Antonim Akal, Sinonim Sayang

Antonim Akal, Sinonim Sayang
Kencana 1


__ADS_3

“Aku haus...” desis Ariel sambil tersenyum sok polos.


Aku menuang air panas dari tumbler di sampingnya dan kucampur dengan air mineral di gelas.


“Haaah...” aku menghela nafas mencoba bersabar, sementara Ariel hanya melirikku tanpa ekspresi, hanya memutar-mutar gelas yang isinya tinggal setengah di pangkuannya.


“Ceritakan apa saja yang kamu tahu mengenai perjodohan ini.” Desisku.


“Duduk sini dulu...” ia menepuk-nepuk... pangkuannya.


Iya, pangkuannya. Bocah ini benar-benar pantang menyerah untuk urusan membuatku luluh.


Kenapa dia tak pernah mengerti perasaanku? Aku tidak mencintainya. Sesempurna apa pun dia. Sesi bercinta yang kulakukan hanya karena dia suamiku, karena kewajibanku sebagai istri. Walau pun seandainya Arka mengkhianatiku pun, aku belum tentu langsung mencintai Ariel.


Itu namanya pelampiasan kesedihan, malah kasihan Arielnya hanya jadi pengalih perhatianku saja.


Semua butuh proses, tidak langsung jadi.


Ini masalah perasaan. Tidak seharusnya dipaksakan.


Jadi kini, aku  memutuskan untuk memperlakukannya dengan lebih dewasa. Usia kami terpaut 7 tahun, termasuk timpang perbedaannya karena aku sebagai wanita lebih tua.


Usia 24 sepertiku sebenarnya masih agak labil kalau untuk urusan percintaan. Aku tidak sedewasa yang dibayangkan orang-orang. Aku hanya nekat bersikap tegar karena keadaan.


Jadi bisa dibilang... kami berdua masih kecil, masih anak-anak, masih naif menghadapi dunia.


Aku bisa luluh dengan Arka yang lebih dewasa bersikap, jadi akan kucontek gaya Arka kalau menasehatiku.


“Aku duduk di sini ya,” desisku sambil duduk di samping ranjang.


Ariel hanya menatapku.


Terlihat dari urat-urat yang timbul di rahangnya, kalau ia sedikit gugup menghadapiku yang tidak meledak-ledak lagi.


“Jelaskan padaku pelan-pelan, apa sebenarnya yang sedang kita hadapi selama ini?”


“Itu...” Ariel menggigit bibirnya. Tampak ragu.


Tapi kemudian ponselku bergetar, tanda ada notifikasi pesan singkat yang masuk


“Claudia, kamu dan Ariel bisa ke kantor tidak?” pesan singkat dari Baron siang itu.


Aku menatap Ariel dengan pandangan khawatir, karena ini Baron gitu loh, dan dia meminta kami ke kantornya! Sudah pasti ada hal penting yang terjadi.


Jadi aku memesan taksi online untukku dan Ariel yang masih sakit, menuju kantor baron.


“Loh? Mau kemana?” tanya ibuku sambil mengernyit.


Sementara Papah kelihatannya baru selesai makan siang, tampak duduk di meja makan sambil mengelap bibirnya dengan tissue. Mereka berdua menatap kami dengan kaget.


“Raden Arya minta kami berdua datang ke kantornya,”

__ADS_1


“Kalian yakin berdua saja?” tanya papah.


“Tidak. Tapi kami percaya dengan Raden Arya. Papah dan Ibu bisa standby dulu di rumah? Siapa tahu kami butuh sesuatu,” tanyaku.


“Tentu, perlu di antar?”


“Tak usah Pah, aku udah pesan taksi online.” Kataku. “Taksi sudah ada di depan gerbang.”


**


Melalui akses yang pernah diberikan Arka, kami menuju lantai 7, ke arah ruang meeting yang dulu kami bertemu Baron.


Tampak di sana para bodyguard sudah berjaga menyambut kami. Seperti biasa walau pun ini hari Sabtu, tapi suasana kantor tetap seperti hari kerja biasa seakan tak pernah libur.


Bedanya mungkin personel di saat weekend tidak muncul di saat weekdays karena bisa menimbulkan kehebohan. Sangat terlihat kalau mereka bukan pekerja kantoran. Tubuh mereka besar-besar, berotot, kebanyakan menyandang senjata di punggungnya ala militer. Kali ini mereka tidak meminta ponsel kami. Mungkin sudah dititipi pesan oleh Baron.


Di seberang sana aku melihat seseorang yang dulu mereka sebut ‘Ivander’. Sedang berdiri di depan sebuah mesin besar sambil menenteng laptopnya.


“Aaah, dua Ariel rupanya,” sapanya ke arah kami.


“Bro!” sapa Ariel, “Masih sibuk aja lu!”


“Makanya sekolah yang bener, biar bisa bantuin gue cepet-cepet.” Kekeh Ivander. “Gantiin Baron tuh udah tua masih aja jadi tukang pukul Boss!”


“Gue bagian administrasi pokoknya,” desis Ariel sambil menepuk-nepuk bahu Ivander.


“Chicken lu,” (artinya pengecut). Balas Ivander.


