Antonim Akal, Sinonim Sayang

Antonim Akal, Sinonim Sayang
Lelah Juga


__ADS_3

Kami duduk di meja makan Pak Avramm sambil bercerita. Baron dan Artemis ikut datang dan ‘numpang’ makan malam. Sepertinya dari semua orang yang ada di sana, yang merasa lelah hanya aku. Terus terang saja, kejadian ini membuatku sangat terpukul, kaget, takut, panik jadi satu.


Kami menghabiskan banyak waktu di sarang narkoba.


Astaga...


Mikir apa sih Bu Kencana ini?!


“Kencana Marino ini mengembalikan harta kekayaannya dengan berdagang obat-obatan terlarang. Khas Mafia Sisilia. Di sana mungkin tidak terlalu menjadi bahan perhatian pemerintah, di sini pun luput karena ada kekuatan orang dalam.” Kata Baron.


“Sebenarnya Mas,” Pak Avramm berujar, “Beberapa kali ada mobil masuk ke sana, katanya mereka itu karyawan si pemilik rumah yang mau bersih-bersih. Tapi ya memang sekuriti saya merasa aneh, mau bersih-bersih kok pakaiannya seperti preman, dan tidak ada wanitanya. Biasanya kan kalau bersih-bersih suka ada ART yang ikut, nah ini laki-laki semua. Lalu yang lebih aneh, jumlah orang saat datang dan saat pergi berbeda, seakan ada beberapa orang yang tinggal di rumah itu.”


“Ini adalah rumah di dalam rumah Pak,” kata Arka. “Saya mulai curiga saat makan di warung depan itu, biasanya kalau pedagang warmindo itu bikin mie di satu wajan besar, lalu bumbunya itu dicampur di wadah jadi satu dan masih ditambah bumbu-bumbu lainnya, jadi nggak murni hanya bumbu indomie saja. Khas di Warmindo sini kalau dilihat dari google maps berdasarkan rating, khasnya itu ditambah butter. Nah ini masaknya satu-satu pake panci, air rebusannya juga nggak barengan, macam kita bikin indomie di dapur sendiri. Makanya saya langsun gke rumah Pak Avramm, tanya-tanya ke sekuritinya. Dan ternyata benar,”


“Benar apa?!” tanyaku.


“Kalau sudah sekitar 3 bulan belakangan, warung itu dibeli sama orang-orang dari rumah ini,”


“3 bulan belakangan? Itu saat kita menikah dong?” tanyaku.


“Ya. Sepertinya kalian jadi target.”


“Target apa?!”


“Target pembunuhan,” jawab Baron.


“Apa untungnya membunuh kami?!” semburku


“Untungnya banyak Claudia. Banyak sekali malah. Kalau Mbah Rangga sudah tak ada, Mbah Rejo juga sudah tak ada, aku pun tidak boleh muncul ke publik, jadi orang yang berhak menjadi pewaris, adalah orang yang ditunjuk Mbah Rangga secara sah, atau...” Baron menyeringai meminta aku untuk melanjutkan kalimatnya dari kesimpulanku sendiri.


“Atau Bu Kencana sendiri.” Sambungku.


‘Ya. Tidak ada kata ‘pensiun’ untuk pemegang saham bukan? Bisa jadi kalau kalian tak ada, ia akan menyerahkan semua aset ke anak-anaknya. Itu berarti Rejoprastowo dan Ranggasadono tak akan mendapatkan warisan apa pun, sepeserpun.”

__ADS_1


“Siapa sih yang membuat ketentuan seperti itu?”


“Mereka bertiga.”


“Karena perasaan bersalah akan dosa masa lalu?”


“Ya, karena pelecehan.”


“Duh, makanya otak tuh dipake... nafsu melulu sih yang di depan. “ keluhku.


“Nasi sudah jadi bubur, nggak bisa jadi rengginang.”


“Baron, kamu itu kalau ngejokes receh banget kayak bapak-bapak.”


“Memang sudah bapak-bapak, jomblo aja masalahku. Punya istri juga bakal kasihan sih.”


Kami menyeringai.


“Bisa jadi Dewi Rukmini.”


“Astaga...”


“Kalian adalah pasangan terakhir yang direstui Mbah Rangga di penghujung hidupnya. Kencana itu hanya cadangan karena tidak semua mengetahui keberadaannya. Ia juga bukan istri sah. Tapi kalau yang dua sudah tak ada, maka yang berhak menentukan pewaris adalah sisa dari yang tiga itu. Jelas ya?!”


“Kenapa kau tidak muncul di publik saja sih?”


‘Kejahatanku terlalu besar, aku pasti langsung dipenjara seumur hidup sekali saja tertangkap kamera.”


“Maksudnya?”


Baron dan Arka saling lihat.


“Menurutmu berapa manusia yang sudah kubunuh demi kesuksesan perusahaan Bossku? Banyak. Bisa ratusan. Aku hanya bisa muncul di depan banyak orang dalam lingkup kecil. Seperti seminar di gedung kami sendiri, atau mengajar jadi dosen tidak tetap di universitas, karena biasanya dosen lepasan begitu tidak diekspos ke publik.

__ADS_1


“Tapi kalian bekerja untuk membantu aparat!”


“Ya, tapi kami pembunuh dilihat dari mana pun tindakan kami bertentangan dengan HAM. Aparat saja satu peluru yang diledakkan, berita acaranya bisa 50halaman. Tidak seperti di film-film. Bayangkan berapa ribu yang sudah kutembakkan ke kepala orang? Dan menjadi CEO di lingkup 12 Naga? Wah... mimpi!” Baron melipat kedua tangannya yang bertato di depan dadanya.


Di luar sana, suara sirine masih kami dengar bergaung-gaung. Juga banyak Ambulance mondar-mandir.”


“Berapa korban jiwa?” tanyaku karena tiba-tiba aku menyadari suara Ambulancenya kenapa banyak sekali seakan lebih dari dua.


“kami sisakan dua orang untuk dimintai keterangan.


“Sisanya?”


“Innalillahi,” jawab Baron. “Nggak usah tahu jumlahnya.”


“Hm... jadi,” Pak Avramm mengelus janggutnya. Mata sipitnya memicing. “Intinya saya bertetangga dengan area yang Lebih parah dong, kemarin setan-setanan palsu, sekarang jadi rumah berhantu beneran. Banyak korban jiwa di sana,”


Iya juga sih.


Sebenarnya... aku sudah terlanjur suka rumah itu.


“Ah, Baron... aku lupa. Bisakah kau memeriksa area Gazebo? Dewi Rukmini belum ditemukan bukan? Maksudku, kita tidak tahu dia menghilang itu melarikan diri atau memang sudah meninggal. Mumpung masih banyak orang, jadi tidak terasa aneh kalau tiba-tiba kau menemukan mayat di sana.”


“Hah? Mayat?” tanya Baron dengan alis terangkat.


“Iya.”


“Dari mana kau tahu?!”


Aku menyeringai. “Ghaib.” Aku tersenyum. Aku juga bingung mau menjelaskannya bagaimana. “Juga... tolong kamu periksa area Gapura dikampung Mbah Rangga. Mungkin ke dalam beberapa meter dari permukaan, tempat aku pingsan.”


Karena Dewi Rukmini bilang... tubuhnya terbagi dua. Itu cukup mengganggu pikiranku


“Mungkin biar tidak terlalu mencurigakan kutanya saja yang tersisa dua orang itu ya,” kata Baron.

__ADS_1


__ADS_2