Antonim Akal, Sinonim Sayang

Antonim Akal, Sinonim Sayang
Keputusan dari Yayasan


__ADS_3

Akhirnya diputuskan besok pagi kami akan berdiskusi dengan orang dari Yayasan Bhakti Putra. Memang berat rasanya meninggalkan sekolah ini, tapi aku sudah siap lahir batin. Aku hanya tidak rela Ariel akan putus sekolah. Apakah Mbah-Mbah kami tidak memikirkan dampaknya ke depan bagi pendidikan cucunya?


Atau kah memang bagi mereka pendidikan itu tidak terlalu penting?


Saat kami keluar dari ruang Kepala Sekolah, Papah menghela nafas dan mengelus puncak kepalaku, “Ikhlas ya Ariel...” desisnya dengan mata sendu.


“Hm,” gumamku.


“Papah akan menemui Felix besok, jaga-jaga supaya bisa memasukkan kamu untuk Ujian kesetaraan tepat waktu.” Kata Papah ke Ariel. Walau pun belum ada keputusan dari sekolah apakah akan melakukan pemecatan siswa ke Ariel atau tidak, tapi sepertinya memang harus mengantisipasi agar Ariel dapat lulus tepat waktu.


“Apa pun yang terjadi, kami akan mengusahakan kalian mendapatkan impian kalian. Program doktoral dan kesempatan mengajar sekalian ya Aaron, biar Felix bisa lebih meringankan syarat untuk melamar jadi tenaga pengajar di Garnet lah. Title professor juga belum tentu bisa ngajar,” kata ibuku.


Ibuku memanggil Papah dengan namanya. Aaron.


Sudah seakrab apa sih mereka? Biasanya mereka menyapa di antara mereka dengan sebutan Pak Besan atau Bu Besan.


Aku melirik papah, lalu melirik ke arah ibuku. Ke arah papah lagi, lalu ke arah ibu lagi. Ganti-gantian. Sepertinya Ariel juga melakukan hal yang sama denganku.


Sampai dua pasangan di depanku jengah sendiri karena lirikan kami berdua.


“Jangan macam-macam, belum mahram,” dengus Ariel.


Papah langsung mencibir. Ibuku bahkan menepuk lengan Ariel kencang sekali padahal di situ ada luka baret saat jatuh dari motor semalam.


Ariel hanya bisa mengaduh tanpa suara sambil bertumpu padaku.


**


Besoknya aku ke kantor dengan perasaan galau. Semalaman tidak bertemu Ariel karena dia pulang ke rumahnya. Apakah aku pindah saja tinggal bersamanya? Lalu bagaimana dengan ibuku? Kami sudah sepakat sih rumah warisan ayah dihibahkan ke ibuku saja. Karena aku ingin memiliki rumah yang kubeli dengan gajiku sendiri, menggunakan namaku. Tapi tetap saja meninggalkannya sendirian rasanya kasihan.


Apa kubawa saja tinggal di rumah papah.


Agar hubungan mereka semakin erat, hehehehe.

__ADS_1


Ah, tidak! Tidak! Itu menyalahi aturan. Mereka harus tinggal terpisah dulu sebelum sah.


Selain itu,


Masalahku dan Ariel pagi ini ternyata lumayan pelik. Seperti biasa sejak kenal Ariel, hari-hariku tidak tenang.


Wakil dari Yayasan Bhakti Putra datang terkait berita dariku. Sialnya, yang datang bukan kakak kelasku Ruby Gaspar, tapi adiknya.


Orang yang paling kuhindari sebenarnya karena ia lumayan tegas kalau urusan seperti ini. Masalahnya aku tidak terlalu kenal beliau, yang pemikirannya setajam silet dan tidak kenal belas kasihan.


Namanya Prof. Dr. Romeo Gaspar, ST.,M.Sc. Di usianya yang 17 tahun, dia mendapatkan gelar professor dari Cambridge. Dan di usia yang ke 18, dia mendirikan banyak sekolah swasta terkenal. Kini usianya paling hanya berbeda 3-4 tahun di atasku, tapi dia sudah menjadi Wakil Ketua Yayasan. SMA Bhakti Putra di bawah perusahaan Garnet Grup pun mempercayakan pengelolaan sekolahan ini ke keluarga Gaspar. Selain diserahi tugas untuk mengatur jalannya sistem pendidikan sesuatu dengan peraturan pemerintah, ia juga join dengan Felix, sepupuku untuk mendirikan yayasan pendidikan kesetaraan.


Tugasnya adalah mencari anak bangsa dari keluarga tidak mampu, yang ia didik dengan metode pengajarannya sendiri, lalu ia gunakan untuk menentukan standar pendidikan di negara ini.  Kenapa diambil dari keluarga tak mampu? Karena ia percaya, saat generasi penerus banyak yang tidak sekolah, negara ini akan mudah di-invasi musuh.


Romeo Gaspar duduk di kursi kulit Pak Rendi sambil membaca laporan dariku dengan kening berkerut.


“Ariel...” desisnya.


“Ya Pak?” aku dan Ariel bersahutan berbarengan.


“Saya bisa dipanggil Claudia saja pak, untuk membedakan,” kataku.


“Sounds better,” gumamnya dengan mata belum lepas dari layar ponselnya. “Untuk Claudia masih bisa kami terima untuk bekerja di sini, karena prestasinya dan kami membutuhkan guru yang bisa menangani bullying seperti kamu. Ya walau pun tanpa nama besar Ranggasadono kamu juga bakalan kalah perang sih. Terima kasih ke Mbah kamu tuh, atau ke Raden Arya yang berkat mereka, kamu bisa jual nama...”


