Antonim Akal, Sinonim Sayang

Antonim Akal, Sinonim Sayang
Capekku


__ADS_3

Menjelang tengah malam kami pulang ke rumahku. Ariel memutuskan untuk menginap semalam lagi karena ia masih merasa tidak enak badan. Lagi pula besok jam pertama ada pelajaranku di kelasnya, di Kelas 12E-IPS.


Herannya rumah dalam keadaan kosong kala itu. Ibuku tak ada, dan mobil Papah juga tak ada, jadi aku mengirimi ibuku pesan singkat. Katanya mereka berdua sedang di bioskop nonton midnight.


Aku dan Ariel sempat saling bertatapan mendengar jawaban ibuku.


Saat aku ingin mengiriminya balasan dengan kalimat “Siapa saja yang ikut nonton midnight?”


Ariel mencegahku.


“Biar aja lah bu, masih sama-sama single ini,” desisnya sambil berdiri di dapur dan menegak air. Dia baru saja meminum paracetamol untuk meredakan panasnya karena mulai tak enak badan lagi kena angin malam.


“Apa yang kalian sembunyikan di belakangku?!” aku lumayan penasaran dengan hal ini. Sejak ayahku meninggal, ibu tidak menikah lagi padahal masih tampak muda dan cantik. Suami pertamanya sudah memiliki keluarga sendiri. Ibuku memiliki penyakit yang membuat rahimnya harus diangkat setelah keguguran anak pertama, itu pula yang membuatnya diceraikan oleh suami pertamanya.


“Tak ada, tapi aku sudah melihat tanda-tandanya sejak sukma kamu menghilang dibawa ke dimensi lain. Saat ibu panik, yang berusaha menenangkannya adalah Papah. Yang mengurus rumah sakit juga mereka berdua, Papah dan ibu. Aku hanya dibolehkan untuk menemanimu di kamar saja tidak boleh ke mana-mana. Mungkin saja saat itu getaran cinta mulai timbul.”


“Bahasamu... Getaran cinta, heh?!” aku terkikik geli.


“Memangnya kamu yang selalu dingin padaku...” aku bisa mendengar suaranya saat mengatakan hal ini, walau pun pelan.


Tapi aku hanya buang muka sambil naik ke lantai atas.


Tapi aku setuju dengan pendapatnya. Karena untuk masalah cinta dalam kehidupan  pribadi ibuku, aku pun sudah lama berharap ia memiliki tambatan hati. Hari-harinya dihabiskan untuk mengurusku, aku biasa memberinya uang setiap bulan dari gajiku, itu pun akhirnya dipakai untuk membeli keperluanku. Aku jadi bisa menabung karena pakaian, makanan, dan skincare sudah dari ibuku. Setiap bulan tahu-tahu di lemari ada baju baru atau di meja rias ada paket skincare baru. Perawatan wajah dan rambut juga gratis di salonnya.


Ia benar-benar mengurusku sepenuh hati. Tak terhitung sudah berapa pria yang melamarnya, dari mulai single, berondong, pengusaha, sampai pejabat yang ingin menjadikannya istri siri juga banyak.


Ibuku tetap pada pendiriannya, mengurusku sampai aku memiliki penggantinya, ia jaga amanah bapakku, yang ingin melihatku bahagia membangun mahligai rumah tangga sendiri.


Ibuku itu... aku sangat menyayanginya.


Tapi aku belum yakin Papah sudah move on dari Mamahnya Ariel. Setahuku dia sangat mencintai mendiang istrinya sampai-sampai rela pindah ke Jakarta dan ‘dikerjai’ keluargaku.


“Sayang...” Ariel memelukku dari belakang dan mengecup leherku. Kubiarkan saja ia bermanja-manja. Lagi pula aku juga butuh pelukan. Walau bukan dari orang tersayang, tapi menurutku Ariel cukup menghibur hatiku.


“Ariel, aku hanya akan menjadikanmu pelampiasan. rela begitu? Bukannya lebih baik kau urusi  hidupmu sendiri saja-“


“Aku rela. Mau kamu jadikan budak juga terserah kamu saja,” Ariel mengecup pipiku dari belakang. “Asalkan hubungannya denganmu adalah masalah pendamping hidup.”

__ADS_1


Kata-kata yang cerdas. Saat dia bilang ‘terserah’ padahal aku mau bilang ingin menganggapnya sebatas adik, atau supir, atau bodyguard, atau pembantu saja, hehe. Tapi dia sudah bilang ‘pendamping hidup’. Jadi ia ingin dilibatkan dalam urusan hati.


