
Akhirnya kami menginap di rumah itu.
Ariel seharian di garasi mengagumi mobil barunya, juga menyetir keliling komplek. Dia belum punya SIM jadi aku melarangnya ke jalan raya.
Saat aku sendirian mengelilingi rumah itu, aku berulang kali berpikir.
Kenapa Dewi Rukmini ada di sini?
Sebagai Jin penunggu gapura kampung Mbah Rangga, yang jaraknya sekitar 400km dari Jakarta, sepertinya tak mungkin dia bis adi sini. Setahuku, astral sepertinya terikat ke satu tempat saja, atau ke seseorang. Dan setahuku, aku dan Dewi Rukmini tidak memiliki ikatan.
Pun dengan Ariel. Karena kalau iya, aku pasti tahu. Ada esensi sendiri yang akan aku rasakan.
Saat ke halaman belakang untuk mengamati Gazebo, aku melihat ada jalinan kabel tebal di halaman belakang. Di sana temboknya sangat tinggi.
Saat aku menghampiri tembok, kulihat ada kotak plastik di depan tembok yang di dalamnya berisi proyektor.
‘Wah asik!” kataku. Bisa lihat drakor horor pakai proyektor di halaman belakang.
Kulihat proyektornya cukup canggih, jenis yang tahan air, bisa diletakkan di bawah air mancur dan ia bisa refleksi gambar Cinematic Color 3000lm jadi setara dengan seluas layar bioskop. Memang disesuaikan dengan tinggi dinding di halaman belakang ya. Ini sih sampai seberang jalan juga akan kelihatan kalau aku sedang nonton film.
Lalu kulihat lagi Gazebo di belakangku, dan kududuk di sana. Kulihat-lihat ini sih hanya gazebo biasa. Tapi bawahnya tidak bolong seperti layaknya gazebo biasa. Kubuka bagian lantainya, diisi alat-alat pertukangan. Mungkin karena keterbatasan tempat, Gazebo ini juga dirancang untuk dijadikan gudang kecil tempat penyimpanan.
Semakin kupikirkan aku merasa semakin lapar.
Jadi aku ke depan gerbang, celingukan cari penjual makanan, dan kulihat di seberang jalan persis ada Warmindo yang ramai didatangi anak-anak muda.
Aku pun berjalan ke sana setelah mengunci gerbang. Ariel di garasi jadi pasti tidak dengan kalau ada orang keluar-masuk, jadi aku mengunci gerbang.
Herannya,
Saat aku datang ke Warmindo, para penjual mi di sana menatapku lekat-lekat sambil saling melirik. Seakan aku orang aneh.
Seaneh-anehnya aku ya apa boleh mereka menatapku dengan pandangan seperti itu, kan tidak sopan loh.
“Es teh manis dan indomie kornet ya Mas.” Kataku sambil duduk.
Lalu aku menunggu sambil menatap ke para muda- mudi yang ada di sekitarku.
Mereka juga lirik-lirik menatapku dan ke arah rumah itu.
Ah... aku tahu ada apa.
Rumahku kan ‘Rumah Berhantu’ yaaaa.
Sepertinya rumahku terkenal deh... coba nanti kucari di internet.
Mas-mas warmindo datang ke depanku dan meletakkan segelas besar es teh manis.
“Tinggal di sana Mbak?” tanyanya padaku.
“Iya Mas, Itu rumah saya dan suami.”
“Rumah mbaknya? Kok bisa?’
__ADS_1
“Saya pewarisnya Mas,” kataku.
“Loh? Gitu ya...” lalu dia diam lagi.
Aku menyeruput es teh manis sambil menatapnya. “Rumahku berhantu ya Mas?” tembakku langsung
Dan Mas Warmindo pun menyeringai. Kudengar beberapa pengunjung juga jadi terkekeh. “Iya Mbak. Pernah sekitar setahun lalu, kami, satu warung sama pelanggan-pelanggan saya, kabur pontang-panting. Kami melihat ada genderuwo besaaar sekali di area halaman rumah Mbaknya.”
Proyektor di halaman belakang. Dari sini tembok besar di halaman belakangku terlihat.
Karyawan-karyawan Bu Kencana benar-benar menjaga rumah ini ya. Bisa jadi saat itu ada penyusup masuk, jadi dibuatlah cerita bohongan.
Sudah berapa lama mereka begitu? 10 tahun? Lumayan lama juga yaaa... jadi saat Bu Kencana masih di Italy ya? Sebenarnya untuk apa dia membeli rumah di Jakarta kalau ia sendiri tinggal di Italy.
“Tapi Mbak...” seorang pengunjung laki-laki, masih muda dan tampaknya anak kuliahan, mendekat dan bercerita, “Budeku tinggal di sekitar sini, dan katanya dulu yang tinggal di sana itu ada cewek, masih muda tinggal sama pengasuhnya katanya. Dan dia dibunuh. Katanya mayatnya ditanam di area rumah itu juga...”
“Ohiya pernah ada cerita begitu. Saya di sini sudah 15 tahun, turun temurun, kadang melihat ada beberapa mobil masuk ke rumah itu, mungkin yang punya rumah ya. Mobil hitam sedan-sedan mewah gitu.’
“Oh mungkin itu karyawan nenek saya, dia pemilik rumah ini dan akhirnya diwariskan ke kami.”
‘Karyawan?”
“Iyaaa, nenek saya tinggalnya di Italy. Mas-masnya kan tahu kalau property terbengkalai kalau nggak dijenguk sesekali udah tau-tau dijadikan pemukiman liar. Nah, nenek saya minta bantuan ke para karyawannya untuk membersihkan rumah itu.”
