
Ia terus memelukku saat kami di bawah shower. Ia tahu belum bisa menyatu denganku, lagi pula kondisinya masih lemah. Rasanya ingin sekali bisa bolos ke kantor dan bermanja-manja saja dengannya di atas tempat tidur, tapi tuntutan pekerjaan menantiku.
Ariel juga harus sekolah, jangan sampai absensinya terganggu. Sedikit lagi ia lulus dan kami bisa membuka hubungan ini dengan leluasa.
Aku sudah tidak menghitung waktunya lagi, saat ini mau sampai berapa tahun kami menikah. Kuputuskan untuk menjalaninya saja dulu.
Aku ingin menikmati saat-saat aku dicintai, aku akan belajar untuk menerimanya.
Ariel mengelus kedua dadaku dengan perlahan dengan sabun, gerakannya seakan menikmati interaksi kami. Kurasakan dari tadi miliknya sudah menegang, sejak saat aku membuka pakaianku dan berdiri di depan wastafel untuk mencuci darah yang ada di pembalutku.
Ia hanya menatapku mencuci dengan mata menerawang, sekali-kali mengecup leher dan telingaku.
Dan saat kami bermain dengan sabun di bawah shower, tangannya mulai menggodaku.
Licinnya sabun membuatnya semakin posesif dengan tubuhku.
“Kamu kemarin kenapa?” tanyaku saat aku menyentuh luka di lengannya. “Nggak perih kena sabun?”
“Perih.” Katanya. “Tapi masa kusia-siakan moment ini... biar saja perih.”
"Kamu luka kenapa/" tanyaku.
"Jatuh dari motor, tiba-tiba kepalaku pusing kemarin,"
"Jangan bilang kamu mencariku,"
"Aku memang dalam posisi mencari kamu, makanya agak ngebut."
"Astaga Ariel..."
"Aku takut kamu kenapa-napa," katanya
"Akhirnya malah kamu yang kenapa-napa..." dengusku
"Motorku nabrak trotoar. Akunya jatoh di pinggir taman. Jadi jatoh ke rumput tapi sempat gresek aspal."
"Terus?"
"Waktu lagi istirahat, karena motorku nggak bisa jalan, aku inget sama Bang Rio. Di akan gape ngutak-atik motor. Kuhubungi, dan dia bilang..."
"Aku ada di rumahnya." potongku
"Kamu ada di rumahnya." imbuhnya
"Astaga..."
"Aku sempat ke rumah sakit kok..." dia mengecup pelipisku.
"Hm..."
Jemarinya menelusuri perutku lalu bermain di kli to risku.
Aku men de sah karena merasa sangat nikmat. Aku suka kalau ia bermain dengan bagian itu.
Aku pun mencondongkan bokongku ke belakang, sampai menekan tubuhnya, miliknya di antara belahan bokongku.
“Ssssh... Oooh Ariel...” aku mencengkeram lengannya saat ia mengerjaiku.
__ADS_1
Hanya satu jemari, jemari tengah yang diselipkan di antara belahan mawar, yang ditekan di atas daging kecil penuh saraf sangat sensitifdi tengah lipatannya, tapi rasanya langsung membuatku melayang melupakan segalanya.
Aku refleks membuka kedua kakiku, dan kutolehkan wajahku ke samping.
Dia mengerjaiku, aku juga akan nakal padanya. Biar saja dia kerepotan menahan birahinya.
Jadi aku kecup lehernya, rasanya entah bagaimana tawar tapi segar. Lalu kujilat sepanjang lehernya di antara tetesan air shower.
Dia terdengar memaki menahan nafsunya.
Aku sendiri kaget dengan tingkahku sendiri. Aku tidak pernah berhubungan dengan laki-laki sebelumnya. Dengan Arka pun biasa-biasa saja, kalem dan santun, malah Arka tidak suka kalau aku minta cium pipi di depan umum. Untuk bergandengan tangan saja ia terlihat jengah.
Tapi dia kemarin memeluk cewek itu dengan erat dan mengecup pelipis pasangannya.
Duh, kenapa pikiranku lagi-lagi ke Arka...?
Untuk melupakan kegalauanku, aku kembali ke Ariel. Kugigit lembut bibir bawahnya, ia menyambutku mulutku dengan penuh hasrat. Kami berciuman cukup lama aku mendengar bunyi alarm di ponselku yang menandakan sudah saatnya aku keluar rumah untuk naik ojek online ke arah sekolah.
Aku biasa memasang alarm karena aku lumayan lama kalau berdandan.
“Tanggung jawab kamu...” desisnya saat kami melepaskan tautan kami.
Dan aku pun berlutut di depannya. Memulai aksiku untuk memberi servis kepada bocah, suamiku ini.
**
SMA Bhakti Putra.
Siang itu setelah selesai mengajar, aku bergabung dengan teman-temanku untuk makan siang.
“Waduuuh bikin heboh aja Bu Arieeeel,” seru Yudhis sambil mencomot udang goreng tepung di atas piringku. Kami berada di kantin saat ini. Karena tidak ada ibuku yang biasa memasakkan bekal jadi aku beli makanan di kantin sekolah. Anggun sih bilang kalau aku bisa meminta salah satu ART untuk membuatkanku bekal makan siang, tapi aku tidak enak untuk menyuruh-nyuruh karyawan orang lain demi kepentingan pribadiku.
“Kenapa gue bisa sampai nggak tahu kasus ini sih?” tanya Jenny.
”Lu kan emang selalu ketinggalan. Seminggu nggak masuk cuti ke Paris... liburan sama Om lu,’ kata Yudhis.
“Guru BK kok kerjanya liburan melulu...” gerutu Bu Ratna sambil menatap tajam ke arah Jenny.
