
Sepanjang perjalanan aku menangis.
Tapi aku sebenarnya hanya ingin menangis. Menumpahkan semua kekesalanku, semua stress yang menumpuk, semua pikiran burukku jadi kenyataan hari ini.
Seharusnya aku siap menghadapi semua ini, tapi aku masih memendam harapan supaya Arka mengerti posisiku. Aku masih mencintainya, aku ingin bersamanya. Walau pun aku tahu hubunganku dengannya memiliki banyak kemungkinan yang tipis.
Sudahlah mungkin memang ini jalanku.
Dalam waktu cepat dengan menangis aku sudah lega. Dan hatiku sudah mengikhlaskan segalanya.
Punggung Ariel yang hangat membuatku nyaman, aku senantiasa menyenderkan pipiku ke tubuh bidang di depanku.
Tapi sementara pikiranku ke mana-mana.
Tidak serta merta memikirkan mengenai Arka.
Punggung Ariel... terlalu hangat! Padahal jaket jeansnya lumayan tebal. Tapi panasnya sampai menembus ke pipiku.
Aku malah memikirkan kondisi orang di depanku, bocah yang aku peluk pinggangnya ini.
Caranya mengemudikan motor terasa tidak stabil. Aku baru sadar kalau sepanjang lenganku terasa panas, saat kulingkarkan kedua tanganku di seputar pinggangnya. Ia hanya mengenakan kaos putih tipis dan jaket jeans hitam.
Aku pun mengangkat kepalaku dan mengernyit. Cara jalan motor Ariel kecepatan normal cenderung hati-hati tapi terasa agak limbung.
Saat di pertengahan perjalanan aku baru ingat kalau dia sedang panas tinggi.
Dia masih sakit...
Dia dalam keadaan demam menemaniku yang egois dan depresi ini.
Saat kusadari sebenarnya keadaan kami sama-
Bedanya dia lebih sakit.
Aku dalam status yang tidak solid dengan Arka, kami belum terikat secara lahir-batin walau pun sudah pacaran 6 tahun, tapi kami adalah orang lain.
Tapi kalau Ariel... dia adalah suamiku, dia berhak atas aku dan bertanggung jawab atasku. Namun aku menolaknya dan malah merindukan orang lain.
Dari awal aku minta cerai, salah satunya memang untuk menjaga perasaan kami. Waktu itu aku punya Arka dan setahuku Ariel memiliki pacar. Banyak pacar.
Toh tujuan sudah tercapai, dan aku tidak mencintainya.
Tapi ternyata dia mencintaiku.
Bisa jadi kesempatan menikahiku itu, memang peluangnya untuk mendapatkanku.
__ADS_1
Usianya masih muda tapi dia penuh pemikiran realistis ke depannya.
Jauh melampauiku di balik sifatnya yang manja ini. Ah tidak... dia tidak manja.
Justru aku yang manja.
Aku yang merajuk setiap hari.
Aku yang mengeluh terus-menerus.
Berikutnya aku mengernyit saat Ariel mulai meminggirkan motornya dan memasuki Jalan Teuku Cik Ditiro . Dan aku sadar ini bukan jalan ke arah rumah.
Ariel membelokkan motornya di sebuah hotel bintang 3 di pinggir jalan.
“Ariel?” tanyaku. Karena jarak ke rumahku masih sangat jauh sebenarnya.
“Turun dulu ya?” desisnya pelan sambil menghentikan motornya di depan lobby. Aku pun turun dengan penasaran dan mengamatinya menuju parkiran di depan sana.
Saking dekat jaraknya aku bisa melihatnya memberikan uang seratus ribu ke tukang parkir sambil bilang “Jagain motor gue nanti dapet lu setengahnya lagi ya bang.”
Si Tukang parkir tampak kegirangan sambil mengangkat tangannya tanda ‘beres’.
“Kita ngapain di-“
“Kepalaku pusing banget. Istirahat sebentar ya? Nanti malam lanjut lagi jalan,”
Dan terbersit saat itu menghubungi Papah supaya jemput, tapi mungkin sama seperti Ariel, aku merasa ada indikasi berbeda mengenai Papah dan ibuku. Jadi kami tak ingin mengganggu aktivitas mereka.
Kulihat, wajah Ariel pucat dan wajahnya sayu. Ia bahkan berjalan sambil berpegangan ke dinding sepanjang lobby.
