Antonim Akal, Sinonim Sayang

Antonim Akal, Sinonim Sayang
Pelajaran Hidup


__ADS_3

Saat kami sedang berdiskusi dengan semangatnya, pintu kelasku didobrak paksa.


Kulihat dua orang di sana, yang tentu aku kenal karena beberapa kali bertemu saat pembagian rapor semesteran. Itu Pak Darsono dan Bu Retno, orang tua Davina.


Tampak Davina muncul dari belakang punggung ayahnya sambil memicingkan mata padaku dengan wajah sinis.


“Kamu Ariel Claudia? Guru yang berani-berani ngomong kasar ke anak saya, hah?!”


Ngomong kasar? Kapan ya?


Apakah ini masalah pembully-an Merry waktu itu?


Kulihat Ariel bahkan sampai berdiri saat mereka masuk ke dalam kelas. Aku menggelengkan kepala padanya. Memintanya untuk kembali duduk.


Bagiku, aku sudah menang, kedua wali murid ini melakukan vandalisme dengan mendobrak property sekolah, yaitu bisa dikategorikan sebagai fasilitas umum.


Sudah begitu, mereka masuk tanpa izin saat jam pelajaran berlangsung, dan langsung menudingku di depan banyak orang tanpa dasar. Itu berarti tindakan mengganggu ketertiban umum dan perbuatan tidak menyenangkan.


Apa mereka tahu, perbuatan mereka karena 1 anak, tapi berdampak ke 30 anak lain yang ada di dalam kelas. Kegiatan belajar yang merupakan Hak bagi 30 anak lainnya terenggut karena perbuatan 1 anak.


Tapi aku berusaha menanggapi mereka dengan kepala dingin. Aku bukan jenis guru yang manut kepada wali murid, apa pun jabatan mereka di luar sana.


Karena kalau mereka orang terhormat, mereka akan menanggapi semua dengan lebih tenang, diusut satu persatu masalahnya, di dengarkan pendapat dari dua pihak, tidak berpatokan secara sepihak saja. Seringkali malah anaknya yang salah, bukan lingkungannya.


“Saya hanya berusaha memberinya pengertian kalau kekerasan verbal itu tidak diizinkan ada di lingkungan sekolah.” Begini kukatakan.


“Heh! Dasar guru goblok!” Bu Retno menudingku dengan menunjuk wajahku. “Membimbing anak itu adalah tugas kamu. Kami sudah bayar mahal untuk gaji kamu. Tanpa pemasukan dari kami sekolah ini tidak akan menjadi bergengsi seperti ini. Jadi selama ini kami bayar ratusan juta untuk uang pangkal hanya untuk mengantarkan anak kami ke tempat yang lebih buruk dari penjara, hah?! Dengan sipirnya yang senantiasa berkata kasar?! Ini anak murid! Apa artinya kata ‘murid’ diotak kosong kamu?! Selama dia lahir bahkan saya yang ibunya sendiri tidak pernah berkata kasar padanya!!”


Tanpa pemasukan dari kami? Siapa yang dia sebut kami? Karena orang tua Merry, si korban, juga membayar uang pangkal yang sama besarnya dengan Bu Retno. Bahkan orang tua dari 30anak lain yang kegiatan belajar nya terganggu, ada yang lebih besar membayar uang pangkal dibanding Bu Retno ini. Itu pun ia kesampingkan, Dasar egois...


Aku menatap suami Bu Retno, Pak Darsono yang hanya berdiri di sebelahnya sambil menatapku dengan mulut bungkam.


Aku sebenarnya malas meladeni Bu Retno. Dia hanya membela anaknya tanpa mendengar keluh kesah korbannya.


Ariel sudah berdiri dengan wajah tegang. Aku tahu dia mencoba membelaku.


Tapi aku menggeleng padanya. Minta agar aku menyelesaikan masalahku sendiri.


“Suami anda motivator, coba tanya beliau. Senakal apa pun, anak membutuhkan perhatian dari orang tuanya, bukan dari gurunya. Yang terlihat di mata saya sekarang adalah anda tidak mau bertanggung jawab memperhatikan tingkah laku Davina karena melelahkan. Saya menegurnya saat jam pelajaran sekolah usai. Kapasitas saya sebagai masyarakat awam, orang yang lebih tua, yang mengajarkan mengenai pentingnya sebuah adab dan balasan dari Tuhan mengenai tingkah laku anak anda yang seorang pembully!”


