ANTOLOGI CERPEN [HORROR] !

ANTOLOGI CERPEN [HORROR] !
2 CERITA (2)


__ADS_3

C E R I T A 1


M I S S


Katakan ia gila, bagaimana bisa ia merindukan sosok pria jangkung itu. Untuk waktu tertentu bahkan ia sangat ingin memeluk pria itu. Mereka bukan sepasang kekasih meski nyatanya banyak yang mengira begitu. Mereka hanya teman berbagi flat. Ia tersenyum miris betapa pria itu begitu dalam memasuki jiwa sentimentilnya.


Ia menatap ruangan tempat di mana mereka menghabiskan waktu untuk membahas kasus yang baru saja selesai mereka tangani. Tak ada potongan jari dan mata di dalam toples selai bekas.


Tak ada otak segar dan potongan tangan di dalam kulkas -bersih- hanya ada sayuran dan bahan makanan lain. Tak ada aroma kimia dan bau anyir yang menyengat. Tak ada ceceran merah pekat di kamar mandi.


Tak ada bau tembakau atau kok*in dan nik*tin di atas meja -semuanya bersih- mungkin wanita pemilik flat itu sudah membersihkannya ketika ia lebih memilih berdiam diri di kamarnya.


Ia duduk di sofa tempat biasa pria itu duduk. Oh, betapa ia merindukan sosok itu. Sosok pria nyentrik dengan kejeniusan dan keidiotannya.


Sosok pria yang egois namun kekanak-kanakkan. Betapa ia masih mengingat apa saja yang dilakukan pria itu. Ia bahkan masih ingat bagaimana cara pria itu mengeluh bahwa ia sangat bosan dan berkata ‘Beri aku kasus yang rumit’ atau bagaimana pria itu duduk diam seharian tanpa makan berhari-hari dan hanya meminum kopi dengan dua balok gulanya.


Ia masih ingat itu semua seolah kejadian itu seperti baru saja terjadi kemarin. Tiga tahun bukan waktu sebentar hanya untuk terpuruk memikirkan pria itu.


Satu hal yang masih ia harapkan.


“One more miracle, Sherlock… For me… Don’t be… dead.”


“Would you do that just for me? Just stop it!”.


****


END


C E R I T A 2


DUNIA CERMIN

__ADS_1


Namaku Soraya. Tapi Teman-teman lebih akrab memanggilku Aya. Aku tinggal hanya bersama dengan ibuku, Ketika Ayahku meninggal dalam kecelakaan 2 tahun lalu.


Semenjak Ayah meninggal, Aku kerap mengalami kejadian-kejadian aneh yang tak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Seperti Melihat Mayat hidup, terlempar ke dunia lain, dan sebagainya. Awalnya, Aku mengira itu hanya bagian dari khayalanku. Namun belakangan, Aku sadar bahwa itu bukan sekedar dari khayalan semata.


Pagi ini, Aku berangkat ke sekolah seperti biasa bersama temanku. Firdza. Aku hampir terbiasa mendengarkan celotehan dia tiap pagi mengenai pelajaran, pekerjaan rumah, bahkan keluhan tentang fasilitas sekolah yang kurang nyaman.


“… Eh pas Aku duduk, kursinya patah jadi dua.” Firdza mengakhiri ceritanya.


“Ay, Aya! Kamu denger gak sih Aku ngomong Apa?!.” teriak Firdza.


“Hmm..” jawabku singkat.


“Mmm.. Kamu denger gak cerita tentang Cermin yang di halaman belakang?.” Tanya Firdza.


“nggak. kenapa emang?.”


“Kemarin Tata cerita, katanya Cermin itu pintu penghubung antara dunia kita sama dunia lain loh.” bisik Firdza.


“Yeeh.. nih anak emang gak bisa diajak Kompromi deh.” gumam Firdza pelan.


Sesampainya di sekolah, Aku dan Firdza langsung masuk kelas tanpa banyak bicara. ‘mungkin dia marah.’ gumamku dalam hati. Bahkan sampai Bel istirahat berbunyi pun Firdza sama sekali tidak menegurku.


“Ta, liat Firdza gak?.” tanyaku pada Tata. tapi Tata tidak meresponku. Pandangan matanya kosong dan sesekali rambutnya berkibar tertiup angin.


kucoba bertanya pada teman yang lain. Namun respon mereka tidak jauh berbeda seperti yang kudapat dari Tata.


‘Ini aneh.’ batinku.