Ia bahkan mengerling padaku sambil cengengesan setelah melayangkan seluruh pandangannya ke bagian-bagian tubuhku yang menonjol.


“Mata lu kondisikan dong,” gerutu Ariel sambil memalingkan wajah Ivander dan menyusulku.


“Sejak kapan kamu akrab sama Ivander?” tanyaku.


“Sejak di rumah Mbah Rangga. Aku kayaknya mau ambil teknik komputer nanti. Katanya untuk posisi CEO ada baiknya melek teknologi. Karena lebih mudah mengatur orang lewat dunia maya di jaman sekarang. Kalau uang kan udah punya.”


“Ada yang kamu nggak punya,” kataku.


“Apa?”


“Kemampuan berdebat.”


“Duuuh, apa lagi sih itu!” keluhnya sambil mengusap tengkuknya.


Aku membuka pintu ruang meeting.


Di sana, di ruang meeting yang kemarin kami bertemu, sudah ada Pak Johan dan Pak Abel, dua pengacara Mbah Rangga yang kini secara resmi menjadi Pengacara Baron, serta Baron dan seorang wanita berusia lanjut yang sangat cantik berada di dekat mereka.


Siapa?


Aku tak pernah melihat wanita itu sebelumnya.

__ADS_1


Rambutnya yang panjang diblow rapi, warnanya silver.


“Nah, Pak Johan, Pak Abel. Pemain sudah lengkap semua.” Kata Baron. “Aku pinjam ruangan ini dari Boss. Sementara Gedung kalian sedang dalam proses renovasi.”


“Gedung... kami?” tanyaku sambil memiringkan kepalaku.


“Ariel, dan Claudia, perkenalkan, ini Ibu Kencana Wira Atmo.”


Aku kaget mendengar namanya.


Mungkinkah beliau...


“Ibu Kencana adalah penyebab kenapa Bapakku meninggal bunuh diri kemarin.” Baron tersenyum masam.


**


“Siapaaaa?” tanyaku dengan intonasi di akhir yang agak ditekan, untuk penegasan.


Wanita itu memandang Baron dengan ragu. Baron terlihat mengangguk ke arahnya.


“Dia adalah emas yang dimaksud Mbah Rangga dan Mbah Rejo. Ibu Kencana ini adalah... apa yah, dibilang istri juga bukan dibilang pasangan juga bukan, tapi ya erat kaitannya dengan keluarga kami.” Kata Baron.


“Juga orang yang sekian lama disembunyikan oleh keluarga Rangga-Rejo karena dianggap aib,” kata Bu Kencana.


“Ibu ini korban, bukan pelaku,”


“Tetap saja saya ini aib,”


Baron menghela nafas, “Silahkan bu,”


Bu Kencana duduk tegak menghadap ke arah kami.


“Anak-anak sekalian, di masa dulu sebelum Raden Arya lahir, saya adalah pasangan... yah... pasangan Rejo sekaligus Rangga.”


Kami berdua melongo.


“Usia saya... masih kanak-kanak, masih belasan tahun... setara SMP kalau jaman sekarang. Saya sedang bermain dengan teman-teman, petak umpet waktu itu. Dan kebetulan tersasar sampai ke kebun belakang si Rangga. Waktu itu Rangga dan Rejo sedang berada di sana.” Ia menceritakan dengan wajah yang... sulit kukatakan, tapi seperti ketakutan dan gemetar.


“Saat itu... saya ingin buang air kecil. Karena tak tahan ya saya numpang ke mereka berdua untuk menggunakan kakus. Berikutnya... yah... yang saya ingat saya itu kesakitan...”


Aku sampai memiringkan kepalaku mendengar ceritanya.


“Ibu Kencana ini dilecehkan oleh Mbah Rangga dan Mbah Rejo.” Baron memperjelas kalimat.


“Astaghfirullah...” sepakat kami berdua menyebut nama Tuhan.


“Waktu itu setahu saya mereka berdua sudah memiliki banyak istri.” Bu Kencana tersenyum getir ke arah kami berdua. “Rangga merasa bersalah dan meminang saya, didampingi Rejo. Untuk menyelamatkan nama baik keluarga semuanya. Sementara saya... yah, saya takut bertemu dengan mereka berdua. Saya menolak dinikahkan dengan siapa pun, saya bahkan mencoba bunuh diri untuk menghindari mereka.”


“Tapi ternyata Rangga dan Rejo terus menerus mengirimi saya hadiah. Padahal istrinya sudah ada delapan orang. Saya benci sekali pada mereka berdua.” Bu Kencana menipiskan bibirnya tanda kegeramannya. “Dari hadiah yang dikirimkan ke saya, saya tahu mereka orang besar, dengan kekayaan melimpah. Semua hadiah itu sebagai bentuk... apa ya kalau sekarang namanya?” Bu Kencana menatap ke arah baron.


“Sogokan, gratifikasi, upeti, suap... apalah namanya,” desis Baron.

__ADS_1


“Dan ternyata perbuatan mereka diketahui oleh Sasongko, anak pertama Rangga.”


Kami hanya bisa diam.


__ADS_2