Antonim Akal, Sinonim Sayang

Antonim Akal, Sinonim Sayang
Penyelidikan Kami Dimulai


__ADS_3

Baron datang ke rumah papah pagi harinya, kedatangannya memang kunantikan, tapi cukup mengejutkan menurutku. Karena... ia datang bersama Arka.


“Baron...” desisku kesal.


“Arka dimutasi ke Divisi Legal dikantor, sesuai dengan backgroundnya dulu, sarjana Hukum. Ia sedang dalam rangka mengikuti seleksi beasiswa untuk mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat. Nantinya Arghading akan menghire dia menjadi pengacara rekanan perusahaan. Jadi untuk kasus ini, karena kini aku kurang percaya dengan Abel dan Johan, aku mengajaknya.”


“Jadi dia tahu latar belakangmu,” desisku masih kesal.


“Kuambil resiko yang itu.” Kata Baron. “Kalian bisa memisahkan antara hubungan profesional dan pekerjaan kan?!” Baron bahkan menyeringai padaku, bukan ke Arka.


“Semua yang akan kita lalui nanti, sifatnya personal, Baron,” gumamku. Arka menghela nafas dan membetulkan posisi kacamatanya.


“Kenapa kamu bisa mempercayainya? Dia membohongiku. Eantah sejak kapan dia berselingkuh dariku...” kataku terang-terangan sambil mempersilakannya masuk.


“Aku sudah tahu dia berselingkuh, sejak sebelum kamu dan Ariel dinikahkan. Tapi itu urusan kalian,” Baron menyeringai sambil berjalan ke arah meja makan menemui Papah dan Ariel.


“Baron! Yang benar saja!” geramku kesal.


Arka berdiri di depanku, aku bahkan tidak ingin menatap wajahnya.


Rasanya menyaktikan, tapi lebih perasaan muak. Orang di depanku kuanggap tidak dapat kupercaya dari sekian orang yang ada, lebih tidak dapat dipercaya dibanding Bu Kencana, atau Pak Johan dan Pak Abel.


“Ariel,” ia memanggilku. Masih dengan suara lembutnya yang kukenal. “kita bicara dengan lebih tenang sebentar ya. Saat aku tahu kalau kamu berurusan dengan Kencana, aku langsung meminta ke petinggi untuk jabatan ini. Tolonglah, biarkan aku membantu kamu sebagai penebusan kesalahanku.”


“Luruskan semuanya, buat aku percaya. Apa yang terjadi selama ini?!”


Arka menggigit bibirnya dan duduk di salah satu sofa ruang tamu. Ia menepuk-nepuk sisi sebelahnya. Aku menurut saja, karena kupikir aku butuh kejelasan.


Di benakku, aku berpikir ini adalah teritoriku, rumah papahku, rumah suamiku, ini daerah kekuasaanku. Dia hanyalah orang asing yang datang tanpa diundang. Jadi aku tak perlu takut.


Kulihat Ariel, suamiku, datang dan menghampiriku. Ia menatap tajam ke arah Arka.


“Kami di kamarku untuk akses komputer dan internet,” ia mencium bibirku di depan Arka. “Kami akan memasuki server cctv rumah itu,”


“Sebentar lagi kami bergabung.” desisku sambil tersenyum ke arahnya. Kuharap tatapanku ke suamiku terlihat penuh cinta.


“Santai saja, dia nggak bakalan macam-macam. Benar kan mas Arka?” tekan Ariel ke arah Arka.

__ADS_1


Arka hanya diam sambil menatapnya sinis


Ariel meninggalkan kami hanya berdua saja, aku menarik nafas dan memicingkan mata, bersiap mendengarkan kenyataan pahit yang terpatri di bibir Arka.


“Ariel... maafkan aku.” Desis Arka. ‘Maaf sebesar-besarnya, kalau 6 tahun ternyata terlalu lama untukku. Saking lamanya aku sampai pindah ke lain hati dan dengan percaya dirinya berasumsi kalau kamu tidak akan meninggalkanku.”


“Astaga Arka...” aku menggelengkan kepala, rasanya ingin kutonjok pria di depanku ini.


“Aku tidak akan memintamu kembali kepadaku lagi. Aku menerima takdirku. Tapi... Ariel...” Arka menunduk dan mengernyit, “Wajahmu saat itu, saat menangis, selalu terbayang di benakku. Tidak bisa hilang. Baru kali ini kamu menangis dengan kencang di depanku. 6 tahun kebersamaan kita, aku tidak pernah melihatmu seperti itu, dan rupanya hal itu lumayan berbekas di ingatanku.”


“Aku merasa sangat brengsek, maafkan aku.”


Setidaknya Arka mengakui kalau dirinya sendiri memang brengsek.


Sudahlah...


Toh aku memiliki Ariel sekarang. AKu juga tidak perjua berjuang untuk bekerja, aku danArielmemiliki tabungan yang cukupuntuk berumah tangga, tingalmemikirkan cra mengelola tabungankamisaja agar cukup sampai anak-anak kami memiliki rumah tangganya sendiri.


