
Saat sedang berbaring, dengan ujung kepala kami bertemu di tengah ranjang, aku merasa tangan Ariel mengelus-elus puncak kepalaku. Dan menggodaku. Memang jarinya nggak bisa diam. Sudah begitu kelewat kreatif pula.
Walau pun kalau keadaan normal aku kurang suka kepalaku dielus oleh orang yang lebih muda dariku, menurutku hal itu tidak pantas. Pun untuk seorang Ariel yang merupakan suamiku, aku belum terbiasa dengan perlakuannya padaku.
Dan jari itu pun merambat ke pipiku, mengelusku dengan lembut.
“Masih haid hari ke tiga,” gumamku. Kutembak saja begitu. Kami berdua tahu benar dia mau apa. “Dan rahangku masih kaku.”
“Sensi amat, aku nggak melulu mikirin hal mesum, tahu!”
“Masa?! Bohong...” tuduhku
“Laaah,” desis Ariel, “Eh, kamu benar sih. Kalau ke kamu yang terpikir selalu hal-hal di luar nalar. Makanya kalau kamu mengajar di depan aku selalu pura-pura tidur biar nggak tegang.”
“Hah? Kamu serius nih?!”
“Nggak usahbangga Ariel, kamu itu idaman cowok-cowok, sadar nggak?!”
‘Sadar kok. Makanya Jenny julid padaku. Hahaha.”
“Kamu seksi, cantik. Dan kamu pintar. Semakin judes semakin pikiran kami melayang.”
“Kalian memang kelainan jiwa,”
“Hampir semua anak-anak cowok di sekolah mengidolakanmu.”
“Bilang saja karena dadaku besar,’
“Itu juga, tapi banyak guru yang dadanyabesartapi aurnya gelap,”
“Itu hanya masalah perawatan, Ariel,”
“Bukan, ada perasaan tidak nyaman saja saat berbicara dengan mereka. Apalagi kalau ditanya ini-itu, jawabannya : kan sudah ada di modul.” Kata Ariel. “Anak-anak seperti kami kurang suka jawaban itu, karena selain percuma lihat modul kalau mengerti pasti kami tidak akan bertanya. Kebanyakan kalimat di modul itu bahasanya tidak kami mengerti. Jadi lebih enak dijelaskan secara lisan. Tapi masa yang semacam itu guru tidak pengertian terhadap kami?”
“Guru jaman sekarang terlalu banyak tekanan Ariel, dari atasan, juga dari walmur. Jadi tugas yang seharusnya mendidik dan membimbing terkikis zaman. Padahal itu kewajiban utama mereka. Tapi saat akhir semester, yang mengancam pendapatan kami adalah jumlah kredit. Karena membimbing dan mendidik anak bangsa jadi baik, tidak berpengaruh ke pangkat kami. Yang berpengaruh adalah berapa jumlah workshop yang kami ikuti. Padahal workshop juga ilmunya itu-itu saja, nonsense, Ariel. Lebih berguna kalau guru on the job training di perusahaan tertentu yang mendukung pengajarannya.” Jelasku.
“Tapi kamu kok bisa?”
“aku lebih dulu kerja di perusahaan sebelum jadi guru. Itu pun aku dijulidin pas pertama mengajar oleh sesama guru. Karena aku mantan karyawan, sedangkan mereka kan ASN. Kalau aku masuk sekolah negeri, sudah habis di bully kali aku. Untung saja aku masuk Bhakti Putra yang Kepseknya orang bisnis juga, hehe.”
“Apakah sekolah ada gunanya bagi masa depan kami? Mereka hanya mengajarkan teori saja.”
“Kebanyakan teori memang tidak terpakai di kehidupan nyata. Tapi paling tidak, teori adalah sebuah dasar bagaimana praktik itu bekerja. Itu yang minimal harus siswa tahu.”
“Kan,”
“Kan apa?”
__ADS_1
“Bagaimana aku bisa bilang kamu tidak menarik, kalau jawaban kamu selalu memukau-ku Claudia?”
“Jangan bilang kalau hanya itu rayuan gombalmu, ih aku tak terkesan yaaa.”
“Hehe, aku tak bisa mengumbar keromantisan. Tapi aku belajar dari pengalaman kalau wanita ingin kata-kata pria dipertegas. Terutama untuk urusan rasa suka.”
“Maksudmu?”
“Perempuan itu mudah bawa perasaan. Emosi mereka di depan, logika nomor dua. Jadi perlu ketegasan. Seperti, kalau aku tak suka ya aku bilang ‘aku nggak suka’. Kalau aku suka, aku akan bilang ‘suka tapi cuma teman, bukannya benci’. Kalau aku ‘suka’ dengan tujuan tertentu aku akan bilang “Aku tertarik hanya untuk urusan fisik, bukan hati’. Tapi ada juga Davina yang dibilangin berkali-kali tetap saja pantang menyerah.”
Aku jadi penasaran siapa saja teman wanitanya selama ini. Dan apa saja yang mereka lakukan ke mereka.
“Davina pernah bilang kamu satu jam 3 cewek,”
“Iya, aku bilang ke Davina ‘jangan mendekat karena aku nggak suka’. Jadi dia cuma bisa nonton.”
“Itu cewek-cewek, pacar kamu?’
“Teman kencan, mendekat kalau aku sedang bosan. Temen senang-senang aja. Kalau lagi sedih aku menyendiri di rumah, sih.”
“Ada berapa teman kencan kamu?”
“Tak terhitung,”
“Dan berapa yang pernah... menghisap ke la minmu?”
Dia diam.
“Dan berapa yang pernah kamu jilat lipatannya?” tanyaku lagi.
“Yang itu apakah perlu kujawab, atau aku diam saja sudah cukup merupakan jawaban?”
“Diam saja.”
