Antonim Akal, Sinonim Sayang

Antonim Akal, Sinonim Sayang
Penyergapan


__ADS_3

Malam itu, kami kembali ke rumah itu.


Apakah rumah itu tetap seperti saat kami tinggalkan?


Sepertinya tidak.


Aku ingat sekali meninggalkan novel di samping kursi itu dalam keadaan sampulnya ke arah bawah. Kini sampulnya ke arah atas. Lalu mangkok bakso yang masih ada di atas meja bar, dari bekas lingkaran kuah yang tumpah di bawahnya, bergeser satu senti.


Ariel sudah bilang di mobil, kalau ada kejadian, foto diam-diam. Karena gerak-gerik kami sedang diawasi.


Dan kami sepakat sengaja mengucapkan hal-hal yang mengundang provokator seperti menjelek-jelekkan Bu Kencana agar ia terpancing. Kami yakin sekali yang mengamati kami adalah beliau.


Yang kami cari saat ini adalah, kenapa Bu Kencana melakukan semua itu.


Kami ke kamar utama dan kuletakkan tasku di meja Rias. Kami pura-pura mengamati ruangan itu sambil berbicara sesuai dengan skenario yang dirancang Baron. Bahwa kami ingin mulai mengisi perabotan dengan barang-barang kami.


Jadi kami ada kesempatan untuk menelusuri setiap sudut rumah itu.


Tiba-tiba aku teringat saat melihat Dewi Rukmi di rumah ini. Ia menunjuk ke arah Gazebo.


“Coba kamu cek halaman belakang, sayang. Apa ada alat tukang yang kurang?”


Ariel dari berlutut, dia menegakkan tubuhnya, lalu diam menatapku.


“Hah?” tanyanya.


“Gazebo,” kataku.


“Bukan itu. Apa tadi kamu bilang?”


“Apa?”


“Kamu panggil aku apa tadi?” tanya Ariel.


Aku mengerutkan keningku. Apa ya yang tadi kubilang? Perasaan tidak ada yang aneh.


“Apa?” tanyaku.


Ia tersenyum dan mendekatiku, lalu memeluk pinggangku dari depan.


“Ini bukan saat yang tepat,” desisku.


“Biar saja ‘mereka’ baper melihat kita bercinta.” Ariel berbisik sangat pelan tapi aku masih bisa mendengar suaranya.


“Ya tapi aset ku terlihat semua dong!” protesku


“Kamu bilang ke aku tadi kamu sebut aku apa, baru aku akan melepaskanmu. Juga, aku ingin kata-kata itu diulangi 100x setiap hari.”


“Hah? Aku bahkan nggak ngerti maksudmu loh!”


“Ya udah, nggak kulepas.” Ariel menunduk dan mulai menciumi leherku. Ia bahkan meremas bokongku!


Lalu aku langsung ingat, aku memanggilnya dengan sebutan Sayang.


Aku terkikik karena geli, tangannya mulai masuk ke dalam kaosku lewat punggung. Jangan sampai tangan terampilnya itu membuka kaitan br4ku... jadi kuhentikan dia dengan kalimat :


“Aku sayang kamu.”


Ariel langsung diam dan akhirnya ia mengangkat wajahnya dan menatapku.


“Sungguh? Bukannya kamu lagi CLBK?”


“Justru karena ada Arka, entah kenapa aku malah jadi lebih sayang padamu,”


“Ih kamu nakal, kok malah kamu yang sekarang gombal...”desis Ariel.


Aku terkikik, “Kayaknya aku ‘selesai’ besok. Kamu boleh lakukan apa pun yang kamu suka ke tubuhku, sepanjang itu tidak mengancam nyawaku.”


“Nggak sampai begitu kali Bu Bini! Mana mungkin kulakukan hal yang mengancam jiwamu!”

__ADS_1


“Ya maksudku jangan yang ekstrim-ekstrim,” kataku.


