Antonim Akal, Sinonim Sayang

Antonim Akal, Sinonim Sayang
Arka Datang


__ADS_3

"Pernikahan yang sukses bukanlah ketika kamu dapat menjalani hidup dengan damai dan adem bersama istrimu, namun ketika kamu tak mampu menjalani hidup dengan damai tanpanya."


**


“Berat nggak?” tanyaku.


“Nggak,” jawab Ariel yang ada di depanku. Ia sedang mengangkat plastik berisi barang-barangku di pundaknya.


“Masa? Itu ada barbel 5 kg loh,” desisku.


“Kamu ngapain sih bawa-bawa barbel ke sekolah? Hah? Ada Pin bowling segala!”


“Buat exercise kalau lagi badmood laaah,” aku terkekeh.


“Pin Bowlingnya?!”


“Buat pajangan,”


“Pajangan kok Pin Bowling, aku malah ngak yakin kamu bisa main bowling!”


“Lah suka-suka dong!”


“Jangan-jangan dipake buat hal lain! Buang aja lah! Nanti kubeliin yang bisa getar, biar kamu koleksi sekalian macem-macem warna dan uku-”


“Heh!! Ada anak-anak di sini!” seruku kesal. Karena Davina dan Merry sedang bergelayut di kedua lenganku, tak ingin kehilanganku.


“Ah mereka juga tahu artinya! Sok polos aja!” gerutu Ariel.


“Bu,Bu!” Davina menarik-narik lenganku. “Ariel mainnya ekstrim loh, bisa sejam tiga orang,” bisik si tukang bully.


Aku menghela nafas kesal.


Mungkin Davina sengaja agar aku bertengkar dengan Ariel lagi. Dia kan manipulatif.


“Termasuk kamu?” pancingku.


“Saya masih perawan. Tapi saya sih berharapnya diperawanin Ariel. Sayang nggak sempat bu...”


“Davina...” desisku. “Sebagai guru dan sebagai teman, saya beritahu kamu satu hal.”


“Arrgh, nasehat lagi,”


“Ini bukan nasehat, ini saran, mau nggak kamu ambil juga tak apa,” kataku. “Tapi saya merasa bersalah kalau tidak memberitahu kamu hal ini.”


“Apa bu?”


“Lepaskanlah keperawanan ke suami kamu. Carilah orang yang tepat untuk jadi suami kamu agar hidup kamu tidak berantakan, lalu kamu jadi merasa dunia kamu hancur...”


“Bagaimana cara saya menemukan orang seperti Ariel lagi bu? Stoknya sold out!”


“Laki-laki bukan barang. Dan kamu jangan sampai salah mengindikasikan rasa suka dengan cinta. Kebanyakan perpisahan terjadi karena hal itu.”


“Bagaimana caranya?”


“Tandanya adalah... orang yang tidak pernah balas bicara kasar kepadamu saat kamu sedang kasar padanya, Orang yang tetap lembut memberi pengertian saat kamu menamparnya, orang yang sadar kalau kamu potong rambut walau pun motongnya hanya sesenti saja, orang yang terbuka mengenai kekurangannya dari awal. Orang yang tidak berbohong walau pun kejujurannya menyakitkan. Saat kamu melepaskan keperawanan kamu ke suami kamu, yang mana itu adalah haknya, saat itu kamu bisa menjalani hidup lebih tenang. Kecuali, hati kamu sendiri yang berubah.”


“Astaga buuu, berat banget. Saya masih 16 tahun ini loh,”


“Chasing kamu 16, tapi onderdil kamu 30.”


“Iiih nggak aaaah! Saya tersinggung nih!” seru Davina.

__ADS_1


Terdengar tawa Ariel dari depan. “Mau coba-coba ngadu domba, parah lo Vin!” desis Ariel sambil memasukkan barang-barangku ke bagasi taksi online.


“Bu... Kalau ada waktu kita ketemuan ya bu!” Merry memelukku.


“Aku sih kapan aja siap,” seru Davina bersemangat


“Lebih baik kamu nggak ikut!” seru aku dan Merry.


“Gimana kalau minggu depan kita lunch di clubhouse Papahku?” Davina bahkan tidak mendengarkan kami.


Tiba-tiba sebuah mobil yang sangat kukenal menghampiri kami. BMW 5 Series milik Arka.


Dia keluar dari mobil dan menghampiriku.


Aku benar-benar berharap dia tidak ada di sana, aku dalam kondisi berjuang supaya move on,tapi-


“Mau apa, brengsek?!” Ariel langsung menghadangnya.


“Saya perlu bicara dengannya,”


“Nggak perlu, dia udah move on!” kata Ariel.


“Ariel,” Arka memanggilku, “Video itu diposting tanpa aku tahu. Aku juga baru sadar kalau itu Viral hari ini."


“Tapi kamu tahu kalau ada video itu kan?!” tanya Ariel masih coba menghalangi Arka mendekatiku. Aku pun mundur ke belakang Davina karena tidak ingin menemui Arka. Tiba-tiba saja sudah banyak anak-anak berada di sekelilingku. Mereka menonton perseteruan Ariel dan Arka.


“Saya sempat tahu dan sudah saya hapus, tapi rupanya dia mempostingnya duluan di medsos sebelum dihapus.” Arka berusaha memberitahuku dan Ariel kalau itu sebuah kesalahpahaman.


“Kalau gitu take down dong videonya! Beri konfirmasi!” seru Ariel emosi.


