
Pak Avramm berbaik hati untuk mempersilakan kami menginap di rumahnya, termasuk Baron dan Arka. Rumah itu sangat besar namun anak-anaknya sudah tinggal terpisah. Yang dua sudah menikah dan tinggal di luar negeri, yang bungsu bernama Jennifer, tinggal sendirian di dekat rumah lamanya di Hang Tuah.
“Jadi rumah ini sepi Pak, Bu, banyak kamar jadi silakan kalau mau bermalam.” Begitu kata beliau. Dan kami menempati kamar tamu yang paling luas, dengan pemandangan ke arah ‘rumah kami’.
Tentu saja malam itu aku tidak bisa tidur.
Sementara Ariel malah gayanya sudah macam-macam di atas kasur, berguling-guling sampai hampir jatuh ke pinggir.
Ingin rasanya kugelitiki tapi Akunya sendiri sudah terlalu capek bergerak.
Aku menatap rumah itu.
Walau pun dengan kondisi berantakan tapi tetap berdiri kokoh.
Baru sehari kami menempatinya, itu pun tidak bermalam di sana, tapi rumah itu sudah memiliki kesan tersendiri di benak kami.
Siapa Dewi Rukmini sebenarnya? Dia bukan Jin penunggu Gapura?
Seingatku ia selalu tersenyum saat bertemu denganku. Dengan kaki rusanya dan kebaya ungunya yang cantik...
Kaki rusa...
Kenapa kakinya berbeda?
Dan kenapa harus kaki rusa? Bukankah masih ada kambing? Kuda? Lebih bagus kalau kuda kan jadi seperti Centaur.
Ah mikir apa aku ini?! Konyol banget deh!
Tapi lalu sekelibat pemikiran aneh melintas di benakku.
Rusa memiliki peran penting dalam mitologi berbagai bangsa yang berada di seluruh dunia, seperti objek pemujaan, penjelmaan dewa, objek pencarian dan perbuatan heroik, atau sebagai penyamaran magis atau kutukan untuk putri dan pangeran di banyak cerita rakyat.
Rusa juga melambangkan hubungan dengan supernatural, Dunia Lain , atau alam peri, misalnya, menjadi pembawa pesan.
Apakah karena salah sat alasan itu maka bagian bawahnya diganti jadi Rusa? Pesan apa yang ingin ia sampaikan? Kutukan apa yang sedang menimpa Dewi?
Di kala aku dengan pemikiranku, aku mendengar suara pintu kamarku diketok.
Tok! Tok! Tok!
Aku segera membukanya, dan kulihat Baron di depan kamarku, bersama Artemis dan Griffin.
Tampak Artemis melihat penampilanku dari atas ke bawah. Aku memang memakai piyama pinjaman anaknya Pak Avramm, hanya kemeja pink dan celana pendek sepaha. Tapi memang bahannya agak tipis sih karena dari satin.
Aku sampai menutupi diriku sendiri karena tatapannya.
“Ada apa? Ada progress kabar?” tanyaku.
Baron mengangguk, lalu mengelus puncak kepalaku.
“Ada kerangka di bawah Gazebo. Kerangka wanita dari pinggang ke bawah. Sudah diangkut tim forensik.”
Rasanya kakiku langsung lemas.
Benar-benar area yang ditunjukkan oleh Dewi Rukmini!
“Ya Tuhan...” desisku,
Aku merasa Ada yang menopang pinggangku agar aku tegak berdiri.
Ariel sudah berada di belakangku. Cepat sekali dia, perasaan dia tadi masih tidur.
“Kami masih belum yakin itu kerangka siapa, jadi jangan berspekulasi dulu ya Claudia,” kata Baron. “Lalu Bu Kencana sudah ditangkap. Sekarang sedang diinterogasi tapi beliau belum mau buka mulut. Tim investigasi juga ingin meminta keterangan dari kamu dan Ariel. Siapa tahu kamu bisa menggali informasi dari Bu Kencana.”
“Aku siap.” Kataku, tapi sepertinya suaraku gemetar.
Aku ingin tahu segala hal kenapa dia melakukan semua ini. Motif sebenarnya dari Bu Kencana.
**
Wanita itu tidak tampak letih, namun matanya menerawang. Rambutnya yang keperakan masih tetap rapi, tersanggul elok di kepalanya. Sepertinya Ia tahu cepat atau lambat ia akan tertangkap. Ia sudah mempersiapkan diri seandainya ia tertangkap.
Namun di pikirannya, bisa jadi, setidaknya ia tertangkap setelah...
