Antonim Akal, Sinonim Sayang

Antonim Akal, Sinonim Sayang
Dalam Pelarian


__ADS_3

“Cowok begitu semua atau bagaimana sih?” desisku sambil menyeruput kopi panas yang disajikan, dengan tatapan masih ke luar jendela, mengawasi banyak orang.


Ya sebenarnya tak mungkin juga Ariel ke sini, tempat ini adalah tempat terakhir yang akan ia datangi. Dia tidak pernah datang kemari, aku pun baru sekali ke sini bersama Arka. Itu pun karena undangan dari pemilik rumah.


Tapi di sini adalah tempatku berharap aku memiliki pasangan yang berjalan selaras denganku di masa depan, patokanku tempat hidup bahagia...


Tempat dua sejoli yang menurutku sangat serasi.


Jadi, ada seorang pamanku dari Rejoprastowo... ya bukan ‘paman’ kandung sih, tapi dia sangat akrab denganku. Intinya dia sering membantuku dengan untuk urusan uang kuliah dan kebutuhanku setelah ayahku meninggal. Dulu, buku kuliah harganya selangit! Dan kami wajib beli. Padahal bahan dari internet seabrek. Mungkin dosennya pada jualan buku kali ya. Aku tahu ibuku akan kesulitan membeli buku tebal yang aku bahkan sangsi aku pun akan membacanya, jadi ya Paman Banyu yang membelikannya untukku. Entahlah dia anak ke berapa dari istri Mbah Rejo yang mana, aku pun lupa. Istrinya ada 14 soalnya. Lebih banyak dari Mbah Rangga.


Memang Mbah Rejo terkenal playboy sih. Tampangnya waktu muda juga ganteng banget.


Bukan hanya buku, tapi segala keperluanku seperti tas-tas mahal dan baju-baju bermerk, semua dari Paman Banyu. Aku ingin memanggilnya ’Om’ tapi dia bilang konotasinya jelek. Aku mau panggil Paklik tapi jadi mirip panggilan kesayangan Felix dikantor lagian panggilan itu berasa tua banget katanya. Ya aku panggil saja dia Paman.


Dan di rumahnya lah aku berada sekarang.


Aku bukannya akrab sekali dengan Paman Banyu ini. Justru aku akrabnya dengan anak dan menantunya. Namanya Anggun dan suaminya namanya Rio. Mereka berdua Alumni Bhakti Putra. Lulus saat Ariel kelas 11 dan baru diangkat jadi Ketua Osis. Ariel juga kenal mereka tapi mungkin sekedar say hi saja.


Perjalanan cinta Anggun dan Rio bisa dibaca di serial Rascal In Love yaaa. Hehe.


Dari sekian banyak teman wanita... loh aku tidak punya teman wanita yang bisa kuajak nyaman bicara ya ternyata?! Aku baru sadar loh saat ini. Saat mencari tempat untuk mencurahkan isi hati ternyata otakku kosong. Berpikir siapa yang bisa kuajak bicara. Dan ternyata ‘tak ada’.


Selama ini aku kalau curhat ke Arka saja. Aku takut curhat masalah pribadi ke teman-teman kantorku. Berdasarkan pengalamanku, hasilnya tak akan baik. Karena dasarnya teman kantor itu saingan terberat kita. Naik gaji gede dikit, langsung berbalik jadi musuh.

__ADS_1


Kupikir-pikir lagi siapa yang bisa kuajak bicara mengenai masalahku yang sangat pribadi ini, haruslah dari kalangan keluarga. Kalau orang lain, bisa tersebar kemana-mana.


Dan Anggun ini lah yang cocok,


Walau pun mulutnya lebih pedas dari aku. Tapi dia orang terjujur yang pernah kutemui.


“Ya nggak lah Bu! Stress lu ya!” tuh kan baru aja ngomong satu kalimat, cocor bebek cabenya sudah nyembur ke telingaku. “Giliran cemburu ‘cowok sama aja’. Lu pikir cowok di dunia ini cuma ada dua jenis ha? Kalo nggak bajingan ya Gay. Gitu?! Sempiiiiit otak sebagai guru tuh sempiiit!”


Anggun, dengan perut besarnya karena kandungan di dalamnya sudah menginjak 9 bulan, menoyor-noyor dahiku dengan alis menyatu.