Begitu dalihku.
Padahal sih aku tak tahu yang sebenarnya mereka lakukan di sana.
“Bentar-bentar sayang,” seorang perempuan muda mendekati si mas-mas kuliahan dan menatapku sambil mengernyit. “Kayaknya gue tahu elo deeeh,”
Aku balas menatapnya. Aku mencoba mengingat apakah ia salah satu kenalanku, atau muridku dulu?
“Siapa yang? Anak kampus?” tanya si cowok.
“Bukaaan muka si mbaknya familiar. Kalo anak kampus pasti gue nyadar kali, nggak mungkin tampang begini kita nggak ngeh. Di suatu tempat tapi dimana yaaaa?”
Aku semakin jengah dilihatin begitu rupa.
Dan indomie ku datang, diletakkan di depanku. Wanginya menggoda iman. Tapi dua anak ini masih sibuk membicarakanku, mengenai dimana mereka melihat tampangku ini.
Aku juga tidak kenal mereka, jadi mereka bukan salah satu muridku.
“Oh gue tahu!!” dan yang berseru ini adalah cewek yang sedang makan di sudut ujung warung. “Elu yang viral! Yang tante-tante udah bersuami minta balikan sama pacarnya!”
Astaga...
Masalah itu lagi.
“Tante-tante gimana? Jelas-jelas tampangnya tua’an lo hahahaha!” si cowok kuliahan ngakak.
“Lah! Kenapa jadi ngejek gue? Captionnya di Ig begitu kok! Gue kan cuma baca doang!” seru cewek di belakang sana.
“Masih muda begini disebutnya tante-tante?” pacar si mas kuliahan semakin mengernyit.
__ADS_1
Aku masih diam karena malas menjawab. Jelas aku tak ingin ada Arka lagi di hidupku. Aku ingin fokus ke Ariel saja sekarang, Dia yang jelas-jelas lebih menghargaiku dibanding orang lain.
Lagian, aku juga malas mencari tahu kejadian itu di medsos. Buat apa, toh kusangkal juga tak akan ada yang percaya. Karena kalau mereka tahu yang sebenarnya dianggap nggak seru lagi, nggak greget lagi. Jadi buat apa aku susah payah mengonfirmasi.
“Udah ada konfirmasinya kok dari yang cowok, katanya dia minta maaf atas berita yang terlanjur viral ke si mbak ini. Kalau nggak salah namanya Mbak Ariel ya? Guru di SMA Bhakti Putra.”kata pemuda yang berada di bangku dekat kasir.
“Hm, iya, salam kenal.” desisku sambil meniup indomieku yang ngebul panas.
“Memang kebenarannya gimana Mbak?” tanya si cewek yang ada di depanku.
“Anggap saja semuabenar. Saya sudah malas menanggapi. Saya mau fokus ke hidup saya bersama suami saya saja. Kami sekarang tinggal di rumah berhantu itu, hehe.” Kataku, berusaha santai. Menganggap semuanya lelucon belaka.
“Sayaaaaang kok kamu ke sini nggak ngajak-ngajaaaak, mana kita belom beli bahan buat makan pulak! Aku laper tauk!!” Ariel tiba-tiba sudah di belakangku, duduk di sebelahku, dan menggeser mangkuk indomie ke depannya.
Ia makan sesuap tanpa izinku.
“Hah? Lo kan... Ariel Clodio?” tanya cowok di depanku.
“Astaga... OMG OMG OMG! Ini Ariel Clodio Gaes!!” seru pacar si mas kuliahan.
Ariel diam lalu mengangkat wajahnya.
Sesaat ia mengunyah, menghabiskan indomie di mulutnya, menyeruput teh manisku.
Lalu berdiri dan menghadang cowok anak kuliahan di depanku.
“Lu ngapain di sini Bangsat! Udah gue bilang jangan deket-deket gue lagi!!” bentak Ariel ke cowok itu.
“Mau di mana pun gue berada, area sini bukan milik moyang lu ya! Buat apa lo larang-larang!” balas si mas kuliahan.
“Arieeeel, Ariel kamu kemana aja kok nggak pernah ke club lagiii?”
“Gue warga sini sekarang. Jadi jelas lo pendatang nggak gue welcome.” Kata Ariel. Lauia menatap si cewekpacar Mas Kuliahan. “Nah lo akhirnya pacaran berdua? Rendaaaaaah,” ejek Ariel.
“Brengsek banget lo! Sini duel sama gue sekarang!” hardik si mas kuliahan sambil mencengkeram kerah kaos Ariel
Aku sudah malas dan capek.
Jadi aku berdiri, kujewer telinga si Mas kuliahan dan Ariel kencang-kencang, kutarik menjauh.
“Berisik banget, masa lalu tinggal masa lalu. Ini bocah udah jadi suami saya, SAH di mata hukum dan agama, jadi udah nggak ada hubungannya sama pacarmu ya maaaas.” kataku.
Kudengar di area belakang langsung riuh.
“Dan kamuuu suamiku sayaaaang, PULANG!! Balik badan sana!!” jeritku kesal.
Kuletakkan seratus ribuan di meja, “Kembalinya ambil aja, nanti malam mangkok kukembalikan ya Mas,” kataku sambil menenteng mangkok ayam berisi indomie dan kugiring Ariel pulang ke rumah.
Nggak di sini, nggak di sana, kerjanya bikin heboh.
Sama saja sih denganku yaaa?
Nasib orang populer.
__ADS_1