__ADS_1
‘Setelah aku membunuh kalian berdua. Jadi saat aku dipenjara mereka akan mencari pewaris lain, seseorang yang tidak ditunjuk Rangga, atau Rejo, atau Aku. Orang lain saja.” Kata Bu Kencana.
“Orang lain saja?” kataku. “Itu berarti akan ada banyak orang di keluarga kami yang merana karena-“
“Warisan!! Warisan!! Warisan!! Selalu saja mengharap Warisan!! Kerja sendiri dong!! Tahu tidak kami meraih sebanyak itu dengan darah dan air mata kami bertahun-tahun sampai hampir mati rasanya!! Kalian enak-enak saja tidak kerja malah berharap belas kasihan!” Jerit Bu Kencana.
Ah... menohok sekali.
Aku merasakannya.
Karena aku dan Ariel juga ‘dikorbankan’ demi warisan itu. Kami dinikahkan dan mimpi kami hancur.
Kami juga seakan ditekan untuk menjadi pemimpin perusahaan. Walau pun Ariel menyanggupinya tapi kurasa ia hanya merasa bertanggung jawab.
Aku bahkan tidak menanyakan mimpinya yang sebenarnya.
“Emas itu milikku! Aku yang berhak! Aku disakiti Rangga dan Rejo! Kompensasi atas penderitaanku mahal harganya! Seberapa banyak pun emas yang mereka miliki, hanya kecil di mataku!! Belum saat aku melahirkan di usia 14 tahun! Sakitnya membuatku ingin mati saja!!” Jerit Bu Kencana lagi.
“Aku tidak ingin anak itu! Anak Haram!! Aku tak peduli dia anak Rangga atau Rejo, dia tidak harus ada!! Seberapa banyak pun pil pencegah kehamilan yang kutenggak, dia tetap ada!!”
Aku menghela nafas. Sakit rasanya hatiku mendengarnya.
Bukan hal yang mengherankan kalau Bu Kencana merasa seperti itu. Tapi kami sedang diminta bantuan untuk proses investigasi.
“Bu... apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu?”
Bu Kencana mengernyit menatapku. “Alano memintaku menyediakan tempat untuk perdagangan obat di Indonesia. Agar aku bisa bebas dari jeratan hutang. Kusediakan tempat, ya di rumah ini. Di mana lagi? Tapi setelah aku membunuh Dewi, aku baru tahu kalau kebangkrutanku di Italy juga atas skenario Rejo! Sesuai keinginannya aku kembali ke Indonesia, dan aku bahkan tidak bisa kembali lagi ke Italia karena aku dianggap terlibat dengan mafia di sana!! Pemerintah Italia tidak ingin warga asing yang kerjasama dengan mafia mengotori negara sana! Sial!! Anak-anakku ada di sana!! Kuburan suamiku di sana!! Kuburan bapak ibuku juga di sana!! Aku di sini bagaikan tahanan rumah!!”
Kurasa, yang namanya Alano ini adalah Mafia Sisilia yang menekan Bu Kencana.
Sedikit lagi motifnya terkuak.
“Saat aku ke rumah itu, Dewi tidak menyambutku dengan baik. Sialan anak itu! Apa dia tahu aku melahirkannya dengan penderitaan?! Dimana rasa terima kasihnya?! Kamu tahu apa yang dia bilang padaku?!”
Kami, aku dan Ariel hanya diam mendengarkan, menunggu kalimat selanjutnya.
“Dia bilang aku membuangnya! Aku bukan ibu yang sebenarnya! Aku hanya melahirkannya saja tapi bukan ibunya! Pemikiran konyol macam apa itu?! Kalau bukan karena Rejo, dia tidak akan hidup sampai sekarang! Rumah itu dibelikan Rejo untuknya, semua kebutuhannya dibiayai oleh Rejo. Rejo tidak pernah begitu padaku, bahkan dia membuatku bangkrut, tapi untuk dewi dia membelikannya rumah?! Rejo itu predator! Entah dia apakan si Dewi bisa sampai bertekuk lutut padanya!!”
“Di rumah itu ada Hak-ku! Milik anakku ya milikku,. Milikku belum tentu milik anakku!!” seru Bu Kencana lagi sampai gebrak meja.
Aku ternganga mendengarnya.
Ibu macam apa Kenanga ini?!
Kurasa dia sudah gila.
Dan sialnya, kalau aku membantahnya, aku bisa lebih gila!