“Wiiih, Mas Ariel? Apa kabar?!” sapa bagian front office. Lah mereka kok kenal?
Aku langsung menatap curiga ke arah Ariel.
“Hey Ky, kamar yang biasa aja ya. Kosong kan?” Ariel mengambil dompetnya dan men-tap kartu berwarna pink di mesin EDC.
“Pacar lo Mas?” tanya front office sambil menatapku. Aku mencibir agak sebal.
“Istri...” jawab Ariel. Ia mengambil Kartu Nikah Suami dari dompet. Si Front Office sampai melongo sambil melihatku. Karena di bagian belakang kartu itu ada fotoku dengan latar belakang biru.
‘”Anjir, hebat juga lu,” desis Front Office. "Kapan nikah?"
"Bulan lalu." jawab Ariel.
"Walah pengantin baru rupanya! Jangan ambil kamar biasa laaah, nih ada voucher Diskon buat kamar luxury. Gue bikin harga nya sama deh sama yang biasa lu pesen!”
__ADS_1
“Asik lah, tengkyu...” desis Ariel. Ia memaksakan senyumnya padahal aku tahu dia sudah limbung.
Dia mencoba tetap ramah di saat semacam, ini.
Sementara aku malah jadi semakin merasa bersalah.
“Ariel sering toh ke sini?” tanyaku penasaran setelah si frontliner menyerahkan kartu pintu kamar. Si Front liner hanya menyeringai.
“Ngomong aje, gue apa adanya kok sama bini.” Kata Ariel sambil menyangga dagunya di meja resepsionis. “Iya aku sering ke sini... sama cewek, ganti-ganti...” Ariel mengecup pelipisku. “Aku janji setelah ini ke sini cuma sama kamu.”
“Ke sini cuma sama aku, tapi ke sana sama cewek yang lain,” balasku.
“Hehe,” kekeh Front Liner, ”Lu butuh apa Riel di kamar?”
“Paracetamol, sama banyakin air putih ya. Taro aja di depan pintu...”
Dan Ariel pun menggandeng tanganku sambil menuju ke arah lift.
Keluar lift dan di koridor dia bahkan berhenti sebentar untuk menyandarkan tubuhnya di dinding.
Aku sampai memapahnya menuju kamar kami.
Dan sampai di kamar dengan lunglai ia melepas sepatunya, melepas jaket dan kaosnya lalu langsung tiduran terlungkup di ranjang.
Terus begitu sampai adzan maghrib berkumandang.
Sementara aku menghabiskan waktu dengan menonton film di tv kabel. Cerita genre horor karena aku tidak ingin kepikiran sama Arka. Lebih seram lebih menyita perhatianku, lebih baik.
Karena menurutku yang lebih horor terjadi saat si Tuan Muda bangun dari tidurnya.
Kuperhatikan dengan seksama, Ariel tidur tanpa pakaian, selain di lehernya ada Tatto satu lagi di belikatnya. Tatto bergambar DreamCather. Lalu guratan panjang, menyilang dari bahu belakang sampai pinggang. Bekas sabetan celurit saat ia terjebak di tawuran antar dua sekolah.
Ia tidak ikutan tapi ia terkena dampaknya. Sejak itu dia bilang tidak suka pulang sekolah memakai seragam putih abu-abu. Sebisa mungkin ganti baju, apalagi kalau motor bagus, rawan dibegal. Jadi ia menorehkan tatto di lehernya biar disangka sudah mahasiswa.
Tapi aku masih tidak bisa menerima alasan di terhadap lukisan tubuh itu. Menurutku ada banyak jalan untuk menghindari perkelahian dibanding harus lukis-lukis permanen di kulit ciptaan Tuhan.
Entah kenapa anak ini... cowok ini gayanya selalu tampak eksklusif. Tidur tengkurap begini saja ia tampak keren. Perlahan ia bergumam lalu membalik tubuhnya agar terlentang. Ia mengangkat tangannya dan memijat dahinya.
Lalu tidur lagi dengan tangan menutupi matanya
Itu hanya gerakan sederhana, tapi kenapa terasa menawan dimataku.
Si Ariel ini... aku teringat minggu lalu, saat ia bertindak gila dan menyanyi Arjuna, walau pun dalam kondisi terjatuh dari podium berlumur busa dari APAR tetap saja gerakannya seksi.
Astaga... seksi?
__ADS_1
Mikir apa akuuu!!