
Rumah itu besar, luasnya sekitar 400m2, satu lantai, berada di daerah Rawamangun. Di sekitar kami adalah rumah yang juga besar-besar sekali tampilannya. Saat turun dari taksi aku menyeringai tanda bersemangat. Karena layout rumah itu dari luar sesuai sekali dengan seleraku. Ditata bergaya tropis dengan halaman luas dan rumah induk yang kecil. Aku kurang suka rumah tingkat karena selain capek naik turun tangga, capek membersihkannya, kegiatan orang di lantai bawah juga tidak mudah kuawasi. Seperti di rumah ibuku.
Tapi... ada satu hal yang menggangguku, setelah masuk ke rumah itu secara sekilas aku mencium bau busuk.
“Ariel, kamu cium itu nggak?” aku menarik-narik lengannya.
Ariel menarik pinggangku dan mengecup pelipisku.
“Maksudku kamu mencium bau itu nggak?! Bukannya aku suruh kamu cium aku ih!” Aku menepis tangannya.
Ia menyeringai, “Ya ampun, yang kedengaran di telingaku cuma kata ‘cium’ hahahaha!”
“Kebiasaan, mana di depan orang.” gerutuku.
“Vibenya udah ‘rumah kita berdua’ sih...” desisnya sambil... iya, dia mengelus bokongku.
Tampangnya masih muda tapi kelakuannya seperti Om-Om hidung belang yang lagi milih cewek LC di karaoke.
Kucubit saja kencang-kencang.
Tapi setelah itu seakan ada yang berdesir di darahku.
Bu Kencananya sendiri yang menemui kami di teras rumah.
“Waaaah dua Ariel, halooo, halooo, selamat datang sayaaang.” Ia menyambut kami dengan hangat seperti nenek sendiri.
“Assalamu’alaikum, bu, ” sapa kami berdua.
Lalu sekelibat aku mendengar suara dari kejauhan, perempuan, teriak bilang ‘jangan!’. Reflek aku langsung menoleh. Dan kulihat di seberang sana, ada sekumpulan anak muda, memakai seragam SMA sedang bersenda gurau.
“Bagaimana rumah kalian? Bagus nggak? Sudah saya coba renov memakai ide tropis modern, soalnya daerah Jakarta Timur kan agak panas yaaa, tidak seperti di selatan.”
Bu Kencana tidak membalas salam kami, padahal Pak Abel dan Pak Johan reflek bilang “Salam” walau pun agama mereka berbeda.
Aku jadi salah tingkah aku pikir keyakinan Bu Kencana sama dengan kami, mungkin karena dia pindah ke Italy sejak lama jadi dia memeluk keyakinan yang berbeda ya.
Pentingnya riset dulu sebelum sok tahu.
“Rumah ini sudah tidak ditinggali selama 10 tahun loh.” Kata Bu Kencana.
Kami berdua sontak menatap tajam ke arah Pak Abel dan Pak Johan. Mereka hanya tersenyum simpul sambil manggut-manggut. Ingin sekali kupentokkan jidat mereka ke dinding.
“Bapak-bapak tolong dong sekali-sekali jujur dan terbuka apa adanya sedikiiit saja ke kami!” omelku.
“Banyak hal yang tidak bisa diutarakan secara gamblang, kami hanya bisa mengemukakan semuanya ke Raden Arya dan Bu Kencana, mereka berdua kan pemegang saham.”
“Ya tapi yang benar saja nggak ditempati 10 tahun!”
__ADS_1
“Tenang saja Mbak, bukan tanah sengketa kok, statusnya sudah kami cek ke BPN juga aman.”
“Ada tapinya nggak?!”
“Yaaa...”
“Yaaa? Yaaa apa hah? Jelasin biar saya bisa prepare dong!” aku ngomel. Mungkin karena pengaruh hormon ditambah tiba-tiba karena perlakuan Ariel aku jadi ingin bermanja-manja dengannya di tempat tidur tapi nggak kesampaian.
“Kan Mbak Ariel tahu kalau tanah lama nggak ditempati, pasti bisa-bisa diklaim penduduk sini untuk buka usaha lah, untuk pemukiman liar lah, padahal sudah dipagar beton tinggi-tinggi tetap saja mereka punya celah. Naaaah, jadi kami menyebarkan gosip kalau rumah ini berhantu.”
“Hah!?”
“Gosip doang apa beneran berhantu?!”
“Ada saat-saat tertentu kami mengirim karyawan untuk menginap di sini dan menakut-nakuti orang yang datang, seperti memasang manekin yang diikat dengan tali jadi bisa terbang-terbang, atau drone dengan bentuk kepala, atau bau-bauan tertentu,” kata Bu Kencana
Mungkin bau busuk tadi salah satu yang masih tersisa. Karena baunya lebih busuk dari bangkai tikus. Seakan campuran dari sampah basah, kotoran manusia, anyir darah, dan menyengat sekali di hidungku tadi. Tapi sekarang sudah hilang yang ada hanya wangi bunga-bunga yang ditanam di sepanjang halaman.