“Oke.” Dan dia diam.
Aku menanyakan semua ini karena aku berniat serius akan hubungan ini. Aku sudah sampai merelakan semua mimpiku demi Ariel. Kupikir aku memang perlu kejelasan mengenai dengan siapa aku berurusan setiap hari, dan aku perlu tahu dari mulutnya sendiri. Bukan dari kabar orang lain.
Akan kucoba menanggapinya dengan lebih dewasa, aku bertanya hal-hal privat agar bisa mengantisipasi seandainya suatu saat aku berurusan dengan masa lalu Ariel, aku akan lebih tegar dan tegas.
Aku tidak khawatir dengan Ariel akan berselingkuh atau terpincut wanita lain. Tidak. Dia sudah cukup memberiku gambaran mengenai sifatnya.
Ariel juga meninggalkan segala mimpinya demi aku, meninggalkan masa mudanya demi menjadi suamiku, dia lulus ujian mengenai bagaimana dia menerimaku apa adanya. Dan dia melindungiku dari segala bahaya yang datang.
Jadi aku juga kan begitu.
Lama-lama kusadari aku tidak terlalu tahu mengenai Ariel ini. Jadi aku tanya sekarang.
__ADS_1
“Ariel,” panggilku.
“ya?”
“Aku tidak akan melarangmu bersenang-senang dengan temanmu, aku akan mengizinkanmu menggeluti mimpi, mengizinkan kamu memiliki hobi. Bahkan kalau kamu mau ke club, silakan saja.”
“Iya aku yakin kamu akan begitu.” Ia menggeliat dan tengkurap sambil mengecup dahiku dari atas.
“Tapi Claudia, kuharap, aku melakukan semuanya itu bersamamu.” Katanya. “Juga... kalau aku lulus dengan nilai memuaskan dan bisa masuk ke Amethys University, kuharap kamu tidak berkarier di Garnet Bank.”
“Hm? Kenapa?” Aku bertanya sambil juga terlungkup dan mengangkat kepalaku supaya menghadapnya. Aku menopang rahangku ke atas kasur.
“Kalau kamu bekerja... dan punya penghasilan dari sana... lalu apa gunanya aku?” tanyanya. “Kamu sudah bisa melakukan semuanya sendiri. Cari nafkah bisa, mengurus rumah bisa, belum kalau kita punya anak, sudah bisa dipastikan kamu bisa mengurus mereka sendirian. Jadi aku hanya pengganggu dong, yang ku bisa hanya mencari nafkah, jadi tolong biarkan wewenangku kulakukan sendiri.”
“Tapi kalau keadaan kacau, kita kan harus punya backup penghasilan.” Kataku.
“Ya kamu masih bisa ngajar online tuh di Ruangguru. Atau bikin tiktok tentang tutorial make up, atau apa lah... asal jangan kerja di Garnet Bank.”
“Kenapa harus Garnet Bank yang kamu bawa-bawa.”
“Sudah pasti gajinya gede soalnya...’
“Ih kamu nih” aku mencubit pipinya. “Kamu tahu apa gunanya kamu?” aku jadi gemas padanya.
“Apa?”
“Surgaku ada di telapak kakimu, suamiku. Ridhomu adalah keberhasilanku. Bersih-bersih rumah bukan tugasku. Tugasku sesuai agama yang kita anut hanya mendidik dan mengasuh anak. Kamu tahu kan ART dan Babysitter adalah dua profesi berbeda? Nah aku ini babysitter, bukan ART. Tapi akan kulakukan karena pahalanya setara jihad. Akan kubantu pekerjaanmu mengurus rumah juga. Jadi kita ini saling membutuhkan. Bagaimana?”
“Deal. Apa pun mau kamu.”
Terus terang, aku ini memang bukan umat yang suci. Kesalahanku banyak, aku juga belum syar’i, pakaianku seksi dan rambut indahku masih kupamerkan ke mana-mana walau pun banyak sekali yang bilang helaiannya adalah api neraka.
Tidak, aku ini bukan wanita tak berdosa.
Tapi aku belajar sedikit-sedikit. Pertama-tama yang akan kupelajari adalah ilmu dalam hal pernikahan. Namun aku tidak mau terburu-buru, Akan kulalui semuanya dengan santai, Bersama suami kecilku ini. Aku kini sadar kalau sebuah pernikahan juga termasuk rejeki.
Tinggal masalah berkah atau tidak.
Mungkin sekarang banyak yangmengira akumenikah akrena uang. Yah, tadinya memang IYA. Tapi kini tidak lagi.
Baru-baru ini aku membaca sebuah post di instagram yang menarik. Katanya, selalu ingat, bahwa uang hanya menghibur para perempuan malas. Ketika seorang perempuan bekerja keras, pria kaya hanya bonus, bukan tangga untuk naik derajat.
Mungkin saja Ariel juga membaca post yang itu, makanya dia kepikiran. Jadi aku tidak diizinkannya bekerja.
Tapi aku yakin, aku harus jadi wanita hebat. Karena itu modalku untuk menjadikan suamiku hebat. Kalau dia sudah hebat, kuharapkan dia jadi panutan bagi anak-anaknya.
Karena suami yang baik dan keluarga yang sayang pada kita adalah termasuk Rejeki. Tapi Rezeki itu adalah ujian. Dimewahkan bukan berarti dimuliakan, disempitkan bukan berarti dihinakan. Dua kunci yang meluluskan kita adalah syukur dan sabar.
__ADS_1
Kadang kita sudah bersyukur dan bersabar eh ada pihak suami yang mengingkari. Pun seandainya kami sudah tak sejalan dan dia memilih meninggalkanku dia akan jadi ‘Urusan Tuhan’. Masa depan siapa yang tahu? Manusia hanya bisa berencana.
**