
“Wah wah, Dua Ariel, ada apa gerangan?” Felix menyambut kami di ruangan Komisaris sambil menyeringai. Matanya yang sayu dan kulitnya yang pucat itu semakin membuatnya bersinar bagai boneka porselen. Apalagi suasana kantor yang penerangannya maksimal, membuatku insecure karena wajahku belakangan kubuat agak kusam dan tidak mengenakan make up sama sekali.
“Kamu sepertinya sehat-sehat saja Ari-hm... Claudia. Mukamu lebih cerah dan badanmu lebih berisi sekarang,” kata Felix dengan seringai sinis khasnya..
“Lebih berisi itu maksudnya gemuk atau bagaimana?”tanyaku.
“Lebih berisi itu maksudnya gitar spanyol. Kamu nggak gemuk tapi padat. Diajak olahraga terus sama Ariel ya?”
“Ini obrolan yang tidak berbobot Felix, kamu itu terlalu vul gar,”
“Vul gar gimana? Olahraga vul gar apanya sih? Hihihi,”Felix menggodaku
“Nggak usah pakai ketawa, kami semua tahu maksud kamu,” timpalku
“Iya, Mas, Olahraga mental. Dia stress terus kayaknya,” kata Ariel ke Felix, tapi pakai ketawa.
“Aku kebanyakan playing victimnya ya ke kamu? Kamunya yang malah tersiksa karena keegoisanku...”
“Se-egois apa pun seorang istri, kalau suaminya sudah cinta mati ya jadinya slow aja,” Walau suaranya pelan, tapi aku masih bisa mendengar Ariel berujar begini.
Decakan Felix membuatku yakin kalau aku tidak salah dengar. Pipiku langsung terasa panas.
“Aku juga begitu ke Chyntia jadi ya tanggapi saja dengan santai.” Kata Felix sambil duduk di salah satu sofa, “Nanti juga kalem sendiri kalau sudah masanya, tunggu saja sehari biar dia tidur yang nyenyak dulu, hehe.”
“Apalagi Mbak Chyntia lagi hamil ya Mas?”
“Jangan ditanya, barusan aku disuruh pulang untuk taroh handuk ke jemuran lagi, gara-gara lupa tadi pagi kuletakkan saja di atas kasur dalam posisi basah,” Felix menggelengkan kepala, “Mood-swing di hamil kali ini luar biasa, padahal ini anak ketiga. Yang pertama dan yang kedua kalem-kalem aja loh dia santai menjalaninya. Jangan-jangan si bungsu perempuan nih heheheh”
“Kamu kan punya ART Felix,”
“Kalau yang berkaitan denganku, istriku tidak mengizinkan satu pun ART mendekat kecuali laki-laki, termasuk menyiapkan makan untukku dan anak-anak di rumah, Chyntia yang memasaknya. Katanya takut aku diguna-guna.”
“HAHAHAHHAHAHAH!! Astagaaaa, konyol sekali istri kamu!” aku langsung terbahak.
“Kita tidak tahu apa yang ada di pikiran ibu hamil. Claudia. Mereka bisa berpikiran di luar imajinasi kita. Udah indera ketujuh yang terbuka, bukan ke enam lagi!” kata Felix.
“Mas, kalau kuganggu kapan-kapan untuk menangani Claudia, mohon direspon ya Mas,” kata Ariel.
“Menanganiku bagaimana?” tanyaku
“Mbak Chyntia yang lebih kalem dari kamu saja bisa begitu kalau hamil, aku tak terbayangkan bagaimana ribetnya kamu nanti,”
Aku mencibir. Belum apa-apa sudah ingin aku hamil anaknya saja.
Malu deh aku.
“Jadi... kalian sudah resign nih ya?” tanya Felix
Kami berdua mengangguk.
Felix menyeringai, “Om Aaron datang tadi pagi menemuiku, aku sudah daftarkan nama kamu di Yayasanku untuk ambil Paket C. Sudah ditandatangan Romeo juga mengenai prosedur masuknya barusan. Untuk Perguruan Tinggi Negeri, ijazah Paket C bisa diterima melalui jalur SBMPTN dan jalur Mandiri. Jadi penerimaannya lebih ketat karena peserta ujiannya lebih banyak, masyarakat umum.”
“Aku nggak ke negeri deh Mas, aku swasta saja . Toh sudah ada dana untuk ke Amethys University, pakai warisan yang 300juta itu,”
“Yang 400 juta selisihnya bagaimana? Fakultas Ekonomi kan ya?” tanya Felix. Ya karena biaya masuk untuk berkuliah Amethys University memang semahal itu. Malah di Fakultas tertentu menembus hampir 1 miliar untuk uang masuknya, itu belum semesterannya.
“Pinjam Claudia dulu, nanti kubalikin kalau udah kaya,”
“Pakai duitku nih? Mas kawinku juga dong?!”
“Ya iya lah, pakai duit siapa? Masa duit Papahku?”
__ADS_1
“Nggak usah ke Amethys kenapa sih? Mahal banget kayak beli rumah! Uang segitu dapat tiga kavling kalo di pinggiran Jakarta! Kan masih banyak swasta lain yang bagus, yang penting kan dapat Ijazah dan nilai kamu cukup,”
Karena menurutku, Sejatinya ijazah hanya tanda kita pernah belajar, bukan tanda kita pernah berfikir. Sukses atau tidaknya seseorang ke depannya tidak bisa dinilai hanya dari pendidikan formalnya saja, ataupun ijazah formal yang ia peroleh. Ijazah tidak bisa memberikan apa-apa selama skill, ability and attitude tidak dimiliki.