“Kalau anda memosisikan diri anda sebagai masyarakat, itu berarti anda tidak perlu susah payah meneriaki anak saya dengan kata-kata kasar ya! Karena itu bukan urusan anda.” Ia masih meneriakiku. Kata-kataku seperti angin lalu dibuatnya.


“Itu urusan saya karena anak anda berbuat onar di ‘rumah’ saya, di ‘rumah’ teman-teman saya, di ladang pekerjaan kami, dan anak anda mengancam kenyamanan 300 anak didik lain yang sedang menuntut ilmu di tempat kami. Jelas?!” aku menghardiknya. “Anak anda itu tukang  bikin onar yang suka menendang perut, betis, wajah anak lain loh! Udah kurang kriminal mana?! Suami anda seorang motivator besar, anaknya berbuat begitu ke anak orang lain, di mana ibunya si korban juga seperti anda, melahirkan dengan susah payah tapi malah seenaknya ditendangi sama bocah yang bahkan tidak membayarinya uang sekolah. Hah?!”


“Kalau begitu, mana? Mana orang tua nya hah? Orang tua yang katanya ‘korban’ itu  mana hah? Jangan-jangan anda ini membual. Mereka hanya sedang main-main, anda bilang pembullyan biar anda ini pansos! Iya kan?!”


Dan tiba-tiba, seketika lampu ruangan kelas dimatikan. Ariel sudah berdiri di depan pintu, menekan saklar lampu ke bawah. Lalu menyalakan proyektor.


Video tentang suasana di kamar mandi saat itu terpampang besar, gambarnya jelas, berwarna. Hanya memang suaranya agak kecil. Tapi masih bisa didengar.


Aku melirik Ariel, dia tersenyum tipis padaku.


Ya, aku membagikan video kejadian itu ke Ariel yah. Ada gunanya juga...


“Anda sudah lihat sendiri videonya.” Jawabku.

__ADS_1


“Itu tidak membuktikan apa pun, siapa tahu mereka memang sedang berlatih bela diri atau apa,”


“Berlatih bela diri di WC?”


“Atau memang si Merry-merry itu berbuat nakal duluan ke anak saya. Anda sebagai guru tidak boleh dong berteriak ke kami orang tua murid!”


“Boleh tunjukkan ke saya, di bagian mana saya berbicara kasar di video itu, di bagian mana saya berteriak ke Davina di video itu. Tunjukan ke saya.”


Keadaan langsung hening.


Tipikal orang tua murid yang seperti ini bukan sekali-dua kali kutemui. Belasan kali dalam 6 bulan.


“Saya akan bawa masalah ini ke pengadilan!” desis Bu Retno.


“Lebih baik jangan bu...” kata Ariel di samping sana.


Aku menghela nafas. Aku tak ingin dia ikut-ikutan sebenarnya.


“Kamu siapa?! Nggak usah nambah-nambahin dan mencoba membela!” seru Bu Retno.


“Saya malah mau melindungi mata pencaharian suami ibu. Pak Darsono sering dipanggil seminar ke Garnet Bank kan ya?”


“Memangnya kenapa hah? Apa urusannya?!”


“Bu Guru Ariel Claudia ini seorang Ranggasadono. Tahu kan komisaris di sana? Sepupu kami...”


Yah, akhirnya bawa-bawa nama keluarga juga.


“Ada ribut-ribut apa ini?” Pak Rendi datang dengan wajah malasnya dan gerak tubuhnya yang malas.


Saat ia sudah bersikap begitu, sebenarnya dia sangat marah. Tapi tak dia tunjukkan kepada kami. Sungguh, hebat sekali pengendalian dirinya.


“Siapa yang merusak pintu kelas?” tanya Pak Rendi tak sennag.


“Saya yang melakukannya karena tidak ada yang memberi izin saya untuk memperjuangkan hak asasi manusia anak saya! Kamu juga dari tadi enak-enakan di ruangan kamu kan?! Saya kontak dari kemarin tak ada respon! Jadi saya datang sendiri ke sini untuk-“


“Mohon maaf ya Pak Rendi,” Pak Darsono menghalau istrinya dan maju ke depan.


Ia sedikit melirikku.


“Pak-“


“Diam kamu.” Geram Pak Darsono ke Bu Retno.


AH, kena juga dia... kalau bawa-bawa masalah ‘perut’ yakni penghasilannya.


“Ini keteledoran istri saya, sekarang kami berdua tahu siapa yang salah dalam hal ini, siapa yang tidak jujur.”


“Pak!”