“APalo bilang? Cemburur? Gue gak cemburu! Gue Cuma muak aja sama tingkahnya!”


“Lo cembururu bestieee, cem-bu-ru! Jealous! Oy sadar dong! Dia laki lo! Nggak ada yang berhak dia celup selain lo bininya! Tersungkur dah lo mendengar kenyataan pahit, hah! Makanya jangan tiap hari minta cere mulu cere mulu! Lo tahu nggak lagi didoain yang jelek-jelek sama dua keluarga haaaah?! Nggak semua keluarga kita kaya raya kayak bokap gue! 10miliar buat mereka gede banget artinya! Nah ini malah minta cere! Bisa mutus rejeki orang itu namanya berbiiii, hih!”


Kenapa Anggun bicara sangat benar dan apa adanya?


“Jadi maksud lo gue egois?” tanyaku ingin tahu pendapatnya. Jauh di lubuk hatiku, saat aku memandang Ariel yang sakit karena tak kuperbolehkan masuk ke rumah, padahal dia bisa saja pergi lagi ke rumahnya, kegigihannya mengejarku, hati nuraniku sudah menghakimi diriku kalau aku ini egois. Tapi aku melakukan pembelaan diri dengan bilang kalau aku ini masih harus berjuang demi kebahagiaanku sendiri


“Ya iya lah! Hanya masalah lo nggak suka sama laki lo! Heh sini gue bilangin ya...” Anggun mengetuk-ngetuk meja dengan kuku runcingnya yang terlihat berkilau. “Oke lah gue nggak bahas Rejopratowo. Dari Ranggasadono aja, kubu keluarga lo nih ya, walau pun ada Raden Arya, Felix dan Hector yang tajir melintir guling-guling, nggak semuanya tebel muka minta-minta duit bulanan ke mereka. Apalagi Pakde-Pakde lu, masa minta duit ke ponakan? Padahal listrik belom dibayar 6 bulan!”


Aku hanya diam saja mendengar Anggun mengomeliku.


“Kalo diminta mungkin mereka bersedia juga bantu, tapi sori aja, banyak yang harga dirinya melawan! Mau sampai kapan mereka minta bantuan Felix? Felix pun memiliki keluarga sendiri. Jelas sampai sini? Lo tekan dikit dong ego lu. Bikin mereka seneng sekali-kali setelah selama ini lo nggak kontribusi apa-apa ke mereka. Lo tuh orang terpilih, loh. Midset lo tuh diubah dong! Cuma tiga tahun bertahan aja kenapa sih?! Habis itu lo mau jungkir balik ya terserah! Ariel kan nggak KDRT juga sama lo, dia bahkan gue liat ngejar-ngejar lo kayak anak pitik ngejar induknya kemana-mana!”

__ADS_1


Aku masih diam menelaah kalimat Anggun.


Terus terang saja, otakku engselnya langsung bergerak. Kenapa perkataan Anggun yang sarkas dan nyelekit malah langsung masuk ke pikiranku?! Sebebal itukah aku sampai tak bisa luluh ke Ariel?


“Sebenarnya... walau pun cerai sekarang tetap saja uang itu bisa diterima 3 tahun mendatang sih, soalnya berhubungan dengan jangka waktu di perjanjiannya.” kataku.


“Terus kenapa nggak cerai?”


“Ariel nggak mau menceraikan gue,”


“Astagaaaaa Bu Guruuuuuu” Anggun memijat dahinya. Aku was-was juga dia lagi hamil soalnya. “Lu tuh orang paling plin-plan yang pernah gue kenal!”


“Kenapa coba?!” gumamku.


“lo tuh dapet suami dengan sifat yang paling diimpikan cewek-cewek sejagat, dan lo tolak!”


“Gue nggak cinta dia Nggun,”


“Gue doain lo segera bucin!!” seru Anggun. “Makan nih yang banyak! Biar otak lo berkembang!” serunya sambil menyodorkan padaku seloyang pizza.


“Sisain buat gue tiga slice!” seru Anggun sambil beranjak dan masuk ke dapur.


Sisain tiga slice katanya, tapi pizza di depanku hanya tinggal 4 slice. Niat ngasih nggak sih...

__ADS_1


__ADS_2