“Bukan begitu Claudia,” desis Felix, “Ini masalah kredibilitas. Ia akan menjabat menjadi CEO Topaz Kencana setelah lulus. Apalagi usianya masih sangat muda, jadi harus ada pendidikan khusus untuk menangani strategy perusahaan. Amethys University adalah pilihan yang tepat selain Universitas Negeri, karena tarafnya sudah internasional,”
“Beasiswa! Bagaimana dengan jalur itu?” seruku menunjuk Ariel.
“Gawat dah mana mampu gue...”
“Mampu! Aku maksa! Kamu masuk jalur beasiswa biar bayarnya murah! Awas kamu males-malesan!”
“Arrgh..”
Sudah waktunya Ariel sekolah yang serius. Dari kemarin kerjanya hanya bersenang-senang membuat keributan...
**
Dan selanjutnya, di sinilah kami... Pulang ke rumah ibuku dalam keadaan kelelahan.
Kami berbaring di ranjangku setelah semuanya selesai.
Posisi menghadap ke plafon, dengan pandangan menerawang ke arah atas.
“Gila capek banget hari ini...” gumam Ariel.
“Hm...” gumamku.
Lalu kami terdiam.
Setelah beberapa lama menenangkan diri dan nafasku sudah normal kembali, timbul di pikiranku untuk iseng ke Ariel.
“Ya?”
“Coba rayu aku dong, pakai kata-kata romantis,”
“Lah, ngapa?”
“Lagi pingin aja...”
“Yang ada kamu baper, terus malah ngambek.”
“Janji kali ini nggak, tapi yang tulus, jangan yang gombal banget,”
“Lebih baik aku ikut SBMPTN, deh...” terdengar gerutuannya. “Tapi sebelumnya aku mau tanya.”
“Apa?”
“Bagaimana perasaan kamu ke Arka?”
Aku menaikkan bahuku sekilas, masih dalam posisi berbaring terlentang aku menghela nafas, “Aku juga bertanya-tanya. Sekarang sosoknya di depanku seperti... Mas-mas biasa yang random.”
“Haaah? Apa coba?!”
“Aku bukannya mau bahas dia ya, kamu sendiri yang mancing-mancing nih,”
“Iya, aku sendiri yang mau tahu kok,”
“Bagaimana kalau kubilang aku masih suka sama dia? 6 tahun bukan waktu yang sebentar.”
“Maka aku mau tahu segala hal tentangnya, agar aku bisa menyainginya. Dengan demikian pandanganmu beralih kepadaku,”
__ADS_1
“Kamu bahasanya udah kayak film 80an deh,’
“Katanya disuruh romantis , gimana sih? Sambil nyelam minum susu dong...”
“Kok susu sih?”
“Aku kan masih bayi katanya...”
“Dih, sensitif, ih,”
Kami terdiam sejenak. Suara kendaraan lewat di depan rumah samar terdengar. Lalu suara TV di lantai bawah, ibuku sedang menonton TV rupanya, dan juga suara dengung AC yang halus di atas kami.
“Saat tadi aku bertemu dengannya, aku tidak merasakan apa pun. Aku malah merasa risih melihatnya. Semua kalimat yang keluar dari mulutnya terasa seperti gaung di telingaku. Yang kudengar malah hanya suaramu saja...”
“Kamu percaya alasannya?”
“Tidak. Aku sedikit search mengenai cewek itu di Ig dan Facebook. Mereka sudah bersama sekitar setahun sebelum kita menikah,”
“Sedih?”
“Dulu iya, sekarang tidak,”
“Claudia, aku banyak berhubungan dengan perempuan sebelum kau. Mungkin suatu saat kita akan dapat masalah,”
“Sudah kuantisipasi ke-semprulanmu itu,”
“Bagaimana kalau salah satunya ada yang menemuimu dan mengaku hamil...”
“Kau harus segera bertobat demi kepentingan keluarga kita, Ariel.”
“Kan tobatnya sekarang tapi kan pasti ada imbasnya untuk masa laluku,”
“Aku hanya bisa menyalahkanmu saja,”
“Hanya itu?”
“Dan menerimamu apa adanya tapi kau juga harus menerimaku apa adanya,”
“Kau berubah jadi spek emak-emak naik becak ke pasar kayaknya aku tetap suka...”
“Fetishmu memang aneh.”
“Anggap saja saking banyaknya tipe perempuan yang bersamaku, kini aku memiliki standar sendiri untuk seorang istri.”
“Apakah aku memuaskan di atas ranjang?”
“Tidak.”
Aku langsung duduk dan menatapnya dengan kesal, “Tidak?” aku mengulangi kata-katanya.
“Tidak. Kau pasif. Aku lebih suka yang agak dominan. Ya tapi wajar kamu kan pemula. Kalau kamu pro aku malah curiga.”
“Wah wah... The King of Show...” sindirku.
“Adegan ranjang yang hebat tidak membuktikan apakah seorang suami dan istri masih saling mencintai. Tanda cinta itu timbul kalau suami-istri masih bersama tanpa syarat ini itu, tanpa tuntutan ini-itu, karena masing-masing sudah tahu kewajibannya. Mana ada suami yang mencintai istrinya tega melihat istrinya berpeluh keringat?”
“Aku masih harus menguji perkataanmu karena belum melalui kehidupan rumah tangga yang sebenarnya.” Kataku. Aku tahu dia benar, tapi karena keluar dari mulutnya yang terbiasa berkata-kata tanpa filter, jadi terasa tidak meyakinkan.
Aku kembali berbaring.
Dan kami pun terdiam lagi.
__ADS_1