“Gimana kalau kamu berbaring te lan jang terlentang di atas motorku sambil memuaskan diri kamu sendiri, sementara kamu bisa memasukkan adekku ke mulut kamu,”


Mukaku langsung merah,


Tapi aku sudah bilang ke dia, dia boleh melakukan apa pun yang ia suka ke tubuhku.


“Hem... baiklah,”


Lagi-lagi dia diam sesaat, lalu menunduk.


“Bahaya nih... aku padahal niatnya bercanda. Malah jadi ngebayangin.” Gumamnya sambil memelukku. Ia menutupi tubuhnya dengan tubuhku, karena ia sangat tegang di bawah sana.


Sesaat kami dalam posisi berpelukan, seakan kami menikmati hari itu, walau pun di tempat yang salah.


Dan saat itulah... kami dengar suara itu.


Suara orang mengobrol.


Kudengarkan dengan lebih seksama, dan kurasakan jemari Ariel di pinggangku mengetat. Ia juga dengar suara itu.


Suara orang mengobrol.


Suaranya samar-samar, tapi ku rasa ada di dalam rumah ini.


Aku menyandarkan dahiku ke bahunya, tapi aku dengan seksama mendengarkan suara itu.


Dapur? Tidak ini lebih dekat.


Di kamar ini.


Asalnya di kamar ini.


Lemari? Bukan... bukan dari arah kananku. Asalnya dari arah kiri kami, dari arah ranjang.


Garis-garis...


Kalau... kalau ada pintu rahasia di sana, sudah pasti tidak akan terlihat kalau tidak diperhatikan dengan seksama.


“Hey sayang, aku lapar. Makan indomie di depan yuk?” tawarku.


“Oke.” Jawab Ariel cepat.


Dan saat kami keluar dari rumah itu, di depan pagar, 3 jeep hitam berhenti tiba-tiba dan Baron keluar dari sana


Menyandang senjata.


“Kamar, asbes Headboard.” Kataku.


Kami juga melihat jeep yang sama di seberang jalan, Artemis si ganteng keluar dari mobil bersama orang-orang yang mirip sepertinya, lalu mencengkeram kerah salah satu Mas-Mas Warmindo.


Beberapa pria lari dari warung itu, sementara pengunjung hanya bisa diam terpaku.


“Tetap di belakangku.” desis Ariel.


Arka datang bersama beberapa orang yang penampilannya seperti Baron, kelihatannya orang dari Arghading. Ia menarik Ariel dan aku supaya berlindung di dalam Jeep Baron.


Kami duduk di belakang, dan Arka duduk di samping driver. Mobil itu berjalan agak maju ke depan, ke area pagar tetangga kami, dan masuk ke dalam parkirannya.


Sekuriti langsung menutup pagar rumah, dan sesaat kemudian kami mendengar suara keras sekali, seperti senjata, dan benturan kencang.


“Masuk ke rumah, masuk cepat!” seorang pria dengan baju polo dan celana pendek, tampaknya pemilik rumah mewah di sebelah kami, langsung melambaikan tangan dengan panik meminta kami untuk berlindung di dalam rumahnya saja.


Aku, Ariel dan Arka langsung masuk ke dalam rumah, sambil menunduk.


Suara gaduh terdengar jelas, seperti ada perang di sekitar kami.


“Apa yang terjadi?!” seruku panik.

__ADS_1


“Kacau... gila, kacau beneraaaan!” seru Arka. Tapi kenapa wajahnya tampak senang, seakan ia mendapatkan sensasi tersendiri dari kejadian ini. “Waaah gila ternyata keluarga kamu parah, haha!”


“Kenapa kamu malah tertawa!” seruku makin panik.


“Aku ini-“


Ratatatatata!!


Aku mendengar suara senapan.


“Astaga itu bunyi tembakan!!” seruku panik sambil bersembunyi di belakang sofa.


“Kita nggak panggil polisi?” tanya si bapak-bapak pemilik rumah.


