
Kami tidur semalaman berdampingan, namun tidak saling menyentuh. Dia dengan gayanya, aku dengan gayaku. Dam luar biasanya, aku tidur sangat nyenyak tanpa mimpi.
Aku menoleh ke samping dan kulihat Ariel tidur dengan gayanya, tengkurap tanpa pakaian, dengan sebelah tangan menggantung ke bawah, setengah wajahnya tertimbun di bantal. Selimut terbelit di kakinya.
Aku mengambil selimut dan menyelimutinya dengan layak, lalu beringsut ke lantai bawah untuk membuat kopi.
Hari ini aku tidak perlu ke kantor, dan Ariel mengikuti kelasnya hari Sabtu dan Minggu. Hari ini resmi kami menjadi pengangguran.
Tapi banyak acara.
Siang ini kami ada jadwal bertemu dengan Pak Abel dan Pak Johan, mendiskusikan masalah rumah yang dihibahkan kepada kami sebagai hadiah pernikahan. Rumah itu katanya mewah. Katanya loh ya. Tapi kembali ke pengalaman kami sebelumnya, pengacara-pengacara Mbah Rangga ini selalu membuat kejutan di akhir.
Dan terakhir aku baru tahu kalau rumah itu ternyata adalah milik keluarga Bu Kencana.
Entahlah bagaimana nanti, yang jelas saat ini aku begitu penasaran akan satu hal.
Ibuku.
Ia di dapur sedang membungkuk di depan oven untuk memeriksa cake yang dipanggangnya.
Kulihat di atas meja sudah tersedia berbagai masakan ala eropa. Ibuku ini memiliki menu setiap harinya tapi dibagi berdasarkan hari. Misalnya hari Senin ia membuat masakan ala Timur Tengah, berbagai rempah dan snack vegetarian ia keluarkan, lalu Selasa sampai Kamis ala Indonesia, menunya bervariasi setiap minggu, Jum’at biasanya ala Asia seperti masakan Chinese, Korea, atau Jepang. Dan Sabtu Minggu ia lebih banyak ala Eropa karena minim bumbu. Alasannya karena Sabtu Minggu aku biasa makan di luar, di restoran, jadi ia tidak perlu susah-susah memikirkan masakan yang sulit-sulit.
Dipikir...
Semua yang dimasaknya adalah masakan kesukaanku.
Apa ya masakan yang ia suka?
Ibuku ini... Ibu Tiri tapi sayangnya kepadaku sudah seperti ibu kandung. Dari dulu ia menyembuhkan traumaku setelah ditinggal Ibuku. Ia langsung memelukku dengan kehangatan cintanya. Ia bahkan rela berdamai dengan keluarga Mbah Rangga yang aneh-aneh, juga berbesar hati saat semua selingkuhan ayahku muncul dan mengklaim ini-itu atas ayah.
Semua tabungan ia serahkan ke yang minta daripada jadi polemik terus keselamatanku terancam katanya.
Hanya rumah ini saja yang tidak ia serahkan, karena dari awal Ibuku meminta rumah ini sebagai mahar pernikahan, dan belakangan di-ubah menjadi ‘hibah’ oleh ayahku menjelang kematiannya.
Pentingnya saat menikah meminta mahar. Untuk melindungi kehidupan setelah menikah. Menurutku, Seperangkat alat sholat bukanlah bagian dari mahar, tetapi lebih merupakan simbol sebuah kewajiban umat Islam. Menikah yang dibina berdasar atas kewajiban beragama.
Mahar itu sendiri adalah pemberian yang diberikan suami kepada istrinya pada saat perkawinan, sebagai simbol komitmen dan tanggung jawabnya terhadap istrinya. Jadi Mahar berupa uang, harta benda, atau aset berharga lainnya adalah Harkat dan Martabat suami. Harga diri suami sebagai pemberi nafkah, tergambar di situ.
Bukan masalah jumlahnya tapi masalah kemampuannya.
Suami memberikan mahar 1% dari hartanya, dibanding yang memberi mahar 80% dari hartanya. Kira-kira siapa yang lebih menyayangi istrinya?
Sebut Istri matre? Yang istri pusingkan hanya harta, uang, dan perhiasan emas?
Oh Tidak tidak...
__ADS_1
Karena Mahar yang diberikan suami kepada istri, kelak akan digunakan istri untuk kesejahteraan dia dan anak-anak mereka juga. Mahar itu akan digunakan untuk mendidik dan mengasuh anak-anak, serta keberlangsungan hidup mereka.
Tak jarang dan bahkan banyak istri yang akhirnya menjual cincin kawin demi makan sehari-hari, bahkan bisa dibilang hanya sepersekian persen yang maharnya masih tersimpan rapi di kotak perhiasan. Biasanya malah sudah raib dijual untuk pangan, untuk pendidikan, untuk kesehatan.
Seperti ibuku ini...
Ia mempertahankan rumah ini demi aku. Demi kami terlindung dari panas dan hujan. Mereka bilang ibuku materialistis dan manipulatif, karena ‘memaksa’ ayahku untuk mengubah status hibah. Padahal ayahku juga memiliki anak-anak tiri di luar perkawinan sahnya yang mereka pikir berhak atas harta peninggalan. Mereka tadinya mengklaim rumah ini dijual dan hasilnya dibagi rata saja. Karena jelas semenjak Ayahku meninggal, mereka-mereka yang tadinya keberadaannya tidak kuketahui, terhenti pula nafkahnya.
Dan kalau bukan perjuangan ibuku, rumah ini sudah habis riwayatnya, di ambil oleh istri-istri siri dan anak-anak di luar pernikahan ayah. Walau pun yang paling berhak ya kami sebagai pewaris SAH karena kami tercatat di negara.