Ya Ampun...


Sebucin itukah aku terhadap suamiku?


Kurasa aku jenis wanita yang sekali luluh dan jatuh cinta akan memberikan segalanya.


Makanya... dikhianati akan membekas cukup dalam di hatiku.


Sulit untuk memaafkan Arka karena lubang yang cukup dalam sudah terlanjut terbuka. Tapi setidaknya aku akan menerima maafnya.


“Apa yang bisa kamu bantu untuk kami berdua? Aku dan suamiku.”


Arka mencibir lalu menghela nafas.


“Ayo kujelaskan di kamar Clodio saja,” kata Arka sambil mempersilakanku untuk berjalan lebih dulu.


**


“Aku memeriksa latar belakang sertifikat itu, lewat teman-temanku di Notaris dan BPN setempat.” Arka mengetikkan berapa password di drive googlenya dan menunjukkannya kepada kami. “Dan benar, sertifikat itu tadinya berupa tanah, atas nama Rejo Prastowo. Lalu saat dilakukan balik nama ke atas nama Dewi Rukmini, baru dibangun rumah di atas tanah itu. Setelah itu Dewi Rukmini menghilang, selama setahun akhirnya muncul laporan dari pihak yang mengaku keluarga Dewi Rukmini, bahwa Dewi itu telah meninggal dunia. Secara otomatis rumah itu jatuh ke tangan ibu kandungnya, yaitu Kencana Marino.” Begitu penjelasan Arka.

__ADS_1


“Marino itu namakeluarga suaminya di Italia,” jelas Baron.


“Ya betul. “ kata Arka. “Dan tebak siapa yang mengurus semuanya?”


“Abel dan Johan.” Jawabku dan Ariel


“Ya, sebagai Kaki tangan Mbah Rejo.” Arka pun meletakkan sebuah kertas di atas meja belajar Ariel. Laporan hasil laboratorium dari rumah sakit. Di sana tertera namaku. “Hasil Lab dari rumah sakit, kamu terkontaminasi obat bius, kemungkinan dari tiga metode penginfeksian. Dari semprot, dari minuman dan dari lap yang dibekap di mulutkamu. Karena dikulit bibir kamu jelas mengandung chloroform.”


“Dan aku tertidur, bukan kesurupan...?” tanyaku.


“Aku tidak percaya mistis dan klenik. Kamu tahu itu.’ Kata Arka.


“Dan keluargaku kleniknya kental.” Jawabku.


‘Yah, aku juga sedikit mempelajarinya sih, untuk melindungi harta, hehe,” kata Baron.


“Aku percaya klenik tapi tak ingin berurusan dengan hal itu.” Desis Ariel. “Sampai Mbah Rejo membawaku mandi bunga dan menyuruhku bercinta dengan Ratu Ular segala. Aku pergi tapi di sana ya aku diam dan merokok dan minum amer saja. Bengong sambil menatap bebatuan. Tak ada apa pun yang terjadi. Tahu-tahu Mbah Rejo datang dan bilang : Kamu sudah dilindungi Ratu Ular Nyai Ratu Damaya. What The Ef coba? Konyol banget... mau ketawa tapi aku takut dihukum,”


Aku menggelengkan kepala. Benar-benar semprul.


Tiba-tiba kau teringat satu hal. “Kamu katanya alergi alkohol?”


“Ya betul, biasanya pulang dari club aku diare tiga hari, pulang dari goa aku muntaber pake demam segala. Kata Mbah Rejo itu restu dari Ratu Damaya. Dia nggak tahu aku minum-minum di goa keramat.”


Lagi-lagi aku menggelengkan kepala... benar-benar kampret.


“Dan... aku mulai sudzon sama Bu Kencana.” Kata Ariel. “Mas Arka, kamu kan tampangnya nggak dikenal. Coba kamu selidiki tukang Warmindo di depan rumah Rawamangun deh. Soalnya penjualnya beda. Bawa aja pacarmu makan di sana iseng-iseng. Sementara aku dan istri tercintaku yang seksi dan manja ini akan menginap sehari lagi di rumah itu. Kali ini dengan berbekal stunt gun.”


Arka tampang mengernyit saat Ariel sengaja memujiku dengan cara yang nyeleneh.


“Istri kamu ngga manja,” desis Arka.


“Dia manja banget padaku, tahu nggak-“


“Ngaaaaak! Nggak tahu! Nggak usah ngasih tahu apa-apa!” potongku langsung sambil mencubit pipi Ariel.


Baron terkekeh mendengarku sewot. “Ya udah, aku selidiki ada siapa saja di balik Bu Kencana. Mungkin aku dan teman-temanku akan menginterogasi Abel dan Johan supaya mereka... hem... ‘lebih jujur’ sedikit. Secara aku yang menggaji mereka, tapi kenapa aku malah merasa dibodohi.”

__ADS_1


__ADS_2