
Bukan, bukan populer,
Lebih tepatnya Nasib orang lagi sial.
Aku kurang suka jadi populer karena menyulitkanku untuk bergerak dan jadi diriku sendiri. Dan sialnya, aku malah menikah dengan idaman cewek-cewek se-club. Entah di club yang mana, bisa jadi di semua club di Jakarta.
“Sakit Claudia...” keluhnya saat kami sudah di dalam pagar. Ia mengusap-ngusap telinganya. Kulihat di seberang keriuhan masih terjadi.
“Jadi... kamu teman kencan cewek itu?”
“Hm,”
“Ariel?” tekanku.
“Si Cewek itu tidur denganku, dan si cowok itu suka sama si cewek. Waktu itu si cewek katanya nggak suka karena dikejar-kejar terus sama si cowok, ya kuanggap mereka nggak ada hubungan apa-apa.”
“Tipikal kamu ya,” ejekku.
“Kamu tahu aku. Kalau mereka benar-benar pacaran, aku tidak akan menidurinya. Masih banyak cewek lain yang single dan bisa diajak kerja sama.”
“Kerjasama di atas ranjang”
“Bisa nggak kita tidak membahas ini?”
“Bisa kooook, pegangin mangkok-ku.”
Aku menggrendel pagar. Lalu aku terdiam.
Kuamati kunci gemboknya.
Terbuka.
Tadi bukannya kugembok ya?
Lalu aku menoleh dan kuamati Ariel. Dia sedang makan mie dari mangkokku. Dan kulihat ia tidak memegang kunci.
Apakah Ariel punya kunci cadangan?
Kuperiksa kunci-kunciku, kunci cadangan gembok bahkan masih tergantung di gantungan kunciku, aku belum sempat membagi-bagi kunci.
“Claudia...” Ariel memanggilku. Aku masih tidak teralihkan dari gembok. Kuamati, tidak ada tanda di buka paksa.
“Kenapa kamu jadi panik?” desis Ariel.
“Kamu tadi keluar, loncat pagar?” tanyaku.
“Aku bukan maling. Pagarnya kamu biarkan terbuka hampir setengahnya. Bahaya banget tahu, kita memang di komplek tapi kan dekat sekali dengan jalan raya. Walau pun kamu Cuma ke seberang ya jangan gegabah gitu dong, sayang.””
Aku langsung deg-degan.
“Aku sudah kunci, bahkan ku gembok. Kamu yakin terbuka hampir setengahnya?!” tanyaku. ‘Terbuka hampir setengahnya’ itu berarti ‘terbuka sangat lebar’ dalam versi imajinasiku.
“Ya nggak mungkin aku loncat pagar. Paling banter aku panggil kamu di depan sana, kalau benar-benar terkunci.”
Ku lihat ke seberang Warmindo. Aku duduk membelakangi rumah tadi, tapi seharusnya abang-abang Warmindo melihat siapa yang keluar masuk pagarku karena si abang berdiri di depanku.
Pagar itu tidak terlalu tinggi, hanya sebatas leherku. Ku lihat di sana, masih ada perdebatan dengan pengunjung-pengunjung yang tadi. Tapi para penjualnya...
Mereka tampak mengamati kami.
Aku langsung merinding.
Sungguh, aku lebih takut orang jahat dari pada setan.
Lebih takut lagi kalau ada orang jahat yang kesetanan. Sudah bukan manusia yang bisa mengalahkannya.
__ADS_1
“Masuk...” desisku sambil mengunci gembok pagar, kali ini ku foto kalau aku mengunci gemboknya. Tertera jam berapa saja.
Lalu kuamati sudut-sudut rumah, tak kutemukan cctv.
Entah memang tak ada, atau cctv dalam bentuk lain. Seperti yang ditanam di dinding, atau perabotan atau... cctv hidup. Alias ada orang atau sesuatu yang mengamati rumah kami.
Kini, kami tiba di dalam rumah.
Aku duduk di bar.
“Diam.” Desisku.
Ariel diam. Tapi sambil menyeruput mienya.
“Maksudku, diam yang benar-benar diam.” Kataku.
Dia diam.
Malam itu di rumah kami hening.
Sampai kami bisa mendengar keributan pasangan muda-mudi bertengkar di seberang jalan, di warung warmindo.
Suara mesin AC... normal.
Suara mesin humidifier... normal.
Suara kendaraan yang lewat di depan... normal.
Tapi di tengah -tengah itu... ada suara obrolan.
Seperti bapak-bapak sedang meronda, dan mereka mengobrol seru. Ya seperti itu.