“Karena itu, kalau bisa kita mengobrol di tempat yang lebih tertutup? Kasihan anak didik kalau sampai terganggu pelajarannya akibat perbuatan kami yang seenaknya mengganggu proses belajar.”


“Gimana sih Pak?! Anak kamu-“


“Davina!!” hardik Pak Darsono. Ia tidak memarahi istrinya, yang kutakutkan, ia memarahi istrinya ‘lewat’ anaknya.

__ADS_1


Dan ketakutanku terjadi.


Di depan kami ia menampar pipi Davina sampai anak itu terpental menabrak tembok.


“Pak!!”


“Kamu tidak bisa mengajari Davina menjadi anak yang benar! Tingkahnya binal dan liar mirip kamu!! Sampai bikin malu di depan orang-orang!! Apa saja yang kalian kerjakan di rumah di kala aku mencari uang menjual nama baik dan etos kerjaku hah?! Semua sudah kuberikan! Nafkah, kebutuhan rumah, kebutuhan pokok! Sekedar mendidik satu anak saja kok tak becus sih?! Itu kan tugas istri?! Mendidik anak!”


Seketika kami tahu kenapa Davina nakal dan mencoba mencari pengalih perhatian di luar.


“Tapi tak perlu kamu memukul Davina! Aku melahirkan bertaruh nyawa! Aku yang berhak menghukumnya!”


“Kapan kamu akan menghukumnya? Dia tidak menjaga nama baik keluarga! Tingkahnya tak senonoh bahkan seorang perundung! Kubiarkan saja berharap kamu mengajarinya tapi malah semakin parah saja kelakuannya! Aku walinya sampai mati! Sebuah tamparan dari orang tua sendiri tidak akan berarti dibanding kelakuannya ke anak lain!”


Teriakan demi teriakan suami-istri bergema di telinga kami.


Aku menatap anak didikku.


Mereka sedang mengamati.


Ariel bahkan berdiri bersandar dengan santai di dinding, menonton drama keluarga Davina.


Aku tahu saat itu...


Mereka semua sedang mengambil pelajaran dari kejadian ini. Pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah.


Bahwa menarik seseorang ke bawah tidak akan membantumu mencapai puncak. Bullying adalah tanda kelemahan, Mereka yang merundung tidak akan pernah mengerti, dan mereka yang mengerti tidak akan pernah merundung.


Kini, Pak Darsono dengan wajah merah menunjuk ke arah pintu keluar kepada istri dan anaknya. Bu Retno tergopoh-gopoh menuntun Davina yang terisak kesakitan sambil memegangi pipinya keluar dari kelas.


“Silakan lanjutkan pelajaran,” desis Pak Rendi kepadaku sambil ikut keluar dari kelas, “Dan tolong share video di depan itu, Kamu kebiasaan apa-apa ngelangkahi saya. Akhirnya saya juga yang kena imbas.” Ujarnya kesal padaku.


Aku menarik nafas, aku tahu setelah ini aku yang harus memberi suara terhadap kejadian ini, juga Merry, Ariel, Hana dan Keysha. Semua yang terlibat saat itu.


“Teman-teman...” desisku ke anak-anak didikku.


“Kecurangan tidak diperkenankan ada dalam bisnis. Bullying termasuk sebuah kecurangan. Apa yang bisa kalian ambil dari kejadian barusan, berkenaan dengan ekonomi?” tanyaku.


“Orang yang mencintai dirinya sendiri, tidak menyakiti orang lain. Makin kita membenci diri sendiri, makin kita ingin orang lain menderita. Sama seperti persaingan dagang yang kerap terjadi. Pesaing yang tidak bersaing sportif, sebenarnya adalah orang yang bangkrut lebih dulu.” Kata Ariel.


“Benar. Ada lagi?” tanyaku.


“Kamu tidak akan pernah mencapai tempat yang lebih tinggi jika kamu selalu menjatuhkan orang lain. Karena itu jujurlah dalam berdagang, orang akan mengerti sendiri kualitas barang daganganmu.” Jawab yang lain.


“Bagus juga. Ada yang lain?”


“Tidak ada yang bisa membuatmu merasa rendah diri tanpa persetujuanmu. Yakin saja kita membangun usaha yang bagus, maka cuan akan menyusul.” Kata anak di belakang.


Aku menyeringai.


“Sekian pelajaran hari ini, kalian semua anak-anak yang saya yakin akan sukses ke depannya.”


“Beri Hormat!” seru Ariel.


Semua menunduk kepadaku. Aku balas menunduk, dan keluar dari kelas, menuju ruang kepala sekolah.

__ADS_1


__ADS_2