![ANTOLOGI CERPEN [HORROR] !](https://asset.asean.biz.id/antologi-cerpen--horror---.webp)
“Anak manja”
“Anak pungut”
“Anak gak tau diri”
“Anak gak tau terima kasih”
—
“Gimana Rin? Udah dikubur?” Ucap Rey dengan berbisik.
“Beres Rey” ucap Rinai
Rinai adalah anak yang ramah. Penuh tawa dan periang. Untuk di opsi tiga dan empat, memakai tanda kutip dua. Begitu juga dengan Rey, anak yang pendiam tapi penuh arti.
“Gue capek sama mama papa gue Rey. Gue merasa kalau gue adalah pelampiasan mereka. Karena mereka banyak masalah” Rinai mulai bercerita.
“Dan gue baru tau, kalau gue bukan anak kandung mereka” tambahnya.
“Sabar Rin” ucap Rey.
Satu tetes air mata mengalir di pipi Rinai. Dibalik senyum ramahnya, ada sesak di dadanya yang membuatnya berkepribadian ganda.
“Gue gak apa-apa Rey, gue cuma butuh sandaran” ucap Rinai kemudian.
Malam tiba dengan kesunyian.
Persimpangan jalan yang telah sepi membuat Rey dan Rinai leluasa untuk melakukan aksinya. Mereka sudah ada di depan rumah Tyas. Guru matematika yang mereka benci.
Dengan topeng hitam untuk menutupi identitas, mereka memasuki kamar Tyas dengan perlahan. Benda baja tajam mengkilat telah menyala nyala di tangan Rinai. Sedangkan Rey, membawa tali untuk mengikat.
“KALIAN SIAPA?!” Tyas menjerit saat tubuhnya dilempar ke kursi dan diikat. Tubuh keriputnya menambah kesan tersendiri pada Rinai dan Rey.
“Tyas Hrdyodiningrat” Ucap Rinai menodongkan pisau di pipinya. Ia mengelus-elus pipi Tyas dengab pisau tajam yang berkarat.
“Ibu Tyas yang terhormat, mau yang mana dulu? Leher? Pipi? atau mata?” Ujar Rey mengencangkan ikatan tersebut.
Sshh…
“Apa bu? Sakit ya? Saya lebih sakit bu! Ibu inget? Saya sampai ada penyumbatan di otak gara gara siapa? Gara-gara ibu!”
Srett…
Rinai menggoreskan pisaunya di pipi sebelah kanan Tyas. Darah segar mengalir di pisau. Noda merah yang menjiplak membuat Rinai dan Rey tertawa terbahak-bahak.
“Kamu gila Rinai, Rey!!!” Jerit Tyas menahan sakit.
“Ya, saya gila!!. Masalah buat ibu?” Teriak Rinai kencang ditelinga Tyas.
“Kamu iblis Rinai”
Aarhhh
Rinai menampar pipi kiri Tyas dengan pisau, menimbulkan goresan besar yang sedikit mengenai mata Tyas. Rinai tertawa melihat Tyas yang meringis kencang. Darah Tyas sudah memenuhi pisau yang digunakan Rinai. Yang mengharuskannya ia mengganti pisau tersebut.
Selesai sudah giliran Rinai. Sekarang adalah Rey yang beraksi.
Rey menyalakan musik Knife game song. Ia mengarahkan tangan Tyas untuk memainkannya. Saat irama mulai cepat, seluruh jari-jari Tyas tertusuk. Kecuali jari kelingking yang sudah diputus sengaja oleh Rey.
“Sakit bu? Semakin ibu mendesah, semakin senang saya”
Tyas memejamkan matanya pasrah, jeritan demi jeritan membuat Rinai dan Rey tertawa.
“Rin, satu penghormatan buat lo untuk ngehabisin nih guru”
Srek….
Dengan satu tusukan, Rinai menusukan pisau di lehernya. Tyas meninggal dan dibuang di sebuah laut dalam.
Tak lupa Rinai dan Rey menghilangkan jejak. Mereka membakar rumah Tyas. Seakan-akan Tyas meninggal karena kebakaran, beserta jejak lainnya.
__ADS_1
“Anak-anak kita turut berduka atas meninggalnya guru matematika kita, Bu Tyas”
Semuanya kaget termasuk Rinai dan Rey. Sesungguhnya mereka hanya pura-pura. Padahal dalam hati mereka, mereka tertawa tak henti.
“Rey, mama papa gue pisah. Dan gue gak tau harus apa” ucap Rinai kepada Rey.
“Lo tinggal di rumah gue gimana?” ucap Rey memberi ide.
“Beneran?” tanya Rinai.
“Iya dong” jawab Rey.
“Makasih Rey, gue sayang elo. Sebagai sahabat sejati gue” Rinai memeluk Rey dengan hangat.
“Ciyeee Rinai…”
“Rin, gue sayang sama lo” Rey mengucapkan kalimat tersebut dengan sangat tulus.
“Lebih dari sahabat”
“Rey, jangan bercanda deh” Ucap Rinai ngeri.
“Gue enggak bercanda”
“Gue butuh waktu”
Rinai memejamkan matanya dengan nikmat. Seketika ia tertidur, menghubungkan jalur mimpinya sekarang.
Bug
Rinai merasa ia dibekap kencang.
“Siapa ini?!” Jerit Rinai kencang.
Rinai sudah terikat di kursi kayu yang sudah lapuk. Lalu ia melihat Mama dan papanya juga terikat namun masih dalam keadaan pingsan. Dan satu lagi,
“Rio?” gumam Rinai
“Rey, lo ngapain hah??!!” Teriak Rinai keras melihat Rey yang berdiri dengan pisau besar (golok) di tangannya.
