
“Anjrit setan!” seru Ariel saat itu.
Ia bangun pas wajah sang iblis, di film horor’ muncul tiba-tiba sambil meraung.
Aku sedang memakan es krimku sambil duduk di sebelahnya, hanya melirik. Sebenarnya, menurutku tampilan setan di film tidak lebih mengerikan dari pada di nyata. Kalau di nyata sebagian besar sosoknya berbentuk siluet atau bayangan buram. Kesannya semakin misterius dan membuat tubuh ini gemetar. Ada yang tampak nyata, mungkin jin yang ilmunya sangat tinggi. Katanya saat bertemu hati kita bagaikan bergetar karena mengerikan dan kita jadi beneran takut.
Tapi syukurlah, ‘mereka’ yang menampakkan diri untukku, tidak dalam wujud aneh-aneh seperti Dewi Rukmini yang walau pun kakinya aneh, untung saja wajahnya cantik.
“Kok kamu tenang-tenang saja sih nonton gituan?” gerutu Ariel.
“Kenapa? Kamu takut?” tanyaku.
“Kaget tauk...” gumamnya sambil tidur miring. Kakinya ditekuk dan bantal diletakkan di atas kepalanya.
Aku mengambil bantal itu dan memeriksa suhu di dahinya. Panasnya mulai turun. Dia memang butuh banyak istirahat.
“Mau makan apa?” tanyaku.
“Apa ya...” desisnya sambil berusaha duduk. Otot perutnya tertekuk, tampak kokoh dan solid. “Terserah kamu aja, sekitar sini juga banyak restoran sih.”
Aku menyodorkan kopi hitam panas. Ia menyesapnya perlahan.
“Hoh, legaaa...” gumamnya menghela nafas setelah minum kopi.
Lalu melayangkan pandangan ke sekitar kami, “Udah malem toh,” gumamnya. Lalu memiringkan kepala sambil menatapnya, “kamu ngapain aja selama aku tidur?’
“Hm... nonton, ngemil, jalan-jalan ke depan sambil beli pembalut, ngemil lagi,nonton lagi, ngemil lagi, nonton lagi...” kataku cuek.
“Haidnya hari ke berapa?”
“Hari ke dua Arieeeel, lagi deres-deresnyaaaa,” aku melakukan penekanan kata, karena aku tahu maksudnya menanyakan hal itu.
Ia terkekeh lalu beranjak, dan masuk ke kamar mandi.
Aku masih santai saja, kupikir untunglah tak banyak tuntutan. Secara kita sekarang lagi di hotel. Siapa tahu vibenya romantis. Aku malah merasa bersyukur karena sedang datang bulan. Jadi nggak ada yang aneh-a-
Haduh!!
Ariel keluar dari kamar mandi dalam keadaan telan jang. Alatnya sudah sepenuhnya berdiri.
“Dikit,” desisnya sambil menyodorkan itu ke depan hidungku.
“Dikit apanya?!”
“Dikit aja, buka mulut kamu,” jarinya masuk ke dalam bibirku, dan menekan gigiku untuk membuka bibirku.
“Maksudnya?!” dengan sewot aku menepis tangannya.
“Masa nggak ngerti maksudku sih. Kamu masukan yang ke dalam mulut, kamu e mut sampai batas ini.” Ia menunjuk area dimana aku harus beraksi. “Dari sini ke sini, terus sini ke sini, jangan lupa yang ini juga,” ia mengelus ujung tubuhnya.
Sialan...
Aku sampai-sampai tertegun karena kelancangannya.
“Kamu menyuruhku?’
“Jelas. Itu kewajiban kamu.’
“Untuk 0ral, bukan kewajibanku. Masih jadi perdebatan mengenai aturan hukumnya,”
“Dan bagaimana cara kamu melayani suami di saat haid?”
__ADS_1
“Pakai tangan aja,” tawarku.
“Nggak seru.”
Kampret...
“Aku ingin melihat wajah kamu saat memuaskanku dengan lidah,”
“Kamu sedang merendahkanku?”
“Bukan, jangan salah sangka, Itu salah satu bentuk seni memuaskan suami.’
“Apa sih itu heh!” aku sampai terkakak mendengar bahasanya.
Ia mengangkat daguku ke atas, lalu menunduk untuk menciumku. Rahangnya memaksa mulutku untuk terbuka, ia merengkuh lidahku dengan lidahnya,
Ini ciuman yang kasar, penuh hisapan, penuh hasrat dan full mendominasi.
Danjangantanya tangannya ke mana.
‘Aku sedang haid kataku!” seruku sambil mendorongnya.
Tapi ia malah membalik tubuhku, membuatku berlutut dipinggir ranjang dan meloloskan gamiskuke atas, sekalian denganbra ku! Entahbagaimana dia melakukannya.
Tangannya meremas dadaku dengan kencang dan ia memaksaku menerima ciuman yang datang dari arah belakang kepalaku.
Sementara tangannya yang satu lagi... masuk ke dalam celanaku, memainkan kli to risku dengan ujung jarinya. Ia tekan dan bergerak memutar.
