keluh Roni sambil terengah-engah. Kemudian dihempaskan tubuhnya, terduduk di atas tanah yang kotor.


“Aku juga capek!” Amat, Rahmat, beserta Andy pun ikut terduduk melepas lelah.


“Aneh! Bukannya semakin dekat, kita malah semakin jauh,” keluh Amat masih dengan napas ngos-ngosan.


“Ini semua gara-gara kamu, Ndy!” ujar Roni sewot.


“Loh! Kok gara-gara aku?” balas Andy heran. Ia tak terima dengan perkataan Roni yang seakan melimpahkan semua kesalahan pada dirinya.


“Emang gara-gara kamu. Yang ngajak siapa? Yang bawa-bawa aku ke masalah ini siapa? Kamu, kan?!” nada suara Roni semakin meninggi.


Andy hanya terdiam tak membalas perkataan Roni. Andy berusaha mengontrol emosinya dan tidak mau memperpanjang masalah.


“Sudah, sudah! Jangan ribut lagi! Kita ini berteman sudah lama. Jangan saling menyalahkan!” sambut Rahmat.


Keningnya mengerut, Rahmat tampak sangat kesal melihat tingkah Roni yang kekanak-kanakan.


“Iya udah. Trus sekarang gimana? Apa yang harus kita lakuin?”


“Pertama, kita harus tenang dulu. Jangan panik! Apa yang kalian lihat, apa yang kalian rasakan, abaikan aja dulu. Ron, jam berapa ini?” tanya Rahmat.


“Tau!” balas Roni jutek. Walaupun sudah kelas 2 SMA, namun Roni masih bersifat kekanak-kanakan. Oleh karena itu, Roni lebih sering bertengkar dengan teman-temannya gara-gara masalah sepele.


“Sekarang ini udah jam 11, Mat,” sambut Andy tenang.


“Gawat! Sejam lagi tengah malam. Kita harus cepat-cepat cari jalan keluarnya.”


“Iya benar,” kata Amat menimpali.


“Ya udah. Sekarang kita terus aja jalan. Aku yakin kalau kita tetap tenang, kita pasti akan cepat sampai,” lanjut Rahmat seraya berdiri.


“Ayo, semuanya berdiri. Kita lanjutkan perjalanan,” perintah Rahmat pada ketiga sahabatnya. Sesuai perintah Rahmat, ketiganya pun berdiri, kemudian melanjutkan perjalanan mereka.


Suasana menjadi hening lagi. Kecanggungan masih terjadi di antara Andy, Amat, dan Roni. Kali ini, Rahmat yang memimpin jalan, diikuti oleh Roni, kemudian Andy, dan Amat.


Entah sudah berapa lama waktu terlewatkan, namun keempat sahabat itu tiba-tiba menemukan sebuah jalan baru yang berbeda dari sebelumnya. Tanpa pikir panjang, mereka terus berjalan memasuki sebuah terowongan lembab.


Rahmat menghentikan langkahnya, disenternya sekeliling terowongan. Tidak ada hal yang aneh di dalam terowongan.


“Kita balik aja, yuk!” usul Roni tiba-tiba. Itu sudah pasti karena Roni tidak bisa mengendalikan rasa takutnya.


“Kalau kita balik, semuanya akan sia-sia. Lebih baik kita lanjutkan perjalanan. Aku juga penasaran dengan kampung ini. Sebenarnya apa yang terjadi?” sambut Rahmat. Mimik wajahnya tampak begitu serius.


“Rrrrrrgggghhhh!!!”


Desis suara menyeramkan itu kembali berkumandang. Kali ini terdengar begitu dekat, dan mampu membuat bulu tengkuk berdiri.


“Tuh, kan! Apa aku bilang. Lagi-lagi suara itu. Aku yakin kalau kita sedang diikuti oleh makhluk… ngeri,” kata Roni lirih.


“Sudah! Kita jalan lagi!”


Mereka berjalan lagi. Mereka memasuki terowongan lebih dalam.


Tiiitttt! Tiiittttt! Tiiiitttt! Jam di tangan Andy berbunyi, dan itu menandakan sudah jam 12 malam. Sampai saat ini, mereka tak juga menemukan jalan keluar.


Malah, semakin mereka memasuki terowongan, semakin panjang pula terowongan tersebut.


“Mat! Kakiku nyangkut! Coba senter bentar!” kata Roni sambil berusaha menarik-narik kakinya yang tersangkut sesuatu.


Namun setelah Rahmat mengarahkan senternya pada kaki Roni, matanya terbelalak. Begitu juga ketiganya, mereka semua terkejut bukan main, sampai-sampai terdiam untuk beberapa saat.


Roni mencoba berbicara, namun sayangnya tidak bisa. Ia terlalu takut sampai akhirnya bisu. Rahmat, Andy, dan Amat pun begitu. Benar.


Apa yang dilihat oleh keempat lelaki itu sebenarnya adalah sosok hantu perempuan. Matanya merah melotot. Wajahnya rusak, dan dipenuhi oleh belatung. Sosok perempuan itu sedang memegangi kaki Roni.


“Aaaaaahhhhh!!” pekik keempat lelaki itu, kemudian berlari terbirit-birit. Rahmat sampai tak sadar bahwa senter satu-satunya yang berhasil mereka pinjam, terlepas dari tangannya.


Kini, kegelapan bersama mereka. Tanpa sebuah penerang. Mereka harus membiasakan mata mereka dalam kegelapan itu. Suara tangisan dan desisan menyeramkan itu terus menerus terdengar di telinga mereka.


Satu per satu tumbang. Tubuh mereka terhempas di atas tanah, dan tidak sadarkan diri.


Setelah itu, entah apa yang terjadi, namun keempatnya berhasil selamat. Salah seorang warga menemukan mereka dalam keadaan tidak sadar di bawah sebuah pohon dimana mereka memarkirkan kendaraan mereka.


Sungguh aneh, padahal untuk yang terakhir kalinya, keempat sahabat itu ada di dalam terowongan, dan bukan di bawah pohon besar itu.


Seperti apa yang warga kampung itu katakan bahwa tidak pernah ada orang yang berhasil selamat sebelumnya. Dan menurut pengakuan seorang warga lainnya, sosok perempuan yang mengejar-ngejar keempat sahabat itu sebenarnya adalah warga kampung Apit yang hidup di masa-masa peperangan.


Perempuan itu mati di tangan para penjajah, tepat di dalam terowongan menyeramkan itu. Akhirnya, untuk mereka yang bukan orang asli di kampung tersebut, pasti akan mengalami hal seperti keempat sahabat itu.


Dan sampai saat ini, sudah banyak sekali orang yang hilang di kampung tersebut.


Misteri Kampung Horor.


****

__ADS_1


END


__ADS_2