“Saya tidak bisa yang itu, apa yang harus diberi konfirmasi? Semua itu benar adanya,”


“Ya pake bahasanya di caption yang sopan dong! Tante-tante... maksudnya apa?! Dia yang pacaran sama Om-Om! Jelas-jelas kamu lebih tua, dasar Sugar daddy...” seru Ariel semakin emosi.


“Yang perlu bertemu dengan Ariel ya pacar kamu! Sementara kamu berhadapan dengan Saya! Suaminya!!”


“Kamu suami yang tidak diinginkan, kamu tidak sepenuhnya memiliki hak,”


“Seperti kata kamu ya Arka, kami menikah dengan sadar. Kecuali kamu begitu murahan mencoba dekat lagi dengan istri saya, kamu mundur atau saya nggak segan cari perkara!” Ariel membalikkan kalimat di caption.


“Ariel, plis... aku minta maaf,” Arka menatapku.


Aku hanya diam. Entah apa yang tersetting di wajahku, kini aku malah muak melihat Arka. Aku rasanya ingin dia cepat-cepat pergi saja.


Ariel berbalik dan mendorong Arka supaya mundur, “Kami maafkan asalkan video itu ditake down dan pacar kamu minta maaf secara terbuka. Kami hari ini resmi keluar dari sekolah, kami mau hidup tenang tanpa pengganggu.”


“Eh? Keluar dari sekolah? Jadi...” Arka menatap semuanya, “Jadi semua sudah tahu?”


“Sudah, semua sudah tahu.”


“Kamu katanya mau bercerai? Kok jadi keluar dari sekolah?!”


Aku jelas kaget mendengar Arka bicara begitu.


“Nggak jadi, kami tidak jadi bercerai! Sehidup semati sekarang!” seru Ariel.


“Ariel! Plis dong masa kamu nggak ngerti sih? Aku berusaha membuat kamu cemburu biar kamu cepat cerai, kenapa malah keluar dari sekolah?!”


“Bikin cemburu sampai pacaran sama anak SMA, yang bener aja Boss! Itu namanya nyari gara-gara!”


“Ya dia nikah sama anak SMA, saya juga boleh dong pacaran! Toh nggak sampai nikah seperti kalian!”

__ADS_1


“Astaga!” desisku.


Aku langsung pusing mendengar semua ini.


Rasanya semua tampak konyol di mataku.


Macam dagelan.


Tapi aku malah tidak percaya dengan perkataan Arka. Karena di mataku sendiri dia memperlakukan ceweknya bagai ratu, berbeda jauh dengan perlakuannya padaku dulu.


“Claudia, kamu maunya gimana? Kalau kamu mau bicara dengan Arka, kuizinkan! Biar cepat selesai.” Kata Ariel padaku.


Aku menggeleng, “Bullshit semuanya. Omong kosong! Aku tetap dengan pernikahanku, terserah semua mau bilang apa!” seruku sambil masuk ke taksi online.


Aku sempat melihat Ariel berbicara dengan Arka dengan geram sebentar, lalu mendorong Arka agar mundur dan mengikutiku masuk ke dalam mobil.


Dan mobil kami pun berjalan ke arah tujuan.


“Kamu bilang apa ke dia?” tanyaku ke Ariel.


“Kalo dia ngikutin kita, dia mati. Aku ngancem mau nelpon Baron.” Jawab Ariel.


“Dasar...” gumamku.


Lalu aku menunduk. Rasanya air mataku mau jatuh. Dadaku terasa sesak melihat Arka.


“Maaf...” aku memeluk lengan Ariel.


“Kenapa kamu minta maaf?”


“Aku selalu saja menyusahkanmu,” kataku.


“Apa sih? Aku nggak ngerasa disusahin. Itu si Arka alasan saja mau bikin kamu cemburu. Memang dia selingkuh sebelum kita berdua dinikahkan kok. Dia bahkan tidak menyanggah waktu kamu damprat kemarin-kemarin. Sekarang dia bilang mau bikin kamu cemburu. Laaaah, lidahnya bercabang!” gerutu Ariel.


“Yang tidak suka dengan kita banyak Riel, aku juga tidak sepenuhnya percaya ke Davina dan Merry. Mereka kan memendam perasaan sama kamu.”


“Kalau yang itu nggak usah cemburu. Beneran deh, nanti aku bakal ketawa kalau kamu berani-beraninya cemburu sama cabe-cabean,”


“Davina cabe-cabean jenis calorina woy, mahal.”kataku.


“Terus Merry kamu bilang paprika, lagi. Dia sama aja cuma chasingnya kalem. Kalo anak biasa, nggak bakalan sampai di bully. Banyak yang suka sama aku Bu Guruuu, tapi yang disasar cuma Merry. Kepikiran nggak kenapa?!”


“Jangan sudzon, kamu...” desisku.


“Kita ke Garnet Bank habis ini. Aku mau minta tolong ke  Mas Felix daftarin ke kelas kesetaraan.” Kata Ariel. “Papah sudah ke sana tapi aku rasanya nggak sopan kalau nggak nongol setor muka.”


“Ck! Kita ke Garnet Bank yaaa... males deh,”


“Kenapa?”


“Itu perusahaan impiankuuu, kamu malah bikin aku down. Itu mimpiku yang belum terwujud, kerja di sana!”


“Ya, nanti sekalian minta keringanan lamaran.”


Lalu kami diam.


“Claudia,” ia memanggilku.


“Apa?”


“Kamu ada hubungan apa sama Pak Rendi?”

__ADS_1


“Halah!!”


__ADS_2