Ingin rasanya kutinggalkan ruang interogasi ini, tapi kami di sini demi kepentingan orang banyak!
Astaga betapa menyiksanya ternyata mendengarkan pesakitan berbicara membela dirinya sendiri. Sementara kita harus menekan ego kita semampu mungkin agar informasi bisa keluar dari mulut tersangka.
“Kalian juga!” Bu Kencana menuding kami. “Kalian harus mati!! Kalian adalah anak-anak yang dipilih khusus oleh Rejo dan Rangga untuk meneruskan tahta! Coba kau tanya, siapa yang memberimu nama Ariel? Hah?!” Bu Kencana menunjuk Ariel.
“Eh?”
“Tanya papahmu! Aku yakin Mamahmu yang memberikan nama itu! Sudah direncanakan Mbah Rejo saat Ariel Claudia Lahir, jodohnya adalah orang yang namanya sama! Jadi Mamahmu memberimu nama Ariel Clodio! Rejo bilang ke Rangga, Rangga bahkan tak tahu kenyataan di baliknya kalau kalian dijodohkan sejak lahir oleh Rejo! Tahu tidak semua itu kenapa?! Karena seharusnya ayah Claudia menikah dengan Ibu Clodio! Untuk menyatukan dua keluarga! Tapi mereka malah jatuh cinta ke orang lain!”
Aku semakin pusing.
Tapi Ariel tidak bergeming.
Tunggu... apakah ia sebenarnya tahu kenyataan ini?
Makanya ia menerima begitu saja pinangan ini?
Apakah cintanya padaku sungguhan?
AH jangan! Jangan lagi ada pikiran itu, Aku yakin Ariel mencintaiku. Ia melakukan banyak hal padaku.
Ariel pun menghela nafas.
“Bukan begitu Bu Kencana... Mbah Rejo bilang sendiri padaku menjelang kematiannya.”
__ADS_1
“Apa? Kebohongan apa lagi yang dia katakan padamu?!” tuding Bu Kencana. “Kamu itu sudah dicuci otak sama Rejo!!”
“Jadi... Sebenarnya Bapaknya Claudia yang mengejar-ngejar ibuku, sampai ibuku ketakutan dan akhirnya pindah ke Scotland. Dan...” Ariel menatapku dengan getir. “Aku tidak ingin bilang begini takut cintamu padaku hilang. Aku begitu mencintaimu sampai kusembunyikan kenyataan buruk ini.
"Apa? Apa yang terjadi di balik semua ini?!” seruku tak sabar
“Alasan kenapa kita dijodohkan adalah karena Bapakmu bunuh diri, Claudia. Dia depresi tidak bisa melupakan ibuku. Walau pun sudah banyak wanita-wanita lain yang dinikahinya, ia tetap mencari sosok ibuku. Mbah Rejo sekuat tenaga menahan Bapak kamu untuk tidak mengejar Ibuku ke Scotland, biarlah Ibuku dengan cintanya sendiri. Jadi bapakmu kirim surat ke ibuku... setidaknya... kalau aku tidak bisa memilikimu... biarlah anak-anak kita saling terikat. Jadi setelah aku lahir, aku dinamai sama denganmu.”
Aku hanya bisa terdiam.
Entah apa yang harus kupikirkan.
“Wah wah waaaah!” Bu Kencana bertepuk tangan. “Sungguh cinta yang tragis, tapi tidak se-tragis kisah cintaku yaaaa.”
“Setidaknya Bapaknya Claudia dan ibuku masih memiliki kehormatannya. Mereka tidak menyusahkan orang lain. Terus terang saja Bu Kencana, aku mencintai Claudia setulus hatiku, bukan karena hubungan bapak-ibu kami.”
“Bohong! Tidak ada cinta sejati di dunia ini! Aku sudah membuktikannya! Aku korbannya!!” seru Bu Kencana. “Hidupku hancur akibat perlakuan kalian! Tidak adil kalau sekarang kalian menghakimiku macam-macam!! Kalian tidak tahu perasaanku!” jerit Bu Kencana.
Dilain pihak... entah kenapa aku setuju padanya.
Astaga, dari semuanya, Bu Kencana adalah orang yang paling tersakiti. Hingga ia akhirnya tidak bisa lagi menahan setan dalam dirinya dan sampai keluar batas begini...
Sedikit lagi...
Tahan Ariel Claudia, sedikit lagi jawaban, semua selesai.
“Bu Kencana...” desisku sambil mendekat padanya. “Mohon maaf. Tapi saya rasa ibu salah. Mbah Rejo mencintai Bu Kencana, Mbah Rangga juga. Kami saksi hidup perjalanan mereka.”