Aku sampai-sampai mengge linjang karena perbuatannya. Aku hanya bisa berpegangan pada rambutnya. Aku remas helaian tebalnya saat aku merasa hampir gila! Aku bahkan tidak mampu mende sah karena ia menghisap lidahku.
Sebelum aku sadar dari perbuatannya, lidahnya sudah berganti dengan tubuhnya yang lain. Yang dimasukkannya ke dalam rongga mulutku, seketika aku tersedak dan menarik kepalaku. Aku terbatuk sebentar, tapi dia tak membiarkanku berlama-lama mengulur waktu. Batangnya masuk ke dalam mulutku lagi, kali ini ia menahan tengkukku.
Rasa dirinya... tawar, halus, namun keras. Dan bagian kepalanya licin.
Jadi kukondisikan lidahku supaya bermain di ujung ure tranya.
“Ooooh, enak yang itu enaaaak...” ia bergumam sambil mendongakkan kepalanya ke atas, tangannya tetap meremas rambutku.
Aku semakin bersemangat.
Sampai akhirnya ku tarik kepalaku, kurengkuh tubuhnya dengan jemariku, kusentuh naik turun agak cepat, salivaku sebagai pelicin, sementara aku tetap mengu lum ujungnya.
“Claudia... Claudia kamu seksi banget...”gumamnya mulai meracau
Dan lepaslah ia.
Cairan menyembur ke dalam mulutku.
“Ohokk!! Ohokk!!” aku langsung terbatuk.
Masalahnya... rasanya tidak enak! Asin, berlendir, amis, panas, jadi satu.
Aku langsung menyesap kopiku dan memukul Ariel dengan bantal karena kesal.
Ariel hanya terbahak sambil menangkis bantalku, lalu menjatuhkan dirinya di kasur.
Terlentang, dalam keadaan telan jang. Bagian itunya terpapar jelas dalam keadaan yang perlahan menyusut, namun memang ukuran Eropa sih.
Dan terlihat ia sedang mengatur nafasnya.
“Sori...” desisnya.
__ADS_1
Melihatnya dalam keadaan lemah seperti itu, malah membuatku penasaran. Karena biasanya ia masih tampak bersemangat bahkan setelah berjam-jam kami bergumul. Kali ini sekali keluar dalam tempo cepat, ia sudah tumbang.
Aku duduk di sebelah tubuhnya, lalu entah mengapa aku malah menangis. Air mata yang tak bisa kutahan langsung tumpah membasahi pipiku.
Melihat Ariel yang begitu menyayangiku membuatku kesal sekaligus luluh dalam sekali waktu.
Ariel duduk dan mengelus pipiku, menghapus air mataku.
“Kenapa? Sakit di mana?” tanyanya.
“Tolong... jangan terlalu baik padaku... jangan terlalu menginginkanku...” isakku.
“Karena...” dia jeda sebentar, “Karena kamu merasa tidak bisa memberikan segalanya padaku?’
“Aku tidak mencintaimu...’
“Belum. Kamu belum mencintaiku.” Ralatnya. “Suatu saat aku akan mengambil hatimu...”
“Astaga Ariel...” aku menggelengkan kepala.
“Apakah kamu merasa jijik dengan permainan kita tadi?”
Aku menggeleng lagi.
“Atau jangan-jangan kamu merasa senang melihatku kepayahan karenamu?” tanyanya.
Aku diam.
Ariel mengusap kepalaku.
“Belajarlah mencintaiku, Claudia. Maka aku akan memberikan segala yang kupunya untukmu. Bahkan kalau itu nyawaku sekalipun.”
“Bagaimana kalau tetap tidak bisa?”
“Batas waktunya 3 tahun... jadilah partnerku selama 3 tahun. Partner hidup. Setelah itu hubungan ini kita kaji ulang. Bagaimana?”
“Kau tak jadi menceraikanku?”
“Kau masih berharap kuceraikan?”
“Pendidikanmu terancam kalau tetap denganku Ariel,”
“Banyak jalan yang bisa dilalui seandainya resiko itu terjadi. Tapi aku hanya ingin bersama-mu. Bukan yang lain. Kumohon bertahanlah 3 tahun denganku.”
“Kalau jalan jadi jelek itu...”
“Berhentilah jadi jelek! Semakin kau berusaha tampil jelek semakin membuatku gemas, kau malah jadi semakin menyilaukan di mataku!”
“Beratku hari ini naik 2 kg, rambutku berantakan kuangkat ke atas, aku juga mandi pagi aja sore aku malas mandi. Aku nggak pakai make up, kenapa kamu malah tetap mendekat?!”
“Ohya?” Ariel terlihat tertegun sambil memperhatikanku. “Kamu nggak pakai make up nih?’
“Nggak, hanya pelembab dan lipgloss aja...” kataku sambil menaikkan bahuku sekilas.
“Kupikir malah kamu perawatan. Soalnya kamu tambah manis...”
Aku menarik nafas panjang, lalu menggaruk kepalaku yang tak gatal.
**
Cinta sejati akan membuat kamu menjadi orang yang lebih baik, tanpa mengubah kamu menjadi orang lain, selain apa adanya kamu.
__ADS_1
**