Antonim Akal, Sinonim Sayang

Antonim Akal, Sinonim Sayang
Suamiku Yang Manis


__ADS_3

Rumah Pak Aaron, cantik dan besar. Astaga aku bahkan sampai melirik Ariel dan sedikit menyalahkan diriku, kenapa setelah menikah tidak tinggal di sini saja. Waktu itu Papah menawariku tapi kutolak karena tidak ingin meninggalkan ibuku sendirian. Tapi sekarang aku menyesal karena di rumah ini banyak kamar dan ada ART yang bisa membantu aktivitas kami. Di depan ada dua sekuriti, yang kadang juga merangkap menjadi tukang kebun.


“Kenapa sih kita nggak tinggal di sini aja?” tanyaku.


“Kenapa kamu baru nanya sekarang?”timpalnya.


Aku hanya mencibir. Ya memang alasanku tetap di rumah ibuku selain tak ingin beliau sendirian juga karena aku ingin menghindari Ariel sebisa mungkin. Tinggal di rumah papah malah membuatku semakin dekat dengannya.


Tapi itukan ‘dulu’.


Kalau sekarang sudah beda.


Sekarang aku malah ingin selalu dekat dengannya. Belakangan, dia selalu ada saat aku insecure.


Ting!


Sebuah pesan singkat masuk ke WA ku.


Dari Arka.


Aku nggak bisa tidur. Kamu apa kabar?


Begitu isi pesannya.


Kudiamkan saja. Dari kemarin dia wa aku, tapi tidak kubalas. Baca pun lewat notifikasi saja tidak kubuka WAnya.


Dan rupanya Ariel melirikku dengan mencondongkan tubuhnya menghadapku. “Cieeee sang mantan,” ejeknya.


Kenapa aku merasa terganggu ya dengan ejekannya? Sebelumnya aku tidak pernah merasa seperti ini. Segala yang berhubungan dengan Arka, kini terasa risih untukku. Apakah sakit hatiku sedemikian dalamnya?


Papah menuntun kami ke dalam rumah, setelah menjabat tangan Baron dan Artemis yang ganteng banget itu.


O-emji dia tersenyum lagi padaku,. Rasanya sekujur tubuhku merinding.


Haruskah kucari tahu tentangnya?


Ah, tidak! Tidak! Aku sudah bersuami. Nanti kalau dewasa sedikit Ariel juga jadi lebih tampan kok...


Masih bocah aja dia sudah seksi begitu.


Tunggu...


Ini bisa jadi sebuah ancaman untukku. Kalau dia dewasa, aku notabene sudah berumur lebih tua. Kalau remajanya saja dia sudah seganteng ini, pas tua... walah! Akan jadi apa akuuu?!


“Sini kulihat WA-mu!” tantangku.


“Nggak usah.” Jawabnya cepat.


“Sini,”


“Nggak usah laaaah, nggak ganggu kehidupan cinta kita juga kooook!”


“Sini!”


“Nanti kamu baper, udahlah Bu Biniii,”


“Tukeran sama hapeku,”


“Nggak butuh sih...” dan dia melengos ke arah kamarnya.

__ADS_1


Papah kulihat cengar-cengir. Aku memicingkan mata ke arahnya. “Yang lagi kasmaran season 2, nggak usah ikut-ikutan mesem-mesem,” gumamku.


“Why you’re so serious, honey?! Hahahahaha!” dan Papah pun terbahak. Rupanya dia nggak tahan dari tadi ingin ketawa.


Aku mengikuti Ariel menuju ke arah kamarnya.


Inilah kamar anak muda. Tidak perlu kujabarkan,


Vibenya berasa di kos-kosan, tapi kuakui Ariel lumayan rapi anaknya. Padahal gayanya berantakan.


Aku duduk di kursi gamingnya dan menatap ke arahnya.


Dia sedang membuka lemarinya dan memilih baju, lalu meletakkan kaos putih di atas meja. “Baju ganti kamu.” Katanya.


“Iya nanti kupakai, celananya?”


“Nggak usah lah,”


“Sudah kuduga,” jawabku sambil meliriknya.


“Haidnya tinggal dikit kan?”


“Tapi tetap nggak boleh ‘masuk’ lah,” jawabku.


“Di pijat aja pakai dada,” ia nyengir.


Dia sedang ingin bercinta. Usia semuda ini sudah pasti gairah meledak-ledak. Tapi kupikir, selama aku masih bisa melayaninya akan kulakukan. Memang kewajibanku kok.


