Antonim Akal, Sinonim Sayang

Antonim Akal, Sinonim Sayang
Papah dan Ibuku


__ADS_3

Aku makan banyak.


Karena kesal, karena lapar, karena lagi haid jadi faktor hormon, dan juga karena mau sedikit gemukin badan. Biar nggak terlalu cantik lah ya.


Aku percaya manusia tidak ada yang jelek.


Adanya yang ‘tidak menarik’.


Ya itu maksudku, aku akan menjadi wanita yang ‘tidak menarik’ di mata Ariel.


Aku memesan 5 potong ayam dan sup pesanan Ariel, 4 ayam untukku sendiri, kulahap pakai pasta bikinan ibuku.


Ariel hanya menatapku makan, sambil menyesap supnya.


Sedikit-sedikit ia tambahkan nasi.


Tapi matanya tak lepas menatapku.


Aku cuek saja menggigit potongan ayam, lanjut makan pasta, lanjut ayam lagi.


Aku mukbang mode on lah pokoknya.


Biar dia ilfeel sekalian.


Tapi, enak juga ternyata makan tanpa tekanan begini. Tidak memikirkan timbangan, tidak memikirkan pinggulku yang akan besar, tidak memikirkan pipiku yang akan cubby.


Tahu begini nikmatnya aku juga pesan eskrim tadi...


Aku melirik Ariel yang masih menatapku lekat-lekat. Sepertinya dia kaget melihatku makan lahap dan banyak.


“Claudia...” dia memanggilku.


Ini dia! Apa yang akan dia tanyakan padaku? Mudah-mudahan hal jelek.


“Kalau makan pelan-pelan... soalnya...”


Aku menatapnya sambil mengunyah kulit ayam. Sial! Kenapa kulit ayam bisa enak banget begini ternyata! Dari dulu aku menghindari makan kulit ayam karena bagian paling berbahaya karena mengandung lemak jenuh yang tinggi dan kolesterol. Jadi amat sangat tidak sehat. Tapi mulutku tidak bisa berhenti mengunyah.


“Soalnya kamu kalau makan lahap gitu jadi keliatan nggemesin, aku jadi ko nak.”


Aku terdiam membeku.


Berikutnya, reflek aku menatap ke bagian di bawah perutnya. Tertutup celana pendek milik almarhum bapakku, tapi tampak tebal di area tengahnya.


Area itu tampak berbayang, seperti ada lobak yang ditidurkan di balik boxernya.


Astaga...


“Kamu kan lagi haid nih, gimana kalau pakai mulut aja, aku bakal cepet kok keluarnya soalnya lagi sakit, hehe...”


Astaga Ya Tuhan...


“Sakit otak! Sana bersihin dulu pikiran mesum kamu!” desisku sambil mencubit pipinya.


Aku jadi badmood.


Kuletakkan sendok pasta, lalu aku meninggalkannya ke lantai bawah untuk ambil minum.

__ADS_1


“Sama istri sendiri nggak papa dong rayuan geli-geli ulat bulu!” protes Ariel di kejauhan.


Luar biasa kesalnya aku! Kalau dia bukan suamiku, pasti sudah kulaporkan polisi dengan tuduhan pelecehan!


**


Saat Ariel tertidur aku menghubungi Pak Aaron, ayahnya Ariel. Sekarang aku memanggilnya Papah ya. Ia datang dengan wajah tegang menghampiriku di depan gerbang.


“Ariel demam? Kok bisa? Udah kamu bawa ke Pak Ustad?”


Ya jelas aku bengong mendengar pertanyaannya.


“Apa? Pak Ustad Pah?”


“Iya lah,” Papah masuk ke dalam rumah sambil mengangkat sebelah alisnya, “I rather believe he got ‘sawan’ instead of fever.” (Saya lebih percaya dia kena sawan daripada demam)


“He’s never get cold, the worse case he’s caught a cold when he take ice bucket challenge for Tik Tok, tapi masih bisa main ski habis minum obat,” (Dia tidak pernah sakit, sekalinya sakit waktu ambil tantangan ice bucket untuk Tik Tok).


“Dia suka bawa-bawa obat batuk di botol stainless Pah, tahu nggak?”


“Sejak kapan dia jompo gitu?”


“Lah kok Papah malah tanya aku?”


“He’s the strongest boy i’ve ever know,” (Dia anak terkuat yang kutahu).


Aku menggaruk kepalaku kebingungan. Papahnya sendiri aja malah nggak pernah melihat Ariel sakit, kenapa malah akunya yang ketempuhan begini?


“Maybe,” Papah tiba-tiba berbalik menghadapku, aku sampai berhenti mendadak hampir nabrak dia. “Kamu sudah menyakiti dia secara psikis.”


“Lemah banget, satu-satunya yang kutekan hanya perceraian secepatnya. Nggak ada yang lain. Kusuruh mengerjakan tugas juga dia malah tidur di kelas, jadi aku bosan memberinya tugas lagi.”


“Apanya yang ‘that’s it’ ?!”  aku protes karena tak mengerti.


“Untuk orang yang belum pernah jatuh cinta dengan siapa pun, sekalinya jatuh cinta, malah dipatahkan. Such a knocked. Wajar sih kalau dia sakit,” (benar-benar pukulan telak)


“Siapa jatuh cinta ke siapa?”