Aku benar-benar kesal dengan penuturannya. Walau aku tahu dia benar.


“Tapi kalau untuk Ariel... maaf saja. Seharusnya kami malah tidak menerima kamu sekolah di sini dari awal. Standar kamu hanya bikin malu sekolah ini. Terlepas dari yang katanya kamu, semua ini hanya takdir. Kamu terjebak di waktu yang salah dan situasi yang salah, bukan kamu yang melakukan ini-itu bla bla bla... saya juga pernah muda hey. Kita selalu dihadapkan ke sebuah pilihan. Mau menghindar atau terlibat. Mau bodoh atau pintar. Dan pilihan kamu selalu salah. Selamat ya, kamu pecundang sejati...” gumam Pak Romeo tanpa jeda.


Ariel hanya bisa melongo.


Baru kali ini dia kalah debat.


“Prestasi kamu... kalau dibandingkan dengan lulusan terbaik kami sebelum kamu... Anggun Rejoprastowo dan Damian Cakra? Kalah jauh sebenarnya. Sama Damian aja kamu levelnya beberapa tingkat di bawah. Walau pun IQ kamu lebih tinggi. Mungkin di sini yang kurang ketekunan ya, kebanyakan main sih kamu, jadi otakmu tumpul, bukan cuma yang bawah yang tumpul... intuisi juga tumpul. Mikirnya adegan ranjang terus sih...”

__ADS_1


Aku benar-benar tidak sampai hati dengan Ariel yang mendapat pukulan bertubi-tubi dari Romeo yang kerap berbicara gamblang.


“Hanya untuk urusan beginian saya dipanggil ke sini, saya ini orang sibuk loh. Daripada ngurusin kalian berdua kawin-kawinan kan mending saya ngajarin anak didik saya bongkar pasang komputer. Saya harus batalin janji ke mereka, ya udah resiko tugas sih. Padahal tema hari ini lumayan menarik, bagaimana cara merakit penyadap micro yang tidak mudah diketahui,”


“Eh, buseeet,” desis Ariel. “Saya boleh ikut kelasnya Pak? Plis?” tawar Ariel.


“Itu kelas coding untuk anak 12 tahun ya tapi terserah kamu sih, tidak ada kata terlambat untuk pendidikan,”


“Mau Paaaak!”


“Ya sudah habis ini kamu ikut saya,”


“Siapa yang mau kamu sadap?” tanyaku heran.


“Bukan masalah sadap menyadapnya sayang, tapi masalah ilmu gratisnya.”


“Itu benar.” Jawab Romeo menimpali Ariel. “Tapi bukan berarti saya mengampuni kamu, Kamu tetap harus keluar dari sini. Ikut kelas kesetaraan saja ya, saya gratisin deh. Butuh ijazahnya untuk kerja di kantornya Raden Arya kan ya?! Katanya batas waktunya 3 tahun harus segera ada pengurus baru. Kamu ngejar itu kan?”


Dari mana dia tahu ya? Apakah berita tentang kami sudah menyebar ke seluruh anggota pengusaha?


“Untuk Claudia, kami sangat menghargai karena kamu bersedia resign, demi nama baik sekolah. Tapi kalau mau balik lagi kesini ya tunggu sekitar dua tahun dulu sampai dua generasi siswa lulus dari sini, jadi beritanya tidak terlalu menyebar ada murid nikah sama guru sendiri.”


Pak Romeo ternyata kalau menjelaskan sesuatu bisa hanya dalam satu tarikan nafas ya. Suaranya rendah tapi tegas. Dan jarang kudengar hanya kalimat per kalimat pendek.


Apa itu tanda orang jenius? Suka menjelaskan sesuatu dengan kalimat-kalimat panjang, tapi setiap katanya bermakna. Saking banyaknya ilmu jadi tak tahan untuk ditampung di otak sendirian kali ya. Tapi menurutku orang seperti dia ini termasuk langka karena dia bisa menjelaskan dengan gamblang dan tanpa bertele-tele. Ia juga tidak suka basa-basi. Jadi langsung ke inti masalahnya.


Pertemuan kami singkat, kurang dari 10 menit, tapi kami berdua sudah lebih ikhlas karena ada solusi terbaik.


Akhirnya di penghujung sesi, kami hanya bisa menundukkan kepala sambil bilang “Terima kasih Pak,” kata aku dan Ariel.


“Ah iya, Claudia. Sebenarnya kamu bisa saja loh melamar jadi pengajar di Garnet sekarang. Tapi resikonya kamu akan direndahkan. Kebanyakan anak murid lulusan S2 universitas di luar soalnya. Maksud Felix, kamu harus bisa mencapai gelar profesor agar mereka tidak meremehkan kamu. Percuma kalau mau jual nama Ranggasadono di sana, karena kebanyakan dari mereka sudah kebal. Bataragunadi saja mereka tak peduli apalagi hanya Ranggasadono... hehe, yaaa kuat-kuatnya kamu saja sih.”


“Anuu, saya mau tunggu saja Pak sampai sesuai standar, karena saya juga harus mengurus bayi gede.” Aku melirik Ariel.

__ADS_1


“Tabungan udah banyak sih ya dari warisan, kerja mah partime ajaaaa. Nanti kalau warisan udah cair, bilang ke saudara-saudara kamu, depositonya di Garnet Bank loh ya. Jadi kita cuan, kamu cuan.” Demikian penutup dari Pak Romeo disertai dengan hipnotis marketing ala beliau sedikit.


__ADS_2