“Sudah saya renovasi besar-besaran kok. Tenang saja. Spookynya sudah hilang,” kata Bu Kencana sambil mempersilakan kami masuk.
Ya ampuuuun, rumahnya indah sekali. Ini fixed kami tinggal bawa diri saja. Sampai berbagai macam bumbu saja sudah tersedia di dapur. Perabotan rumah ini sangat lengkap! Kami seperti pindah ke villa sewaan.
“Tiga kamar, dua kamar mandi, tapi kalau kalian... hehe, mau punya anak banyak, masih bisa tambah bangunan karena halamannya luas. Dari 400 m2 yang kami buat jadi bangunan hanya 120 m2.
Halamannya tidak terlalu banyak pohon, hanya hamparan rumput pendek dan bunga-bunga.
Jari Ariel langsung menyenggol-nyenggol pinggangku.
Aku menepisnya lagi.
Aku tahu pikirannya sudah ke mana-mana, melihat tempat se-‘seksi’ ini.
“Sekeliling pagar ada kawat duri yang dialiri listrik kalau kalian tekan tombol di sana, memakai tenaga surya.” Kata Pak Abel. “Daerah sini kurang aman,” ia mengangkat bahunya.
Memangnya ada daerah yang aman di Jakarta?
“Daaaan, untuk Ariel,”
“Ariel yang mana?” tanya kami berdua serempak.
“Ariel Clodio.”kata Bu kencana. “Taraaaaa, suka nggak?” ia membuka pintu geser di samping runag keluarga yang mengarah ke garasi.
Di sana sudah ada Mazda 3 Hatchback, mobil sedan varian terbaru di tahun 2023. Mobil yang pas untuk pasangan muda yang mapan. Namun tidak mentereng seperti mobil sport berharga miliaran, tapi kalau di ukur dari kalangan menengah mobil ini sebenarnya cukup mewah.
“An jeeeeeeng...” entah si Ariel ini memaki atau memuji, atau saking terpananya dia jadi memaki.
‘Alhamdulillah,” ralatku.
__ADS_1
“Ah iya Alhamdulillah Ya Allah maaf,” desis Ariel.
Lalu ia masuk ke garasi dan menunduk untuk melihat interior mobil itu.
“Buat saya?’
“Iya dong, buat kalian.” Kata Bu kencana. Dia menekan kata ‘kalian’ dengan terang-terangan, menandakan kalau mobil itu bukan milik Ariel semata tapi juga bisa digunakan olehku.”
“Gratis nih bu?” tanya Ariel.
“Namanya hadiah ya gratis, tapi balik nama dan pajaknya bayar sendiri yaaa,” kata Bu Kencana. Ia menyerahkan STNK dan BPKB padaku. Kulihat namanya masih atas nama Topaz Kencana RR. Jadi itu sebenarnya mobil operasional. Gampang lah itu minta bantuan Raden Arya saja. Hehe.
“Ayo kita ke dapur dan area laundry,” kata Bu Kencana.
“Kamu aja, aku di sini dulu.” Ariel mengibaskan tangannya , mengusirku. Matanya masih tertuju ke interior mobil, dan terakhir ia membuka kap mesin.
Aku mencebik, tapi baguslah aku terbebas dari tangan nakalnya beberapa saat. Kalau perlu sampai malam.
Bu Kencana membawaku ke area Landry dan taman dalam. Aku manggut-manggut saja mendengarnya menjelaskan bagaimana ia menyesuai tempat ini dengan diriku yang independent woman, sudah pasti aku skip untuk ART dan Babysitter. Jadi ia berusaha membuat tempat ini sepraktis mungkin. Lebih lapang lebih baik, jadi aku bisa mencuci dan melakukan aktivitas rumah tangga lainnya sambil mengawasi anak-anak tanpa terhalang tembok.
Anak-anak dia bilang...
Aku jadi merinding.
Dan beberapa saat kusadari, aku tetap merinding.
Hal yang aneh menurutku, aku tidak pernah merinding selama ini.
Karena ruangan berubah pengap seketika. Padahal aliran udara lancar.
Bau busuk itu lagi, kini lebih kuat dan bertahan beberapa detik.
Aku sampai berpegangan ke tembok saking pusingnya.
Dan di sana, di belakang Bu kencana...
Kulihat, Dewi Rukmini menatap tajam padaku.
“Setengah diriku di sana,” kata Dewi Rukmini sambil menunjuk ke area teras belakang. Tempat itu hanya ada Gazebo dengan pemandangan ke halaman belakang dengan pemanggang barbeque.
“Setengah?” desisku pelan.
Dewi Rukmini mengangguk, “Jangan percaya padanya, Ariel, hati-hati.” Desisnya sambil perlahan menghilang menembus tembok.
Dan sosok itu pun menghilang
“Bagaimana kalau malam ini kalian coba menginap saja dulu?” kata Bu Kencana.
__ADS_1