“Kamu masih muda, masih bisa punya pacar gonta-ganti, senang-senang ke sana kemari-“ heran juga dalam tahap ini kenapa hatiku belum terbuka untuknya ya? Memang sulit kalau urusan hati... apalagi kalau kita benar-benar mencintai seseorang dari lubuk hati terdalam, susah sekali membuka hati ke orang lain selain tambatan hati kita.


“Oh iya minggu depan aku izin touring ke Sukabumi yak,” desis Ariel.


“Kamu mau izin pacaran sama Davina juga kuizinkan kok,”


“Dia bukan pacarku.”


“Pelampiasanmu,” ralatku.


“Bukan juga. Aku lebih baik nyari cewek lain selain dia.”


“Dan kamu cari cewek lain selain dia,”


‘Ya iya, waktu itu kan belum ada kamu.”


“Katanya sudah suka aku dari usia 10 tahun...”


“Kita tak bertemu dalam jangka waktu yang lama, dan aku belum tahu kalau ternyata Mbah Rejo benar-benar akan menikahkan kita. Ku pikir tadinya dia bercanda.” Begitu kata Ariel.


“Aku suka yang ini... tangkupannya melebihi cengkramanku. Empuk dan lembut... hehe,” bisiknya.


“Mulut kamu kalau sedang birahi macam novel cinta terjemahan,”


“Ya masa aku ngomong : Njir to ket lo gede banget, boing lah gue remet balas membal...”


Aku langsung terbahak. “Stensil bener...” aku melepaskan tangannya sambil menghapus air mataku karena tawaku lumayan kencang.


Tapi kenapa malah terdengar lebih jujur kalimat yang kedua ya...? Tapi kuakui, aku lumayan tersentuh dengan kesungguhannya padaku untuk berusaha berbicara dengan tata bahasa yang lebih lembut.


“Sekali lagi ya?” Ia membuka resleting celananya dan meraih tanganku, lalu mengarahkanku untuk mengelus miliknya.


Aku hanya bisa menghela nafas. “Curang lah kalo gitu caranya. Kan aku nggak ngerasain...” aku pura-pura ngambek.


“Yaaah, aku lagi pingin banget...” bisiknya. Ia berusaha merayuku.

__ADS_1


Aku menghela nafas. Tentu saja aku akan menolaknya dulu. Aku merasa capek hari ini, dan lagi ini sudah tengah malam, ditambah aku dalam kondisi haid. Tapi kali ini aku lebih merasa kesal karena terkesan Ariel memanfaatku untuk tujuan bercinta sesering mungkin tanpa merasa bersalah.


Karena bagi wanita, urusan percintaan di atas ranjang adalah nomor sekian. Kita sering kali butuh 1001 alasan logis untuk melakukan hal itu dengan pasangan. Sementara, laki-laki hanya butuh tempat. Mereka bisa merasa hor ny sepanjang hari.


Dan itu yang kurasakan mengenai Ariel. Di umur yang masih tergolong remaja, Ariel lebih labil dan sering kali mengedepankan nafsu dibanding logikanya. Bagusnya adalah, dia sudah memiliki aku sebagai istri yang sah. Tapi akunya yang capek melayani sesuatu yang meledak-ledak. Ditambah, aku belum mencintainya.


Rasanya saat melakukan hal itu bersama orang yang tidak kita sayangi... hanya ada kehampaan dan nafsu. Setelahnya, saat tersadar, bukan rasa segar tapi malah rasa bersalah.


Apakah cintaku akan datang seiring berjalannya waktu?


Apalah Ariel benar-benar jodohku?


Kenapa rasanya aku hanya dibutakan oleh uang? Sampai mau saja dijodohkan demi kesejahteraan seluruh keluarga...


“Ariel, aku mau istirahat,” aku menarik tanganku.


Ariel kali ini hanya diam.


“Begitu?” desisnya setelah beberapa detik. Sepertinya ia sudah menelaah kondisi hatiku dan sikapku yang berubah.


“Maaf, aku harus menolak kali ini. Aku sudah memberikannya tadi. Jangan bilang aku tidak melaksanakan kewajibanku sebagai istri.” Kataku tegas.


Aku menjauh darinya dan berjalan ke arah lemari, meloloskan pakaian ku ke atas dan mengeluh saat bercak darah sudah menembus pinggir panty-ku.


“Kamu tidur dikamar sebelah ya, kemarin sudah dibersihkan ibu,”


“Nggak boleh tidur di-“


“Ariel, jangan mulai.” desisku dengan nada suara yang agak kencang.


Ariel mengangkat tangannya, “Oke.” Dia menyerah.


Aku mempersiapkan kebutuhan kewanitaanku, berikutnya kurasakan kecupan di pelipisku.


“Selamat tidur.” bisiknya


Saat ia menutup pintu kamarku, aku hanya bisa menghela nafas.

__ADS_1


Menyesali kehidupanku, menyesali hari ini.


__ADS_2