Sekilas, bayangan cewek di warmindo tadi melintas di otakku. Perawakan gadis itu manja dan mungil. Dengan kulit putihnya , tubuh gemoy tapi kencang, dan sikapnya yang manja namun mengintimidasi. Ariel pernah menidurinya, apakah sikapnya yang manja itu membuat Ariel tertarik? Seketika saat membayangkan adegan pergumulan mereka berdua, dadaku terasa sesak.


Aku cemburu.


Tapi cemburu yang kali ini, lebih ke perasaan khawatir. Kalau dia tidak ada, aku ditinggalkan dalam keadaan terkoyak, yang sakit bukan aku saja, tapi dua keluarga besar. Semua akan kecewa.  Jiwa ini kini saling bertautan di bawah sumpah di hadapan Sang Illahi. Rasa yang timbul lebih ke sedih daripada marah.


Jadi... Bagaimana kalau aku yang manja? Aku jadi ingin tahu apa reaksinya.


Aku pun membuka bajuku, dan celanaku, panty kubiarkan tetap terpasang, dan merentangkan tanganku ke arahnya.


Ia tampak mengangkat alisnya dan tersenyum penuh tanda tanya. Tapi ia tidak bertanya, ia menyambut uluran tanganku dan memelukku.


“Ariel...” bisikku.


“Apa, sayang?” terasa hembusan nafasnya di leherku. Ia memelukku erat sekali. Perasaan damai langsung menyelimutiku.


“Aku sayang kamu.” Jawabku.


Gerakannya tiba-tiba membeku.


Ia menjadi tegang. Aku bisa merasakan ototnya yang mengeras. Sepanjang rahangnya, sepanjang lengannya, sepanjang perutnya.


“Aku mimpi ya?” tanyanya kemudian.


“Nggak kok, ini realita.” Kataku.


“Kamu...”


Aku menunggu kalimatnya. Ia terjeda lumayan lama, ada 5 detik dia diam.


Jadi aku mendahuluinya bicara.

__ADS_1


“Aku lagi nggak ingin apa-apa kok. Aku hanya ingin kamu di sisiku.” Kataku.


Gombal sedikit tak apa lah, toh aku mengucapkannya secara sadar, dan ini suamiku sendiri.


“Astaga... Claudia,” gumamnya. Ia mengelus punggungku, lalu menciumi leherku. Herannya, bagian bawahnya tidak tegang. Ia dalam posisi normal.


Kami dalam posisi berpelukan seperti itu beberapa saat, sampai kusadari kalau...


Ariel sedang menangis di leherku.


Aku sadar karena nafasnya tiba-tiba terputus-putus. Ia menahan isakannya, tapi mungkin tidak mampu sampai lama.


“Ariel?” aku mendorongnya lembut.


“Sebentar... tampangku kacau banget. Seperti ini dulu boleh ya?” bisiknya, suaranya gemetar. Ia tidak mengizinkanku melepaskan pelukan.


Aku hanya bisa diam. Hati ini langsung terenyuh mendengarnya. Jantungku berdetak semakin cepat dan rasanya aku sendiri ingin menangis.


Bagaimana bisa perasaan Ariel terhadapku sekuat ini?!


“Boleh kucium kamu?” tanyaku.


“Jangan...”


“Kenapa?”


“Nanti aku lepas kendali, malah jadi menyakiti kamu.”


Bibirku reflek tersenyum.


Ariel yang manis dan naif.


Yang apa adanya, kadang lugu kadang bodoh, tapi semua itu hanya ditunjukkannya di depanku saja.


Di depan orang lain dia pemimpin, superior dan pemegang kendali.


Bagaimana bisa aku tidak merasa diistimewakan, ia menganggapku ratu di kerajaannya.


Hatiku tertutup selama ini.


“Maafkan aku ya, selama ini sudah membuat kamu susah saja,” akhirnya aku meminta maaf.


“Aku nggak merasa disusahkan, aku yang salah terlalu terburu-buru terhadapmu,” kata Ariel.


Aku harus bilang apa kalau dia sudah begini?


Tak ada.


Akhirnya aku pun mendorongnya lembut, tanpa melihat wajahnya karena aku tahu ia akan malu kalau kuperhatikan.


Tapi hidung mancungnya tampak merah di ujungnya.


Aku pun berbaring di ranjang membelakanginya, dan menepuk-nepuk sisi belakangku, memberi kode padanya supaya kami segera istirahat.


Karena besok... ada banyak hal yang akan kami selidiki. Kami sudah berdiskusi di mobil dengan Baron tadi.


Ia menurut dan membuka pakaiannya, lalu memelukku dari belakang.


Tidak butuh waktu lama sampai kami terlelap sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2