Saat Bel pulang berbunyi, Aku mencoba mendekati Firdza yang langsung bergegas pergi. Entah mengapa nalarku menuntun untuk mengikuti Firdza. Akhirnya diam-diam, Aku mengikuti Firdza sampai ke suatu tempat yang tak lain dan tak bukan adalah halaman belakang sekolah. ‘Mau Apa anak itu ke sini?.’ batinku.


Setelah 10 menit berlalu dan Firdza tak kunjung bergeming, Aku baru sadar bahwa dia berdiri menghadap Cermin. Tapi tidak melakukan gerakan apapun layaknya orang bercermin.

__ADS_1


Penasaran, Kudekati Dia sambil mengulurkan tanganku hendak Memegang bahunya. Alangkah terkejutnya Aku Ketika tak sengaja Melihat Cermin, dan sama sekali tidak menemukan pantulan bayangan Firdza di Cermin itu.


Dalam sekejap kakiku bergetar dan mulutku terbungkam tanpa bisa bersuara sedikitpun. Tubuhku Kaku, Mataku tak bisa lepas dari Cermin itu. Padahal jelas-jelas di depanku berdiri sosok Firdza. Tapi di Cermin hanya memperlihatkan bayangan diriku.


“Aya.. Kamu kenapa diem aja?. Ayo kita pulang.” Kata Firdza sambil Membalikan Tubuhnya.


Semakin terkejut Aku Saat Melihat wajah Firdza Penuh dengan Darah, Mulutnya yang Menganga dengan lebar dan Matanya yang kosong tanpa bola mata. Di tangan kirinya Memegang Kedua bola matanya.


Dan Di tangan kanannya Memegang sebilah pisau yang mengkilat terkena pantulan cahaya. ‘bukan. dia bukan Firdza. Dia Hantu.’ batinku dalam hati.


Saat Hantu Firdza perlahan mendekatiku, Aku hanya bisa mendengar detak jantungku yang Semakin cepat. dan tanpa bisa Menghindar, Tubuhku seolah merosot ke lantai.


Saat Sadar, Aku Melihat diriku tidak lagi di halaman belakang sekolah. melainkan di UKS. sejarak 2 meter, berdiri sosok yang sangat kukenal. Firdza.


“Aya! Kamu Gak papa kan?.” Ujar Firdza dengan panik sambil menghampiri ranjangku.


“Emang Aku kenapa?.” tanyaku bingung.


“Ka-Kamu.. Kamu pingsan dari tadi pagi.” Kata Firdza.


Sesaat Aku teringat peristiwa yang kualami dan mulai menceritakannya pada Firdza. Dengan Ekspresi wajah yang ketakutan, Firdza mendengarkankan Ceritaku sambil sesekali menarik napas panjang.


“Tuh kan. Kamu sih gak mau dengerin cerita Aku tadi pagi.” kata Firdza seusai Aku bercerita.


“Emang kenapa sih?.” tanyaku Penasaran.


“Begini.. Dulu, ada Siswi sekolah ini yang namanya Mila. dia Itu primadona sekolah. Wajahnya cantik, senyumnya manis, Matanya cerah, bulu matanya lentik. pokonya sempurna deh. Anak laki-laki banyak yang tertarik sama dia. tapi anak perempuannya malah Pada benci sama Mila. salah satunya Luna. Dia anak dari kepala sekolah ini pada masanya. singkat cerita, Luna Mulai Nyusun rencana buat bunuh Mila. Akhirnya dia nemuin tempat yang tepat yaitu halaman belakang sekolah. Cara dia bunuh Mila bener-bener sadis. Di depan Cermin itulah Mila dibunuh. Wajahnya Ditusuk berulang kali pakai paku, matanya dia Congkel, mulutnya disobek Sampai Telinga. Setelah puas, Luna ninggalin mayat Mila gitu aja. sampai Pihak kepolisian yang Nyelidiki kasus Mila menangkap Luna dan dengan tragis, Luna Sengaja Bunuh diri Di kamarnya.” Firdza Mengakhiri ceritanya


Aku hanya terdiam. ingat Saat tadi pagi dia berjalan sendirian di halaman belakang sekolah dan disitulah dia masuk ke Dunia Cermin. kemudian merenungkan kembali Apa yang akan Hantu Firdza lakukan jika ia sedikit lebih lama berada dalam Dunia Cermin Itu.


****

__ADS_1


END


__ADS_2