Jenny menjulurkan lidah ke arahnya. “Ya kalau bete sana liburan!”
“Saya ini guru MTK, setiap hari mengajar untuk 2 kelas. Karena memang pelajaran dasar dan sangat berguna bagi murid. Jadi kami mengorbankan waktu liburan demi kemajuan bangsa! Bukannya kerja seenaknya! Apa sih pentingnya guru BK kalau masalah Bully yang jelas-jelas kewajibannya saja beliau tak acuh?!” Bu Ratna mengomeli Jenny, tapi Jenny hanya buang muka.
Aku diam saja, karena dari dulu memang aku yang selalu ‘ketempuan’ kalau masalah perundungan ini.
Jenny pernah diminta untuk menangani kasus perundungan, berakhir dia di maki-maki sampai sakit oleh wali murid karena si istri menuduhnya memakai baju seksi untuk menggoda... suami si wali murid. Mau menangani, malah dia yang di-bully.
Lalu aku pun berpikir...
Hubunganku dengan Ariel termasuk melanggar aturan sekolah.
Bahkan kalau hubunganku bukan guru dan murid, situasi ini tetap dianggap salah. Karena Ariel masih sekolah sudah dinikahkan. Bahkan banyak juga dikalangan saudaraku yang menghujat kelakuan Mbah Rangga dan Mbah Rejo, menikahkan kami yang merupakan insan yang tidak saling cinta untuk warisan. Kalau ikhlas ngasih warisan ya tidak usah memaksa seseorang menderita karena pernikahan, begitu kata mereka.
Tapi di lain pihak pernikahan ini membantu perekonomian mereka juga.
Saudara-saudaraku bisa hidup sejahtera kalau pernikahan ini berhasil.
Tanpa mereka tahu cerita di baliknya. Demi rasa persaudaraan aku bahkan rela tersiksa dengan ikatan yang tidak kuhendaki . Mereka tidak bisa apa-apa. Maju kena mundur kena.
__ADS_1
Mereka memang malu kalau minta secara langsung ke Felix atau Hector yang notabene saudara juga. Tapi lebih enak kalau minta sama sesepuh. Orang tua kita sendiri.
Masa Pakde minta-minta ke ponakan, padahal harusnya ponakan yang minta ke pakde. Hierarki di keluarga kami memang menyulitkan diri sendiri.
Serba ribet memang.
Jadi, karena aku juga mulai terkesan dengan sikap Ariel, dan demi nama baik sekolah ini, kurasa aku akan mengajukan resign saja untuk berjaga-jaga.
Aku tidak tega kalau sekolah ini juga terbawa-bawa masalah keluargaku.
Impianku ambil degree di Inggris dan pekerjaan impianku jadi pengajar di Garnet Bank, biarlah kutangguhkan dulu. Karena kalau memang kedua hal itu adalah hak-ku, pasti rejeki itu akan kembali padaku.
Sore itu,
Setelah semua orang bersiap-siap pulang,
Aku pun ke ruangan Pak Rendi untuk menyerahkan Surat Resign yang baru saja kuketik diam-diam.
Pak Rendi menatapku dengan kening berkerut saat kuserahkan surat itu.
“Resign?” tanyanya membaca ketikan di depan amplop.
Aku pun mengangguk.
“Kenapa? Kamu guru terbaik kami. Apa karena masalah Davina kemarin terlalu berat untuk kamu? Kita sudah melalui banyak sekali kasus yang lebih berat dan rasanya kamu baik-baik saja.” Kata Pak Rendi.
Aku mengangguk. “Ya Pak. Ini hanya jaga-jaga saja. Surat ini belum diisi tanggalnya. Tapi saya merasa dalam waktu dekat akan terjadi. Terutama Ariel Pak.”
“Ariel? Kenapa lagi dia?!” Pak Rendi beranjak sambil menatapku dengan dahi berkerut. “Kamu diapain sama Ariel?!”
Aku menggaruk kepalaku, bingung mau menjelaskan dari mana. Tapi aku merasakan adanya firasat buruk yang kentara. “Hem... Tidak diapa-apakan. Hanya dinikahi saja.’
“Hah?! Di- apain?!” ia berseru kaget
Dan kujelaskan duduk masalahnya. Perlahan-lahan.
Itu pun dia minta pengulangan di beberapa bagian cerita.
Dan setelah setengah jam aku bercerita...
Pak Rendi pun berujar : “Kalian gila! Ini bentuk kecurangan, Ariel!! Kalian saya biarkan belajar mengajar dalam posisi sudah menikah! Dilihat dari mana pun melanggar kode etik! Kalau ketahuan, satu sekolah bisa dibubarkan!!” serunya berang.
Iya, bukannya aku tak tahu masalah yang ini.
“Terutama...” Pak Rendi terdiam dengan tangan di pinggangnya,. Ia sedang berpikir keras. “Terutama Ariel, dia tidak boleh ada di sini. Anak masih berstatus pelajar SMA tidak diperkenankan menikah saat masih bersekolah di sekolah umum, kecuali kasus Rio-Anggun kemarin, sudah dapat dispensasi dari Menteri Pendidikan. Tapi kalau untuk urusan warisan, hal konyol yang tidak dapat diterima!!” serunya kesal.
Aku hanya bisa menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.
“Pak-“
“Panggil Ariel ke sini... juga ayahnya. Juga ibu kamu.” desis Pak Rendi dengan lesu.
Ini... mungkin adalah pukulan telak baginya.
Wajar saja, tingkah kami mengancam kredibilitas sekolah ini.
Kalau sampai ada yang tahu, sekolah ini bisa di cap tidak baik untuk tumbuh kembang anak, yang seharusnya fokus belajar untuk bekal masa depannya. Bukan dipusingkan dengan urusan pernikahan dan rumah tangga segala.
__ADS_1