“LO GILA HAH!!” Jerit Rinai melihat Rey yang mensukan pisau tersebut tepat di jantung Rio.
“Kalau gue gak bisa dapetin lo, gak ada yang bisa dapetin lo!!!” Teriak Rey tepat di telinga Rinai.
“Rey, ini gue. Rinai, gue sayang elo. Elo siapa?, gue gak kenal Rey yang liar. Elo bukan elo yang sekarang, bukan elo yang gue kenal!!” Teriak Rinai keras mambuat Rey melangkah mundur.
“Oh ya? Dulu, siapa yang mengajak gue untuk ikut menjadi iblis kayak lo hah?!” Ucap Rey menggoreskan pisau yang berlumuran darah di leher mama Rinai.
“Jangan lo sentuh mama gue Rey!!” Jerit Rinai menyaksikan ibunya yang meringis kesakitan.
Sshhh
Mama Rinai meringis lagi disaat Rey mulai mengiris tepat di samping keriput tuanya.
“Rey, lo gila!!” Tak henti Rinai menjerit-jerit.
Namun, semakin Rinai menjerit, semakin Rey menyakiti mama dan papanya.
Kening mama Rinai sudah dipenuhi oleh goresan dan darah.
“Mau lo apa Rey? Plis, jangan sakitin mama papa gue” Tanya Rinai melemah.
“Gue mau elo bahagia sayangku. Katanya mereka sudah jahat kan sama lo? Biar gue yang membalaskan dendam lo ke mama lo” Ucap Rey lembut namun terdengar sangat sinis dan mengancam.
“Iblis apa di diri lo Rey, Gue kenal Rey yang pendiem. Bukan psikopat kayak lo” Jerit Rinai. Rey beralih kepapa Rinai.
“Jangan sakiti anak dan istri saya!” Ucap Papa Rinai.
“Gitu ya om?” Ucao Rey dengan nada seakan-akan ia takut.
“Oh ya, tadi lo bilang apa Rin? Gue Iblis? Gue gak salah denger kah? Gue tanya sama lo sekarang. Siapa yang ngebunuh bu Tyas? Siapa yang ngebunuh ketua osis kita? Siapa yang ngebunuh anak yang ngelawan kita? Jawabannya cuma satu. ELO!” Ucap Rey di depan telinga Rinai.
__ADS_1
“Rinai” Ucap mama dan papanya kompak.
“Maafin Rinai ma”
“Lo mau drama Rin? Lo mau bilang apa sama mama papa lo untuk yang terakhir kalinya? Sebelum gue habisin mereka demi elo”
“Bunuh gue Rey, jangan sakitin mama papa gue lagi. Gue gak bilang gue gak sayang sama mereka. Pliss Rey, gue mohon” Ucap Rinai sangat lembut.
“Cup cup Rinai sayang, gak usah jadi pahlawan kesiangan”
Srett…
Papa Rinai telah menghembuskan nafas terakhirnya.
“REY!!!” Rey menebas kepala papa Rinai sampai hampir putus.
Tangis Rinai pecah untuk yang kesekian kalinya. Rinai sudah tak tahan menyaksikannya
Der der der
Tiga peluru menembus dada Rey. 10 juru tembak berbaris di pintu gudang. Rey jatuh tergeletak di lantai.
“Pak, tolong papa saya pak” Teriak Rinai kencang.
Rinai melihat kedua orangtuanya yang kritis.
“Maafin Rinai ma, pa”
“Rinai memang iblis”
“Rinai salah”
“Rinai sayang mama sama papa”
Sementara mama Rinai dioperasi, untuk pertama kalinya Rinai pergi ke gereja. Ia menangis sepuasnya. Ia bertobat.
“Pastur” Ucap Rinai saat melihat Pastur setelah selesai ibadah.
“Rinai ya? Wah sekarang sudah besar. ada apa Rinai?”
“Boleh saya bicara empat mata?”
“boleh nak”
Rinai dibawa ke ruangan khusus. Hanya ada Rinai dan sang pastur. Di sana Rinai menceritakan semuanya sambil ia menangis sejadi-jadinya.
“Saya ingin bertobat”
“Bagus sekali Rinai. Kamu harus mewujudkan itu, dekatkanlah diri kamu dengan Tuhan. Jauhkan hal buruk itu. Saran saya, kamu menyerahkan diri nak” Nasihat Pastor.
“Apa Tuhan mau menerima saya?”
“Pasti Rinai. Asalkan itu tulus dari hati kamu”
Setelah diberkati Rinai pulang. Hatinya yang sudah sedikit lega membuatnya yakin untuk menyerahkan diri.
Sebelum itu, ia pergi ke rumah sakit.
“Mama, Rinai minta maaf ya. Sekarang Rinai mau menyerahkan diri kepolisi. Mama doain Rinai ya?”
“Mama sayang sama Rinai. Sayang sekali. Hanya Rinai yang menyalah artikan kasih sayang mama. Kamu sudah besar kalau itu yang kamu mau, mama akan selalu mendoakan kamu”
Rinai pergi ke kantor polisi. Disepakati Rinai akan dihukum mati dengan cara ditembak. Karena sekitar 20 orang yang ia bunuh.
Di hari eksekusi matinya, ada mama yang melihatnya Sebelum ditembak, Rinai berkomat kamit kepada mamanya mengucapkan “i love you ma”
10 juru tembak mengarahkan peluru pada Rinai setelah aba-aba dari komando, 2 juru tembak menembus dada Rinai. Ia rela. Hatinya lega. Ia merasa sudah siap akan hukuman yang setimpal akan sesuatu yang ia lakukan.
Rinai dikuburkan bersama dengan papanya. karena itu permintaan terakhirnya.
****
__ADS_1
END