“Glaikit...” gumam Papah pelan sambil balik badan lagi dan naik ke kamarku di mana Ariel beristirahat. Kucari artinya di google, itu bukan bahasa inggris, tapi bahasa Skotlandia yang artinya ‘lamban dan bodoh’.


Ih...


**


Aku tidak sampai ke kamar, aku berdiri di depan dinding, di samping pintu yang terbuka setengah. Mendengarkan ayah dan anak mengobrol. Aku tidak pernah melihat mereka mengobrol sebelumnya.


Dan ternyata obrolan mereka cukup membuatku merasa... yah, kita dengarkan sendiri.


“What happen, dude?” tanya Papah ke Ariel, tapi dia menyeringai geli melihat keadaan Ariel.


“Just got another bad day,” suara Ariel mulai serak


“Back from Mbah Rangga’s home, everyday turns out a bad day for you,”


“I’ts not about the home, it’s about My home,”


“It is My home?”

__ADS_1


“No, not yours. It’s mine. You know when we built something from deep of our heart but we never get a good material for built the roof, yaaah, feel’s like that,. There’s a big hole and it’s crucial but i can’t closed it.”


Aku selalu terkesan kalau ada anak yang bisa lancar dua bahasa seperti Ariel. Tapi dia memang mengesankan dalam banyak hal. Ariel bagaikan dua kehidupan yang sangat timpang namun seimbang.


Dia pintar tapi dia nakal, dia kasar tapi dia romantis, dia cerdas tapi dia konyol. Bagaikan beberapa orang dalam satu tubuh. Dia bisa segalanya tapi ia juga bisa payah.


Intinya, Papah bertanya kenapa setelah kembali dari rumah Mbah Rangga Ariel terus menerus mengalami hari yang buruk, namun Ariel menyanggahnya, dia bilang bukan rumah Mbah Rangga yang buruk, tapi ‘rumahnya’ yang belum sempurna. Seperti membangun dari nol, tapi belum mendapatkan bahan yang cocok untuk atap rumah.


Masih ada lubang besar yang belum bisa ia tutup.


“You love her...” desis Papah pelan.


“I love her,” jawab Ariel.


“Since when? don't you dare to say to me that you love her since the first time you meet, that's a hoax. There’s no such a ‘love at first time’. Love built from a connection for a while-“


“It’s not a puppy love, i know her since Mbah Rejo told me that she will become my bride,’


“You’re a ten years old back then!”


“And now i’m a teenanger and i still love her. Everyday i tried to forget her with get a date to other girl, even a lots of girls, but its not works,”


“So that’s why you-“


“Dad, i tried so hard to convince my mind that this is only bussiness mariage. Until i get Knackered-“


Aku masuk dan menatapnya tajam, “Kamu tahu kita akan dinikahkan sejak usia kamu sepuluh tahun? Saat itu kamu masih di Skotlandia, Ariel. Bagaimana kamu bisa?!” ya, ini inti pembicaraan mereka di dalam kamar.


Papah dan Ariel menatapku dengan waspada, “Ari-Claudia, it’s suppose a dad-son talk,” papah mengingatkanku bahwa seharusnya aku tidak menginterupsi pembicaraan ayah-anak mereka


“Kita keluarga sekarang, tidak ada pembicaraan ayah-anak. Adanya pembicaraan ayah dan anak-anaknya.” Ralatku.


“Ah ya benar juga,” Papah mengusap tengkuknya sambil tersenyum masam.


Tapi kenapa Ariel jadi terlihat lebih tampan di mataku saat dia duduk kalem di atas ranjang tanpa menggodaku dan berbicara dengan bahasa Inggris.


Ya ampun, matanya ternyata hijau! Aku bahkan baru ngeh sekarang! Dan rambutnya kenapa jadi coklat saat terkena sinar matahari? Kupikir dia berambut hitam dan bermata redup.


Kalau Papah ya sudah pasti bule lah ya.


“Jadi gimana ini maksudnya?” aku mulai tak sabar.


“Eh Loh? Ada tamu besan toh?” Ibuku muncul dari belakangku. “Walaaaah, saya belum siapkan snack loh Pak Aaron! Kok nggak bilang-bilang mau datang?!” dia langsung panik dan kembali turun ke bawah.


Papah menatapku, “Kamu masih tinggal sama itu ibu tiri kamu?” tanyanya.


“Memang kenapa?”


“Ya tidak apa-apa, Papah cuma tanya,”


“Dia memang ibu tiri tapi dia sudah bagaikan ibu kandung bagiku, aku masih suka bermanja-manja padanya,”


“Hubungan Ariel sama ibu kamu gimana?”


“Lumayan akrab, kayak anak sendiri...”


“Hm...” Papah tampak mengelus dagunya memikirkan sesuatu, “Kalian bicara berdua saja deh, tolong kali ini jangan ada berantem-berantem lagi, pusing dengarnya...”

__ADS_1


“Papah mau ke mana?!” tanyaku sewot.


“Ke bawah, makan. Lapar.” Desisnya sambil mengacak-acak rambutku.


__ADS_2