
Tak terasa sudah satu jam aku dan Ariel di restoran itu.
Ariel tampak uduk bersandar sambil selonjoran kaki menggunakan dua kursi, dengan tangan di dahinya, matanya tampak menerawang sambil memandangi orang-orang yang berlalu lalang di dalam Mall.
Aku... sibuk dengan makanan.
Kupesan banyak-banyak makanan yang selama ini aku takut memesan karena tak ingin gemoy. Di pikir, selama ini walau pun aku bersikap santai terhadap Arka, walau pun makan sambil angkat kaki atau pakai tangan, walau pun makan batagor dari plastiknya langsung dan walau pun kalau ada yang lucu aku tertawa terbahak tanpa disaring, tapi soal penampilan aku berusaha selalu tampil cantik.
Mengimbangi Arka yang selalu rapi.
Dia dulu Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, dan sering kerja partime jadi model katalog untuk e-commerce. Wajahnya ala Indonesia, dengan kulit putih yang bersinar, dan hidung mancung yang tegas. 11-12 lah sama Rey Mbayang. Bedanya bibir Arka lebih tipis dan ia lebih nyaman mengenakan kacamata dibanding softlense. Semakin terlihat kutu buku, ia bahkan semakin terlihat tampan.
Dan sikapnya, walau pun sedang marah, selalu lembut. Ia hanya menyindir dengan tajam, tidak suka membentak, bahkan sering kali sikapnya sangat gentleman.
Berulang kali aku memergokinya sedang berbicara empat mata dengan banyak wanita yang menembaknya, memintanya untuk menjadi kekasihnya, dan caranya menolak sangat halus. Tidak menjanjikan tapi tidak menjauh.
“Mohon maaf jangan benci aku, tapi hatiku sudah tertuju pada satu orang. Dan untuk saat ini tidak bisa diganggu gugat. Kalau kamu masih bersikeras, mohon pada Tuhan untuk membolak-balikkan hatiku, namun jangan dengan cara yang menyakiti pasanganku atau aku akan lebih marah.“
Kata-kata itu entah berapa kali ia ucapkan, sampai-sampai aku hafal kalimatnya.
Biasanya setelah itu, ia akan ke mana-mana minta kutemani. Sekakan memberi peringatan kalau ‘aku ada yang punya, jangan mendekat’. Aku dengan senang hati menemaninya, ke mana pun dia mau. Disuruh temani ke toilet juga aku ayok aja.
Ya tapi tidak pernah sampai begitu sih.
Karena itu, walau santai, bagiku penampilan adalah yang utama. AKu mulai mengolah tubuhku agar lebih seksi, biar sainganku kabur dan jiper duluan. Otakku kuasah agar lebih ideal untuk pria seintelektual Arka.
Karyawan yang bisa masuk ke Arghading Corp, pasti bukan orang sembarangan kan.
Ya itulah si Arka ini.
Tidak usah dibandingkan dengan Ariel yang masih bocah.
Dan... kenapa anak ini masih duduk di depanku?
Aku tidak memintanya menemaniku sebenarnya, aku hanya ingin Papah menjemputku. Secara papah punya mobil pribadi, di antara kami belum ada yang memiliki SIM.
Aku tidak bilang kalau Ariel tak bisa menyetir mobil ya, aku berani bertaruh dia pasti bisa. Tapi dia belum punya SIM. Dia baru 2 bulan menginjak 17 tahun.
“Hey...” aku dengan lembut menyapa Ariel, karena kasihan saja melihatnya duduk mematung seperti itu.
“Hm,” gumamnya.
“Apa itu cinta?”
“Hm... versiku atau versi internet?”
“Menurutmu. Kau yang bilang cinta padaku.”
“Cinta itu... rasa suka yang level kultivasinya udah tingkat Keabadian. Immortal Ascension.”
Tawaku meledak, “Macam drama kungfu, hahahahah!”
“Yaaa... kalau versi orang-orang macam-macam, malah ribet. Ini versiku loh ya. Saat aku yang gengsinya tinggi mengumbar cinta, itu berarti nafsu udah memuncak di kepala dan setiap detik mikirin itu satu manusia.”
__ADS_1
“Dosa kamu. Pas bencana baru ingatnya Tuhan...” kataku.
“Manusiawi, Astaghfirullah...” Ariel mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Matanya jadi semakin sayu.
“Orang sering salah mengartikan rasa suka dengan cinta karena sudah tercampur nafsu dan obsesi.” desisku.
“Aku udah di tahap mikirin ngurus anak-anak kita, belajar yang bener biar kerja yangenak dan bangun rumah untukkeluargakecil.’
“Parah kamu, udah akut bucinnya,”
“Tapi nggak terbalas tuh... mau bilang sia-sia tapi masih juga kulakukan hal-hal konyol.” Gumamnya.
Aku hanya menunduk.
Entah kenapa aku merasa bersalah.
“Claudia...” panggilnya.
“Ya?”
“Aku diberi pilihan oleh Mbah Rejo. Selain kamu, kandidatnya ada Tante Sukma, ada Laras, ada Harrietta, ada 2 orang lagi yang aku tak ingat namanya. Semua perawan dari Ranggasadono. Dari berbagai usia.”