Iya ayahku juga playboy seperti Mbah Rangga dan Mbah Rejo. Memang keturunannya sih, pernah dengar tidak, kalau selingkuh itu faktor keturunan, hormonal dalam keluarga?
Kuharap Raden Arya, Felix dan Hector tidak seperti mereka. Kekhawatiran utamaku sih suamiku sendiri ya. Makanya aku bertanya hal-hal yang agak nyeleneh kepadanya, untuk jaga-jaga kesiapan hatiku saat menghadapi mereka yang tadinya keberadaannya tidak diketahui.
Walau pun aku sangsi Ariel akan begitu juga, dilihat dari sikapnya yang apa adanya, dan tidak bisa berbohong, seharusnya sih cepat ketahuan olehku kalau ada hal yang ‘berbeda’.
Sebut saja aku skeptis, tapi hati manusia siapa yang tahu kecuali Tuhan?
Kembali lagi ke ibuku,
Tubuhnya yang kurus itu begitu menawan di mataku, bagiku ia adalah ibu periku, bidadariku di dunia. Kuakui aku yang manja ini begitu bergantung padanya. Pada wanita ringkih yang tidak memiliki hubungan darah denganku. Tanpa dia aku sudah menggelandang di jalanan.
Ya tidak juga sih, terlalu hiperbola kiasannya. Paling aku akan menghubungi Felix dan numpang nginap di rumahnya seumur hidup. Tapi di mana harga diriku kalau begitu caranya?!
“Bu...” aku memeluk ibuku dari belakang dan membenamkan wajahku di lehernya.
“Walah! Kaget ibuk!” dengusnya sambil memukul lembut lenganku. Lalu dia cekikikan dan tangannya ke belakang, dilingkarkan ke pinggangku. Kami dalam posisi begitu selama beberapa menit. Hanya diam sambil berpelukan.
Energiku langsung meningkat seribu persen.
“Kamu jam berapa mau ke kantor Pak Abel?” tanyanya kemudian
“Nanti siang saja, aku masih malas... dari kemarin masalah tidak berhenti-berhenti.” Aku sedikit mengeluh.
“Hm... kalau begitu ibu mau bicara boleh?”
“Hemmm... kurestui, kok. Ariel juga restu kayaknya.”
Ibuku terdiam.
Kurasakan tubuh kecilnya ini menegang.
“Kamu nih!” ia berbalik dan mencubit pipiku.
“Adododohhh ibuk iiih sakit tauuu!” keluhku sambil berusaha melepaskan cubitan ibuku.
__ADS_1
“Belum diajak bicara sudah main restu-restu saja!”
“Ya memang apa lagi pembicaraan pribadi kita kalau tidak melibatkan perasaan?!”
Dan ibuku mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin berlian di jari tengahnya.
Aku melongo.
“Lah... kenapa ibuk yang duluan dikasih!! Tau gitu aku juga minta ke Ariel yang beginian nih!! Liat deh jariku kosong melompong! Cincin kawin aja nggak ada!!”
“Kenapa nggak minta, Ariel mungkin tidak kepikiran yang begitu. Kalian sudah langsung sibuk mengurus ini-itu kan?”
“Ada kok... tapi nggak punya kesempatannya ajaa,” terdengar suara Ariel di tangga.
Sejak kapan ia duduk di sana? Ia duduk di tangga hanya dengan boxer, dan rambut acak-acakan. Matanya sayu menatap kami, dia masih mengantuk.
“Kalau kuberikan dari kemarin-kemarin, orang-orang di sekitar kamu akan curiga, Karena mencolok, pasti ditanya soalnya.”
“Kan bisa kubilang ke mereka kalau aku beli sendiri.”
“Oh iyaya, aku nggak kepikiran yang itu.” Ariel terkekeh sambil mengusap mukanya. “Kupikir kamu tidak tertarik sama cincin kawin,”
“Ya tertarik laaaah, apalagi yang matanya gede!”
“Hm,” dan Ariel terdiam. “Matanya kurang gede, ku hold dulu kalau begitu.”
“Eeeeh jangaaaaan!! Mana sini!” aku menghampirinya.
“Nggak sesuai selera kamu kayaknya, modelnya sederhana banget nggak cocok sama kepribadian hedonis kamu,” sepertinya ia sekalian menyindirku.
“Ngggaaaaak! Kuterima apa pun yang kau belikan suamikuuuu,”
“Kalau beginian aja nyebut ‘suami’-nya lembut banget...’ Ariel akhirnya naik lagi ke kamar kami, dan kembali dengan kotak beludru warna hitam.
Dengan hati berbunga-bunga dan pastinya tak sabar, aku membukanya. Ibuku mengintip-intip dari balik bahuku.
“Waaaahhhh! Cantiiik!” seru kami berdua. Cincin berlian dengan mata berbentuk love. Di sebelahnya ada cincin dengan model yang sama, namun tanpa mata.
“Yang punyaku dari palladium, laki-laki kan tak boleh pakai cincin emas.” Katanya. Tapi ia tiba-tiba merebut kotak beludru itu dari tanganku.
“Laaah koooook?!”
“Nanti aja kuberikan lagi, aku nggak mau ngasih-ngasih beginian dalam keadaan cuma pake ko lor doang, mana di dapur pula, kamunya malah masih berantakan bau iler gitu... Backgroundnya tuh harus keren dooong! Di pantai kek, di gunung kek, di hotel mewah, kek!”
Dan ia naik lagi ke lantai atas.
__ADS_1
Dasar semprul.