“Mbah Rejo tidak ingin mengganggu keluarga Bu Kencana di Italia, sehingga ia merasa bertanggung-jawab atas Dewi Rukmini. Bukti kalau ia mencintai ibu adalah ia merawat Dewi Rukmini sekuat tenaganya.”
“Mbah Rangga juga, sampai akhir dia memberikan seluruh hartanya demi Bu Kencana, bahkan mengikat perjanjian bisnis dengan ibu. Sampai melibatkan Pakde Sasongko, sampai melibatkan Raden Arya.”
“Sambil memendam rasa cinta. Berkali-kali mereka ingin ibu tetap di Indonesia, mereka berharap bisa menjalin kembali hubungan yang terputus. Makanya didirikan PT. Topaz Kencana RR perwujudan nama kalian bertiga. Dan bahkan bidang usahanya adalah tambang batu mulia, sesuatu yang mengaitkan kalian bertiga.”
“Itu wujud rasa cinta mereka ke Bu Kencana. Bahkan mereka menunjuk kami sebagai penerusnya saya rasa bukanlah tanpa sebab. Karena tadinya saya yakin yang akan meneruskannya adalah Dewi Rukmini, buah cinta kalian bertiga, Tapi beliau tiba-tiba menghilang... Mohon maaf ibu, kalau saya salah mengaitkan benang merahnya...”
Saat itu seketika ruangan itu hening. Hanya ada tarikan nafas kami. Rasanya kami bertiga tenggelam ke pikiran masing-masing. Menyadari kalau semua ini adalah kebohongan.
Bisa jadi...
Satu-satunya kejujuran di sini adalah cinta Ariel padaku.
Kurasa, seberapa pun besarnya cinta yang ditunjukkan Mbah Rejo atau mbah Rangga ke Bu Kencana akan sia-sia, karena wanita ini memendam kebencian yang sangat besar sehingga hatinya tertutup.
Tragis, bisa dibilang ini cinta segitiga terlarang yang epic.
Masing-masing menghancurkan hidupnya sendiri demi cinta yang tidak kesampaian yang terjadi dalam kondisi yang tidak mengenakkan.
Sampai-sampai mereka masing-masing bertindak di luar batas, bahkan menerima siksaan dunia bertubi-tubi yang rumit.
Akan kami hentikan siklus ini sampai di sini.
Aku dan Ariel.
“Kami berdua, bersama generasi berikutnya yang berdiri bersama kami, akan menghentikan ikatan rumit ini. Mohon bantuan Bu Kencana.” Desisku.
Ia menatapku nanar.
Lalu menunduk.
Agak lama ia kemudian terisak dan duduk di lantai.
“Pinggang ke atas, kukubur di gapura, pinggang ke bawah di rumah itu. Dua-duanya adalah lokasi yang aku sangat benci. Aku...” Bu Kencana terisak lagi. “Aku membunuhnya karena ia tidak mau menyerahkan rumah itu untukku. Tapi yah... siapa sih yang mau menyerahkan rumah yang akan kugunakan untuk pabrik obat terlarang, iya tidak? Hehe...” desis bu Kencana.
“Aku juga tak ingin... berdagang sesuatu seperti itu kalau tidak terpaksa. Aku ingin keluargaku di Italy hidup tenang dari tekanan mafia-mafia itu. Setidaknya keluargaku di Italy adalah cinta yang kucari sendiri. Tapi kenyataannya aku tak pernah bisa lepas dari jeratan Rangga dan Rejo...”
Dan kekehan getirnya, lalu berubah menjadi tawa. Tawa penuh kesakitan. Terbahak-bahak seakan ia adalah penonton dari hidupnya sendiri. Hidup penuh komedi satir yang tak diinginkannya.
Hampir saja kami menjadi korban lingkaran setan ini. Karena Bu Kencana ingin menguasai semuanya sendirian. Bisa jadi, semua aset akan ia jual untuk kehidupan tenang anak-cucunya di Italy sana. Ia hanya tahu cara ini. Sayang sekali... padahal masih banyak cara lain yang lebih manusiawi. Tapi tidak semudah itu kami utarakan.
Dia benar... kami tidak akan bisa menghakimi, karena kami tidak pernah merasakan ada di posisinya, kami tidak mengetahui seberapa besar kehancuran hatinya.
Dari semua itu... kurasa yang paling ia benci... malah adalah dirinya sendiri.
__ADS_1