“Aku yang paling tua.”
“Iya, kamu yang tertua di antara mereka.”
“Jangan bilang kamu pilih aku karena namaku,”
“Tadinya iya.” Ariel tersenyum lembut padaku. “Tapi... semakin kucari tahu tentang kamu, semakin aku suka padamu. Kupelajari kamu sangat cerdas, jadi aku berusaha mengimbangi kamu dengan mempelajari banyak hal. Lalu kamu sangat feminin, dan cenderung feminist... jadi aku berusaha menunjukkan sifat manlyku dengan-“
“Itu di luar prediksiku. Aku sebenarnya mencoba bersikap sebaliknya. Nggak tau kenapa sial melulu.” Begitu alasan Ariel.
Dan bagaikan diperingatkan, di depan sana, aku melihat dua orang yang tak kuharapkan terlihat.
Arka dan... seorang gadis muda.
Mungkin dia pikir aku sudah pergi dari Mall itu.
Mereka berjalan melewati koridor, menuju ke arah pintu keluar. Arka merangkul bahu gadis itu sambil mengecup keningnya, sementara sang gadis melingkarkan tangannya di pinggang Arka.
Gadis yang tak kukenal.
Pandanganku lurus ke depan sana.
Ke arah mereka berdua.
Dan berikutnya entah kekuatan dari mana, aku menyambar botol air mineral di atas mejaku, dan aku pun berdiri.
Saat berjalan ke arah mereka aku masih memikirkan mau apa aku dengan air mineral itu. Siapa yang harus kusiram? Arka atau gadis itu?
Tapi saat kuhadang mereka berdua.
Aku berubah pikiran.
__ADS_1
Mereka melihatku berdiri di depan pintu.
Arka yang waspada melihatku, tampak mundur selangkah.
Sementara gadis itu kaget karena aku menghadang mereka.
“Jadi... ini balasan kamu? Dan setelah kupikir lagi terkait dengan perubahan sikap kamu, kamu tampaknya lebih dulu berselingkuh dariku bahkan sebelum aku bertemu Ariel. Benar?”
“Berselingkuh?” gadis itu tampak kaget. “Mas, tante ini siapa?”
Dia bilang aku tante? Segitu buruknyakah aku?
“Ariel... kenapa kamu masih di sini?”
“Jangan bilang ini salahku ya?” desisku.
Arka hanya menghela nafas panjang, “Lagipula sudah tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan, toh kamu sudah menikah. Ya kan? Dirimu sudah bukan milikku lagi.”
“Hah? Tante ini sudah menikah tapi menuduh kamu berselingkuh?! Dia siapa?”
“Mantan,” desis Arka.
Pukulan telak bagiku, secara gamblang dia bilang kami mantan. Itu berarti dia sudah memutuskan hubungan kami... mulai saat ini.
6 tahun berlalu sia-sia.
“Mudah sekali kamu bilang begitu...” Desisku. “Brengsek juga ternyata kamu...”
“Aku memang brengsek, tapi ada yang berusaha bermain curang dengan menikah tapi masih mengharapkanku bisa bersikap seperti dulu. Jangan kamu pikir aku tidak tahu kehidupan pernikahan kalian, aku tidak sepolos itu Ariel.” desis Arka. “Kamu bertingkah seperti Ratu dan aku selirnya begitu? Ck ck ck... mimpi saja Ariel.”
“Kamu bilang ‘okey’ waktu itu!!” tudingku.
“Dan kamu tidak bertanya apa arti okey-ku waktu itu! “ seru Arka. “Dan aku dapat apa dari hasil pernikahan kalian? Tidak ada. Makanya kupikir sejak itu sudahlah, kita selesai. Jelas?”
Arka melepaskan rangkulannya dari gadis itu dan menunjuk dadaku, “Mulai sejak itu di hidupmu tidak ada aku. Kamu sibuk sendiri masalah harta dan Ariel. Apa aku masih ada artinya di mata kamu? Ke mana harga diriku? Tidak ada. Lalu kamu berharap aku akan tetap bersamamu setelah kalian dengan sadar mengucap ijab kabul? Ariel... aku tidak secinta itu padamu sampai rela di dua-kan. Mengerti?” desisnya.
Dan aku tahu... dia benar.
Dan aku tahu... saat ini akan datang.
Yang aku tidak tahu... adalah reaksiku saat menghadapi hal ini.
Setelah apa yang kulakukan padanya, setelah banyak hal yang dia lakukan untukku... kami tahu, hubungan ini seringkih sayap capung.
Jadi aku hanya menggelengkan kepalaku, lalu pergi dari sana, sambil bilang : “Ba jingan...”
**
Satu hal lagi yang aku tidak tahu, ‘pacar’ Arka memvideokan kejadian itu ke sosial medianya.
Disertai Caption bernada fitnah...
“Tante ini sudah menikah dengan orang lain, tapi menginginkan pacarku kembali padanya. Poliandri tuh dilarang woy Tante!”
__ADS_1
**