Terdengar suara orang bercakap-cakap
Rumah ini ada di tengah-tengah halaman, dan kanan-kiri kami rumah mewah, Tidak mungkin itu suara sekuriti tetangga, masa suaranya sampai ke sini.
Aku menatap Ariel.
Ariel juga sedang menatapku.
Lalu ia mengambil ponselnya.
Aku mencondongkan tubuhku sedikit untuk mencari tahu apa yang sedang ia cari.
Kulihat ia membuka google map.
Sejenak kutunggu, ia akhirnya menunjukkan foto area depan rumah. Ada warmindo yang sama. Spanduk yang sama, suasana yang sama, hanya...
Penjualnya berbeda.
Dua orang bapak-bapak tua.
Dan mereka bilang sudah berjualan di sana 15 tahun tadi. Tapi mereka masih muda-muda.
Bulu kudukku langusng meremang.
“Kemas-kemas...” Ariel mengetik begitu di ponselnya dan menunjukkan layar hapenya. “Tapi usahakan gerakan kamu tenang. Berlagak kamu terima telpon dari ibumu.”
Aku mengangguk. Lalu kuketik juga di bawahnya. “Jangan pakai mobilmu. Kita pakai taksi online saja.”
“Malah mencurigakan karena kita ada mobil tapi kenapa pesan taksi online.” Kata Ariel. “Aku telpon Raden Arya, minta jemput.”
Aku tersenyum licik. Raden Arya... keputusan yang tepat!
**
__ADS_1
Raden Arya menjemput kami sekitar 30 menit kemudian. Kedatangannya lumayan mencolok. Mobil Jeep hitam tiga buah, dan beberapa anak buah.
Aku juga melihat yang namanya Artemis juga datang.
Semakin kulihat, orang ini kenapa semakin tampan?
Wajahnya yang lembut tidak sesuai dengan tatto-tatto yang dimilikinya, apalagi matanya sayu dan ramah.
Rahangnya memang kokoh dan tubuh tinginya itu... halah! Kenapa malah jadi bahas Artemis?!
Aku ini wanita yang sudah bersuami.
Tapi rasanya mata ini ingin sekali menatap sosoknya dari atas ke bawah, dan lagi dan lagi.
Dan tiba-tiba pandangan Artemis menuju ke arahku,
Kami bertatapan beberapa saat, lalu dia tersenyum tipis.
Aku mundur selangkah, tidak kuat. Rasanya deg-degan.
Hanya dia orang yang pertama kali memandangku tidak langsung mengarah ke dadaku.
Lalu pandanganku ke arah Ariel.
Dia sedang menatapku dengan alis terangkat, dan kedua tangannya terlipat di depan dadanya.
Walah... aku ketahuan lagi flirting sama cowok lain!
“Serius Claudia?” bisiknya sinis.
“Khilaf,” desisku langsung.
“Pakai kacamata kuda sana!” omelnya.
Baron menjabat tangan Ariel dan memelukku. “Sehat kamu?” tanyanya.
“Mentalku sakit,” gumamku.
Baron terkekeh.
“Kalian tinggal di sini sekarang? Nggak jadi ambil rumah warisan dong?” tanya Baron.
Kami mengernyit.
“Hah? Gimana?” tanya kami serempak.
“Ya kalau sudah memiliki rumah sendiri aku sih oke-oke saja.” Kata Baron. “Jadi rumah di Cibubur bisa kualihkan ke yang lain. Banyak keluarga kita yang juga mem-“
“Sebentar!” kupotong ucapannya. “Jadi rumah yang ini, yang kita injak ini, bukan rumah warisan Mbah Rangga?”
“Bukan, rumah yang rencananya untuk kalian ada di Cibubur.”
“Kata Pak Abel dan Pak Johan, rumah ini adalah rumah warisan kami, Ini milik Bu kencana katanya! Bu Kencana malah yang merenov rumah ini agar bisa kami tempati.”
“Oh, ini rumah bu Kencana rupanya? Kapan dia membelinya?”
“Laaaah malah nanya kita!” lagi-lagi aku dan Ariel serempak.
“Ya dia Kan ada di Italy terus menerus, sebelumnya sedikit pun ogah pulang ke Indonesia kalau tidak kuungkit masalah emas tidak mungkin dia di sini. Buat apa juga dia punya rumah di sini?”
Kami hanya bisa tegang mendengarnya.
Dan rupanya Baron menyadari kegalauan kami.
“Kuantar pulang ke rumah... siapa nih?”
__ADS_1
“Papahku aja, di sana banyak sekuriti.” Kata Ariel sambil reflek memeluk bahuku. “Kami sedang dalam posisi insecure dan was-was.”