“Sudah Pak, mereka sedang berjaga.” Arka menyeringai, “Tapi ya Baron and the gank duluan yang beresin, Kasihan polisi kalau mereka jadi korban, buang-buang peluru juga. Nanti aja kalau semua sudah beres kan tinggal eksekusi dan bilang itu semua prestasi mereka.”


“Kok bisa gitu?!” jeritku.


“Yaaa, itulah pekerjaan Baron dan teman-temannya, Ariel. Eksekutor.” Kata Arka.


‘Astaga...” Pantas saja selama ini aku bertanya-tanya kenapa Baron yang kerjanya tukang pukul bisa dapat duit banyak. Ternyata dia bukan tukang pukul biasa. Ini sebenar-benarnya Assassin! Pembunuh bayaran!!


Belum selesai kagetku, aku menyadari kalau Ariel tidak ada di sebelahku. Ternyata Bocah itu sedang di depan jendela sambil makan kacang dengan toples ia kempit di lengannya.


“Mas Arka, bandar narkoba itu yak?”tanyanya.


“Ariel!! Ngapain kamu di situ !! Bisa kena peluru nyasar!!” seruku khawatir.


“Nggaaa, Baron bisa lah mengkondisikan. Udah biasa dia gini-ginian,”


“Ya tapi jangan tenang-tenang gitu makan kacang di rumah tetangga!”


DUARR!!


”Kyaaa!!” jeritku


Kami langsung berlutut dan menunduk. Kurasa itu suara Bom Molotov. Entah bagaimana suaranya seperti kembang api.


“Kalem dikit dong brooo!!” seru Ariel.


“Sori Brooo!!” kudengar suara Baron dari sebelah berseru menanggapi Ariel.


“Gila kalian semua!!” aku makin histeris.


Sekitar beberapa menit kemudian, kudengar sirine polisi.


“Yaaah udah selesai!” seru Ariel. Kenapa dia terdengar mengeluh?!


“Cuma sebentar ternyata. Habis ini kerjaanku membungkam pengunjung warmindo dan orang-orang yang lewat,” Arka mengutak-atik ponselnya. “Dananya udah cair nih. 10 juta seorang, sudah termasuk pemeriksaan ponsel mereka. Terdata ada 7 pengunjung warung dan 26 orang lewat termasuk sekuriti di sini. Sip!” Arka menekan tombol Accept.


‘Keren juga kerjaan lo Mas,” desis Ariel sambil mencondongkan lehernya mengintip isi layar ponsel Arka.


“Awal-awal juga salting loh. Nggak mudah gini-ginian. Makanya aku sering nggak punya waktu buat dia.” Arka menatapku. Lalu menghela nafas.


Aku tersenyum, tapi entah kenapa aku malah jadi ingin menangis.


Kami terdiam beberapa saat, sampai bapak tetangga akhirnya memecah keheningan.


“Jadi bukan setan ya? Ternyata Bandar Narkoba? Selama ini 10tahun lamanya, suara-suara itu adalah mereka.”


“Ah ya Pak, belum kenalan. Nama saya Ariel.” Kata Ariel sambil mengulurkan tangan ke bapak tetangga.


“Saya Avramm.” Kata Bapak Tetangga. Ia juga menjabat tanganku. “Saya cuma dengar cerita-cerita seram dari sekuriti saja sih, tahu sendiri kan rumah di sini besar-besar jadi ada jeda yang lumayan luas dari rumah ke rumah. Tapi saya memang pernah tahu kalau dulunya di rumah itu tinggal wanita namanya Dewi. Setelah itu saya dan keluarga tinggal sebentar di SIngapur karena pekerjaan, pas pulang rumah itu jadi tak terurus.”


“Dari Pak Avramm ini aku tahu kalau penjual di Warmindo itu beda orangnya. Karena sebelum di Singapur, Pak Avramm langganan beli disana. Pas pulang penjualnya udah beda.”


“Jadi... apa yang terjadi?” tanyaku.


**

__ADS_1


__ADS_2